Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Lanjutan...


__ADS_3

Setibanya di jalan gang depan rumah Disa,


Hans turun bersama Disa dari angkot.


Hans mengambil nafas panjang karena gugup, Disa memandang ke arah Hans.


" Kamu siap, Sayang?" Tanya Disa.


" Yuk.." Jawab Hans sambil memandang Disa.


Disa bergandengan dengan Hans, Dan menggenggam tangan Hans dengan erat.


Di pikiran Hans, Ia sangat gugup karena Ia memikirkan apakah Orang Tua Disa mau menerima Hans yang hanya pedagang pasar.


Di perempatan yang dua rumah lagi tepat rumah Disa, Hans menghentikan langkahnya.


" Kenapa, Sayang?" Tanya Disa yang di tarik tangan Hans mendahului langkah Hans.


Disa sontak ikut berhenti.


" Sayang, Andai Ayahmu lebih memilih pria itu apakah Aku masih bisa mempertahankanmu? Sementara Kamu tahu Aku dan Keluargaku hanya pedagang kecil. Bagaimana kalo Ia lebih mapan?" Tutur Hans, Mulai minder.


" Terus apa Kamu enggak mau memperjuangkanku!" Kata Disa dengan mimik wajah yang akan menangis.


Melihat wajah Disa, Hans tidak tega lalu Ia membulatkan tekad untuk bertemu Orang Tua Disa dan Pria pilihannya.


Di teras, Orang Tua Disa sudah duduk menunggu kedatangan Disa dan lelaki pilihannya, Hans melihat ada pria berbaju rapi bersih yang Ia simpulkan pasti orang kaya.


" Assalamualaikum.." Sapa Hans bersama Disa masuk ke teras rumah.


Ayah Disa yang duduk sambil merokok, Terlihat Tua namun masih tegar dengan perawakan tinggi duduk melihat Mereka datang.


Sang Ibu yang di samping Ayah, Memakai perhiasan di tangan berperawakan sedikit pendek dari sang Ayah yang belum terlalu tua juga memandang ke arah Mereka datang.


" Wa'alaikumsalam.." Jawab Ketiganya.


" Kesini jalan kaki?" Tanya Ayah Disa, Memandang Hans sinis.


" Iya, Pak. Tadi naik angkot turun depan." Jawab Hans berdiri di hadapan Ayah Disa.


" Enggak punya motor? Hari gini?" Sahut Pria pilihan Ayah Disa.


" Kalo Nak Dira, Mobilnya di parkir di samping sana!" Sahut Sang Ibu seperti merendahkan Hans.


" Ini pilihan Kamu, Sa?" Tanya Sang Ayah, Pantas mengisap rokoknya.


" Iya Yah." Jawab Disa, Di samping Hans masih bergandengan.


" Kamu kerja apa, Nak?" Tanya Sang Ibu.


" Saya bekerja sebagai pedagang keliling aksesoris wanita." Jawab Hans, Memandang Orang Tua Disa dengan tatapan tegas.

__ADS_1


" Hah, Penjual keliling...Emang sehari berapa? Pasti capek ya muter-muter?" Kata Dira merendahkan Hans.


Tangan Hans mulai menggenggam erat Disa, Menandakan Ia sangat marah karena ucapan Dira. Namun Disa melihatnya untuk menenangkan Hans dengan memberi kode mata.


" Apa Kamu tidak punya pakaian bagus, Kami ini Orang Tua Disa pacarmu! Kamu enggak menghormati Kami, Ya?" Kata Sang Ayah, Ikut merendahkan Hans.


" Yah Dis, Aku kira sainganku Orang Berada paling enggak ya punya motorlah. Kalo ini seperti Kamu ngerendahin Aku!" Imbuh Dira menghina.


" Nama Kalian udah cocok, Disa dan Dira. Yah kalo Ibu sebagai wanita pasti memilih Dira yang bisa menjamin hidupmu." Ucap Sang Ibu membumbuhi hinaan pada Hans.


Mata Hans sudah berubah, Terpancar amarah di wajah Hans. Disa berusaha menenangkan Hans.


" Biar, Enggak punya yang penting ini Pria yang lembut pada Disa!" Kata Disa membela Hans, Tangan Disa di taruh di dada Hans untuk menenangkan.


" Kalo Anaknya begini, Gimana Keluarganya pasti juga pakaiannya kayak gini!" Ujar Dira kembali memprovokasi.


Kali ini Hans benar-benar terpancing karena merendahkan keluarganya, Ia menghampiri Dira yang duduk di kursi di tengah-tengah Orang Tua Disa.


Hans menyengkram krah baju Dira.


" Kalo Aku yang anda hina, Aku tidak apa-apa tapi jika keluargaku yang anda hina, Anda akan tahu bagaimana kekasaranku!" Bentak Hans kemudian mendorong Dira hingga terjatuh bersama kursinya.


Disa berusaha melerai dengan menarik Hans.


" Sudah Sayang, Sudah.." Teriak Disa.


Ayah dan Ibu Disa pun berdiri.


