
Arini kecil, Siap mengikuti perlombaan yang hanya kurang 5 hari saja.
" Ayah, Ibu Arin berangkat dulu ya." Pamit Arini kepada kedua Orang tua yang libur jualan di karenakan Sakit sang Ayah..
Arini kecil mencium tangan kedua orang tua, Sang Kakak Rino menggantikan tugas orang tuanya berjualan di pasar tempat biasa Ayah dan Ibunya jualan.
" Iya Nak, Hati-hati jangan lupa berdoa sebelum aktifitas dan pesan Ayah Arin harus semangat untuk perlombaan nanti." Pesan Pak Romi.
" Tentu, Ayah. Assalamualaikum." Arini kecil pergi meninggalkan rumah untuk bersekolah.
Setelah Arini kecil pergi sang Ayah mulai merasa badannya dingin.
" Bu, Kenapa badan Ayah dingin ya?" Tanya Sang Ayah.
" Bapak meriang, Tentu badannya dingin. Udah di minum dulu tehnya mumpung Ibu buatin masih panas." Jawab Bu Sara sambil menyapu.
Pak Romi meminum teh dengan terus menatap ke arah Bu Sara, Seolah ingin memberi tahukan sesuatu.
" Bu, Hans sebentar lagi sudah melamar Nak Disa, Terus Rino sudah bisa menggantikan Ayah jualan, Arini kecil sudah bisa berprestasi. Anak-anak kita sudah bisa mandiri ya Bu." Kata Pak Romi.
" Iya Yah, Ibu juga senang Disa bisa menerima keluarga kita, Rino sudah bisa memikirkan keluarga dan Arini sudah bisa menjadi tumpuan untuk keluarga memperbaiki nasibnya kelak." Balas Bu Sara.
" Arin, Juga sudah bisa mengontrol dirinya jadi tidak sering kambuh. Putri kecil kita emang hebat." Kata Sang Ayah.
" Yah, Kita berusaha saja Yah buat Arin kita beri yang terbaik. Kita sebagai Orang Tua ya kewajiban kita mendampingi Arin hingga sembuh." Bu Sara menanggapi masih sambil menyapu jalanan rumah di depannya.
Arini kecil sampai di kelas, Ia tak menyangka Dina, Hera dan kawan-kawan Hera sudah berada di ruang kelas.
" Assalamualaikum...Kok datang pagi kalian?" Arini kecil melihat Mereka saat masuk ke ruang kelas.
" Wa'alaikumsalam..Emang Arin aja yang mau pintar, Kita juga mau niruin kamu biar Otak kami bisa berfikir. Aku ajak Kamu bersaing juga di pelajaran!" Jawab Hera, Duduk di meja sebelah kiri Arini.
" Betul itu, Emang kamu aja yang mau di perhatiin Guru kami juga Rin. Aku kalo bisa kayak kamu minimal di bawahmu dikitlah prestasinya pasti orang tua'ku mau membelikan apa yang Aku inginkan!" Kata Nayla.
" Arin seneng, Sekarang Arin di pagi hari sudah punya temen. Nggak sendirian lagi belajarnya." Kata Arini Kecil duduk di meja bersama Dina.
" Nih, Belajar tanpa ngemil nggak enak!" Kata Tari mengeluarkan cemilan dari dalam tasnya berupa ceriping, Kue bolu, dan lainnya dagangan dari orang tuanya.
" Rejeki nih, Makasih Tari." Kata Hera langsung mengambil snack untuk di makan.
" Ayo, Di makan nih! Ini dagangan yang di jual orang tuaku di bekalkan padaku." Ujar Tari menawari teman-temannya mencoba.
Guru yang piket melihat kelas 2C ruangannya terlihat terang, Ia menyangka hanya Arini kecil yang biasa datang pagi untuk belajar.
Guru piket pun menghampiri, Semakin dekat semakin terdengar riuh. Setelah melihat ternyata ada 5 orang siswi termasuk Arini sedang belajar.
" Wah nggak nyangka Ibu, Sekarang bukan hanya Arin yang datang pagi-pagi untuk belajar tapi sudah ada teman-temannya. Yaudah selamat belajar, Niatnya mau nemenin Arin tapi berhubung sudah ada temannya Ibu mau ke depan saja mengabsen siswa. Kalian kalo begini terus dan tekun Ibu yakin pasti yang kalian cita-citakan akan kalian gapai." Nasehat dari Guru piket.
Arini kecil menghampiri Bu Guru piket di ikuti teman-temannya untuk mencium tangan.
__ADS_1
" Iya Bu, Doa'in ya Bu." Jawab Arini kecil.
Mereka pun melanjutkan belajarnya kembali.
Di pasar Rino terlihat bengong, Ia hanya duduk di samping lapak yang Ia gelar di sampingnya.
" Kamu kenapa, No?" Tanya Ikhsan yang sama-sama mengais rejeki di pasar itu.
" Nggak tahu San, Hari ini kenapa hati nggak tenang ya?" Balas Rino.
" Alah, Itu hanya perasaanmu saja!" Jawab Ikhsan sambil tersenyum, Membuka topeng badutnya.
" Ada apa dengan Arin ya?" Gumam Rino.
" Udah, Tenang kalo ada apa-apa sama Arin pasti Bu Keisya memberi tahumu kan sekarang Ia dekat dengan kita." Balas Ikhsan.
