
Setelah dirinya tahu akan di ajukan sebagai perwakilan sekolah dalam lomba cerdas cermat, Arini kecil bersemangat karena banyak Guru yang ikut memotivasi.
Saat Arini pulang dari sekolah,
Arini di pinggir jalan sendiri menunggu angkot yang lewat bersam beberapa teman yang rumahnya jauh dari sekolah.
Tin...Tin....( Suara klakson motor Bu Keisya)
Berhenti di depan Arini kecil.
" Hey Arin, Lagi nunggu angkot ya?" Tanya Bu Keisya.
" Iya Bu, Arin nungguin angkot." Jawab Arini sambil tersenyum.
" Yuk Ibu anterin, Sekalian Ibu mau tahu rumahmu kan besok bimbingannya Ibu Guru datang ke rumah Arin buat persiapan lomba." Jelas Bu Keisya.
" Apa Arin tidak merepotkan, Bu?" Arini takut dirinya merepotkan.
" Yukk, Nih pakai. Ibu nggak repot toh Ibu hanya berdua sama Ibuk ibu dan bibik di rumah." Ujar Bu Keisya kemudian memberikan helm pada Arini.
Arini memakai helm, Lantas membonceng Bu Keisya.
" Arin tunjukin jalan ke Ibu, Ya!" Ujar Bu Guru.
Arini pun di perjalanan terus menunjukkan Arah ke rumahnya yang jaraknya 20 menit jika naik angkot dan Hanya 12 menit jika berkendara karena melewati jalan tikus.
Sampailah di rumah Arini, Melihat Sang Ayah Pak Romi sedang memilah dagangan untuk berjualan besok setelah membeli stok sedang Bu Sara sibuk menyapu di teras rumah.
" Assalamualaikum..Bu Yah." Kata Arini memasuki rumah.
Arini pun langsung mencium tangan kedua Orang tuanya.
" Loh, Ada apa Ibu Guru kemari?" Tanya Pak Romi melihat Bu Keisya di belakang Arini.
" Silahkan duduk Bu, Maaf tempatnya masih kotor ya begini rumah Arini ,Bu!" Sang Ibu mempersilahkan Bu Keisya duduk di teras karena di dalam penuh dengan dagangan yang belum di tata.
" Saya kesini ingin memberitahukan bahwa, Anak Ibuk dan Bapak Arini akan mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat SMP se kabupaten Pak, Saya di sini juga meminta ijin jika tiap hari akan ada Ibu atau Bapak Guru kemari dengan maksud memberi bekal ilmu Arin sebelum perlombaan di karenakan kondisi Arin menjaga agar tidak kelelahan. Apakah di perbolehkan?" Tanya Bu Keisya.
" Tentu...Tentu boleh Bu!" Kata Bu Sara, Dengan ekspresi senang memeluk Arini di sampingnya.
Pak Romi pun tersenyum lebar menatap Putri kecilnya karena bangga.
" Hebat kamu Sayang, Ayah bangga padamu!" Ucap Sang Ayah di depan Bu Guru.
Bu Sara pun ke dapur untuk mengambil suguhan Bu Guru.
Datanglah Disa menemani Hans pulang kerumah dengan mendorong gerobak dagangan berdua.
" Hey Keisya...!" Disa langsung berlari menyalami sahabatnya.
__ADS_1
" Kok sudah saling kenal?" Pak Romi heran.
" Bu Keisya ini teman saya sewaktu SMA, Karena Ia pintar pelajaran jadi Guru sedangkan Saya temannya dari dulu memang pintar berdagang jadi yah berdagang saja, Pak!" Jawab Disa.
" Gimana, Ada apa ini?" Tanya Disa akrab kepada Bu Keisya.
" Ini memberitahu bahwa Arini ikut lomba!" Kata Keisya.
" Sini Rin, Dekat Kak Disa!" Panggil Disa.
Arini pun mendekat ke arah Disa.
Lantas Disa memeluk Arini, Dan Arini duduk di pangkuan Disa.
" Berat juga Kamu ya, Rin?" Gurau Kak Disa.
" Besok akan ada Bapak dan Ibu Guru yang kesini untuk memberi bekal tambahan menuju lomba." Sahut Bu Keisya.
" Nanti Kak Disa pinjemi laptop Arin deh, Biar Arin belajar lebih gampang!" Ujar Disa.
" Makasih ya Kak Disa." Ucap Arini.
Bu Sara keluar membawa suguhan minum dan makanan kecil untuk Bu Keisya.
" Wah repot-repot, Bu." Ujar Bu Guru.
" Nggak, Ini tadi di pasar beli ini buat cemilan." Balas Bu Sara tersenyum.
" Kedua Kakak Arin putus sekolah Bu, Mereka hanya lulus SMP. Hanya Arin yang menjadi tumpuan agar bisa menyekolahkannya tinggi, Maklum kami keluarga yang kurang mampu." Jelas Pak Romi.
