Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Tawa Untuk Arini


__ADS_3

Setelah Arini dinyatakan sembuh dan boleh pulang,


" Yah, Bener ya Arin bisa ketemu sama Kak Rino." Ujar lirih Arini saat infus di tangan di lepas Perawat.


" Iya, Sayang Ayah. Tapi Ayah tinggal sebentar mau keluar sebentar." Pamit Pak Romi untuk membayar biaya perawatan Arini.


Di depan kamar Arini di rawat, Pak Romi membuka dompetnya.


" Cukup nggak ya, Uang segini? Kemarin sudah menjual tv, Lalu almari di kamar, Kira-kira semalam uang 2,5jt ini cukup enggak ya?" Pak Romi sambil melihat dompet.


Datanglah Hans bersama Disa, Mereka melihat Sang Ayah yang kelihatan bingung.


" Yah, Ayah kenapa? Terus Hans mau nanya itu tv di kamar tamu dimana?" Tanya Hans sambil melihat sang Ayah.


"Sssst.....Tv di ruang tamu, Sudah Ayah jual bersama almari di kamar Ayah sebelum kesini dengan Ibumu. Uangnya buat bayar biaya perawatan Arin, Tapi apakah cukup uang segini?" Pak Romi memperlihatkan uang di dalam dompet.


Disa pun kaget, Sebegitu kekurangan kah hingga harus menjual barang untuk perawatan Arini.


" Ini Hans, Masih ada pegangan 500ribu." Hans membuka dompet kemudian memerikan uang kepada Sang Ayah.


" Ini Pak, Saya juga masih ada uang 300rb!" Sahut Disa mengambil uang dari tasnya.


" Jangan Nak, Biar ini aja dulu jika nanti kurang biarkan Ayah yang mncari entah begaimana caranya!" Pak Romi menolak bantuan Disa.


Pak Romi pun langsung menuju ruang admisistrasi untuk melunasi biaya perawatan Arini.


Disa dan Hans masuk ke kamar Arini.


" Assalamualaikum...Adik Kakak." Sap Hans masuk.


" Wa'alaikum salam, Kak Hans. Arin sudah boleh pulang." Ujar Arini senang.


" Dari mana kamu, Hans?" Tanya Bu Sara.


" Aku habis dari rumah, Mandi sekaligus bersih-bersih rumah dulu Bu." Jawab Hans.


Arini di perbolehkan pulang pukul 18.30.Wib, Dua hari sudah Arini di rawat.


" Kak Disa, Inget ya janji Kakak!" Kata Arini sambil memasang wajah imut.


" Iya, Tuh Kak Disa juga udah bawa baju di mobil. Kak Hans juga sudah membawakan untuk Arin, Ayah dan Ibu. Kita langsung mau menemui Kak Rino." Jelas Disa.


Arini pun senang bukan kepalang, Ia pun langsung menyuruh Ibunya untuk cepat-cepat mengemasi barang-barangnya agar bisa lekas pulang.


Pak Romi, Kembali dengan wajah yang sudah bisa tersenyum.

__ADS_1


" Gimana, Yah?" Tanya Bu Sara, Sambil melipat baju Arin.


" Cukup Buk, Ini masih ada sisa." Jelas Pak Romi langsung menghampiri Arini.


" Yah, Arin seneng banget habis ini kita ke rumah Wak Nana. Arin sudah kangen banget sama Kak Rino!" Arini meluapkan kebahagian.


" Tapi Arin harus janji, Nggak boleh sakit-sakit lagi!" Kata Disa menghibur Arini.


" Siap Kak, Arin janji." Suara polos Arini membuat kesepakatan.


Setelah semua selesai, Hans membungkukkan badan di sebelah ranjang Arini.


" Yuk, Naik. Kita ke rumah Wak Nana!" Kata Hans bermaksud menggendong Arini.


Langsung Arini naik di punggung Hans, Karena Ia bersemangat untuk bertemu sang Kakak.


" Baru sekarang ya Kak Hans, Merasakan beban badan Arin. Mungkin dulu Kak Rino kayak gini kali ya rasanya, Menggendong Arin yang berat." Gurau Hans sambil tersenyum menoleh ke arah Arini.


" Kakak, Arin nggak berat. Kalo Kakak keberatan biarin Arin jalan kaki Kak." Arini menanggapi dengan serius.


" Enggak Arin, Kak Hans hanya bercanda!" Sahut Kak Disa.


