Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Lanjutan...


__ADS_3

" Nanti Kamu ke rumahku ya!" Ujar Disa meminta Hans.


" Yah, Sehabis dagang ya." Balas Hans, Sambil menata barang dagangan di gerobak.


Lagi asyik-asyiknya keduanya mengobrol, Dira yang babak belur melewati Ikhsan yang sedang mengamen di tengah jalan dengan kostum untuk menuju arah lapak Hans.


" Aduh...Aduh....Sakit semua." Lirih Dira, Merasakan sakit karena pukulan Preman di samping gerobak Hans dengan posisi duduk.


" Kenapa, Mas?" Tanya Disa pura-pura tidak tahu.


Hans masih sibuk menata barang dagangan tanpa menghiraukan kehadiran Dira.


Ikhsan menghampiri Dira.


" Mau ngapai lagi, Kamu? Udah nyuruh preman mau ngacak-ngacak lapak Hans!" Bentak Ikhsan dengan nada tinggi, Di depan Dira.


Hans melirik ke arah Dira.


" Nih, Obatin sendiri!" Ujar Hans, Melempar perban, Obat Merah dan Air mineral pada Dira.


Dira merasa malu, Orang yang ingin Ia celakai justru baik padanya.


" San, Udah stop kembalilah ke lapakmu!" Perintah Hans, Menatap Ikhsan untuk meredam kemarahan Ikhsan.


Ikhsan pun menuruti kata-kata Hans.


" Gimana Mas, Apa enggak malu sama Pacarku yang kemarin Kamu hina bahkan tadi hampir kamu celakai?" Ujar Disa kesal, Menatap Dira.


" Maaf...Jujur hari ini Aku malu, Maafin Aku Hans." Ucap Dira, Duduk sambil menatap Hans.


" Udah nggak apa-apa Bro, Yang penting jangan di ulangi! Kemarin Aku tidak mengganggu saat Orang Tua Disa lebih memilihmu, Sekarang Kamu bisa kan nunjukin hal sama!" Balas Hans, Tanpa melihat Dira fokus menata barang dagangan di grobak.


" Yah, Aku akan bersikap seperti yang Kamu lakuin Aku janji!" Tutur Dira.


Disa melihat Hans dengan perasaan sangat kagum, Karena tidak sekali pun Hans menaruh dendam.


" Aku numpang disini dulu ya, Ngobatin luka." Pinta Dira.


" Yaudah, Silahkan tapi jangan terganggu Bro jika nanti ramai pembeli di lapak'ku." Balas Hans.


Lapak sudah di gelar, Pembeli Ibu-ibu dan Anak muda pun mengerubuti gerobak dagangan Hans.


Dira berinisiatif membantu Hans, Yang kerepotan dengan pembeli bersama Disa.


" Yang mana Bro, Silahkan pilih!" Seru Dira, Menatap Anak muda di depannya.


Hans dan Disa menatap Dira, Mereka berdua tersenyum.


" Tenang Aku bantuin." Kata Dira, Sambil tersenyum, Menyadari dirinya di pandang oleh Hans dan Disa.


Di sisi pasar yang lain,


Rino menunjukkan pedagang-pedagang pasar satu persatu dengan barang dagangan sembari menuju tempat dagang karyawan Disa.


" Banyak juga ya Nak, Yang kenal dengan Kamu." Ujar Ibu Disa.


" Heheheh....Iya Buk, Kalo mau belanja silahkan pasti dapet diskon." Balas Rino sambil cengengesan.


" Apa Disa dan Hans juga terkenal sepertimu, Nak?" Sahut Ayah Disa.


" Mereka juga terkenal, Kan sini semua saudara Pak jadi ya kenal. Dan perlu Bapak dan Ibu tahu, Jika sesama pedagang kalo beli kadang gratis..Heheheh.." Jelas Rino.


" Oh...Ya udah nanti Ibuk mau cari sayur buat makan-makan di rumah, Kamu dateng ya Nak." Undangan Ibu Disa pada Rino.


" Pasti, Buk." Jawab Rino.


Lagi asyik mengobrol Rino melihat Bu Keisya di sampingnya.


" Loh, Bu Keisya! Kenapa disini kan harusnya mengajar." Sapa Rino.


Bu Keisya pun berbalik memandang Rino.


" Kamu jualan di sini juga, Mas." Balas Bu Keisya.


" Iya, Hari ini Aku ijin karena habis membawa Ibuku ke Dokter lagi sakit. Ini lagi nyari sayur buat masak, Mampir Mas rumahku di deket sini." Imbuh Bu Keisya.


" Ini Nak Keisya ya, Teman Disa sewaktu SMA?" Sahut Ibu Disa.


