Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Rasa Sakit Arini


__ADS_3

Hans berlari kemudian buru-buru menyetop angkot untuk mengantar Arini ke klinik terdekat.


" Rin..Arin...Ayo buka mata...Arin...Ini Kak Hans...!" Ujar Hans sambil menangis di dalam angkot.


Sopir angkot dan penumpang lain pun memutuskan untuk mengantarkan Hans dan Arini dulu karena rasa kemanusiaan dan kasihan.


Angkot pun di kendarai dengan kencang, Agar Arini segera mendapat pertolongan medis.


Sesampainya di depan Klinik. Sopir angkot menolak uang dari Hans karena kasihan.


Perawat langsung membawa Arini masuk ke ruang tindakan, Selanjutnya dokter masuk untuk memberi pertolongan medis atas laporan dari Perawat.


Hans terduduk menunduk seolah pasrah dengan keadaan, Ia memegangi kepala dengan kedua tangannya merasa tak berguna. Ia terus menyalahkan dirinya atas obrolannya dengan sang Ibu yang sampaidi dengar Arini.


" Dokter, Bagaimana keadaan Adik saya Arin?" Tanya Hans melihat Dokter ke luar ruangan.


" Siapa dari keluarga anda yang bernama Rino? Adik anda tidak apa-apa hanya saja mungkin Dia kangen dengan yang namanya Rino soalnya dari tadi menyebut nama Rino dengan kondisi badan panas!" Jelas Sang Dokter.


" Rino Adik saya, Kakak dari Arin Dok." Jawab Hans.


" Setelah sadar nanti da sehat, Tolong kalau bisa pertemukan Ia dengan Kakaknya. Mungkin Adik anda kangen berat!" Saran Dokter kemudian berpamitan meninggalkan Hans.


Hans pun langsung mengikuti Arini untuk di pindahkan ke ruang perawatan biasa.


Menunggu di samping kanan tempat tidur Arini, Hans terus mendengar igau'an adiknya yang menyebut nama Rino.


" Arin...Bangun....Arin..Kak Hans janji setelah Arin bangun nanti kita temuin Kak Rino! Kata Hans sambil menangis menggenggam tangan Arini.


Arini perlahan membuka mata karena air mata Hans jatuh menetes di tangan Arini.


" Kak, Arin buat Kakak nangis lagi. Arini bandel ya kak?" Lirih Arini menatap Hans dengan wajah datar.


Hans hanya bisa terus menangis menatap Arini.


" Kak, Aku mau ketemu Kak Rino. Arin kangen.." Ujar Lirih Arin kemudian pingsan lagi.


Hans pun khawatir, Lantas Ia memanggil Perawat dengan menekan tombol di atas tempat tidur Arini.


Perawat pun datang, Mengecek suhu badan Arini. Ternyata suhu badan Arini panas, Lantas Perawat menelepon Dokter untuk berkonsultasi.


Tak Lama, Perawat datang membawa sebuah obat yang di masukkan dari infus di tangan Arini.


Hans terus menangis di samping Arini.

__ADS_1


" Ini hanya karena panas Pak, Biarkan Dia istirahat dulu besok mudah-mudahan sudah normal lagi dan di perbolehkan pulang." Jelas Perawat pada Hans.


Hans pun bingung, Hanya bisa terus meratapi kesalahannya saat obrolan itu di dengar Arini.


" Bodoh...Bodoh...Bodoh, Ngapain sih ini mulut pakai bahas Rino." Kesal Hans menampar mulutnya sendiri.


Datanglah Pak Romi dan Bu Sara masuk ke ruang perawatan Arini.


" Hans...Stop...Hans...Stop!" Kata Pak Romi, Menghentikan tindakan Hans yang menghakimi diri sendiri.


Sang Ibu lantas memeluk Hans.


" Bu, Hans bodoh ya Bu. Hans nggak bisa jagain Arin, Hans nggak berguna ya Bu." Ujar Hans di pelukan Bu Sara.


" Jangan menghakimi diri sendiri Hans, Cukup! Ini semua sudah harus terjadi lambat laun Arin juga pasti tahu kalo Rino pergi dan Hidup bersama Wak Nana." Ujar Bu Sara lirih menenangkan Hans di dekapannya.


Pak Romi duduk di samping ranjang dimana Arini terbaring.


" Kita bawa Arin nanti setelah pulang, Langsung ke rumah Wak Nana. Nampaknya ini adalah perasaan sayang seorang adek kepada sang Kakak, Aku maklum di karenakan dari kecil kalian selalu bersama pantas jika sekarang jauh dan tahu terpisah sesedih ini." Kata Pak Romi sambil mengelus kening Arini.


