
Seusai dari kost Arini,
Semua melanjutkan perjalanan menuju toko penjual Kaki palsu buat Dona.
" Kak, Enggak usah saja! Dona pakai, Tongkat ini juga sudah cukup." Ujar Dona di dalam mobil.
Erin yang duduk di sebelah Dona, Menatap sembari tersenyum " Dona, Kamu itu hebat jadi anggep aja ini hadiah atas prestasi mu!" Balas Erin.
Arini duduk di belakang terus menatap laptop, Tanpa ada suara sekecil pun.
" Ngomong-omong nih, Arin dari kapan ya suka dan bisa main game?" Sindir Rino, Yang duduk di kanan Arini telah memperhatikan dari tadi.
Arini menatap Kakaknya Rino sambil tersenyum " Buat hiburan Kak, Selama masih libur!" Ucap Arini.
" Boros di kuota, Rin!" Sahut Hans di belakang Arini.
" Enggak Kak, Ini offline kok! Biar otak Arin terus berfikir Kak." Jawab Arini.
" Tuh, Yang ngajari Arini! Ya Dona, Siapa lagi. Aku nggak bisa main game dan enggak tertarik." Kata Rizal sambil menyetir.
Dira dan Erin terdiam, Karena Mereka juga ikut terkadang saat Arini bermain online.
" Ya Rin, Jangan sering-sering!" Nasehat dari Dira, Sambil tersenyum.
" Iya Kak, Enggak sering soalnya yang pinter game mainnya juga enggak sering! Iyakan, Kak Erin?" Balas Arini, Tersenyum melihat Erin duduk di depannya bersama Dona.
" Bentar, Erin Kamu juga suka ngegame?" Tanya Rino terkejut.
" Dia juara terus, Bukan hanya suka tiap malem malah sering begadang main game! Apalagi kalau weekend sampai pagi." Sahut Dira.
" Ya Aku juga sering main sama Arin saat Online, Tapi kayaknya jika Kita main bertiga ya Rin! Satu lagi, Siapa?" Sindir Erin, Melirik Dira.
" Hahahhaha...Main suka kalah!" Sambung Arini, Menyindir Dira.
" Yang suka kalah, Ya itu Kak Dira. Mereka bertiga musuhku di game Kak!" Sahut Dona.
" Ternyata Si Bos, Ku kira tadi menyindir Erin sendirinya tidak main. Malah kebalikannya, Kok kalah terus kenapa bisa, Bos?" Tanya Rino.
" Ntar No, Aku kasih tunjuk kenapa kalah terus!" Ujar Dira.
Erin dan Arini kompak menertawakan Dira, Karena saat bermain Dira di gunakan sebagai tumbal oleh keduanya.
" Untung Istriku tidak suka Game, Jadi eggak pernah begadang!" Ujar Hans, Memuji Disa.
" Apalagi, Pacarku pastilah enggak mungkin main game!" Kata Rino, Dengan percaya diri.
__ADS_1
Langsung Erin, Mengeluarkan hp kemudian menelpon Keisya mengajaknya main game sore harinya dengan di loundspeaker.
Alangkah malunya Rino, Keisya langsung antusias ingin ikut main game.
Arini, Dira dan Erin sontak membuat semua terbahak-bahak.
" Kok bisa ikut? Pasti kamu yang ngajarin ya, Er?" Tanya Rino.
" Idih main tuduh, Makannya kekinian!" Bantah Erin.
" Na, Ajarin Aku ntar main game ya? Privat gitu, Biar enggak kelihatan bodoh Aku." Ujar Rino, Meminta Dona sebagai mentor.
" Tenang Kak, Nanti Aku ajari!" Balas Dona tersenyum.
Mobil lalu berhenti di sebuah toko, Yang nampak dari depan terpajang alat-alat kesehatan.
" Yukk, Sudah sampai turun! Bahas Gamenya, Ntar lagi!" Ajak Dira, Kepada semuanya.
Setelah memarkirkan mobil, Semuanya turun.
Lalu membawa masuk Dona supaya bisa memilih, Kaki mana yang Ia sukai.
" Pilih aja Na, Dan Zal Kamu temenin Dona memilih Kami mau lihat-lihat di yang lain!" Ujar Hans.
Dona dan Rizal langsung memisahkan diri, Melihat berbagai macam kaki.
Dira tersenyum " Kamu kayak sama siapa aja No, Udah sana dampingi!" Balas Dira.
Rino diam-diam mengikuti Dona dan Rizal, Sedang Arini mengikuti Kakak-kakaknya.
