
Setelah membaca diary Arini,
Rino langsung mengunci semua pintu rumah, Langsung buru-buru menyusul keluarga di klinik.
Namun, Ia berpapasan dengan Hans dan Disa yang memboncengkan Arini kembali ke rumah.
" Itu, Kenapa di bawa balik?" Gumam Rino.
Rino berlari untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Hans, Kenapa balik?" Tanya Rino, Terengah-engah di depan pagar rumah.
" Arin sudah di periksa, Kata Dokter hanya capek biasa! Hanya butuh istiraha." Jelas Disa.
Rino langsung membuka pintu rumah, Hans membopong Arini kecil kembali ke kamar.
" Udah, Biarkan Dia tidur!" Ujar Hans keluar dari kemar.
Rino keluar lalu duduk di teras.
Hans dan Disa menyusul Rino.
" Hans, Kamu tahu nggak kenapa Arin bisa sedemikian capek?" Tanya Rino.
" Ya, Mungkin karena baru masuk sekolah dan aktifitas belajar yang membuatnya capek!" Jawab Hans.
" Kamu salah Hans, Ia memikirkan bagaimana menggantikan tv yang di jual untuk pengobatannya dan Dia mendengar Kamu akan menjual gerobak untuk kontrol Dia!" Jelas Rino.
Hans dan Disa pun kaget dari mana Rino tahu hal bahwa Hans akan menjual gerobak, Disa pun kaget baru mengetahui semuanya.
" Dari mana kamu tahu itu semua?" Tanya Hans menatap Rino serius.
" Dari Diarynya, Apa kalian nggak pernah gitu diam-diam membaca keluh kesah Arin di diarynya?" Ujar Rino.
Mendengar hal tersebut lagi-lagi Hans merasa semakin tak berguna sebagai Kakak.
" Terus, Aku harus gimana?" Tanya Hans ke Rino.
" Aku sendiri hanya punya 400ribu, Kamu punya berapa?" Tanya Rino, Ingin membelikan tv Arini.
" Aku hanya punya 200 ribu!" Jawab Hans.
Disa melihat mereka dengan hati yang kasihan.
Datanglah kedua orang tua mereka, Pak Romi dan Bu Sara melihat kedua anak dan calon menantunya mengobrol namun di dekatnya ada tumpukan uang.
" Ada apa ini, Tadi Ayah ke klinik katanya Arin di perbolehkan pulang?" Tanya Ayah.
__ADS_1
" Hans, Gimana keadaan Adikmu? Terus itu uang buat apa?" Tanya Bu Sara.
Rino menengok ke kamar Arini takut jika Arini mendengar obrolan mereka.
" Arin hanya kecapek'an yah, Karena Ia mempunyai beban pikiran yang berat!" Ujar Rino.
" Maksudmu?" Tanya Pak Romi.
Hans pun membisikkan di telinga Sang Ayah karena takut Arini mendengarnya, Setelah mengetahui alasannya Pak Romi kaget.
" Kalo begitu, Ini sisa uang kemarin kita belikan!" Ujar Pak Romi memberikan uang 1,4jt sisa menjual perabotan untuk berobat Arini.
Bu Sara di bisiki oleh Disa, Akhirnya mereka sepakat untuk membeli Tv. Hans dan Pak Romi langsung pergi ke toko elektronik yang dekat dengan rumah mereka.
Rino memiliki ide untuk memotivasi Arini, Dan menghapus beban Arini.
Rino kebelakang mengambil bekas-bekas cat Hitam dan Putih, Lalu Disa dan sang Ibu mengikuti Rino.
" Kamu mau buat apa No, Dari kardus dan cat bekas itu?" Tanya Disa penasaran.
" Udah, Diem aja nanti kalian tahu!" Jawab Rino.
Rino memotong kardus berbentuk jendela besar dan Dua pintu, Kemudian Ia mengecatnya.
" Itu gambar pintu dan jendela buat apa, Nak?" Tanya Bu Sara.
Setelah kering, Rino menggantung 2 pintu dan satu jendela di susun jendela di depan dan kedua pintu di belakang di gantung di atas atap ruang tamu menggunakan tangga.
" Maksudnya Jendela di depan dan pintu di belakang apa, No?" Disa kembali penasaran.
Rino hanya tersenyum.
Pak Romi dan Hans datang membawa tv baru, Kemudian mereka meletakkan di ruang tamu.