Rino pun mendengarkan kata Ikhsan, Ia mencoba menenangkan diri dengan mengambil air minum bekalnya.
Di tempat Uwak Nana,
Hans biasa sedang mengopi di teras seolah matanya kosong, Disa yang melihat dari dalam rumah langsung menghampiri.
" Ada apa, Yang?" Tanya Disa.
" Kenapa ya, Hari ini terasa akan menyedihkan?" Ujar Hans.
Disa memegang tangan Hans.
Hans dan Rino memiliki perasaan yang sama, Seolah hari itu merasakan kesedihan yang dalam karena ikatan saudara perasaan mereka seperti di satukan.
Di Rumah Arini,
Bu Sara selesai menyapu melihat Sang Suami tertidur di ruang tamu, Ia ingin membangunkan agar lebih baik pindah ke kamar karena dingin sedangkan Pak Romi sedang meriang.
" Yah...Ayah...Bangun, Pindah di kamar saja yang hangat." Bu Sara membangunkan Pak Romi sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Pak Romi masih diam tidak merespon, Terus mencoba membangunkan Pak Romi namun masih saja tidak merespon hingga Bu Sara menggenggam tangan Pak Tomi yang sudah dingin. Lalu Bu Sara memberanikan diri untuk mengecek nadi Pak Romi.
" Ayah........Ayah......Ayah...Bangun..." Teriak Histeris Bu Sara karena mengetahui Suaminya sudah tiada.
Tetangga pun berkumpul, Mereka mendengar Jeritan Histeris Bu Sara lalu masuk rumah untuk memastikan apa yang terjadi.
Kemudian tetangga-tetangga mulai mengabari anak-anak mereka bahwa sang Ayah sudah tiada.
Rino yang lagi di pasar melayani pembeli dan Ikhsan yang berdiri mengamen memakai kostum di jalan depan Ia jualan, Terkejut ada tetangga Rino yang buru-buru mampir di lapaknya.
Tetangga itu pun duduk di samping Rino, Berniat memberi tahu Rino pelan-pelan supaya Rino tidak histeris.
" Main ke Pasar, Pak?"Tanya Rino pada tetangga yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Tetangga rumah tidak menjawab Ia memandang Rino, Seolah berat ingin memberitahukan.
" No, Kamu yang sabar Ayahmu sudah di Panggil PenciptaNYa." Ujar Tetangga Rino sambil menepuk Pundak Rino.
Rino pun kaget, Ia langsung tertunduk dan menangis mendengar kabar itu.
Ikhsan yang melihat pun penasaran, Ia mematikan musik lalu menghampiri Rino.
" Ini kenapa Pak, Teman Saya menangis?" Tanya Ikhsan.
" Ayahnya sudah tiada, Mas!" Jawab Tetangga Rino.
Sontak Ikhsan pun kaget, Kakinya langsung lemas dan duduk di hadapan Rino sambil menangis.
" Pergilah No, Biar barang daganganmu Aku yang urus! Nanti Aku menyusul!" Ujar Ikhsan sambil menangis.
Rino pun langsung berlari untuk pulang ke rumahnya, Setiap pedagang yang kenal dengan Rino bertanya-tanya apa yang terjadi.
Di Rumah Uwak Nana,
Hans dan Disa sedang menimbang Ikan untuk di setorkan, Tiba-tiba Uwak Nana menghampiri Mereka.
" Ini Wak, Sudah siap kita kirim udah 6 box buat Aku anterin ke pasar!" Kata Hans melihat Wak Nana datang melangkah menghampiri
Wak Nana langsung memeluk Hans, Lalu Ia menangis.
" Kenapa Wak?" Tanya Hans penasaran, Dan Disa menatap juga dengan rasa penasaran.
" Kamu yang kuat menjaga Adik-Adikmu, Ayahmu sudah tiada." Kata Wak Nana lirih.
Mendengar itu, Hans langsung duduk lemas sambil menangis histeris, Disa pun langsung menangis.
" Ayo Hans, Kita pulang pasti Ibu sangat membutuhkanmu!" Kata Disa sambil berlinang air mata
Disa terus menenangkan Hans, Ia mencoba menguatkan Hans sang kekasih.
Hans langsung berpamitan, Dengan hati yang hancur Ia kembali ke rumah. Disa meminta Hans agar tetap tenang saat berkendara pulang ke rumah.
Di sekolah,
Bu Keisya meminta ijin pada guru pengampu mata pelajaran yang sedang berlangsung untuk mengantar Arini pulang.
" Kenapa, Bu?" Tanya Arini kecil saat ke luar dari kelas.
Bu Keisya pun menitihkan air mata tak sanggup untuk memberitahukan apa yang terjadi.
" Arin, Ini Ibu hanya di minta mengantar Arin pulang. Mungkin Arin harus kontrol ke Dokter!" Ujar Bu Keisya belum sanggup memberitahu kenyataan.
Arini kecil pun percaya pada sang Guru.
__ADS_1
Bu Keisya terus menatap Arin, Seolah membayangkan ketika dulu Ia kehilangan almarhum sang Ayah. Hanya saja Ia dulu sudah remaja, Sedang Arini kecil masih anak-anak.
Segera Mereka menuju parkiran Guru, Bu Keisya lalu mengantar Arini kecil untuk pulang.