Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Menagih Komitmen


__ADS_3

Setelah Disa dan Kedua orang tuanya di rawat.


" Hans, Makan dulu kamu! Entar sakit." Ikhsan menyuruh Hans yang terus menunggui Disa di samping ranjangnya.


Kamar Disa dan kedua orang tuanya di minta seruang oleh Hans dan Ikhsan.


" Duluan aja San, Kalo kamu laper. Aku masih ingin di sini menemani Disa." Balas Hans sambil terus menggenggam tangan Disa.


Disa memandang Hans " Sayang, Kamu makan dulu! Aku di sini enggak apa-apa kan aku bisa manggil perawat kalo butuh apa-apa!" Sambung Disa, Menyuruh Hans untuk mengikuti kata-kata Ikhsan.


" Enggak Sayang, Aku enggak lapar." Ujar Hans menatap Disa dengan mata berkaca-kaca.


" Baiklah, Aku keluar dulu! Aku cari makan buat kita. Nanti kita makan di sini." Pamit Ikhsan, Lalu melangkah ke luar ruang inap untuk mencari makan.


...****************...


Di tempat Dira dan Rino,


Mereka mendatangi satu kantor furniture yang sangat megah.


" Ini siapa yang akan kita tagih, Dir?" Tanya Rino saat masuk ke parkiran kantor menyopiri Dira.


" Orang licik yang mau lepas tangan dari pembagian keuntunga dengan Ayah Disa!" jawab Dira dengan wajah yang kesal.


" Ini kantor besar juga!" Rino memandangi bangunan kantor yang tinggi dan mewah.


Rino langsung di tarik Dira " Yuk, Segera masuk!" saat turun dari mobil dengan terburu-buru.


Mereka masuk ke receptionist kantor itu, Di sambut perempuan yang ramah.


" Siang Pak, Ada yang bisa saya bantu?" tanya Petugas receptionist dengan lemah lembut.


" Kami ingin bertemu Bapak Teguh." Jawab Dira.


" Apakah sudah buat janji?" Tanya kembali Petugas Receptionist.


" Tolong katakan saja, Pak Dira suruhan Pak Gilang ingin bertemu!" Ujar Dira.


Tak berapa lama Dira dan Rino langsung di suruh ke ruangannya di lantai 4.


" Misi..!" Ucap Dira sambil mengetuk pintu yang bertuliskan Dirut.


" Ya, Masuk!" Balas orang di dalam ruangan.


Rino dan Dira masuk, Mereka langsung dudu menghadap Pak Teguh.

__ADS_1


" Oh...Mas Dira, Ada kepentingan apa kok bisa sampai di sini? Apa Pak Gilang menyuruh untuk memberi proyek pada ku?" Ucap Pak Teguh dengan senyuman.


" Bukan Pak teguh, Tapi Pak Pram! Beliau sedang sakit tolong berikan haknya untuk berobat!" Kata Dira dengan tegas.


Rino pun hanya diam dan menyimak sekaligus belajar bagaimana pembisnis berbicara dan bersikap.


" Hahahhaa...Hak...Hak..Apa? Anda jangan melucu Mas Dira!" Balas Pak Teguh seolah menghina Dira.


" Oh..Okey, Berarti kantor ini siap di take over oleh Disa putri dari Pak Pram!" Kata Dira mengancam Pak Teguh.


" Silahkan jika bisa, Kantor ini punya saya jadi enggak ada itu Pak Pram di dalam struktur kantor ini!" Jawab sombong Pak Teguh menertawakan Dira.


" Tolong Bapak lihat video ini, Jika ini saya kirim ke Bu Senita maka bukan hanya perusahaan ini tapi semua harta Bapak akan di ambil oleh Disa. Tinggal Bapak pilih, Memberi haknya Pak Pram atau Kembali dari zero Bapak untuk hidup!" Ancam Dira sambil menunjukkan sebuah video ke Pak Teguh.


" Salinan ada di saya, Ini hanya sebagian saja lengkapnya ada di saya dan hanya saya yang tahu dimana video itu saya simpan!" Dira mengancam kembali.


Melihat video itu, Wajah Pak Teguh pucat layaknya orang ketakutan.


" Baik...baik, Kita damai saja! Berapa yang kalian butuhkan?" Tanya Pak.Teguh.


" Bukan kami, Ini no rek saya! Berikan hak Pak Pram secara utuh karena sudah di hitung oleh asissten saya, Melenceng 1 digit kita lihat saja! Anda akan menyesalinya sumur hidup!" Kata Dira sambil memberikan no rek bank miliknya.


" Baik, Sebentar!" Balas Pak Teguh sambil memerintah bagian keuangannya untuk mentransfer sejumlah uang ke Dira.


Rino dan Dira tak menunggu lama, Notif di hp Dira berbunyi tanda ada uang masuk.


Mereka langsung menaiki mobil, Rino menatap Dira " Keren Kamu Bos, Beda banget ya kalau sedang kerja sama lagi santai!" Ujar Rino memuji Dira.


