Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Menyadarkan Hans Arti Sayang


__ADS_3

Setelah Arini mengetahui, Ia hanya terkungkung di rumah. Arini yang ceria kini mendadak menjadi Arini yang cemberut, Namun ketika ada banyak orang Ia memasang wajah ceria.


" Arin, Dari tadi di rumah Bu. Dari tadi selalu main dengan Hans sampe terbahak-bahak!" Kata Hans ketika semua orang berkumpul di ruang tamu melepas lelah setelah berjualan.


Rino yang menyandarkan tubuh di kursi pun sontak menegakkan duduknya mendengar hal itu.


" Arin tadi main Putri-Putrian Bu, Sama Kak Hans memakai baju yang di beri Kak Ikhsan!" Jelas Arini yang duduk di tengah-tengah Ayah dan Ibunya.


" Arin janji, Nggak akan main di luar nanti bikin semua sedih!" Imbuh Arini.


Wak Nana dan Rino saling pandang. Seolah mengerti maksud Arini.


" Hans, Bicara dulu yukk!" Kata Rino mengajak Hans ke luar rumah untuk ngobrol.


Pak Romi dan Bu Sara terkejut, Dan takut kalo mereka berselisih paham. Pak Romi bangkit dari duduk ingin menyusul mereka berdua.


" Sudah duduk Rom, Biarin aja. Mereka pasti sudah tahu apa yang akan di lakukan karena sudah sama-sama dewasa!" Wak Nana menghentikan Pak Romi.


Setelah jauh dari rumah tepatnya di gang depan rumah.


" Hans, Kenapa Aku makin takut ya denganmu saat merawat Arini!" Ujar Rino menatap Hans.


" Maksud'mu Apa? Dia bahagia kok! " jawab Hans.


" Bahagia katamu, Apa arti bahagia hanya tertawa? Ingat Hans Arini itu masih kecil dunianya bermain dengan teman sebaya. Ia begitu karena hanya ingin melihatmu bahagia bukan Ia yang bahagia!" Ujar Rino dengan nada agak tinggi.


" Jangan sok tahu kamu! Aku Kakaknya pasti Arin memang bahagia, Jangan-jangan Kamu iri!" Balas Hans kesal, Mengepalkan tangan.


" Okey, Aku tunjukkan padamu yang Arin bahagia sama Arin yang memaksa bahagia!" Balas Rino meyakinkan Hans.


Rino pun kembali ke rumah di ikuti Hans.


" Arin, Beli es yukk!" Kata Rino mengajak Arin keluar.


" Tapi Kak, Nanti Arin capek terus bisa pingsan!" Jawab Arini.


" Udah nanti Kak Rino gendong, Kita lihat teman-teman Arin bermain. Nanti Arin boleh ikut bermain kok!" Jelas Rino.


Arini menatap Hans yang berdiri di depan pintu. Bu Sara pun paham apa yang di lakukan Rino.

__ADS_1


" Udah Arin, Sana sama Kakakmu beli es, Kan mau di gendong kalo capek!" Kata Bu Sara membujuk Arini.


" Udah sana, Nih Wak Nana beri uang seratus ribu buat jajan sana!" Imbuh Wak Nana sambil mengeluarkan dompet mengambil uang seratus ribuan.


" Ya sana Rin, Ikut Kak Rino!" Ujar Hans.


Saat Hans yang menyuruh, Arini langsung mau ikut dengan Rino.


Mereka pun berjalan untuk membeli es, Kak Hans diam-diam mengikuti Rino dan Arini.


" Arin, Gimana kalo kupu-kupu terbang?" Rino menghibur Arini.


" Gini Kak!" Balas Arini menirukan Kupu-kupu denga tawa di wajahnya.


" Kalo jalan jerapah?" Kembali Rino mengajak Arini bercanda.


Arini pun menirukan jalan jerapah dengan tertawa terbahak-bahak.


Berjalan sambil bercanda tidak terasa sampai di toko penjual yang krim.


" Kak, Nggak terasa sudah sampai!" Ujar Arini senang.


" Ternyata Rino lebih paham, Arini dari pada Aku! Senyumnya berasa lepas sekali sedang denganku tadi seperti di paksakan!" Gumam Hans merasa bersalah.


