Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Panik


__ADS_3

Arini kecil, Di sibukkan dengan pemambahan pelajaran setiap harinya hingga Ia tidak ada waktu bermain bersama dengan teman sebayanya.


Hari sabtu pun tiba dimana Arini kecil tidak ada kegiatan belajar.


" Kak, Arini libur! Boleh ya Kak, Arin ikut Kakak jualan nanti!" Kata Arini kecil ingin ikut berjualan di pasar malam bersama Kak Rino.


" Mmmt.. Gimana ya, Arin yakin? Tapi Arin nggak boleh malam-malam ya hanya sampai jam 7 malam!" Kata Rino menyetujui permintaan Arini kecil.


" Hore....Arin ikut Kak Rino!" Arini kecil kegirangan.


" Udah sana, Arin lihat tv aja Kakak mau benerin gerobak!" Kata Rino, Sambil memegangi ban grobak.


Arini mengikuti kata Kak Rino.


Tapi tiba-tiba, Tubuh Arini terasa lemas kemudian jatuh ke belakang lalu pingsan. Rino yang masih sibuk membenarkan gerobak tidak sadar akan hal itu, Sampailah datang Bu Keisya membawa makanan untuk Arini.


" Misi, Mas." Sapa Bu Keisya, Turun dari motor melihat Rino sibuk di bawah gerobaknya.


Rino menghentikan kegiatan langsung melihat ke arah suara.


" Oh..Ibu, Si Arin itu lagi lihat tv di dalem.Silahkan masuk Bu, Ayah sama Ibu lagi jualan." Kata Rino.


" Iya Mas, Terimakasih." Bu Keisya masuk rumah.


" Arin..Arin...Bangun Ibu bawakan makanan, Tadi kan pulang cepet. Ibu masak buat Arin." Bu Keisya mencoba membangunkan Arin.


Karena tidak bangun Bu Keisya lantas ke luar memanggil Kakaknya Rino.


" Mas..Apa Arin sudah tidur dari tadi?" Tanya Bu Keisya.


" Tidur Bu, Ah mungkin baru saja. Tadi saja masih mengobrol dengan Saya!" Jawab Rino.


Lantas Rino teringat kebiasaan Arini kecil yang tidak dapat tidur apabila tidak di kamarnya.


Langsung buru-buru Rino menghentikan kegiatannya dan lari ke kamar tamu.


" Arin...Arin...Bangun...Arin...!" Rino menggoyang-goyangkan tubuh Arini agar Dia bangun.


" Arin...Arin...!" Rino mengencangkan suaranya.


Bu Keisya mendekati Arini kecil, Ia mengecek nadi dan memastikan keadaan Arini kecil.


" Arin pingsan, Mas!" Ujar Bu Keisya.


Rino langsung panik, Ia lantas membopong Arini kecil untuk di bawa ke klinik.

__ADS_1


" Bawa saja ke kamar Mas, Biarkan Saya yang panggil Dokter!" Kata Bu Keisya.


Arini kecil langsung di bopong di tidurkan di kamarnya, Melihat kamar Arini kecil mengingatkan Bu Keisya pada kamarnya di rumah yang lama dulu sewaktu hidupnya masih penuh kesederhanaan.


Bu Keisya langsung meminta bantuan Dokter kenalannya, Mengirimkan alamat via hp.


" Arin...Arin...!" Triakan Rino terus berusaha menyadarkan Arini kecil.


Rino pun menangis karena khawatir.


" Ia sekarang jadi lemah begini Bu, Andai penyakit bisa di pindah. Biarkan penyakit ini di pindahkan ke dalam tubuhku saja Aku tak ingin melihat tubuh Adikku menderita!" Kata Rino sambil memegang tubuh Arini yang Ia sandarkan di tangan kanannya.


" Ssst...Ini sudah garis takdir Mas, Jangan bersedih semua penyakit pasti ada obatnya!" Kata Bu Keisya menenangkan Rino.


" Maafin Kak Rino, Yang tadi tidak mengawasi Arin ya. Kakak lebih fokus ke gerobak." Rino menyalahkan dirinya.


Hari Sabtu saat nya Hans dan Disa pulang dari rumah Uwak Nana untuk menikmati waktu bersama keluarga.


Hans yang berboncengan dengan Disa, Karena ingin melihat Arini dahulu sebelum Disa pulang.


Disa menatap motor Bu Keisya yang terparkir di depan rumah.


" Hans, Wah ini Rino pasti lagi asyik bercanda bersama Arini dan Keisya!" Ujar Disa.


Hans memarkirkan motor di samping gerobak, Yang berada di depan rumahnya.


