Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Lanjutan...


__ADS_3

Bu Keisya yang tiba di sekolah, Melihat Hera dan Sahabatnya juga Arini sedang berdiri menunggu jemputan dan angkot.


" Assalamualaikum...Anak-anak." Kata Bu Keisya menghampiri ke limanya.


" Wa'alaikumsalam..Bu.." Balas Semuanya, Lanjut menyalami dan mencium tangan Bu Keisya.


" Ibu kok tidak pakai seragam?" Tanya Arini.


" Ibu libur Arin, Ibu kesini ingin menjemputmu dan memberi tahu besok hari minggu kalian bilang orang tua kalian berlima bahwa Kalian Ibu ajak piknik ke gunung. Untuk itu semua free hanya saja Kalian harus sudah berada di rumah Ibu untuk berkumpul sebelum jam 7 pagi, Ya?" Kata Bu Keisya.


" Serius Bu? Gratis....! Hore....!" Teriak Dina.


" Baik Bu, Nanti kami sampaikan ke orang tua Kami." Ucap Hera.


" Kalian tahu rumah Ibu? Kalo enggak atau kejauhan gini aja, Kalian sebelum jam 7 kumpul di sekolah nanti Ibu jemput." Tutur Bu Keisya.


" Nah, Di sekolah aja Bu. Asyik...Piknik...!" Teriak Nayla.


" Sssst....Pelan-pelan ini hanya untuk Kalian saja!" kata Bu Keisya, Sambil memberi kode tangan.


" Ya udah, Arin nih pakai helm! Segera kita pulang." Perintah Bu Keisya.


" Teman-teman, Arin duluan ya. Sampai ketemu besok!" Pamit Arini.


" Hati-hati Bu, Rin, Kita ketemu esok!" Balas Hera.


Bu Keisya langsung mengajak Arini ke rumahnya.


" Maaf Bu, Ini bukan arah rumah Arin." Ucap Arini asing dengan jalan yang Ia lewati.


" Iya, Arin. Soalnya Kakak-kakakmu sedang ada di rumah Ibu." Balas Bu Keisya.


Setelah 15 menit,


Mereka tiba di rumah Bu Keisya, Arini takjub melihat rumah Bu Keisya yang tingkat dan bergaya klasik.


" Ayo masuk, Rin!" Bu Keisya menggandeng Arini memasuki Rumah.


Begitu masuk, Arini di kejutkan semua Kakaknya dan Kak Disa ada di rumah Bu Kaisya.


" Kak Disa....!" Langsung Arini berlari ke arah Disa saking kangennya.


Disa pun menyambut Arini dengan pelukan.


" Eh, Kalo masuk rumah bilang apa!" Hans, Mengingatkan Arini.


" Assalamualaikum.." Ucap Arini.


Arini melihat Orang Tua Disa dan Ibunda dari Keisya, Langsung Arini menghampiri dan bersalaman tak lupa mencium tangan Ketiganya.


" Anak pinter, Namamu siapa?" Tanya Ayah Disa.


" Arini, Kek." Jawab Arini.


" Dia ini Murid terpintar di sekolah, Pemenang kompetisi tingkat kabupaten." Kata Bu Keisya membanggakan Arini di hadapan semua orang.


" Serius?" Ujar Dira kaget.


" Beneran dong, Adik siapa dulu." Sahut Rino.


Arini langsung diajak duduk di dekapan Disa.


" Hebat Kamu Nak, Jadi ini yang tadi Kamu khawatirkan Hans? Kalo berprestasi udah nggak perlu Kamu khawatirkan pasti Ia bisa mengatasi semua!" Tutur Ayah Disa Menghapus keraguan Hans.


" Besok maju kemana Rin?" Pancing Bu Keisya.


" Mau maju ke tingkat Provinsi, Kek, Nek." Tutur Arini dengan polos.

__ADS_1


" Adik Kak Disa, Harus berprestasi dong." Ujar Disa membanggakan Arini.


" Kamu udah makan, Rin?" Tanya Bu Keisya.


" Udah Buk, Tadi di kantin sewaktu istirahat. Kak, Arin di kasih amplop dari Bapak Kepala Sekolah berisi uang ini, Kak." Ujar Arini mengeluarkan amplop dari tasnya.


" Uang apa, Rin?" Tanya Hans.


" Ini kata Bapak Kepala Sekolah, Uang hadiah dari lomba kemarin yang Arin menangkan. Ini uang pribadi Beliau, Katanya untuk ucapan terimakasih." Tutur Arini, Menjulurkan uang ke Hans.


" Udah, Arin simpen." Balas Hans.


" Keren Kamu Dek." Pujian dari Dira.


" Kakak itu kenapa mukanya bonyok?" Tanya Arini memandang Dira.


" Habis kecelakaan Rin, Kasian tadi nabrak waktu pakai motor." Sahut Rino menutupi kejadian sebenarnya.


" Eh..Kak Ikhsan...Kak, Besok ikut piknik kan?" Tanya Arini.


" Ya ikut dong, Besok Arin naik mobil sama Kakak ya!" Ujar Ikhsan.


" Sama teman-teman Arin juga ya, Kak?" Balas Arini, Memperhatikan teman-temannya.


" Ya harus dong!" Ucap Ikhsan.


" Nak, Kamu kelas berapa?" Tanya Ibunda Disa sambil mengelus rambut Arini.


" Kelas 8, Nek." Jawab Arini ramah.


