Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Duka Mendalam


__ADS_3

Rino yang lebih dulu sampai di rumah, Melihat Bu Sara memeluk jenazah sang Ayah sambil menangis tersedu-sedu.


" Ayah......" Teriak Rino, Sambil menangis lalu mendekap Jenazah Sang Ayah.


" No, Ayahmu..." Bu Sara lalu pingsan tak dapat meneruskan kata-kata.


" Bu...Ibu...!" Panggil Rino langsung membopong untuk di tidurkan di kamarnya, Rino meminta tolong Ibu-Ibu tetangga untuk menemani Sang Ibu di kamar, Lalu Ia kembali ke luar mengajikan sang Ayah di samping Jenazah.


Tak lama, Arini kecil memasuki rumah di antar Bu Keisya.


" Ayah....Ayah...Bangun...Ayah...Arin janji Arin nggak akan nakal....Ayah...." Arini kecil memeluk Sang Ayah untuk terakhir kalinya.


" Ayah...Arin minta maaf...Arin selalu merepotkan Ayah...." Imbuh Arini kecil sambil menangis histeris.


Rino langsung mendekap Arini kecil, Bu Keisya menangis di belakang Mereka bersandar di tembok, Bu Keisya mengingat kepergian sang Ayah dulu sewaktu masih SMA. Bu Keisya mengerti hancurnya perasaan Rino dan Arini.


Lantas Hans datang dengan Keisya, Motor pun langsung di amparkan begitu saja langsung Ia dan Disa lari ke dalam rumah.


Melihat Rino dan Arini adiknya duduk saling memeluk dan menangis sejadi jadinya.


" No, Kenapa Ayah?" Tanya Hans langsung memeluk ke dua adiknya.


" Maafin Aku Hans...Maafin Aku tak berguna tidak bisa menjaga Ayah, Hans." Rino menangis hingga bicara terbata-bata.


" Enggak No...Ini sudah takdir.." Balas Hans menguatkan Rino.


" Kak, Arin yang ngeropotin Ayah. Karena Arin sering sakit hingga Ayah capek..." Ujar Lirih Arini kecil.


" Nggak Arin, Arin nggak ngerepotin. Ini Ayah pasti bangga sama Arin kan bentar lagi Arin ikut lomba." Kembali Hans menguatkan Adiknya.


Disa tahu perasaan Hans, Ia menahan sedihnya meski hancur Ia mencoba terlihat kuat di depan Adik-adiknya.


Disa yang menangis lalu di peluk Bu Keisya untuk menenangkan.


" Ibu dimana?" Tanya Hans.


" Ibu pingsan, Aku bawa di kamar dan di tungguin tetangga." Jelas Rino.


Tetangga Mereka hanya melihat dari luar pintu.

__ADS_1


" Kalian temani Ibu, Aku mohon." Perintah Hans kepada kedua Adiknya sambil menahan tangis.


Rino, Arini, dan Bu Keisya lantas mematuhi perintah Hans. Bu Keisya di minta Disa menemani di karenakan takut jika Rino sampai down.


Setelah Adik-Adiknya pergi, Hans langsung memeluk Jenazah sang Ayah lalu menangis sejadi jadinya.


" Ayah...Ayah janji mau menikahkan Hans dengan Disa, Kenapa Ayah pergi...Lantas Hans gimana Ayah nanti....Ayah...Hans belum mampu gantikan Ayah...Adik-adik, Ibu da Hans masih butuh Ayah.." Ujar Lirih Hans di iringi air mata.


Disa bersimpuh memegangi pundak Hans, Disa pun sedih karena Ayah Romi sudah seperti orang tuanya sendiri.


"Hans...Sayang....Kuat..Sayang...Demi...Adikmu dan Ibumu....Sayang....Ayahmu sekarang menitipkan Keluarga ini padamu...Aku akan selalu mendampingimu." Kata Disa menguatkan Hans.


" Tapi Dis......Ayah bagiku adalah Arah. Jika sekarang Aku kehilangan Ayah, Bagaimana Aku bisa tahu kemana Aku harus membawa Ibu serta Adik-adikku..." Balas Hans.


Bu Sara kembali di tuntun oleh Rino dan Bu Keisya, Ia ingin di dekat Jenazah Suaminya.


" Hans, Sebelum Ayah tiada. Ayah tadi pagi sangat memuji Kalian katanya Ia bangga punya Anak ank yang saling menolong satu dan yang lain, Saling peduli dan Mandiri.


Ayah memikirkan kalian bertiga." Kata Bu Sara lirih menagis memegang kedua pundak Hans.


" Bu....." Hans Langsung memeluk Ibunya, Rino langsung mengikutinya.


Arini kecil di temani tetangga masuk ke kamar, Ia terus menangis.


" Terimakasih Ibu-Ibu, Biarkan Saya yang menemani Arin." Kata Bu Keisya meminta semua tetangga keluar kamar.


Melihat Bu Guru duduk di sampingnya di atas ranjang tempat Ia tidur, Arini kecil langsung memeluk Sang Guru dan menangis.


