
Saat bangun dari tidur, Arini melihat tiga kura-kura di atas meja belajar di dalam aquarium kotak kecil.
" Wah, Arin dapet hadiah. Kura-kura lucu pasti dari Kak Hans atau Kak Rino." Kata Arini girang di depan aquarium.
Arini pun membawa kotak keluar kamar tidur, Dengan senyum terpancar di wajah Arini menuju teras rumah.
Melihat Ibunya sedang menjemur pakaian.
" Bu...Ibu...Lihat nih, Arin di beri hadiah. Kura-kura lucu, Mana Kak Hans dan Kak Rino? Arin mau ucapin makasih,Bu." Ujara Arini dengan semangat.
" Kakak baru jualan Nak, Nanti kalo pulang!" Bu Sara memandang Arini, Sebenarnya Ia ingin berterus terang tentang kura-kura itu namun tak sanggup jika Arini tiba-tiba sedih.
" Ini Arin, Ini Kak Hans, Ini Kak Rino!" Kata Arini menamai ketiga kura-kura sambil duduk di teras rumah.
" Sana sarapan dulu Arin, Kalo di tunda nanti sakit kamu." Perintah Bu Sara.
" Nanti Bu, Arin mau ngasih makan kura-kura dulu habis itu mandi baru sarapan." Balas Arin sambil fokus memandangi kura-kura yang Ia bawa.
Arini menunggu Kedua Kakaknya pulang, Sambil terus bermain dengan ketiga kura-kura pemberian Rino di kamar.
Hans datang karena hanya berjualan di pasar kaget dekat rumah yang jam 10 sudah bubar.
Setelah memarkirkan gerobak di tempatnya, Ia langsung masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
Mendengar langkah kaki dan Suara Kak Hans, Arini pun keluar dari kamar membawa aquariumnya.
" Kak Hans, Makasih ya untuk kura-kura lucu ini!" Ujar Arini duduk di sebelah Hans yang menyandarkan badannya di kursi karena capek.
" Itu dari Kak Rino, Arin!" Jawab Hans sambil tersenyum.
Arini pun mencari keberadaan Kak Rino, Ia langsung menuju depan rumah karena biasanya Kak Rino duduk sambil ngopi di depan tetas rumah.
" Kak, Kak Rino di mana kok nggak ada?" Triak Arini tak melihat Kak Rino.
" Kak Rino baru nganterin Wak Nana pulang, Pulangnya besok!" Jawab Hans membohongi Arini.
Arini pun kembali masuk, Duduk kembali di samping Kak Hans.
" Kak Rino baik ya Kak, Sama Arin." Kata Arini melihat kura-kura yang di taruh di meja di depannya.
__ADS_1
" Kak Rino aja ya yang baik, Kak Hans nggak baik gitu?" Gurau Hans pada Arini.
" Pokoknya Kakak-Kakak, Arini itu baik...banget, Arin berterimakasih pada TUHAN telah menjadikan Arin adik dari kedua Kakak yang bagai malaikat." Ujar Arini memuji kedua Kakaknya.
Hans langsung memeluk Arini.
" Kak Hans dan Kak Rino, Juga mau berterimakasih pada TUHAN karena memberi Adik Kami yang cantiknya bagai seorang Putri dan baik banget." Balas Hans sambil memeluk Arini.
" Kak, Mandi gih. Bau!" Kata Arini.
" Arin mau, Main bersama kura-kura di kamar!" Imbuh Arini.
Arini pun masuk kamar, Namun karena kelelahan bermain Arini tertidur.
Hans setelah mandi, Mengintip Kekamar Adiknya.
" Yah, Tidur lagi pasti capek bermain dengan kura-kura." Ujar Hans, Lalu Ia kembali ke ruang tamu untuk melepas lelah sambil menonton tv.
Bu Sara yang baru datang dari belanja, Melihat Hans sendirian duduk di ruang tamu.
" Adikmu mana Hans?" Tanya Bu Sara.
" Sepi ya Hans, Tinggal Kamu dan Arin. Meski baru sebentar tanpa adanya Rino rumah ini berasa ada yang kurang, Maklum dari kecil kalian selalu bersama kali ini Ibu harus merelakan Rino untuk tinggal bersama Uwakmu, Untuk membayar biaya perawatan Arin." Curhat Ibu Sara.
Arini pun mendengar dari dalam kamar, Karena Ia terbangun gara-gara suara tv dari Hans.
