
Pagi harinya,
Arini terlihat sedang duduk santai melihat lalu lalang kendaraan dari teras rumah, Maklum saja karena rumahnya jauh dari jalan utama kini runah Ayahnya di depannya langsung menghadap jalan utama.
" Nak, Lagi ngapain kamu?" Tanya Bu Sara, Keluar melihat Arini tersenyum-senyum.
" Lihat Bu, Mereka tersenyum pada Arin. Rumah Ayah ramai sekali dari Kakak kakak yang berangkat kerja hingga Ibu-Ibu yang mau ke pasar. Arin seneng lihatnya." Jawab Arini tersenyum.
Datanglah Bulik Yanti dan Rizal, Mereka berjalan kaki membawa tas belanjaan menghampiri Arini.
" Assalamualaikum..." Sapa Keduanya memasuki rumah, Melihat Bu Sara dan Arini sedang bersantai.
" Wa'alaikumsalam..." Balas Arini dan Sang Ibu melihat keduanya masuk.
" Mau kemana? Kok pagi banget?" Tanya Bu Sara.
" Mau ngajak Mbak sama Arin, Jalan-jalan di pasar tuh Mbak deket sekalian Kalian biar hafal jalan!" Jawab Bulik sambil tersenyum.
" Rizal juga ikut?" Tanya Arini, Melihat Adik keponakan yang tampan ikut Sang Ibu.
" Ikut, Ayok Kak kita jalan-jalan. Sekalian nanti jajan." Ujar Rizal.
" Ada bakso?" Tanya Arini pada Rizal.
" Oh...Arin suka bakso? Ada dong yukk...!" Sahut Bulik mengajak Arini dengan menggandengnya.
" Bentar tak ambil dompet dulu, Dek." Balas Bu Sara.
Setelah mengambil dompet, Bu Sara mengikuti Bulik Yanti dan Rizal.
Arini pun senang melihat pemandangan dan suasana baru di kota kelahiran sang Ayah.
" Mbak, Nanti Rizal mau ajak Arini melihat-lihat sekolah rekomendasinya!" Kata Bulik Yanti.
" Asyikk...Makasih Rizal, Arin seneng mendengarnya! Sekaligus Arin ingin melihat-lihat kota Ayah." Sahut Arini.
Bu Sara hanya mengiyakan, Karena memang sudah saatnya Arini mendaftar sekolah.
" Kalau di sana ada Kak Hans, Kak Rino, Kak Disa yang selalu ngajak Arin ngebakso. Eh disini ada Rizal yang mau temenin Arin, Makasih Ya Mas." Ucap Arini mengakrabkan diri.
" Mas gimana, Ya Dik dong! Kan Bulik manggil Ibumu Mbak yang berarti Kakak, Rin." Bulik Yanti menegur Arini sambil tersenyum.
" Lah si cantik Dona, Kenapa nggak ikut Dek? Tanya Bu Sara mencari anak ke dua Bulik Yanti dan Om Sono.
" Dia kalau bukan hari libur ya sibuk belajar dan sekolah Budhe, Kami Saja yang serumah jarang ngobro! Kutu buku Adekku itu." Jelas Rizal.
" Yah, Mbak namanya bintang sekolah. Tiap hari isinya belajar di kamar sesekali main komputer udah cuma itu kerjaan Dona." Sambung Bulik Yanti sambil jalan.
" Wah...Bintang Sekolah berarti Ia pintar ya Dek? Sudah SMA kelas berapa?" Tanya Bu Sara.
" SMA kelas Dua, Hanya saja Ia ada kekurangan tapi ya Dia menutupi dengan prestasi hingga nggak ada orang yang menghinanya!" Ucap Bulik.
__ADS_1
Bu Sara menyimak sekaligus kaget mendengar Dona ada kekurangan layaknya Arini.
" Emang Dona, Kenapa Dek?" Tanya Bu Sara penasaran.
" Dona kecelakaan Budhe, Hingga Ia tidak bisa berjalan layaknya Kita tapi Budhe enggak usah mengasihaninya malah Aku kagum dengan Adikku meski ada kekurangan Ia tidak minder justru semua temannya tunduk terhadap Dona karena sangat jenius dan berprestasi. Aku saja mengakui kepintaran Adikku da keoercayaan diri Adikku." Sahut Rizal.
" Maaf Dek, Mbak tidak tahu." Tutur Bu Sara, Merasa tidak enak hati.
" Hahaha...Enggak apa-apa Mbak, Ia kecelakaan pas seperti Arin. Sewaktu pulang dari merayakan kelulusan Smp kala itu. Walau Ia sempat drop yang membuat kita khawatir, Tapi Dona bangkit layaknya Dona yang dulu.
Aku, Mas Sono dan Rizal di buat terkesima oleh kepintarannya dan Rasa ikhlasnya menerima keadaan. Tiap kali Kami mengeluh, Justru Dona yang menbangkitkan kami.
Nanti Mbak kerumah, Ia ingin bertemu Budhe dan keponakannya katanya Dia kangen. Paling jam 4an sore Ia sudah di rumah!" Jelas Bulik.
Arini menyimak cerita Bulik tentang Anaknya perempuan yang nasibnya sama dengannya mempunyai kekurangan, Namun justru Ia bisa mengatasi kekurangan.