Setelah membeli es krim, Rino mengajak Arini untuk melihat temannya yang main di tempat biasa bermain.


" Kak, Ayo pulang saja. Arin takut Arin capek kak! Nanti menyusahkan semua terutama Kak Hans." Kata Arini ingin segera pulang.


" Kamu takut Capek apa Takut Kak Hans marah?" Tanya Rino menatap Arini dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Arini sambil membungkuk.


Arini pun terdiam cukup lama.


" Okey, Karena Arin diam. Kak Rino tahu pasti Arin takut Kak Hans marah!" Ujar Rino melirik Arah Hans.


" Arin takut merepotkan Kak Hans, Arin Takut Kak Hans marah sama Kak Rino seperti Kak Hans marah sama Kak Disa! Arin ini sakit Kak, Bisanya cuma merepotkan semuanya!" Cerita Arini.


" Kata siapa Arin sakit, Itu cuma sakit kecil kok! Tanya aja sama Kak Disa. Udah Kak Rino nggak bakalan di marahin Kak Hans!" Kata Rino meyakinkan Arini.


Hans yang mendengar cerita Arini pun menangis, Lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok di belakangnya.

__ADS_1


" Arin itu bintang, Bintang itu berpijar dengan kuat hingga bisa terlihat indah. Arin nggak sakit, Biar cepet sembuh obat paling cepat adalah tertawa dan senang-senang Arin kata Kak Rino." Rino berusaha memotivasi Arini.


Setelah sampai di tempat biasa Arini dan teman-teman bermain, Rino melihat teman Arini lagi asyik bermain dengan gembira.


" Tuh, Sana main biar Kak Rino tunggu di sini! Kalo capek berhenti, Biar nanti Kak Rino jemput pulang Kakak gendong!" Ujar Rino.


Arini pun langsung berlari bergabung bersama teman-teman.


Rino mencari tempat duduk di bawah pohon di luar pagar Arini bermain.


Hans pun duduk di samping Rino karena Airin sedang bermain.


" Kamu ternyata lebih bijak dari pada Aku, Aku sebagai Kakakmu malu tidak bisa bersikap dewasa sepertimu!" Ujar Hans menatap langit.


" Awalnya Aku khawatir sama sepertimu, Hanya saja sewaktu Aku berjualan ada Ibu membawa anak yang ada kekurangan secara fisik, Namun anak itu mampu bangkit. Aku bertanya pada Ibu itu bagaimana Ia bisa membuat anaknya bangkit! Ternyata bukan membedakan Ia dengan yang lain lebih kepada menganggapnya istimewa dan sama dengan yang lain!" Cerita Rino.


Hans dengan serius mendengarkan cerita Rino.


" Beri Aku satu kesempatan lagi, Bila Aku gagal biarkan Aku yang menemani Wak Nana. Dan Aku titip Arini untuk Kamu jaga!" sahut Hans.


" Bukan gitu konsepnya, Aku hanya ingin Kamu belajar untuk bisa menjadi motivator buat Arin. Masalah Wak Nana itu Aku yang membuat kesepakatan tentunya harus Aku yang menjalankan. Itu perinsipku!" Balas Rino.


Rino dan Hans melihat Arini yang sehabis bermain Ia duduk sendiri di samping teman-temannya.


" Hans, Samperin Arin. Ini sebagai bukti bahwa Kamu tidak mengekangnya!" Ujar Rino menyuruh Hans.


Hans pun menghampiri Arini yang kecapek'an. Melihat Hans datang Arini merasa ketakut'an.


" Kak, Maaf'in Arin udah ngelanggar perintah Kak Hans." Ujar Arini menatap Hans dengan rasa takut.


Hans tidak bisa berkata-kata langsung, Memeluk Arini.


" Kak Hans tidak marah kok, Besok beli es krim sama mainnya sama Kak Hans. Biar kalo capek Kak Hans yang gendong Arin!" Ujar Hans.


Kemudian Hans memberi kode agar Arini naik di punggungnya untuk di gendong.


" Yuk pulang, Arini sudah capek'kan!" Kata Hans dengan penuh senyum.


Rino yang melihat dari kejauhan pun tersenyum, Akhirnya Rino pulang duluan dan memberi waktu berdua untuk Hans dan Arini.

__ADS_1


__ADS_2