" Iya ya Bu, Baru berapa jam Rino pergi. Aku juga sudah kangen, Maklum meski suka ngebanyol tapi Ia orang yang sangat dewasa pemikirannya di banding Hans." Balas Hans.
" Ayah dan Ibu sangat sedih, Dan seperti tidak berguna karena tidak bisa membayar uang perawatan Arin sekarang harus kehilangan Rino yang tinggal bersama Wak Nana demi membayar hutang uang Arin." Bu Sara meratapi kehilangan Rino.
Arini menyimak terus obrolan keduanya, Dan sangat merasa sedih dan kaget karena Kak Rino harus tinggal bersama Wak Nana.
Arini melihat hadiah kura-kura dari Rino sambil menangis.
" Kak Rino, Apakah Kak Rino sudah tidak akan pulang lagi kesini?" Gumam Arini di depan kura-kura.
" Maafin Arin ya Kak, Karena Arin Kak harus pergi jauh dari Kita. Karena penyakit Arin Kakak terpaksa tinggal dengan Wak Nana, Arin nggak tahu Kak kalo Kak Rino rela mengorbankan diri demi uang untuk perawatan Arin kemarin." Ujar Arini sambil menangis.
Arini memandangi celengan jago di atas meja belajar, Itu tabungan Arini untuk membeli sepeda saat SMA nanti.
__ADS_1
Ia pun mengambil celengan lalu keluar dari kamar untuk memberikan ke Wak Nana, Agar Kak Rino bisa pulang.
" Bu Kak, Ini celengan Arin. Tolong kasih ke Wak Nana ini buat bayarin biaya perawatan Arin kemarin, Dan balikin Kak Rino kesini." Ujar Arini keluar kamar di ruang tamu menatap dengan tangis Bu Sara dan Kak Hans.
Hans dan Bu Sara menatap ke arah Arini yang menyodorkan celengan jagonya kepada mereka berdua.
Hans segera bangkit dari duduknya, Ia bersimpuh di hadapan Arini.
" Arin ngomong apa sih, Kak Rino cuma nganterin Wak Nana. Besok pasti pulang!" Kata Hans menghibur Arini.
" Bohong...Kak Hans Bohong....Arin tahu Kak, Arin denger semua Kak Rino tinggal bersama Wak Nana untuk membayar uangbperawatan Arin kemarinkan! Kak Rino nggak akan pulang kan!" Triak Arini sambil menangis.
Lalu Arini membanting celengan jago, Kemudian masuk kamar dan mengunci pintunya.
Di pojokan kamar Arini terus menangis menyalahkan dirinya karena sakitnya.
" Arin...Arin...Dengerin Ibu dan Kak Hans...Arin....Arin...Buka pintunya!" Triak Hans dari luar.
Bu Sara pun khawatir, Ia terus mengetuk pintu kamar Arini.
Tangisan Arini terdengar dari luar, Hingga Suara tangisan itu tiba-tiba hening.
Hans yang takut terjadi apa-apa langsung mendobrak pintu kamar Arini. Ia melihat tubuh Arini tergeletak pingsan di pojok kamar, Bu Sara yang melihatnya pun menangis sejadi jadinya karena khawatir. Hans membopong ke tempat tidur.
" Arin...Arin...Arin...Bangun!" Triak Hans.
" Arin...Bangun Nak....Arin....Ini Ibu Nak." Triak Bu Sara sambil menggoyang-goyangkan tubuh Arini.
Namun, Arini tidak membuka mata. Arini seolah merasa bersalah mendengar obrolan Sang Ibu dan Sang Kakak tentang Kakaknya yang nomer dua yaitu Rino.
Pak Romi yang baru memasuki rumah, Mendengar suara gaduh-gaduh dari kamar Arini langsung berlari ke kamar putrinya, Tas dagangan pun Ia lempar.
" Ini Arin, Kenapa?" Tanya Pak Romi.
Bu Sara langsung menatap Pak Romi.
" Arin tahu yah, Kalo Rino pergi dan alasan kenapa Rino pergi. Arin nampaknya merasa bersalah, Tadi nangis lalu tidak ada suara setelah di dobrak Hans Arin sudah tergeletak pingsan! Jelas Bu Sara.
" Ayo Hans, Langsung kita bawa ke klinik!" Ujar Pak Romi.
__ADS_1
Hans Langsung membopong Arini, Lalu buru-buru berlari untuk menuju klinik.