" Wah, Semakin bikin penasaran Aku buat kenal lebih dekat dengan keluarga Kalian." Sahut Dira.


" Ini siapa sih, Kak?" Tanya Arini.


" Ini teman Kak Hans dan Kak Rino, Namanya Kak Dira." Jelas Disa mengenalkan Dira.


Arini langsung bersalaman pada Dira.


" Makasih Kakak, Baru kenal udah menraktir Arin." Ucap Arini berterimakasih.


" Udah yuk balik!" Ajak Ikhsan.


" Yuk..!" Sambung Hans.


" Kami pamit duluan ya, Pak, Buk." Ujar Hans, Berpamitan menyalami Orang Tua Disa dan Ibunda dari Bu Keisya.


" Terimakasih, Makanannya ya Buk, Sya." Imbuh Hans.


" Dari pada di rumah merintih sakit, Aku ikut Mereka ah!" Pungkas Dira.


" Nih Dis, Kunci mobilku Kamu bawa! Biar balikku nanti di antar Hans atau Ikhsan." Tutur Dira.


Dira lalu menyalami Orang Tua Disa, Lanjut Ibunda Keisya.


" Hans, San tunggu!" Teriak Dira.


Rino yang melihat merasa heran " Itu Orang punya mobil, Malah seneng susah dorong gerobak." Ujar Rino.


" Biar No, Biar belajar gentle sama Hans dan Ikhsan! Dari pada jadi pengecut." Sahut Ayah Disa.


" Arin..Arin nanti main ke rumah Kakek ya! Biar pulangnya di jemput Kak Rino atau diantar Kak Disa." Kata Ayah Disa mulai menyukai Arini.


" Arin bawa obat enggak?" Tanya Disa.


" Iya Kak, Bawa. Arin juga sudah minum obat kok biar nggak ngrepotin semua orang." Jawab Arini.


" Loh, Kamu nggak ikut belanja Ibu sama Kak Rino, Rin?" Tanya Bu Keisya.

__ADS_1


Arini terdiam sejenak bingung memutuskan ikut siapa.


" Tuh bingung...Bingung..." Ujar Ayah Disa, Tertawa melihat tingkah lugu Arini saat bingung.


" Besok aja sama ke rumah Kakeknya, Hari ini Arin ikut Kak Rino dulu." Kata Rino, Menghilangkan kebingungan Arini.


" Ya udah, Kita pamit ya Bu. Besok Kita lanjut lagi." Ucap Ibunda Disa berpamitan.


Keluarga Disa menyalami semua yang ada di situ.


" Assalamualaikum.." Ucap Disa keluar gerbang rumah Keisya.


" Wa'alaikumsalam.." Balas Semuanya.


Tinggalah Arin, Rino, Bu Keisya dan Ibunya.


" Kok udah bersih, Kamu ya Mas yang membersihkan?" Tanya Bu Keisya.


" Iya, Sekalian tadi di bantuin Dira ma Ikhsan." Jawab Rino.


" Yuk Bu, Ibu makan setelah itu makan obat!" Kata Keisya , Melangkah masuk kamar sang Ibu ingin mengambil bubur dan Obat Ibunya.


Tak lama Ia pun kembali.


" Kok sudah enggak ada, Kemana Mas bubur Ibuku?" Tanya Keisya.


Ibunda Keisya memegang tangan Keisya, Menyuruhnya merunduk untuk di beri tahu.


" Ibu sudah makan dan minum obat, Di suapi oleh Rino." Kata Sang Ibu lirih.


Bu Keisya melirik ke Rino.


" Terimakasih banyak ya, Mas." Ucap Bu Keisya.


" Hehehhe....Apa Sya, Cuma begitu saja." Balas Rino.


Arini duduk di kursi di teras, Menunggu sang Kakak dan Bu Gurunya selesai membersihkan sekaligus merawat Ibunda dari Bu Keisya.


Setelah selesai, Bu Keisya dan Rino keluar.


" Yuk, Rin. Kita belanja!" Ajak Bu Keisya.


" No, Tolong masukin motor ke teras. Kita pakai mobil saja." Imbuh Bu Keisya.


Rino langsung menjalankan arahan Bu Keisya.


" Mana kunci mobilnya?" Pinta Rino.


Bu Keisya pun kaget.


" Emang Kamu bisa nyopir, Mas?" Tanya Bu Keisya.


" Bisa Bu, Dulu Kakak pernah bawa angkot." sahut Arini.


Lalu Bu Keisya memberikan kunci mobil.


Semua pun naik.


" Udah Aku panasin kok Mas, Tinggal jalan aja !" Kata Bu Keisya duduk di samping Rino, Sementara Arini duduk di belakang.


Langsung Rino mengeluarkan mobil menuju minimarket yang agak jauh dari rumah Bu Keisya yang jaraknya sekitar 5 Km.


" Aku terkejut loh Mas, Kalo Mas bisa nyetir." Kata Bu Keisya sambil tersenyum.


" Hahaha...Sudah lama kali, Ya karena pergaulan akhirnya bisa menyetir." Balas Rino.


Rino langsung fokus menyetir, Menghentikan obrolan.

__ADS_1


Keisya terus menatap Rino, Ia merasa kagum dengan sosok cowok yang ada di sampinya.


Yang enggak jijik saat merawat Sang Ibu, Dan cekatan buat membantu pekerjaannya saat masak.


__ADS_2