
Setelah Bu Keisya pulang, Arini langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.
" Yah, Bu, Arin mau istirahat dulu ya. Arin lelah." Kata Arini kecil berpamitan untuk meninggalkan semuanya.
Disa melihat wajah pucat Arini kecil, Langsung memberi tahu pada Hans.
" Sayang, Apa kamu tidak perhatikan Arin?" Ujar Disa di samping Hans.
Bu Sara pun sadar akan wajah pucat sang anak, Bu Sara lantas mengikuti secara diam-diam Arini ke kamarnya.
" Nampaknya Ibu sudah menyadari, Ayo kita lihat adikmu Hans!" Disa menarik Hans ke kamar Arini di ikuti Sang Ayah.
Bu Sara mengintip di sebalik pintu, Melihat Arini duduk di meja belajar menulis di sebuah buku.
" Bu, Arin?" Tanya Hans.
" Ssst....Kita lihat dulu saja!" Ucap Bu Sara, Memberi kode jangan bersuara keras.
Setelah menulis Arini kecil berbicara kepada 3 kura-kura peliharaannya.
" Ini seperti Arin, Ini Kak Hans dan Kak Rino. Hari ini Arin seneng banget bercampur sedikit kesedihan, Tahu nggak kalian Arin terpilih mewakili sekolah untuk ikut lomba. Namun, Arin juga sedih tadi di sekolah Arin tidak bisa ikut olahraga bersama yang lain. Sebenarnya Arin sakit apa sih Kak Hans dan Kak Rino? Kenapa sepertinya Arin berbeda dengan yang lain semenjak sakit ini! Terus Kak Hans, Arin sekarang takut karena gampang marah sama Arin, Apakah Arin sudah tidak bisa bermain seperti yang lain? Kalian melihat Arin berbeda ya, Tolong kalau kalian ketemu Kak Hans tanya'in dong apakah Arin sudah tidak jadi adik baiknya lagi! Sudah ya Kak Hans, Kak Rino, Dan Arin. Arin mau bobok ini di tangan Arin sudah ada lingkaran-lingkaran kecil, Takut nanti Mereka khawatir." Curhat Arini kecil kemudian Ia menuju ranjang untuk tidur.
Semua yang mendengar merasa hancur hatinya, Disa memandang tajam Hans.
Kemudian Ia menarik Hans ke luar rumah untuk mengajaknya bicara.
Sampailah Ia di gang ujung kampung, Disa sengaja jauh karena Ia mengerti Arini anak yang cerdas bisa saja Ia mendengarkan diam-diam pembicaraannya.
" Kenapa menarikku sampai di sini?" Tanya Hans.
" Karena Arin itu cerdas, Kamu dengerkan tadi! Curhatan Arin dari dalam hati! Kemarin Aku yang marah karena kamu terlalu peduli sama Arin sekarang Aku marah karena Aku sayang Arin dan peduli! Hans, Sampai kapan kamu akan menghakimi Arin kecil atas penyakitnya? Apakah Ia meminta penyakit Itu? Apa penyakit itu di sengaja? Hans ayo kita rawat Arin bersama, Jangan lagi membebani dirimu sendiri. Aku tahu kamu peduli hanya saja mungkin caramu merawatnya justru perlahan akan menyiksanya!" Jelas Disa.
__ADS_1
Hans terduduk memegangi kepala dengan dua tangan, Ia bingung harus bagaimana menyikapi Arini tanpa menyakitinya.
Rino melihat Hans seperti orang frustasi di temani Disa di ujung gang, Rino yang baru saja membantu Bu Keisya menambal motor pun menghampiri.
" Ini kenapa lagi, Belum sampai Aku tinggal seminggu kayaknya kamu udah nggak sanggup! Kenapa Hans?" Ujar Rino di depan Hans.
Disa dan Hans melihat ke arah Rino.
" Ini No, Tadi mendengar Arin curhat sama kura-kura. Katanya sekarang Arin takut sama Hans karena sering marah-marah padanya!" Jelas Disa.
" Oh..Itu, Kan dari dulu sudah Aku ingetin. Udah biarin aja Arin tumbuh seperti yang lain, Toh jika capek sekarang Ia tahu harus gimana! Beri aja kepercayaan sedikit padanya, Beres!" Rino menasehati Kakaknya.