" Itu apa, No?" Tanya Sang Ayah melihat gantungan yang besar di buat Rino.
Hans melihatnya dan paham arti dari gantungan itu, Langsung Hans memeluk Rino sang Adik.
" Aku tahu, Arti semua ini No!" Ujar Hans sambil tersenyum memeluk Rino.
Pak Romi, Bu Sara, Dan Disa masih belum mengerti maksud dari semua ini.
" Kami penasaran, Tolong jelaskan!" Kata Disa, Melihat kedua kakak beradik.
" Nanti biarkan Arin yang menjelaskan!" Jawab Hans.
Karena kegaduhan Arini terbangun, Ia keluar dari kamar.
__ADS_1
" Yah, Bu, Ini ada apa?" Tanya Arini dengan mata yang masih sayup mengantuk.
Arini kecil melihat ke atas, Ia melihat gantungan yang di buat Rino.
Sontak langsung memeluk kedua Kakaknya.
" Arin, Jelasin sama Ibu, Ayah dan Kak Disa dong!" Ujar Rino.
Arin menghadap ke arah ketiganya.
" Ibu, Ayah, Dan Kak Disa. Ini jendela itu Arin terus kedua pintu itu Kak Hans dan Kak Rino, Mereka adalah yang akan menuntun Arin hingga Arin dapat menggapai cita-cita, Sedang Jendela adalah Arin karena Arin ingin menjadi penuntun semua agar bahagia saat Arin nanti menggapai cita-cita Arin!" Jelas Arini kecil.
Bu Sara dan Pak Romi terharu mendengar penjelasan Arini kecil, Mereka langsung mendekap ketiga Putra dan Putrinya.
Mata Disa pun berkaca-kaca mendengar penjelasan Arini.
" Ayah dan Ibu juga pasti membantumu Arin." Ujar Pak Romi sambil meneteskan air mata.
Hans pun menghampiri Disa, Lantas Disa memeluk Hans sambil terharu melihat aoa yang kedua kakak ini lakukan demi adiknya.
" Kak Hans dan Kak Rino, Arin janji bakal jadi juara! Arin akan buat kalian bahagia saat Arin menggapai cita-cita nanti, Nanti kalian tidak usah jualan biarkan Arin yang cari uang untuk semua!" Kata Arini kecil di hadapan semuanya.
Rino langsung memeluk dan mengangkat sang Adik karena terharu.
" Kak Rino dan Kak Hans janji bakal selalu membukakan jalan untuk Arin menggapai cita-cita, Meski harus jatuh ratusan kali kami akan bangkit demi Adik Kakak yang cantik ini!" Ujar Rino menggendong Arini kecil.
Bu Sara dan Pak Romi bangga dengan anak-anaknya karena bisa saling menopang satu sama lain di saat sesusah apa pun.
" Kak Disa, Sekarang kan Kakak udah jadi Kakak Arin. Sini Kak, Arin mau di peluk sama Kakak." Ujar Arini kecil menelantangkan tangan.
Disa pun berlari sambil menangis memeluk Arini kecil.
" Kakak jangan nangis, Kakak kan sudah besar!" Ujar Arini kecil, Sambil menyeka air mata di wajah Disa.
" Kak Disa juga berjanji, Pasti Kakak akan selalu membantu Arin untuk meraih cita-cita Arin." Ucap Disa sambil menatap Arini.
" Arin, Apa nggak mau nonton cartoon kesukaanmu?" Kara Rino sambil menunjukkan tv baru buat Arini kecil.
Arini kecil langsung ceria dan langsung menyalakan tv.
" Kak, Arin sudah menabung sendiri buat beli tv ganti'in tv yang di jual. Bentar, Arin ambil tabungan Arin buat gantiin beli tv!" Arini kecil melangkah ke kamar untuk menyerahkan tabungan sebagai ganti tv yang lama.
Hans pun langsung menggendong Arin.
" Nggak usah, Tabungan Arin besok buat Arin sekolah saja. Kan nanti mau pergi piknik biar nanti tinggal nambahin saja, Toh itu tv juga yang beli Ayah kok buat Arin!" Jelas Hans.
Arini kecil minta di turunkan, Lalu Ia menghadap sang Ayah.
__ADS_1
" Ayah, Ibu maaf Arin selalu merepotkan! Terimakasih untuk tv buat Arin, Arin sayang kalian!" Ujar Arini kecil langsung memeluk kedua orang tuanya.