" Assalamualaikum..." Sapa Disa memasuki rumah.


Namun, Tidak ada yang menjawab kamar tamu sepi. Hans pun mencari Arini di kamarnya.


Ia melihat Arini kecil tersandar tak sadarkan diri di tangan Rino.


" Kenapa Arin?" Tanya Hans langsung melempar plastik di genggamannya.


" Arin pingsan, Tadi berpamitan menonton tv lalu Bu Keisya sudah menemukan Arin pingsan di depan tv. Aku baru sibuk membenarkan gerobak di luar." Jelas Rino.


" Bodoh Kamu No, Ayo segera bawa ke klinik!" Triak Hans masuk ke kamar Arini kecil lalu merebut Arini kecil untuk di bawa ke klinik.


" Udah Mas, Ini ada Dokter yang akan ke sini. Saya sudah memanggilnya." Kata Bu Keisya menenangkan Hans.


Disa lalu duduk di ranjang di samping Arini, Ia menggenggam tangan Arini kecil


" Arin sayang bangun...Ini Kak Disa dan Kak Hans datang...Arin Kak Disa membawa ikan bakar kesukaanmu...Ayo Arin bangun!" Kata Disa terus berusaha membangunkan Arini kecil.


Hans menyandarkan Arini di badannya sebagai tumpuan, Sedang Rino di belakang Hans terus menangis.

__ADS_1


Datanglah, Dokter yang di panggil oleh Bu Keisya.


" Permisi...!" Sapa Dokter.


Bu Keisya yang sudah hafal suara Bu Dokter terus menghampiri de depan.


" Bu, Silahkan masuk!" Kata Keisya, Menuntun Bu Dokter ke kamar Arini kecil.


Rino menjelaskan semua tentang Arini kepada Ibu Dokter itu.


" Ini hanya faktor ke lelahan, Tolong jangan bikin Dia Stress apa lagi sampai kecapek'an!" Kata Bu Dokter setelah memeriksa Arini.


" Terus bagaimana dengan penyakitnya, Bu Dokter?" Tanya Rino.


" Nggak apa-apa, Masih bisa di sembuhkan asal rajin mengomsumsi obatnya!" Imbuh Bu Dokter.


Kemudian Hans membaringkan Arini di ranjangnya.


Semua keluar agar Arini bisa beristirahat.


Setelah mengantar Bu Dokter ke depan untuk pulang, Mereka semua duduk di ruang tamu untuk membicarakan mengenai Arini kecil.


" Kenapa bisa begini, No?" Tanya Hans.


" Aku, Enggak tahu. Jangan terus menghakimiku, Aku sudah berusaha keras menjaganya!" Balas Rino.


Hans pun merasa kesal karena Rino gagal menjaga Arini kecil.


" Udah-Udah, Ini semua tidak ada yang tahu!" Kata Disa, Melerai pertikaian.


" Mas, Mohon maaf. Apakah Arini sekarang membatasi diri ya dari pergaulan? Misalnya setelah selesai belajar dengan Guru-Guru yang kesini, Apaka Ia tida main gitu atau ngumpul bersama teman sebayanya?" Tanya Bu Keisya mencari penyebab stress Arini kecil.


" Iya..Iya Bu, Setelah belajar Ia langsung ke kamar untuk tidur! Ia sekarang tidak pernah saya lihat bermain bersama teman-teman sebayanya." Jelas Rino.


" Ya udah, Itu pemacu stress Arin. Dan lagi Dia pasti takut apabila Ia bermain Ia akan dakit dan merepotkan keluarga, Fik itu yang ada di pikiran Arin." Kata Bu Keisya.


" Oh Bisa jadi itu, Apa kita nanti setelah Arin siuman kita ajak aja senang-senang tapi Hans anter Aku pulang dulu!" Disa memberikan Ide.


" Ya udah, Aku setuju!" Kata Bu Keisya.


" Kamu yang nganter Aku saja Dis, Nanti Sekalian Aku siap-siap dan yah mau mampir ke rumahmu karena sudah lama kan Aku tidak main ke rumahmu!" Imbuh Bu Keisya.


Rino dan Hans masih terdiam khawatir keadaan Arini kecil.


Bu Keisya yang melihat Rino terus menangis, Akhirnya bagkit dari duduk. Menghampiri Rino, Ia berdiri di samping Rino.

__ADS_1


" Sudah Mas, Tenang Arin tidak apa-apa! Arin kuat kok!" Kata Bu Keisya sambil menepuk-nepuk pundak Rino menenangkan Rino.


__ADS_2