" No, Tukeran yuk Aku yang bersama Uwak kamu coba jagain Arin!" Hans menanggapi Rino.
" Gini saranku, Selama Arin akan ikut lomba! Rino kamu yang ngawal buat Arin menghadapi lomba dan mengawasinya. Biar Hans yang bekerja untuk Uwakmu agar Arin tidak tertekan sekaligus Arin bisa fokus dan nyaman saat belajar!" Ide Disa.
" Deal kalo gitu!" Jawab Rino langsung setuju.
" Ini buat Arin, Bukan kesempatan kamu deketin Bu Keisya loh ya!" Peringatan Disa karena tahu akal-akalan Rino.
" Tapi kalian pasti tidak akan sering ketemu, Apa kamu kuat Dis? Hans pasti sekitar 1bln pergi!" Imbuh Rino.
" Kata Siapa Aku akan di sini, Aku akan ikut Hans lah di sana. Aku mau bantuin calon suami buat mengurus kolam sekaligus refreshing, Sabtu minggukan bisa pulang! Toh jualanku juga sudah ada karyawan. Dari pada di rumah sendiri, Mending ikut calon suami bantuin!" Jelas Disa
Rino dan Hans tahu Kalo keluarga Disa di luar kota, Ia sendirian dari SMA di sini. Sepeninggal Kakek dan Nenek Ia hanya hidup sendiri.
" Baiklah, Aku ikuti saranmu Sayang!" Hans, Bangkit dari duduknya.
Sang Ayah buru-buru lari untuk mencari kedua Anaknya, Karena Arini badannya panas lagi. Pak Romi khawatir keadaan Arini.
" Hans, No...!" Triak Sang Ayah dari kejauhan.
__ADS_1
Semuanya pun menoleh.
Sang Ayah dengan nafas terengah-engah menghampiri mereka.
" Hans...No....Adikmu...Adikmu...Panas lagi!" Pak Romi sambil terengah-engah.
Mereka semua pun berlari.
Setelah sampai rumah Mereka langsung masuk ke dalam kamar Arini.
Arini kecil panas hingga Ia mengigau.
" Arin nggak nakal, Kak....Arin...Nggak nakal..!" Berulang-ulang.
Hans dan Disa kalian bawa Arin pakai motorku ke klinik, Aku nanti akan menyusul.
Hans pun mengambil motor Rino, Lantas Rino membopong Arini untuk di dudukkan di motor di jaga belakang oleh Disa.
Hans langsung buru-buru ke klinik, Ayah dan Ibu langsung mengikuti dari belakang.
Rino ingin tahu, Beban apa yang di pinggul adiknya setelah teringat cerita Bu Keisya.
" Ayah Ibu, Duluan saja nanti Aku susul!" Ujar Rino.
Setelah Orang Tuanya pergi, Rino masuk kamar Arini.
Rino duduk di meja belajar Arini mengambil buku diary Arini. Rino mebuka halaman terakhir yang baru saja Arini menulis.
" Dear Diary.
Hari ini istimewa bagiku karena Aku bisa mewakili sekolahku, Hanya saja tiap Aku pulang Aku merasa sedih melihat Tv di ruang tamu sudah kosong demi pengobatannku. Kemarin Aku denger Kak Hans juga mau menjual gerobaknya untuk perawatanku, Diary Aku sudah mengerem jajanku, Sudah ku coba membawa bekal agar uang sakuku bisa mengganti membeli tv untuk Orang Tuaku. Apakah penyakit ini akan terus menggerogotiku? Apakah Aku harus terus menyusahkan keluargaku? Kapan Ya TUHAN Aku bisa sembuh!" Tulisan dalam Buku Diary.
__ADS_1
Rino pun langsung berkaca-kaca membaca buku diary Arini.
" Jadi selama ini kamu menghukum dirimu sendiri Rin, Aku sebagai Kakakmu seolah tidak bisa berbuat banyak untukmu! Baiklah Rin, Akan Kakak tunjukkan bahwa Kakak bisa mengganti tv di ruang tamu agar bebanmu sedikit berkurang,Dan Kak Rino janji Kak Hans tidak akan pernah menjual gerobak demi perawatanmu, Biayamu akan Kakak tanggung semua!" Kata Rino setelah mengerti beban Arini kecil.