Dona melihat satu Kaki palsu yang selalu Ia mimpikan, Ia tahu keunggulan beserta harga yang sangat mahal karena fungsinya layaknya Kaki asli.
" Kamu ingin yang mana, Na?" Tanya Rizal.
Mata Dona melihat ke Kaki palsu tersebut.
" Oh itu, Mari kita lihat harganya dulu!" Ucap Rizal, Mengajak sang Adik.
Namun Dona memegang tangan Rizal, Ia tak ingin Rizal tahu harga kaki itu yang mahal.
" Kenapa, Na?" Tanya Rizal.
" Kak, Sebenarnya Aku ada uang tabungan untuk membeli Kaki itu. Harganya sangat mahal, Aku tak ingin di cap sebagai aji mumpung memanfaatkan kebaikan Kakak-Kakak Arin yang baru kita kenal." Jelas Dona.
" Ya udah Dek, Kita cari yang murah saja!" Balas Rizal, Yang mengerti tentang cara pandang Adiknya.
__ADS_1
" Hey..Kenapa malah pada sedih, Mau yang itu? Sudah enggak usah berfikir Kamu memanfaatkan Kami Na. Ini hadiah ucapan terimakasih Kami buatmu, Karena memperjuangkan sekaligus memotivasi Arin agar tidak putus asa! Mana, Kaki yang ini? Kamu coba!" Sahut Rino, Mengambilkan kaki lalu memberikan kepada Dona untuk di coba.
Setelah Rino meletakkan kaki palsu idaman Dona di hadapannya, Dona menitihkan air mata merasa terharu atas kebaikan Kakak Arini.
" Loh, Kenapa nangis?" Tanya Rino, Sembari tersenyum.
" Terimakasih Kak, Tapi apakah tidak merepotkan Kalian?" Ujar Dona.
" Merepotkan apa? Kami yang bakal merepotkan Kalian, Karena Kami akan menitipkan Arini dengan Budhe dalam waktu yang lama." Balas Rino tersenyum.
" Terimakasih banyak ya, Kak Rino!" Sahut Rizal, Yang juga terharu.
Dira dan yang lain melihat ketiganya ngobrol, Namun Rizal dan Dona menitihkan air mata.
" Kenapa malah nangis?" Tanya Dira datang menghampiri dengan yang lain.
" Ini Bos, Dona enggak berani ambil yang ini padahal ini Kaki Palsu impiannya. Takut dengan harganya." Jelas Rino, Tersenyum.
" Kamu takut Na, Merepotkan Kami? Sudahlah, Kami ikhlas toh seperti di awal ini hadiah untuk anak berprestasi macam Kamu Na." Sahur Erin, Yang menggandeng Arini.
" Sudah Na, Pakai aja di coba dulu! Biar Kakak Arin yang pikirkan bayarnya!" Sambung Arini.
" Mas, Tolong bantuin buat nyoba!" Kata Rino, Memanggil pelayan toko untuk meminta tolong membantu Dona.
Dona memakai kaki itu, Ia bisa berdiri tanpa harus ada alat bantu. Dona juga bisa berjalan layaknya anak normal.
" Gimana, Ambil enggak? Nyaman kan! Keren bisa berlari lagi nanti." Ujar Rino, Menggoda Dona.
" No, Bawa tuh krek Dona! Biar langsung di pakai aja, Udahkan apalagi?" Tanya Dira.
" Sudah Kak, Ini saja cukup." Jawab Dona.
Rizal menangis, Melihat Dona bisa berjalan kembali meski memakai kaki palsu.
Hans merangkul Rizal " Kenapa nangis, Zal? Bukankah Adikmu bisa jalan sekarang." Ucap Hans, Mengerti perasaan Rizal sebagai Kakak.
Dona menatap Rizal, Yang menyeka air mata lalu menghampiri.
" Kakak, Dona bisa jalan lagi." Ucap Dona di hadapan Rizal.
Rizal tak bisa berkata-kata, Langsung mendekap sang Adik karena perasaan haru.
" Kakak seneng...Kakak...seneng Dek, Bisa melihatmu berjalan lagi." Ucap Rizal, Menangis sambil memeluk Dona.
" Terimakasih, Kalian bagaikan malaikat yang dikirim untuk membuat seyum di wajah Adikku." Kata Rizal, Menatap Kakak Arini satu persatu.
__ADS_1
" Sudah Zal, Ini hanya sekelumit tidak sebanding dengan yang kalian lakukan ke Ibu dan Adikku." Balas Rino, Langsung ikut berpelukan.
" Ya sudah, Mari kita bayar dulu." Kata Dira, Mengajak ke kasir.