
Setelah tiba dirumah
Hans dan Rino, Langsung masuk ke dalam teras. Hans duduk memegangi kepala dengan satu tangannya.
" Kak, Tadi dari mana? Arin jadi pulang di anter Bu Keisya." Tanya Arini keluar rumah.
Sang Ibu pun mengikuti dari belakang.
" Ada apa, Nak? Kok Kamu kelihatan sedih?" Tanya sang Ibu.
Rino yang duduk berhadapan dengan Hans, Tidak mau membuat sang Ibu bersedih.
" Itu Bu, Tadi Hans kehilangan uang di dompet. Jadinya sedih Bu!" Sahut Rino, Membohongi sang Ibu.
Hans memaksakan senyum terhadap Arini.
" Tadi Kakak, Ada urusan sebentar Arin. Maafin Kak Hans dan Kak Rino ya." Ujar Hans, Melihat sang Adik.
Bu Sara curiga tidak mungkin Hans sebegitu sedih hanya karena kehilangan uang.
" No, Ajak Adikmu kedalam!" Perintah Sang Ibu yang masih berdiri di pintu.
Rino pun mengajak Arini untuk masuk ke dalam rumah.
Bu Sara lantas duduk di sebelah Hans.
" Jangan fikir Kalian bisa membohongi Ibu, Katakan saja Hans jujur sama Ibu. Apa yang terjadi, Kita sekarang hidup hanya berempat jika tidak saling terbuka bagaimana Ibu bisa melindungi anak-anak Ibu." Tutur Sang Ibu melihat ke jalan depan rumah.
Hans tertunduk dan terdiam sejenak.
" Jujur, Aku yakin Kamu dan Rino tidak ingin Ibu sedih kan. Ibu akan lebih sedih lagi jika kalian tidak jujur sama Ibu dan mengetahui semuanya dari orang lain." Imbuh Bu Sara mendesak Hans.
" Orang Tua Disa tidak merestui Kami, Bu." Tutur Hans.
" Kenapa tidak setuju?" Tanya Bu Sara dengan lembut.
" Yah, Karena tadi Hans jujur pekerjaan hanya sebagai pedagang keliling sementara pilihan Orang Tua Disa. Ia Pria kaya Bu, Punya mobil pantaslah di restuin karena pasti Disa terjamin sama Dia hidupnya ketimbang sama Hans." Cerita Hans, Masih menutupi kalau dirinya dan Keluarga telah di rendahkan juga.
" Ya begitulah hidup, Hanya memandang sisi materi tapi Ibu yakin Kalian akan berjodoh jangan sedih ya, Nak!" Pungkas Sang Ibu.
Sang Ibu langsung berpamitan untuk istirahay di kamar.
Hans duduk termenung sendiri di teras rumah.
" Andai Ibu tahu, Sudah enggak mungkin rasanya Aku menerima Disa lagi karena perkataan Orang Tuanya yang menghina Kita." Gumam lirih Hans, Melihat Sang Ibu melangkah masuk ke rumah.
Ikhsan datang, Ia melihat Hans termenung di teras rumah.
" Wah jangan terus murung! Udah Kita mancing aja cari hiburan." Ikhsan coba menghibur Hans, Ia berdiri di depan Hans.
__ADS_1
Hans menatap Ikhsan.
" Yaudah, Yukk.." Ujar Hans, Setuju.
Hans mengambil alat pancing yang berada di belakang rumah yang sudah lama Ia tidak pakai.
Rino dan Arini melihat Hans, Membawa alat pancing melewati Mereka yang ada di ruang tamu.
" Mau mancing, Kak?" Tanya Arin.
" Iya Rin, Nyari lauk. Kamu sama Kak Rino di rumah!" Tutur Hans.
" Sama Ikhsan?" Tanya Rino.
" Iya, Tuh Dia sudah bawa pancingan. Entah ngambil dari mana." Balas Hans.
Hans dan Ikhsan pun melangkah pergi dari rumah untuk memancing.
Rino teringat janjinya dengan Wak Nana.
" Oh iya, Gimana kabar Uwak ya? Apa Aku kesana minta ijin dulu karena Hans lagi tidak stabil!" Gumam Rino.
" Kakak, Ngomong apa Kak?" Tanya Arini, Melihat Rino bicara sendiri.
" Arin..Arin di rumah dulu ya, Kakak mau ada perlu sebentar!" Pamit Rino buru-buru ke samping rumah untuk mengeluarkan motor.
" Udah, Bentar aja kok! Arin tutup pintunya di kunci kalo perlu." Perintah Rino.
