
Hans meminta ijin memepercepat pernikahannya dengan Disa,
" Bu, Aku ijinkan aku mempercepat pernikahanku dan Disa. Karena keadaan Ibu Disa semakin mengkhawatirkan!" Ucap Hans bersimpuh pada Bu Sara di ruang tamu rumahnya Dira.
Arini kecil yang mendengar langsung berlari keluar kamar berdiri menghadap Hans " Kakak mau menikahi Kak Disa, Terus Kakak mau ninggalin Arin?" sahut Arini.
Sang Ibu dan Hans menatap Arini yang takut di tinggalkan Hans sembari tersenyum.
Hans lalu mendekat kemudian jongkok sambil mengelus rambut Arini " Mana mungkin, Kak Hans bisa berpisah dari Arin adek Kakak yang cantik."
" Bawa kami ke Rumah Sakit, Hans! Ibu ingin melihat kondisi kedua orang tua Disa." Tutur Bu Sara.
" Baiklah Bu, Kalian ganti baju dulu Aku akan menunggu di teras." Balas Hans.
Bu Sara mengajak Arini untuk berganti pakaian, Lalu Hans keluar rumah duduk di tetas rumah.
Dira datang beserta Rino, Segera mereka masuk ke teras melihat Hans yang sedang duduk sambil menatap layar hpnya.
" Gimana kondisi, Disa?" Terus kenapa kamu pulang?" Ucap Rino.
" Aku menjemput Ibu dan Arin, Mereka mau melihat kondisi Disa dan orang tuanya." Jawab Hans menatap keduanya.
" Berarti tujuan kita sama, Baiklah kalo begitu kita kesana sama-sama. Aku mau minum dulu haus." Sahut Dira masuk ke dalam rumah langsung ke dapur di temani Rino.
Bu Sara keluar dengan Arini setelah berdandan.
" Yuk, Kak kita ke rumah sakit.sekarang!" Ucap Arini menggandeng Hans.
" Bentar Sayang, Nunggu Kak Rino dan Kak Dira yang baru minum di dapur." Balas Hans, Sambil tersenyum.
Rino dan Dira keluar setelah selesai minum.
" Loh, Adek Kak Dira yang cantik juga mau ikut menjenguk Kak Disa ya." Ucap Dira menggoda Arini sambil mengelus pipinya.
" Yuk berangkat! Kasihan Ikhsan sendirian di sana, Siapa tahu Ia belum makan." Ujar Rino.
" Kalo makan sudah No, Yuk segera berangkat aja takut ada yang harus di urus di administrasi!" Pungkas Han.
Dira mengunci pintu lalu dengan semuanya segera pergi ke rumah sakit dengan mobil Dira.
...****************...
Sampai di Rumah Sakit.
Mereka langsung menuju ruangan di mana Disa dan orang tuanya di rawat.
__ADS_1
Mereka melihat Ikhsan di luar ruangan Disa, duduk bersandar di kursi tunggu.
" Hey, Kok kamu di luar?" Tanya Rino, Mengagetkan Ikhsan tiba-tiba berdiri di hadapan Ikhsan yang menutupi matanya dengan kedua tangannya.
Ikhsan pun kaget " Mereka sedang istirahat, Aku keluar juga mau istirahat No. Capek!"
" A...Ah....Sakit..." Teriakan Ayah Disa.
Mereka pun terkejut, Hans dan Dira langsung masuk ke dalam ruangan melihat kondisi Ayah Disa.
Sesampainya di depan ranjang Ayah Disa memegangi kepala sambil mengerang kesakitan.
" Hans...Cepet panggil perawat!" perintah Dira pada Hans.
Hans segera memencet tombol untuk memanggil Perawat.
" Sabar Pak...Sabar...Sebentar lagi Perawat datang." Ujar Dira mencoba menenangkan Ayah Disa.
Disa terbangun, Karena ingin melihat sang Ayah Ia sampai terjatuh karena Ia belum bisa berjalan karena Kakinya masih sakit.
" Gubrakkkkk..." Suara Disa terjatuh.
Hans langsung berlari ke ranjang sebelah.
" Kamu ngapain sih sayang, Kan bisa panggil Aku!" Ucap Hans sambil menggendong Disa kemudian menegakkan penyangga infus Disa.
" Baiklah Sayang, Aku akan mengantarmu! Kamu pegangi infusmu biar Aku membopong atau menggendongmu!" Ucap Hans.
Disa melihat Perawat datang langsung ke bilik sebelah yang berisi Ayahnya yang sedang mengerang ke sakitan.