" Arin selalu ngrepotin....Arin selalu bikin Ayah khawatir, Bu.." Lirih Arini kecil menangis terus menyalahkan dirinya.


" Arin, Nggak boleh nyalahin diri Arin. Ini sudah takdir, Dulu Ibu juga seperti Arin menangis waktu di tinggal Ayah Ibu. Hanya saja Ibu dari Bu Keisya menguatkan Ibu dengan bicara gini JIKA KAMU INGIN MEMBAHAGIAKAN AYAHMU SEKARANG KIRIM DOA SEUSAI SUJUDMU, DAN JIKA INGIN MEMBUAT AYAHMU TERSENYUM LEBAR DI SANA RENGKUHLAH CITA-CITAMU YANG TELAH AYAHMU DUKUNG." Bu Keisya, Menasehati sambil menangis karena ingat pesan Sang Ibu saat Di tinggal Sang Ayah.


" Jadi Arin harus belajar giat ya Bu, Arin pasti akan doain Ayah Bu." Ujara Arini kecil sambil sesegukan sambil menagis.


" Udah yuk keluar, Kita berkumpul bersama Ibu Arin dan Kakak Arin. Arin kuatin mereka ya." Kata Sang Guru.


Arini kecil di papah Bu Keisya keluar menuju kamar, Begitu sang Ibu melihat Arin mendekat Bu Sara langsung mendekap erat Putri kecilnya.


" Arin...Maafin Ibu..." Bu Sara menangis.

__ADS_1


" Ibu kata Bu Keisya ini sudah takdir, Ayah harus tersenyum di sanakan Ibu jangan menagis, Kak Jangan menangis ayo kita berdoa." Kata Arini kecil.


Arini kecil bersimpuh di samping badan sang Ayah lantas Ia berdoa. Hans, Rino, Bu Sara,Disa, dan Bu Keisya melihat Arini kecil mereka pun langsung menitihkan air mata.


Kemudian Arini kecil mengusap wajah sang Ayah.


" Ayah, Arin janji nggak nangis lagi. Arin akan selalu berdoa setelah sembahyang, Dan Arin nanti janji pada Ayah nggak akan nakal, Nggak akan buat Ibu sedih dan khawatir. Nanti Arin bawa piala lomba ya ke makam Ayah." Kata Arini kecil sambil terus mengusap pipi Sang Ayah lalu menciumnya.


Rino yang melihat Arin langsung mendekap sang Adik dari belakang.


" Kakak janji Yah, Nanti Kakak akan anterin Arin, Buat ke makam Ayah." Kata Rino lirih.


Melihat Adik-adiknya berusaha kuat Hans menyeka air mata. Tangan Hans memegang tangan sang Ibu dengan kuat, Bu Sara lalu menyandarkan kepala ke putranya Hans.


" Aku janji Bu, Akan ganti'in Ayah untuk melindungi Ibu dan kedua Adikku." Kata Hans.


Ikhsan yang baru tiba masih dengan kostum dan mendorong gerobak Rino, Begitu sampai di jalan samping rumah langsung melepas kostumnya kemudian buru-buru berlari masuk melihat kondisi sahabatnya.


Ikhsan begitu memasuki pintu, Kakinya langsung lemas melihat Pak Romi terbaring tidak lagi bisa bercanda dengannya.


Pandangan Ikhsan kosong, Air mata terus mengalir karena dulu Pak Romi lah yang selalu memotivasinya untuk bangkit.


Hans yang menoleh, ke pintu langsung mendekati Ikhsan.


" San..." Belum selesai Hans berkata, Ikhsan langsung memeluk sahabatnya.


" Ayahmu orang baik Hans, Aku bersaksi atas itu. Dialah yang selalu memotivasiku dari waktu kita sekolah hingga di pasar saat jualan." Ujar Ikhsan sambil meneteskan Air mata.


" Ayo masuk San." Hans mengajak Ikhsan mendekat ke Jenazah Sang Pak Romi.


" Bu....Kuat...Bu..Sara..Kuat..Bu..Sara pasti Kuat.." kata Ikhsan memegang tangan Bu Sara.


" San...Maafin Bapak ya?" Kata Bu Sara.


" Bapak nggak ada salah Bu, Ikhsan yang selalu merepotkan Beliau. Besok siapa lagi yang menemani Ikhsan ngopi sambil memotivasi dan bergurau dengan Ikhsan." Balas Ikhsan terus melihat Jenazah Pak Romi.


Wak Nana, Tiba buru-buru menemui Sang Adik untuk menguatkan.


Melihat Sang Kakak datang Bu Sara langsung memeluknya, Meluapkan semua emosi dan segala beban di fikirannya.

__ADS_1


" Sudah, Uwak pasti bantu kalian. Kalian harus kuat biar Ayah kalian di sana tersenyum." Ujar Wak Nana menguatkan semuanya.


Arini kecil melepaskan dekapan Kak Rino, Ingin menuju ke Bu Sara dan Wak Nana. Namun begitu Arini kecil bangkit dari duduk, Ia langsung terjatuh pingsan karena kesedihan yang mendalam.


__ADS_2