" Sudah..Hentikan dasar pria begundal pergi Kamu!" Teriak Ayah Disa, Mengusir Hans.


Disa yang mencoba menarik Hans, Agar tidak pergi langsung di hempaskan oleh Hans.


" Hans...Tunggu..." Teriak Disa terjatuh, Melihat Hans terus melangkah.


Hans pun berbalik menatap Disa dan Semua orang yang ada di sana yang keluar di jalan depan rumah Disa.


" Maaf Dis, Harga keluargaku tidak sebanding denganmu. Dan Kalian ingat suatu saat Kalian akan memohon-mohon memberikan Disa padaku!" Ujar Hans penuh amarah.


Rino dan Ikhsan melihat Hans sedang ribut, Dan Disa terjatuh segera Ia menghampiri.


Ikhsan memarkirkan motor di depan Hans.


" Dasar Pria begundal, Kayak gitu nggak pantes sama Disa!" Teriak Dira.


Rino dan Ikhsa yang baru turun, Langsung terpancing emosi. Keduanya ingin menghajar Dira, Namun langkah Mereka di berhentikan Hans sambil memegang tangan keduanya.


" Sudah, Ayo pergi!" Tutur Hans dengan wajah tertunduk berlawanan dengan Ikhsan dan Rino.


" Tapi Hans, Dia harus di kasih pelajaran! Lihat Disa Ia menangis tersedu-sedu!" Kata Rino.


" Ayo pergi...!" Teriak Hans, Penuh emosi.

__ADS_1


Rino dan Ikhsan yang mendengar pun langsung diam dan mengikuti perintah Hans.


Ikhsan menuntun motor dan berjalan bersama ketiganya.


Mereka lantas berhenti di pinggir jalan besar depan gang Disa.


Ketiganya duduk menghadap sepeda motor di depan Mereka.


" Hans, Ada apa?" Tanya Ikhsan, Melihat Hans duduk menunduk sambil menangis.


" Apa Orang Tua Disa tidak merestuimu atau laki-laki tadi yang merendahkanmu!" Kata Rino, Bangkit dari duduk penuh emosi ingin kembali menghampiri Dira untuk memberi pelajaran.


" No, Duduk!" Bentak Hans.


" Cukup Kakak'mu yang hancur, Kamu jangan No." Imbuh Hans menangis.


Rino duduk di sebelah Hans.


" Apa Kamu nggak ingin memperjuangkan Disa?" Tanya Rino dengan kesal.


Hans hanya diam dan menangis.


" Biar Aku yang kesana! Akan ku buat Mereka menerimamu!" Kata Ikhsan.


" Stop...Kalian jangan menambah luka, Biar Aku yang luka!" Ucap Hans menghentikan Ikhsan.


" Kamu kenapa?" Tanya Rino dengan nada tinggi.


" Kedua Orang Tua Disa, Tidak menerimaku karena Aku hanya pedagang keliling. Tapi itu Aku terima, Yang tidak Aku terima adalah Mereka menghina keluarga Kita No. Aku memang Sayang Disa, Namun bagiku Kamu, Arin dan Ibu lebih dari rasa sayangku padanya." Tutur Hans lirih.


Mendengar itu, Rino langsung memeluk sang Kakak.


" Apa Kita salah jika hanya dari keluarga biasa? Inilah No, Yang Aku khawatirkan jika kamu sama Bu Keisay. Aku enggak ingin Kamu di perlakukan seperti Kakakmu sekarang." Kata Hans, Menangis di pelukan Rino.


" Sudah Kak, Baru kali ini Aku melihat hebatnya Kakak'ku. Ya udah Kak, Kalo harta ukuran Mereka Kita pulang Kak. Aku enggak ingin Kakak'ku terluka lebih dari ini." Balas Rino menagis, Memeluk Hans.


Mereka pun berdiri.


" San, Kamu bawa motor sendiri. Biar Aku temani Kakak'ku." Ujar Rino.


" Baiklah, Aku duluan." Balas Ikhsan mengetahui situasi.


Ikhsan pun pergi meninggalkan keduanya.


Rino dan Hans berjalan untuk melepaskan kekesalan.


" Ternyata Kakak'ku benar ya, Begini ya Kak rasanya dihina dan tidak mampu membela diri. Pedih rasanya, Tidak kebayang kalo Ibu tahu ini." Ujara Rino sambil jalan.


" Jangan beritahu Ibu, Aku tidak ingin Ia memikirkan ini. Cukup biarkan Aku kehilangan Disa, Asal tidak kehilangan kalian!" Pungkas Hans.


" Kat Ayah dulu, Dunia ini keras. Ternyata maksud Ayah itu ini ya mungkin." Tutur Rino.

__ADS_1


Hans pun terdiam, Ia terus berjalan meski bibirnya rela namun berbeda dengan hatinya yang masih berat kehilangan Disa.


" Ya udah Hans, Besok kita cari cewek yang setara dengan Kita aja! Biar enggak begini." Kata Rino berusaha menghibur Hans.


__ADS_2