" Huh...Huh....Huh...." Suara dari bilik Ibu Disa.
Dira setelah Perawat datang ke bilik Ayah Disa, Ia mendengar suara Ibu Disa yang mengerang langsung berlari ke sebelahnya.
Disa memaksa Hans menggendongnya untuk melihat Ibu dan Ayahnya.
Hans langsung menggendong Disa, Ke bilik Ibunya karena Perawat sedang memeriksa Ayahnya Disa.
" Suster....Suster....Tolong Sus..!" Teriak Dira, Di bilik Ibu Disa.
Disa yang di bopong Hans melihat sang Ibu seperti kesulitan bernafas.
Suster mendengar teriakan Dira, Setelah memberikan obat ke Ayah Disa buru-buru menghampiri bilik Ibu Disa.
Melihat kondisi Ibu Disa, Perawat buru-buru memanggil Dokter jaga di ruang Dokter.
__ADS_1
Rino dan yang lain hanya bisa melihat Perawat dan suara teriakan-teriakan dari Dira dan Disa di dalam karena mereka mengerti bahwa di dalam sedang ada kondisi darurat.
" Bu, Ada apa kok Kak Dira teriak-teriak dengan Kak Disa?" Tanya Arini yang menggandeng tangan Ibunya.
" Sudah Arin, Tidak apa-apa mari kita doakan Ayah dan Ibu dari Kak Disa semoga baik-baik saja dan lekas sembuh." sahut Ikhsan.
Pandangan Rino mengikuti arah Perawat dan Doktet yang masuk ke ruangan rawat Disa.
Bu Sara memandang Rino " No." Ujar Bu Sara merasa cemas.
Rino melihat ke arah Ibunya menjawab dengan menggelengkan kepala.
Di dalam ruangan.
Hans menggendong Disa berdiri di samping Dira di depan tirai bilik Ibunya yang di tutup menunggu kabar dari Dokter.
" Kenapa tiba-tiba, Perasaanku jadi takut ya!" Pungkas Disa menatap bilik Ibunya.
Dokter dan Suster keluar bilik, Dan bilik di buka kembali.
Dira lalu mendekati Dokter " Bagaimana Dokter kondisi Ibu?"
Dokter tersenyum kecil sambil menepuk pundak Dira " Hanya ada masalah sedikit tapi sudah biasa di atasi, Berdoa ya Mas buat Ibunya biar cepet sembuh!" lalu Bapak Dokter dan Suster meninggalkan ruangan rawat.
" Tuh, Ibumu tidak kenapa-napa! Sudah jangan khawatir Sayang kita percayakan sama Dokter di sini sembari kita berdoa." Ujar Hans memandang Disa.
Dira langsung mundur-mundur menempel di tembok lalu perlahan duduk.
" Alhamdulillah, Akhirnya bisa di atasi. Karena bagiku mereka seperti orang tuaku di sini. Ketika Ayah dan Ibuku memilih tinggal di luar, Mereka yang merawatku!" Ucap Dira terduduk lemas.
Hans dan Disa menatap Dira yang sepertinya memendam rasa panik sendirian, Karena kekhawatiran terhadap kedua orang tua Disa.
" Sayang, Turunin aku biar aku duduk di samping Dira!" Pinta Disa.
Disa duduk di samping Dira " Kenapa kamu masih perhatian dengan orang tuaku setelah aku menolakmu!" Ujar Disa memandang Dira.
Dira menatap ke depan sambil tersenyum " Bagiku perjodohan kita hanya tambahan, Yang aku pikirkan adalah kebahagiaan kedua orang tuamu! Aku sebenarnya juga enggak mau dengan perjodohan kita, Hanya saja aku menghormati orang tuamu layaknya orang tuaku sendiri! Aku sayang mereka sebagai pengganti orang tuaku! Aku tidak lebih menganggapmu hanya sebagai adik tidak lebih, Waktu kamu menolakku yang ku pikirkan perasaan mereka, jika mereka sudah bahagia ya sudah aku juga lega!" curhat Dira.
Disa langsung mendekap Dira " Tolong terus jadi Kakak'ku ya!"
Hans hanya melihat kemudian Ia tersenyum melihat sekaligus mendengar curahan hati Dira, Yang sangat tulus menjaga keluarga Disa dan Keluarganya.
" Jangan cemburu Hans, Ini adikku!" Gurau Dira melihat ke Hans yang berdiri memandangnya.
" Terimakasih, Dir." Ucap Hans.
__ADS_1
Dira mendekap Disa sembari menenangkannya, Disa pun senang karena Ia hanya di anggap adik di mata Dira.