
Setelah liburan Usai,
Arini kembali untuk bersekolah, Ia sudah naik menjadi kelas 2 SMP. Dihantar Sang Ibu memasuki ruang kelas yang baru.
" Arin, Arin sekarang sudah naik kelas. Ibu harap Arin bisa juara ya di semua mata pelajaran." Pesan Bu Sara,Sebelum Arin masuk kelas.
" Iya, Bu. Arin pasti akan menjadi juara kelas. Arin janji,Bu!" Ujar Arini.
Bu Sara pun meninggalkan Arini sendiri, Untuk menjalankan rutinitas bersekolahnya.
Saat perkenalan dengan Wali kelas dan Guru-guru pengampu yang baru, Arini sangat antusias di banding teman-teman yang lain.
Arini terlihat beda dari yang lain, Karena Arini masih menggunakan sepatu usang dan tas lama.
Guru wali kelas pun langsung fokus memandang Arini, Karena meski menggunakan alat sekolah lama Ia terlihat sangat menonjol di banding teman-teman lainnya.
" Kamu ya yang namanya Arini?" Tanya Bu Keisya, Wali kelas baru Arini.
" Iya Bu, Saya Arini. Panggilan saya Arin.Bu!" Balas Arini sopan, Sambil berdiri.
" Kamu hebat Nduk, Kamu bisa juara 1." Puji Bu Keisya karena tahu kepintaran Arini dari Wali kelas sebelumnya.
" Kalo Arin Bu, Memang jago di semua pelajaran. Saya Dina teman Arin, Sebangku sejak duduk di kelas satu." Sahut teman sebangku Arini.
" Cita-cita kamu kedepan apa Nduk?" Tanya Bu Keisya kembali.
Semua murid menatap ke arah Arini karena Ia memang bintang kelas, Layak semua guru memuji dirinya.
" Cita-Cita Arini ingin menang kompetisi Lari Bu, Untuk saat ini. Tapi kalo sudah besar Arin pengen banget jadi Perawat." Terang Arini.
" Hebat, Ayo semua anak-anak kita beri tepuk tangan untuk Arini. Ia sudah punya Cita-cita dan Itu tujuan Dia selama ini belajar, Kalian ikutin jejak Arini ya!" Ujar Bu Keisya.
Semua murid bertepuk tangan untuk Arini.
Perkenalan pun usai, Bu Keisya langsung memberikan jadwal mata pelajaran yang akan di berlakukan mulai besok.
Setelah Bu Keisya, Guru-Guru mata pelajaran hari itu memperkenalkan diri.
__ADS_1
Setelah Guru yang terakhir, Pukul 12.00 wib mereka pun di suruh pulang, Di karenakan masih hari pertama yang di gunakan untuk perkenalan dan sedikit penjelasan tentang mata pelajaran.
Sekolah Arini berjarak lumayan jauh sekitar 20 menit dari rumahnya, Ia harus menggunakan angkot dan bangun pagi untuk sampai di sekolah.
Sekeluarnya Arini, Dari sekolah Ia keluar gerbang sambil clingak-clinguk menghadang angkot yang lewat, Tak di duga ternyata Ibunya menunggunya duduk di seberang trotoar jalan Sekolahnya.
" Bu...Ibu...!" Panggil Arini, Melihat Ibunya duduk sendiri.
Bu Sara pun langsung menghampiri Arini di seberang jalan.
" Ibu, Kenapa masih disini?" Tanya Arini.
" Ibu ingin menemani Arin, Pulang!" Jawab Sang Ibu, Bu Sara sebenarnya khawatir dengan kondisi Arini yang sewaktu-waktu jika terlalu lelah Ia akan pingsan.
" Ibu khawatir sama penyakit Arin ya, Bu?" Tanya Arini yang seolah mengerti sakit yang ia derita.
Enggak Nak, Ibu hanya ingin melihat Arin menempati kelas baru dan menunggu cerita dari Arin kok gimana tentang sekolah Arin!" Bu Sara mencoba memberi Alasan, Menutupi ke khawatirannya.
" Bu, Arin kuat kok. Jangan khawatir sama Arin Bu, Arin bisa jaga diri kok!" Ujar Arini mencoba menenangkan Bu Sara.
Kemudian mereka pun menyetop Angkot yang lewat di depannya.
Sesampainya di Rumah,
Arini langsung menuju kamar untuk beristirahat.