Hans pun langsung bangkit dari tempat duduk langsung memeluk sang Ayah.


Hans dan Kedua Orang Tua pun berdoa agar Arini segera cepat pulih.


Setelah Ibadah Subuh di mushola dekat klinik, Hans duduk di pinggir jalan depan klinik.


Hans menyulut sebatang rokok, Duduk melihat orang yang lewat di depannya.


" Sekarang Aku bingung No, Andai kamu di sini pasti ini nggak akan terjadi. Andai kita seperti Mereka orang-orang yang kecukupan atas segalanya pastilah kita tidak serumit ini hidup kita. " Ujar Hans sambil menikmati rokok di tangannya.


Disa tiba-tiba datang setelah tahu dari tetangga kalau Arini di rawat di klinik.


" Andai Rino melihat ini, Maka Ia akan menyimpulkan bahwa Kakaknya adalah seorang pecundang!" Ujar Disa berdiri di samping Hans.


Karena terlalu larut memikirkan masalahnya, Hans tidak menyadari kehadiran Disa. Ia menoleh saat mendengar suara Disa.


" Kamu, Kapan datang." Sapa Hans.


Disa pun langsung duduk di sebelah Hans, Ia membawa bubur ayam untuk sarapan Semua keluarga Hans.


" Makan ini dulu, Yang!" Ujar Disa memberikan box yang berisi bubur ayam.


Hans pun menerima bubur dari tangan Disa.

__ADS_1


" Sejak kapan kamu merokok?" Tanya Disa.


" Baru ini, Karena pikiranku sudah tak menentu ini baru Aku coba untuk melampiaskan bebanku." Jelas Hans.


" Dari sisi sini Aku melihat seorang kakak yang Bodoh, Mungkin kalo Rino di sini Ia langsung membenturkan badanmu ke dinding kali Hans." Ucap Disa, Menasehati Hans.


" Gara-gara Dia pergi, Lihat Arin sekarang terbaring di sini." Hans menyalahkan Rino.


" Hahaha...Pikiranmu lucu Hans, Seorang Adik kehilangan seorang kakak ya wajar sedih. Arin hanya masih kecil, Jadi bingung mengutarakan perasaan dan Dia masih belum mengerti bagaimana Dia harus bertindak." sahut Disa.


Disa pun langsung berdiri, Menarik tangan Hans untuk di ajak masuk ke dalam ruangan Arini.


Hans mematikan rokok, dengan menginjaknya.


Sambil tangan membawa box bubur dari Disa, Hans mengikuti Disa.


" Assalamualaikum...." Disa memasuki ruangan Arini.


" Waalaikumsalam.." Balas semuanya.


Arini melihat kedatangan Disa pun bersemangat, Meski masih lemah Ia meminta tolong Sang Ibu untuk di dudukan.


" Kak Disa, Arin di tinggal Kak Rino pergi." Curahat Arini sambil meneteskan air mata.


Disa pun menaruh bubur di meja dalam ruanga Arini, Kemudian menghampiri Arini dengan duduk di samping Arini.


Bu Sara bangkit, Agar kursi yang ia tempati di pakai Disa.


Disa mencium tangan kedua Orang Tua Hans, Lanjut Ia duduk di samping Arini.


" Hey, Adik Kakak kok sedih! Kak Rino tidak ninggalin Arin, Dia ingin menyiapkan ikan untuk Arin bakar di tempat Wak Nana." Disa menghibur Arini sambil menyeka air mata Arini.


" Ayo Arin lekas sehat, Kak Disa janji anterin Arin ketemu sama Kak Rino di rumah Wak Nana mumpung Arin masih libur nanti Arin, Kak Hans, Ibu, Bapak, dan Kak Disa bisa liburan di sana bakar-bakar ikan sambil mancing, Okey!" Imbuh Disa dengan wajah tersenyum.


" Bener itu, Kak?" Arini meminta kepastian.


" Iya, Ayah akan ajak Arin menemui Kak Rino." Sahut Pak Romi.


Arini melihat kesemuanya, Dan semuanya pun tersenyum tanda setuju.


" Oke, Arin bakal cepat sembuh. Arin mau minum obat, Mau makan biar cepet ketemu Kak Rino." Arini bersemangat.


Hans pun terpana dengan cara Disa pacarnya mengambil hati Adiknya. Mereka berdua pun saling pandang dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2