Arini memandang ke arah sang Ibu " Bu, Aku ingin bertemu Dek Dona!" Ujar Arini penasaran.
" Nanti ikut Aku aja Rin, Menjemput Dona. Pakai motor tapi!" Sahut Rizal.
" Udah Zal, Kalau ngajak Arin pakai mobil saja! Keselamatan di utamakan!" Kata Bu Sara meminjamkan mobilnya kepada Rizal.
" Sekalian saja, Kamu Zal bawa keliling Arin melihat sekolah-sekolah di sini yang favorit! Bulik memberikan ide.
" Bawa Dona?" Kata Rizal.
" Ya iya!" Balas Bulik.
" Wah Budhe, Kalo sama Dona nantinya bukan nyari sekolahan tapi nganterin Dia ketemu sama teman-temannya di sekolah lain! Soalnya pergaulan Dona itu luas " Jelas Rizal.
Arini tambah penasaran, Walau berkekurangan tapi kata Kakaknya pergaulannya luas.
Bu Sara melihat ke Arin " Iya Rin, Kamu ikut! Biar Kamu di ajari Adikmu Dona bagaimana cara bergaul!" Ucap Bu Sara.
Mereka pun Akhirnya sampai ke pasar yang hanya 300 meter dari tempat tinggalnya.
...****************...
Sore pukul 15.00 wib.
Rizal datang jalan kaki untuk menghampiri Arini di rumah, Mengajaknya menjemput Dona.
" Wah sudah datang, Nih Arin juga sudah siap!" Bu Sara yang melihat Rizal berjalan di depan Rumah.
Rizal mencium tangan Bu Sara, Melihat Arini sudah rapi " Wah, Kayaknya ada yang enggak sabar!" Kata Rizal menggoda Arini.
" Ayo Zal, Kita segera menjemput Dona!" Balas Arini.
" Zal, Ini kunci mobil sama uang bensin!" Bu Sara memberikan kunci dan Uang.
Namun, Uang di tolak oleh Rizal " Sudah Budhe, Uang bensin ada aman. Rizal pinjem Arin dan mobil ya." Pamit Rizal.
__ADS_1
" Hati, Hati!" pesan Bu Sara, Rizal Dan Arini mencium tangan sambil bersalaman lalu pergi.
" Rin, Ibu di tempat Bulik nanti jika Kamu mencari!" Ujar Bu Sara, Yang ingin bercengkrama dengan Keluarga dari sang Suami.
Setelah 30 menit perjalanan Rizal dan Arini, Tiba di depan Sekolahan Dona.
Arini melihat Sekolahan Dona yang megah dan Siswa yang di jemput dengan mobil.
" Wah Zal, Pasti ini Sekolah Dona mahal ya?" Tanya Arini.
" Enggak juga Mbak, Soalnya Dona berprestasi jadi Ia gratis bersekolah di sini! Kalau bayar ya sudah nggak kuat! Ini termasuk sekolah SMA Favorite di kota ini!" Jelas Rizal dengan tersenyum.
Arini melihat ada Seorang Siswi yang menggunakan alat bantu jalan tersenyum bersama teman-temannya.
" Mbak itu, Bisa tersenyum ya Zal meski buat jalan saja harus memakai alat bantu." Ujar Arini menunjuk Siswi itu.
" Itu Dona Mbak, Yah Mereka menunggu Aku menjemput Dona. Ya itu Sahabat-sahabat Dona." Jawab Rizal, Langsung mengajak Arini turun dari mobil untuk menghampiri Dona.
Arini teringat dengan Hera dan Sahabatnya yang lain persis seperti itu yang Mereka lakukan kala menemaninya menunggu Angkot, Tapi tak sebanyak teman Dona.
Rambut yang lurus panjang, Kulit Putih, Tinggi dan Dua lesung pipit yang mnambah kecantikan Dona.
" Hay, Dona!" Sapa Rizal.
" Kak, Itu..?" Balas Dona menunjuk Arini.
" Iya Arini, Dia anak Pakdhe dan Budhe!" Jelas Rizal.
Arini dan Dona saling berjabat tangan.
Lalu Dona tersenyum kepada Arini " Kenapa Mbak, Aneh ya melihatku?"
Arini pun terseyum " Enggak Dek, Ternyata kita sama!" Balas Arini
" Mbak, Mau keliling lihat Sekolah-sekolah ya. Mending di sini Mbak sama Aku, Nanti belajar bisa Aku ajari!" Ujar Dona langsung akrab dengan Arini.
Arini melihat jelas Sekolah Dona, Lalu Dona mengajaknya masuk ke Sekolah agar Arini semakin tertarik.
Setibanya di dalam sekolah " Arin kayaknya ikut sama Dona boleh, Sekolah di sini?" Ucap Arini labgsung tertarik.
" Boleh Mbak! Boleh banget!" Balas Dona.
" Yakin Mbak, Mau sekolah di sini?" Ujar Rizal memastikan.
Arini mengangguk, Rizal dan Dona pun tersenyum.
Semua Siswa dan Siswi yang berpapasan selalu menyapa Dona.
Arini tertarik " Udah yuk pulang, Aku mau bilang Ibu ingin bersekolah di sekolah Dona!" Ucap Arini.
Mereka pun kembali pulang, Dona menggandeng Arini hingga masuk ke mobil.
__ADS_1