Mereka pun melangkah keluar dari klinik,Disa mengambil mobilnya untuk mengantar Arini dan keluarga ke rumah Wak Nana.


Begitu pintu di buka, Arini langsung lari masuk ke rumah Wak Nana.


" Assalamualaikum....Wak...Uwak, Arin kesini!" Triak Arini di depan pintu rumah Wak Nana.


Namun, Rumah Wak Nana kosong.


Arini berlari kembali ke mobil.


" Ayah, Ibu rumah Wak Nana, Kosong!" Ujar Arini memberi tahu.


" Coba dari samping lurus Nak, Mungkin Wak Nana ada di kolam!" Bu Sara memberikan arahan.


Arini kembali lari mengikuti instruksi sang Ibu.


Arini melihat Wak Nana sedang menimbang ikan di belakang rumah, Bersama dengan karyawannya.


Arini menolah, Noleh mencari Kakaknya Rino yang tidak terlihat.


" Uwak....Uwak!" Triak Arini berlari menuju Wak Nana.


Wak Nana pun kaget keponakannya datang ke rumahnya.

__ADS_1


" Arin...Arin sama siapa kesin" Tanya Wak Nana yang juga berlari menghampiri Arini.


Wak Nana menggendong Arini kemudian melihat ke depan rumahnya.


Wak Nana melihat semua keluarga berkunjung ke rumahnya, Mereka pun lantas menghampiri Wak Nana untuk menyalaminya.


" Wak Nana, Baru dari rumahmu kok sekaang kalian sudah kesini?" Tanya Wak Nana heran.


" Arin ingin ketemu sama Kak Rino, Wak! Arin kangen." Jelas Arini.


" Oh Rino, Kakakmu baru saja mengantar pesanan ikan di pasar. Paling lima belas menit lagi balik, Arin sana main dulu di dalam bersama Kak Hans dan Kak Disa." Ujar Wak Nana.


Bu Sara, Wak Nana, dan Pak Romi pun mengobrol di teras rumah.


Bu Sara menceritakan bagaimana Arini kangen dengan Kakaknya Rino hingga di rawat opname di klinik.


" Sebenarnya, Aku juga tak tega memisahkan Kakak dan Adik itu. Hanya saja Rino berkeras untuk menepati janjinya ke Aku, Di sini dari awal datang Rino ku puji keseriusannya. Tak sedikit pun ada suara mengeluh keluar dari bibirnya!" Cerita Wak Nana.


Rino pun kembali, Dari jauh melihat mobil milik Disa. Segera Rino memacu gas untuk tahu apa yang sedang Disa lakukan di rumah Uawaknya.


Rino melihat kedua orang tuanya mengobrol di teras bersama Wak Nana.


"Buk, Yah ini ada apa baru kemarin kok sudah kesini?" Tanya Rino penasaran.


Wak Nana menceritakan kembali, Apa yang di ceritakan Bu Sara.


Langsung Rino berlari masuk ke dalam rumah.


" Kak Rino..." Teriak Arin, Berlari menuju arahnya.


Kemudian Rino memeluk Arini.


" Kakak, Kenapa tinggalin Arin? Kakak sudah nggak sayang lagi ya sama Arin? Apakah Arin merepotkan Kakak atau membuat Kakak kesal sehingga Kakak pergi tanpa pamit pada Arin?" Ujar Arini dengan mata berkaca-kaca seolah mau menangis.


" Arin enggak nakal kok, Dan Kaka Rino pergi bukan karena marah sama Arin. Kak Rino pergi sementara untuk membantu Wak Nana, Kan kasihan Arin. Uwak Nana nggak punya teman apa lagi kalo kerja kan nanti capek Wak Nana bisa sakit karena nggak ada yang bantuin!" Jelas Rino merayu Arini.


" Uwak, Suruh aja tinggal sama kita Kak!" Arin merayu Kak Rino.


" Kalo sama kita terus ikannya yang ngasih makan siapa? Nanti kalo mati Wak Nana bisa nangis loh! Oh iya, Gimana Kura-kura dari Kak Rino, Suka?" Tanya Rino.


" Arin, Suka Kak! Suka banget malah." Jawab Arini.


" Siapa yang ngasih makan? Sama hari ini mereka sudah makan belum?" Rino mencoba menghibur sekaligus mengakrab'i Arini agar tidak sakit lagi.


Mereka pun keluar untuk mengambil ikan yang akan di masak ke esokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2