" Ya harus bengini No, Kalo di dunia bisnis itu kalo enggak tega ya kita yang di habisi No! Ini kamu harus belajar saat bersamaku ini, Kamu akan lihat dan amati caraku berbisnis." Balas Dira sambil tersenyum.


Mereka melanjutkan perjalanan, Kali ini Dira menyuruh Rino ke sebuah perusahaan pakaian yang luas.


" Masukin No, Biar aku yang minta ijin satpam!" perintah Dira untuk memasukkan mobil ke parkiran, Lalu Dira turun untuk meminta ijin pada Satpam.


Rino memasukkan mobil memalui gerbang pabrik depan pos satpam.


Rino menunggu dalam mobil, Setelah Dira mendapat surat ijin masuk Ia langsung menemui Rino yang di mobil.


" No, Parkirin situ aja. Lalu kesini!" Perintah Dira kembali, Sambil menunjuk sisi kosong di samping mereka.


Rino setelah memarkirkan mobil, Mengahmpiri Dira lalu mereka ke Receptionist.


" Misi Mbak, Kami mau bertemu dengan Bu Mila ada?" Tanya Dira.


" Dengan Bapak siapa? Dan keperluan anda apa ya, Pak?" Tanya petugas cewek Receptionist.

__ADS_1


" Bilang saja dari Mas Dira yang datang!" Balas Dira.


" Mari Pak, Saya antar ke ruangan Beliau." kata Receptionist keluar dari posnya.


Setelah mengantar masuk di ruangan Bu Mila, Kami duduk menunggu Bu Mila uang sedang memeeting karyawannya.


Hampir sejam Mereka menunggu, Datanglah Bu Mila masuk ke ruangan " Siang, Ada perlu apa Mas Dira kesini?" Tanya Bu Mila, Langsung duduk menghadap kami.


" Langsung saja Buk, Tolong kembalikan uang Pak Pram!" Ujar Dira dengan nada mantap.


" Uang? Uang apa Mas? Saya enggak pernah minjem ke Pak Pram!" Bentaj Bu Mila yang langsung emosi setelah Dira membicarakan soal uang.


" Oh..Okey. Denger ini Buk!" Balas Dira memutar suara percakapan Bu Mila dan Pak Pram yang isinya Beliau memang meminjam uang Pak Pram.


" Itu hanya fitnah, Kamu jangan mengada ngada ya Mas Dira! Saya tahu anda itu dekat dengan Pak Pram tapi ya jangan terus memanfaatkan situasi!" Kata Bu Mila membentak Dira.


Dira tersenyum tipis" Bu, Dapet salam dari Bu Nurul!" Ucap Dira.


Seperti sebelumnya, Bu Mila pun memasang ekspresi ketakutan.


"Apa masih mau mengelak?" Pungkas Dira.


Rino hanya bisa menyimak karena Ia tak tahu apa yang di bicarakan Dira dan Bu Mila.


" Iya..Saya mengaku, Akan saya kembalikan besok!" Tutur Bu Mila.


"Pak Pram lagi terkena musibah, Saya di suruh ambil sekarang mohon trasfer ke nih no rek saya!" Jelas Dira.." Sekarang Saya sedang mode bertahan Mas, Kalau mau ya besok!" Kata Bu Mila memaksa meminta tenggang waktu.


" Baik kalo begitu, Baik nanti Saya akan ke rumah Bu Nurul melaporkan hal ini!" Balas Dira segera bangkit dari kursi di ikuti Rino.


Rino pun terkejut karena saat Dira menyebut nama orang mesti yang di tagih merasa ketakutan.


" Jangan Mas, Baik-baik saya bayar sekarang! Tunggu sebentar!" Ujar Bu Mila membaca kertas yang bertulis no rek Dira.


" Sudah ya Mas, Jangan ceritakan hal ini pada Bu Nurul!" Pesan Bu Mila.


" Baiklah Bu, Terimakasih." Lalu Dira mengajakku keluar dari ruang Bu Mila.


Rino yang di penuhi pertanyaan langsung bertanya pada Dira " Sebenarnya dari tadi aku dengerin, setiap kamu menyebut nama dari mereka yang beralasan tidak ada uang dan kesombongan langsung luluh. Sebenarnya ada apa Dir?"


Dira tersenyum " Mereka itu yang aku sebut yang memberikan kerjaan ke perusahaan yang aku tagih, Jika aku sudah cerita kan kemungkinan mereka akan mengcancel pesanan atau proyek yang sedang di kerjakan sama Pak Teguh dan Bu Mila." Balas Dira.


" Berarti mereka tadi takut kalo perusahaannya collabs?" Tanya Rino sembari jalan ke parkiran.


" Yah, Dulu aku juga kayak mereka tapi semenjak mengenal keluarga kamu ya seperti enggak ada takut tentang dunia, No!" Balas Dira.

__ADS_1


" Udah aku akan ajari kamu bisnis, Tapi saat ini kita fokus ke tiga orang lagi!" pungkas Dira langsung masuk mobil dan kini Ia yang menyetir.


Kami masih melanjutkan perjalanan ke tempat orang-orang yang ada kaitan denganayah Disa.


__ADS_2