Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Kepulangan Arini


__ADS_3

*Se**telah 10 hari di rawat*, Arini di perbolehkan untuk pulang.


Namun, Dokter memberitahu tentang banyak hal yang tidak boleh di lakukan oleh Arini terutama yang membuatnya kelelahan.


Hans menemui Dokter di ruangannya.


" Misi...Dok!" Ucap Hans menyapa Dokter yang menangani adiknya, Kebetulan Bapak Dokter ada di depan pintu sedang berbicara dengan perawat.


Dokter itu pun menoleh.


" Iya Mas, Ada yang bisa di bantu?" Tanya Sang Dokter.


" Ini mengenai Adik saya yang bernama Arini yang berada di kamar anggrek 301, Dok! Bagaimanakah hasil pemeriksaannya?" Tanya Hans meminta kejelasan.


" Mas, Tolong di jaga Adeknya! Ia ada masalah pada ginjalnya dan memerlukan perawatan jalan. Jangan sampai kecapek'an atau kelelahan, Usahakan Dia makan yang bergizi ya Mas! Kabar bagusnya Mas cepat-cepat membawanya kesini hingga kami bisa melakukan tindakan pencegahan lebih cepat!" Jelas Sang Dokter.


Hans pun merasa lebih tenang, Namun Ia kembali muram ketika mengingat keinginan Arini yaitu memenangkan kompetisi lari di sekolahnya.


Hans berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan jalan yang sempoyongan dan tatapan mata kosong memikirkan keinginan Arini yang tidak akan bisa terwujud.


Rino dan Ikhsan yang menunggu di depan kamar Arini pun melihatnya, Sontak Rino menghampiri Kakaknya untuk menenangkannya.


" Hans, Kenapa? Ada apalagi dengan Arin?" Tanya Rino sambil mendudukan Hans.


Hans pun menangis sambil tertunduk.


" Ada apa?" Tanya Rino kembali.


" Arin tidak dapat mewujudkan salah satu mimpinya untuk menjuarai kompetisi lari di sekolah." Jelas Hans.


" Owh itu, Kamu tenang Hans! Biarakan nanti Aku yang akan membujuknya untuk mengganti mimpinya. Sebelum Aku ikut Wak Nana Aku pasti membantumu untuk menjaga Arin." Kata Rino dengan wajah tersenyum.


Ikhsan yang melihat kedua saudara saling menguatkan itu pun terharu.


Di dalam kamar rawat.


" Wak, Arin pengen pulang! Arin mau tunjukin sama Wak Nana kalau lari Arin itu cepet banget, Nanti Arin pasti juara Wak di kompetisi lari" Kata Arini menatap Wak Nana di sampingnya.


" Yah Uwak percaya, Nanti Arin lari kencang biar Wak Nana yang siapin ikan bakar kesukaan Arin. Nanti Uwak minta di anter sama Kak Rino ambil ikan di empang banyak banget buat di bakar untuk Arin sarapan biar juara." Balas Wak Nana menghibur Arini.

__ADS_1


" Wak, Itu Ayah sama Ibu kok nangis terus? Ada apa? Apa Arin buat salah ya Wak? Apa Arin bikin mereka sedih, Wa?" Ujara Arini melihat Pak Romi dan Bu Sara menangis sambil berpelukan memandangi Arini.


" Oh itu, Tadi Kak Rino nakal membuat Ayah dan Ibu Arin sedih. Nanti Wak Nana omelin ya!" Ujar Wak Nana menyembunyikan kenyataan.


Bu Sara semakin tak kuasa menahan tangis melihat Putri kecilnya harus menanggung penyakit yang bisa saja mengancam nyawanya sewaktu-waktu.


Bu Sara pun langsung melepas pelukan dari suaminya kemudian memeluk Arini.


" Buk, Nanti Kak Rino Aku marahin karena kata Wak Nana membuat Ayah dan Ibu menangis. Kak Rino nakal ya Bu?" Kata Arini polos.


Bu Sara hanya mengangguk sambil terus menitihkan air mata.


Rino memapah Hans memasuki ruangan Arini di rawat.


" Nah Kak Rino jahat, Tadi buat nangis Ayah sama Ibu sekarang bikin nangis Kak Hans!" Ujar Arini kesal memandang Rino.


Rino pun bingung dan memandang Wak Nana untuk tahu apa yang di maksud Arini.


Wak Nana kemudian menghampiri Rino langsung menjewernya.


" Nah jangan nakal Kak No! Ini hukuman buat yang bikin nangis, Iyakan Arin!" kata Wak Nana sambil menjewer Rino.