Bu Sara mengistirahatkan badannya di ruang tamu, Hans yang hari ini libur jualan. Kembali dari Jalan-jalan bersama Disa.
" Ibu kenapa?" Tanya Hans.
" Ibu hanya capek, Baru pulang menunggu Arin di sekolah." Jawab Bu Sara.
" Bu, Apakah Arin harus di perlakukan seperti itu?" Tanya Disa, Yang duduk di samping Hans menghadap Bu Sara.
" Aku khawatir,Nduk!" Balas Bu Sara.
" Disa paham Buk, Namun jika Arin terus di awasi pastilah Ia akan merasa risih dan bisa menjadi bahan bul'yan oleh teman-temannya." Jelas Disa.
__ADS_1
Datanglah Rino, Yang ijin kepada Wak Nana untuk pulang memberikan Hadiah darinya da Sang Uwak berupa perlengkapan sekolah.
" Assalamualaikum...!" Sapa Rino memasuki rumah.
Melihat Ibunya dan Kakaknya menggunakan wajah serius.
" Ini ada apa lagi?" Tanya Rino sambil menenteng Kado besar.
" Itu apa, No?" Tanya Hans.
" Ini hadiah untuk Arin, Jawab dulu ada apa kalian bicara serius?" Ujar Rino duduk di samping Ibunya.
" Ini No,Ibu kecapek'an gara-gara nungguin Arin di sekolah. Ibu khawatir sama Arin!" Jelas Disa.
" Owh itu, Yaudah biarin aja Arin berangkat seperti biasa." Rino menanggapi dengan santai.
" Tapi, Kamu kan tau Nak bagaimana keadaan Adikmu!" Bu Sara memandang Rino dengan tegang.
" Heleh, Gitu kok di jadikan patokan terus Bu. Gini jika kita bersikap lebih terhadap Arin, Justru kita semakin membuat Arin khawatir sekaligus minder dengan kondisinya! Biarin Arin seperti anak normal, Jangan selalu di khawatirkan. Kita hanya suport dia dan berikan rambu-rambu agar penyakitnya tidak kambuh! Sudahlah berhenti berlebihan. Kita semua tahu penyakit Arin memang berbahaya, Hanya yang lebih berbahaya lagi jika kita terlalu mengekangnya dengan alasan penyakit itu justru kita yang memberi penyakit ke psikist Airin dan menanamkan ketakutan pada dirinya sendiri!" Jelas Rino, Memberi wawasan tentang cara menyikapi Arini.
" Aku setuju, Aku lebih ingin Arin bebas seperti dulu jadi itu juga akan menjadi obat yang ampuh untuk melawan penyakitnya. Jangan ada lagi sikao berlebihan, Besok Aku akan membantu kalian Bu. Aku akan menemui Guru-Guru Arin bersama Hans untuk menjelaskan penyakit Arini sekaligus meminta bantuan untuk mengawasi Arin selama di sekolah!" Disa memberikan gagasan.
" Yah, Aku setuju ide Disa!" Balas Hans.
" Baiklah, Gimana baiknya kalian. Hanya saja sebagai Ibu, Ibu tetap khawatir terhadap pnyakit Adik kalian!" Ujar Sang Ibu.
" Nah, Gitu aja repot. Udah ini nanti buat Arin, Aku mau tidur dulu!" Ujar Rino menaruh kado di atas meja ruang tamu.
" Kamu balik kapan, Woy?" Tanya Hans, Melihat Rino melangkah menuju kamar.
" Besok!" jawab Rino.
Bu Sara menatap kado buat Arini, Memikirkan tentang rencana kedua kakak Arini.
" Udah Bu, Pasti akan baik-baik saja!" Disa mendekati Bu Sara dan memberi keyakinan padanya.
" Udah Bu, Bener yang Rino bilang. Memang Arin harus di beri kebebasan, Agar Dia punya motivasi besar untuk sembuh!" Ujar Hans mematap sang Ibu.
__ADS_1
" Lihat kan Bu, Anak kedua Ibu. Kelihatan konyol justru malah Ia yang paham tentang kondisi Arin, Dan yang bisa merasakan perasaan Arin." Imbuh Hans, mengambarkan sosok Rino.
Bu Sara pun agak sedikit tenang karena di kelilingi anak-anak sekaligus Kakak-Kakak Arini yang sangat sayang pastilah mereka ikut menjaga Arini. Dan sekarang kekhawatiran itu terasa semakin kecil.