" Iya Buk, Apa kabar Ibuk dan Bapak?" Jawab Bu Keisya lalu mencium tangan keduanya.


" Gimana Kabarmu dan Orang Tuamu, Nduk?" Tanya Ayah Disa.


" Alhamdulillah Saya baik, Hanya Ibu kurang enak badan." Balas Bu Keisya.


" Lah Ayahmu?" Tanya Ibu Disa.


" Sudah lama meninggal Buk, Sewaktu Saya kuliah." Jawab Bu Keisya.

__ADS_1


" Turut berduka cita ya Nduk, Maaf tidak dengar kabarnya." Ujar Ayah Disa.


" Enggak apa-apa, Ayok Buk Pak mampir ke rumah Saya. Pasti Ibu seneng ketemu Kalian berdua." Kata Bu Keisya mengajak ketiganya.


" Ya udah, Yuk Pak tapi Ibu juga mau belanja sayur buat nanti masak dulu." Tutur Ibu Disa.


" Lah apakah tidak jadi melihat usaha, Disa?" Tanya Rino.


" Alah No, Biarin di kelola Disa. Mending Kita main dulu aja mumpung Kami di sini, Sudah kangen ngobrol bersama Orang Tua Keisya." Ujar Ayah Disa.


" Ya wes ngikut aja." kata Rino.


Bu Keisya dan Ibu Disa, Memilih sayur sedang Rino dan Ayah Disa berkeliling melihat-lihat barang dagangan sekelilingnya.


" No, Apa kamu enggak tertarik sama Keisya?" Goda Ayah Disa pada Rino, Lirih.


" Hehhehehe..." Jawab Rino cengarcengir.


" Udah Nak, Kalo ada kesempatan deketin." Imbuh Ayah Disa memprovokasi keberanian Rino.


" Jauh Pak, Dia Guru sedang Saya cuman pedagang emperan." Ujar Rino lirih.


" Aku aja bisa luluh sama Kakak'mu Hans karena Keberanian dan Bisa Saya andalkan. Udah nanti di rumah Keisya kamu ambil hati Orang Tua Keisya." Saran Ayah Disa.


" Ok, Pak laksanakan." Jawab Rino, Melirik arah Bu Keisya.


" Nak Rino sama Hans itu baik ya, Nduk." Ujar Ibu Disa memulai percakapan.


" Iya Budhe, Meski Mereka kekurangan kadang mereka malah memikirkan orang lain." Kata Bu Keisya menanggapi, Sambil memilih sayur.


" Kalo Hans kan milik Putri Ibuk, Kamu apa tidak tertarik sama Rino adiknya?" Goda Ibu Disa.


Wajah Bu Keisya pun memerah karena malu.


" Ya gimana ya Budhe, Masak Saya yang harus mengejar." Pungkas Bu Keisya.


" Yah, Paling tidak Kamu kasih kode Nduk." Tutur Ibu Disa.


" Hehehhe..." Bu Keisya menjawab dengan tawa.


Mereka pun selesai berbelanja sayur, Selanjutnya mengikuti Bu Keisya untuk mampir di rumahnya.


" Kamu jalan, Sya?" Tanya Rino.


" Iya Mas, Kan deket. Cuma di situ pentokan ngiri tiga rumah." Ujar Bu Keisya sambil menunjuk jalan.


" Mari, Silahkan masuk." Ujar Bu Keisya mengajak ketiganya masuk.


" Rumahnya Apik'e." Ujar Ayah Disa.


" Iyo yo Pak, Estetik." Imbuh Ibu Keisya.


" Wah makin minder Aku, Pak." Ujar Rino.


" Heh...Nggak boleh kendor Kamu itu lelaki!" Ujar Ayah Disa.


Mereka pun masuk ke rumah.


" Mari Pak Buk, Ibu Saya di kamar silahkan masuk soalnya Beliau sudah tidak dapat berjalan." Jelas Bu Keisya memasuki satu kamar.


Mereka pun mengikuti.


" Assalamualaikum.." Ucap Ketiganya, Memasuki kamar.


" Wa'alaikum salam..." Balas Ibu dari Bu Keisya.


Ibu dari Keisya mendengar suara yang Ia hafal.


" Bu, Lie?" Teriak Ibu dari Keisya.


Ibu Disa pun langsung memeluk Ibu dari Keisya yang telah lama Ia tak mendengar kabar dan bertemu.


" Kowe kok koyo ngene to Yu." Ucap Ibu Disa menangis melihat kondisi sahabatnya.


" Yo ngeneki, Kapan Koe teko?" Tanya Ibu dari Keisya.


" Wingi Yu." Jawab Ibu Disa.


" Kui sopo, Nduk?" Tanya Ibu dari Keisya melihat Rino berdiri di samping Putrinya


" Iki Koncoku, Buk " Jawab Keisya.