Wak Nana memberikan kode dengan mengedipkan mata, Rino pun paham kode itu.


Nih, Kak Hans juga jewer Kak Rino karena nakal ya.


" Aduh..Aduh..Rino nggak nakal lagi!" Ujar Rino pura-pura kesakitan demi melihat tawa Adiknya.


" Lihat mereka Bu, Kakak Arin bisa mengubah sedih menjadi tawa. Jangan memikirkan dan ketakutan tentang nanti lebih baik kita nikmati hari saat Arini tersenyum!" Uja Ayah di samping Bu Sara.


" Yuk beres-beres! Kata Pak Dokter Arin, Boleh pulang sekarang!" Ujar Hans.


Arini mendengarnya pun kegirangan.


" Hore..Arin pulang, Arin mau lari-lari, Tidak di pasang selangb lagi di tangan Arini!" Teriak Arini kegirangan.


Rino pun mengajak Wak Nana untuk ngobrol, Meminta waktu untuk menunda Ia menepati janjinya.


" Wak, Rino mau minta satu lagi permintaan. Rino mohon beri waktu Rino buat bantu Hans dulu menjaga Arin ya, Wak!" pinta Hans, Mengajak ngobrol di luar ruangan.

__ADS_1


" Wak Nana juga akan menjaga Arini, Wak akan tinggal di rumahmu untuk memastikan keadaan adikmu baik-baik saja!" Balas Wak Nana.


Rino pun sangat kegirangan, Ia pun memeluk Wak Nana sambil terus berterimakasih.


" Tapi sebelumnya anyar Uwak ke administrasi buat bayar semua biaya perawatan adikmu dulu!" Kata Wak Nana.


Rino dan Wak Nana pun pergi ke loket Rumah sakit untuk membayar biaya rumah sakit.


Arini di dorong oleh Kak Hans menaiki kursi roda keluar Rumah sakit dan menunggu Rino dan Wak Nana.


Di belakang mereka ada Ikhsan dan Kedua Orang Tua mereka mengikuti.


" Hans, dan Arin Kak Ikhsan pulang dulu ya! Nanti Kakak janji main ke rumah Arin membawa kostum pesanan Arin!" Pamit Ikhsan.


Hans pun memeluk erat temannya itu, Ia banyak berterimakasih atas bantuan Ikhsan.


" Kak Ikhsan janji lho ya! Kalo ingkar Arin minta Kak Hans jemput Kak Ikhsan di rumah!" Kata Arini mengingatkan Hans.


Tidak lama menunggu Wak Nana dan Rino datang.


Wak Nana memutuskan menyewa angkot yang lagi menunggu penumpang di depan Rumah Sakit untuk mengantar mereka pulang.


Setibanya di rumah, Rino langsung buru-buru turun dan memasuki rumah. Rino menuju kamar Arini kemudian mengambil Sepatu yang Ia belikan untuk di sembunyikan di atas kamar Rino dan Hans.


Yang lain pun penasaran kenapa Rino buru-buru.


Hans membopong Arini memasuki kamar untuk Ia tidurkan.


Di luar Wak Nana dan Orang Tua Rino mencari tahu apa yang Rino lakukan.


" Kamu buru-buru kenapa No?" Tanya Wak Nana.


" Wak dan Ayah Ibu Aku menyembunyikan sepatu Arin, Biar Ia tidak kelelahan. Rino mohon bantu Rino untuk membuat alasan saat Arin menanyakan sepatunya, Jawab saja Hilang jatuh saat Kita membawa Arin ke Rumah Sakit!" Jelas Rino dengan nada pelan supaya tidak terdengar oleh Arini.Semua pun setuju dengan ide Rino.


" Arin, Istirahat dulu ya? Kak Hans temenin kok!" Ujar Hans di samping tempat tidur Arini sambil mengelus-elus tangan Arini.


Arini pun mengikuti perintah Kakaknya Hans, Hans dengan sabar menemani di samping Tempat tidur sambil melihat Arini tidur dengan mata berkaca-kaca.


Semua melihat Hans dan Arini.

__ADS_1


" Dia sangat sayang melebihi'ku, Aku akan dengan senang hati pergi karena di samping Arini sudah ada Hans yang tentu akan sangat-sangat memperhatikan Arini dan bisa menjaga Arini dengan baik!" Ujar Rino melihat Hans dan Arini.


Semua pun memutuskan untuk duduk mengobrol di kamar tamu menunggu Hans keluar dari kamar Arini.


__ADS_2