" Iya Bu, Saya dan Kakaknya Rino sudah ikhlas demi Arin bisa sekolah tinggi kami berdua akan mewujudkan cita-cita adik kami!" Imbuh Hans menatap Arini kecil.
" Ya hanya Arin Sya, Yang bisa mikir kalau kedua Kakaknya huft minta ampun." Gurau Disa.
" Heleh, Gini-gini juga 3 tahun jadi pacarmu!" Timpal Hans.
Suasana di rumah itu pun cair, Obrolan demi obrolan tak terasa waktu.
Rino tiba-tiba datang kembali,
" Loh No, Kenapa balik lagi? Baru tadi pagi berangkat ini kesini lagi!" Ujar Hans melihat Rino datang.
" Itu Rino adik dari Hans, Anak kami nomer 2!" Jelas Bu Sara.
" Tuh dimarahin Uwak, Gara-gara nota jualbeli ketinggalan di kamar! Eh suruh balik lagi, Emang si Uwak kalo jauh rindu kalo deket ribut mulu!" Balas Rino sambil bergurau.
" Ini ada Bu Guru, Arin kenapa?" Imbuh Rino khawatir pada kondisi Arini.
" Adikmu di tunjuk untuk mewakili sekolahnua di perlombaan tingkat kabupaten!" Jelas Pak Romi.
__ADS_1
" Wuih, Hebat. Tos dulu Adik Kak Rino harus pintar dong Ya!" Ujar Rino bangga.
Rino duduk di samping Hans.
Diam-diam Rino curi-curi pandang ke Bu Keisya, Seolah tertarik pada Bu Keisya. Hans yang paham gerak gerik Rino pun menyenggol kaki untuk mengingatkan Rino.
" Sadar diri, Kamu!" Kata lirih Hans di telinga Rino.
" Kok bisik-bisik, Ada apa?" Tanya Disa yang melihat mereka berdua.
" Enggak, Aku ngajakin Rino iuran untuk membeli televisi!" alasan Hans menutupi maksud sebenarnya.
Disa paham, Karena dari tadi mata Rino berbinar tiap melihat ke arah Bu Keisya.
" Ehem....No, Kamu kok single terus apa nggak pengen pacaran?" Ujar Disa memancing Rino.
" Boro-boro pacaran, Tiap hari cuman bertemen ama mujair di kolam Uwak." Balas Rino membuat semua tertawa.
Bu Keisya melihat jam di tangan, menunjukkan pukul 14.47 wib.
" Maaf ya, Saya harus pulang Buk Pak karena Ibuk saya pasti sudah menunggu. Maklum tinggal Ibu." Pamit Bu Keisya menyalami semua.
Bu Keisya keluar rumah Arini, Melihat ban motornya kempes, Keluarga Arini yang melihat Bu Guru terlihat bingung pun menghampiri.
" Bocor ya, Bu?" Tanya Pak Romi.
Disa langsung menepuk Rino, Karena paham rasa tertarik Rino pada Bu Keisya.
" Sana, Dia masih jomblo juga. Kesempatan Bos!" Bisik Disa di telinga Rino.
" Jangan No, Kita sadar diri siapa kita!" Ujar Hans lirih di samping Rino.
" Biar saya bantu, Bu. Biar saya yang menuntun motor Ibu ikuti saya saja!" Ucap Rino memberanikan diri untuk memanfaatkan keadaan berkenalan pada Bu Keisya teman Kak Disa.
" Itu anak di kasih tau, Ngeyel!" Hans kesal melihat Rino.
" Biarin sih, Mending adikmu berani! Kamu kalo dulu harus Aku yang duluan minta kenalan!" Sindir Disa.
Rino menuntun motor lalu di sampingnya ada Bu Keisya.
" Keburu di tungguin suaminya ya, Bu?" Tanya Rino mengawali pembicaraan karena Bu Keisya terus menatap jam.
" Hehehe...Belum bersuami kok Mas, Masih fokus untuk merawat Ibu!" Balas Bu Keisya tertunduk malu.
" Yah, Kalo Saya masih fokus ke Arini. Jujur Saya ingin adik saya sembuh total, Ini Saya menggadaikan tenaga Saya ke Uwak demi Arini bisa berobat terus. Maklum Bu, Keluarga kelas bawah harus berjuang hidup dengan berbagai cara yang penting Halal!" Cerita Rino.
" Arini memang anak yang pintar juga humble, Mudah akrab terus anak yang nggak neko-neko sederhana. Tadi Saya makan siang berdua bersama Arin di kelas, Saya tanya alasan membawa bekal karena uang saku ia kumpulkan untuk membeli tv katanya yang di jual untuk ia berobat!" Cerita Bu Keisya.
Rino pun kaget, Mendengar Arini Adiknya melakukan itu.
__ADS_1
" Ya begitulah Arin, Kalo punya beban hanya buku diary yang tahu. Nggak pernah minta atau pun cerita." Balas Rino menjelaskan kepribadian Arini.