Arini mengikuti perintah sang Kakak, Begitu Arini menutup pintu Rino segera memacu motor menuju rumah Uwak Nana.
Sementara Hans dan Ikhsan,
" San, Sebenarnya di kolam mana sih mancingnya? Dari tadi kita jalan dari rumah ke sini enggak ada kolam!" Ujar Hans, Kesal.
" Ini kan tetangga kampungmu, Ya Aku enggak tahu letak kolam di sini!" Pungkas Ikhsan sambil jalan.
" Jadi dari tadi kita muter itu Kamu nyari kolam, Belum ada pandangan kita mancing di mana! Ampun San, Idemu selalu nyusahin." Tutur Hans tambah kesal dengan Ikhsan.
" Ya udah kita ke sungai ajalah, Ku kira tahu ternyata nyari! Udah hampir petang pula!" Imbuh Hans.
Hans mendahului Ikhsan, Menuju sungai yang memisahkan kampungnya dengan kampung tetangga yang tadi Ia lewati.
" Dah, Aku di bawah jembatan! Terserah kamu spot mana." Kata Hans, Masih kesal dengan Ikhsan.
" Ya, Gitu aja ngambek! Iya Aku salah!" Pungkas Ikhsan.
" Ini umpanmu, Apa?" Tanya Hans, Sambil turu ke pinggir sungai.
" Ya itu Dia, Kan Aku kira ada kolam bisa beli pakannya. Kalo di sungai ya kita nyari dulu!" Jawab Ikhsan.
__ADS_1
Hans pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat prilaku Ikhsan.
" San-San, Niatmu bagus menghibur tapi anehnya ini jadi menyusahkan!" Pungkas Hans, Menyindir Ikhsan.
Ikhsan tersenyum melihat Sahabatnya, Ia merasa berhasil menghibur Hans.
" Nah gitu Hans, Yang Aku kenal. Suka marah-marah!" Balas Ikhsan.
Setelah mendapatkan banyak umpan dari mencari di semak-semak belakang mereka, Akhirnya Mereka memisahkan diri saat memancing.
Rino di Rumah Uwak,
" Assalamualaikum..." Rino memanggil Uwak, Sambil mengetuk pintu rumah Uwak.
" Wa'alaikumsalam." Jawab Uwak, Berjalan membukakan pintu.
Rino mencium tangan Uwak.
" Sudah mulai mau bantu, Uwak?" Tanya Uwak.
Rino menceritakan semua yang di alami Hans kepada Sang Uwak.
" Apa perlu keponakanku Aku belikan mobil, Teru apa perlu si Dira-Dira itu melihat semua asetku! Berani sekali menghina keluarga Adikku dan Keponakan-keponakan kesayanganku!" Ujar Uwak Nana, Marah setelah mendengar cerita Rino.
" Yaudah, Kamu ikut Uwak!" Perintah Sang Uwak.
Wak Nana mengajak ke sebuah bedeng bambu yang tertutup pintunya seperti garasi.
Wak Nana membuka kunci pintu dimana kuncinya di gantung begitu saja di samping bedeng itu.
" Ini apa, Wak?" Tanya Rino melihat bungkusan seperti mobil.
" Kamu bisa nyetir?" Tanya Wak Nana.
" Bisa, Wak dulu pernah belajar sama temen dan pernah bawa angkot juga tapi belum punya sim Saya!" Jelas Rino.
Wak Nana membuka penutup, Rino terperanga ternyata isinya mobil klasik yang sangat terawat dan sangat mahal.
" Kamu besok jualan pakai mobil ini, Biar motormu di sini! Aku enggak terima jika ada yang merendahkan keluargaku!" Tutur Wak Nana penuh emosi.
" Tap..Tapi..Wak, Aku ngerasa tidak perlu seperti ini. Aku hanya ingin minta kelonggaran waktu untuk Aku membantu uwak lagi!" Ujar Rino, Menolak mobil dari sang Uwak.
" Udah ambil, Ini juga tidak kepakai hanya sering Aku panasin. Yah surat- surat sudah di dalam mobil. Aku wariskan untuk kalian, Semenjak Istri Uwak meninggal. Uwak jarang pakai mobil kemana-mana." Tutur Uwak sambil memberikan kunci Mobilnya.
" Terimakasih, Wak." Ucap Rino.
" Sana jangan lama-lama di sini, Balas ke angkuhan Dira dan Orang Tua Disa yang sombong." Pungkas Wak Nana.
Rino pun langsung berpamitan, Ia mencium tangan Wak Nana kemudian berpamitan.
__ADS_1