" Njiih, Empun njiih Dhe kulo tak masak ten wingking. Kulo tinggal njiih." Pamit Bu Keisya.


" Kulo sekalian tak ngewangi Keisya." Pamit Rino.


Rino mengikuti Bu Keisya.

__ADS_1


" Mereka akrab, Ya?" Tanya Rino.


" Yah begitulah, Soalnya dulu sewaktu Aku dan Disa sekolah ya sering ketemu karena Ya saling memantau Putrinya di sekolah." Jawab Keisya.


" Mas bisa bahasa kromo juga?" Tanya Bu Keisya terkejut.


" Kan Ayaku juga dari jawa, Ya bisalah. Nenek Kakek dan saudara Ayahku ada di jawa." Jelas Rino.


" Oh..Kirain nggak bisa." Ucap Bu Keisya, Sambil melangkah ke dapur.


" Ya sedikit-sedikit bisa." Kata Rino, Sambil nyengenges.


" Mas Rino apa enggak bantuin, Kak Hans?" Tanya Keisya.


" Yah, Udah di temani calon istrinya. Paling sebentar lagi Disa resmi jadi Kakak'ku." Ujar Rino.


" Emang udah di setujui?" Tanya Bu Keisya.


" Kalo enggak mana mungkin Aku bisa hahahihi sama Orang Tua Disa." Ucap Rino.


" Alhamdulillah...Akhirnya Hans bisa naklukin hati Orang Tua Disa, Padahal kemarin Aku khawatir soalnya Ayah Disa itu perfectsionis." Jelas Bu Keisya.


" Ya luluh lah, Orang Keningnya Hans sampai berdarah." Tutur Rino.


" Maksudnya, Mas?" Tanya Bu Keisya penasaran.


" Besok Aku ceritakan, Udah sekarang Kita masak aja soalnya udah laper Aku tuh." Pungkas Rino.


Bu Keisya dan Rino pun memasak bersama.


...****************...


Di Pasar,


Pelanggan mulai sepi, Hans dan Disa pun mencari Rino dan Kedua Orang Tua Disa.


" Kenapa lama ya, Katanya cuma mau ke lapakmu, Dis!" Ujar Hans.


" Lapak apaan, Mereka lagi di rumah Keisya. Nih Ibuku bikin story." Balas Disa, Memperlihatkan layar Hpnya.


" Kalian makan belum, Sih?" Sahut Dira, Yang mulai lapar.


" Laper juga Bro, Kita cari makan di situ dulu yuk. Tapi bentar Aku juga ajak Ikhsan dulu!" Jawab Hans.


" Yukk, Kita kesana dulu!" Ajak Disa pada Dira.


" Ya, Kalian dukuan aja." Imbuh Hans.


" Terus gerobak ini gimana? Siapa yang jaga?" Tanya Dira, Khawatir dengan barang dagangan.


" Udah biarin aja, Bik nitip ya bentar mau makan." Teriak Hans, Menitipkan gerobak pada pedagang sebelah.


" Yah." Balas Bibik penjual sebelah.


Dira pun menyusul Disa, Sedang Hans menghampiri Ikhsan yang joget-joget di deoan lapaknya.


" Makan dulu, San!" Ajak Hans sambil menepuk pundak Ikhsan.


Ikhsan pun menyopot penutup kepala kemudian mengambil kaleng yang berisi uang di hadapannya.


" Yukk...." Kata Ikhsan menyopot kostum lanjut mengikuti Hans.


Setelah di warung makan 100 meter dari lapak Hans.


" Udah kalian pesen, Biar Aku yang bayar!" Kata Dira.


" Emang uangmu masih ada? Bukannya udah habis buat bayar preman?" Sindir Ikhsan.


" Masih Mas Bro, Maaf lah gitu di sindir terus! Nih sudah bonyok." Balas Dira.


" Ssst...Udah, Ngoceh mulu. Kita mau makan nih!" Ujar Hans melerai pertikaian Ikhsan dan Dira.


" Tahu nih pada, Udah lupain aja saling baikan." Sahut Disa.


" Lah Rino sama Ayah dan Ibumu kemana, Dis?" Tanya Ikhsan.


" Mereka lagi makan-makan juga di rumah Keisya, Katanya tidak jauh dari sini." Jawab Disa.


" Wo..o...Ya udah pasti kenyang Mereka, Pesen gih Hans! Aku kayak biasa." Tutur Ikhsan.


" Aku mie telur aja, Mas. Sama minuman es teh!" Sambung Dira.


" Kamu biasa kan, Yang." Kata Hans, Menawari Disa.


" Ya, Sayang biasa." Jawab Disa.


Hans masuk ke warung untuk memesan.

__ADS_1


__ADS_2