Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Draft Lanjutan.


__ADS_3

Arini kecil bisa tersenyum, Giliran Dina menengok Arini.


" Bentar ya Rin, Tuh ganti'an sama si Dina sama si Tary." Ujar Nayla pamit.


Nayla sampai di luar ruangan, Melihat sahabatnya sedang makan.


" Nih, Kamu sama Tary masuk! Malah makan aja." Kata Nayla.


Dina langsung membungkus kembali makanan dan menali minuman es teh di plastiknya.


" Eh...Mau kamu bawa masuk gitu?" Ujar Hera.


" Nggak apa-apa kan? Kalo Arin mau kan bisa di kasih." Jawab Dina mau melangkah masuk.


" Jangan ya Dik, Arin jangan di kasih mending makananmu di taruh sini dulu." Sahut Disa, Melarang Makanan Dina masuk.


" Ayo Dina, Taruh!" Perintah Bu Keisya.


Dina pun menuruti perintah Kak Disa dan Bu Keisya, Ia menaruh makanan di samping tempat duduk Kak Disa.


" Nitip ya Bu, Jangan di makan Nay!" Gurau Dina langsung melangkah masuk.


" Kamu juga Tar, Sana ikuti! Malah diem aja." Ujar Hera, Melihat Tary sibuk mengunyah makanan.


" Bentar to ya, Ini belum turun makanan." Jawab Tari, Lantas menyeruput es teh.


Di dalam ruangan,


" Assalamualaikum.." Sapa Dina pada Arini.


Arini melihat Dina tersenyum lebar.


" Wa'alaikumsalam.." Balas Arini.


" Aduh...Lupa itu kumpulan piala ya, Pialaku ketinggalan di luar sebentar ya!" Pamit Dina, Ingin mengambil pialanya di berikan ke Arini.


" Enggak usah Din, Nanti Aku tidurnya gimana?" Ujar Arini menghentikan Dina.


Dina yang sudah berbalik badan langsung, Kembali menghadap Arini melangkah mendekati ranjang Arini.


" Aku yang harusnya bonyok, Kan yang lomba beladiri Aku kenapa Kamu yang malah terkapar." Gurau Dina.


" Yah tadi Aku belum makan obat Din, Jadi ya gini." Jawab Arini.

__ADS_1


" Emang kenapa nggak minum, Buru-buru? Kan kamu bukan atletnya, Santai aja kali Rin." Ucap Dina sambil melihat botol infus.


" Sakit nggak Rin, Di beri infus gini?" Imbuh Dina penasaran.


" Ya sakit dikit, Kayak di gigit semut. Kan Aku buru-buru ingin lihat kalian, Eh..Malah membuat semuanya cemas." Tutur Arini.


" Nah jangan ulangi lagi, Kita yang bertanding Kamu yang terkapar kan nggak lucu!" Ucap Dina menasehati.


" Kelihatan asyik ngobrolin apa, Eh ini Rin buat kamu." Sahut Tary yang masuk ruangan, Melangkah menghampiri keduanya sambil menyodorkan piala.


" Emang semua pada Riy'a yah, Aku loh nggak bawa pilih ku taruh di depan takut Arin nggak ada tempat tidur!" Kata Dina, Iri melihat semuanya membawa piala sementara dirinya lupa.


" Heleh bilang aja, Penyakit lupamu kambuh! Kamu nggak bawa karena tadi buru-buru'kan nyimpen makanan!" Pungkas Tary.


" Hehehe...Kamu pasti di habis'in dulu ya." Ucap Dina cengengesan.


" Enggaklah, Aku simpan juga! Tapi kan Aku tahu Piala ini untuk sahabatku, Jadi Aku inget." Tutur Tary sambil tersenyum.


" Kalian makan apa?" Tanya Arini.


" Itu dari Kakakmu yang pakai topi sama kacamata, Kita di kasih nasi ayam sama es teh. Emang pengertian Kakakmu Rin, Paham kalo Kita lagi laper." Cerita Dina.


" Oh Kak Ikhsan, Tapi kalian lihat Ibuku nggak?" Tanya Arini, Karena takut melihat Sang Ibu khawatir.


" Enggak tuh, Hanya Kakak-Kakakmu aja." Jawab Tary.


" Kalian tadi bisa menang gimana caranya Din, Tar? Maaf'in Aku enggak bisa lihat kalian berlomba hanya bisa lihat Hera aja, Tadi Aku mau lihat Kamu sama Nayla Tar hanya saja baru melangkah beberapa langkah Pinggangku terasa amat sakit, Tahu-tahu sudah di sini." Cerita Arini.


" Kalo tadi Aku hampir menyerah karena lawanku jago, Kemudian Aku ingat saat kita belajar pagi-pagi dan tersenyum bersama itu yang membuat kepercayaan diriku balik lagi. Terus ada Hera yang berteriak lakuin demi Arini. Yah malah lebih gass lagi Aku." Jelas Tary.


" Kalo Aku, Sewaktu mau masuk tempat lomba Aku doa dulu terus inget Kamu yang berjuang keras melawan penyakitmu Rin. Itu motivasi terbesar untuk semangatku." Jelas Dina.


" Aku bangga dengan kalian, Terimakasih telah menepati janji kalian." Ucap Arini.


" Apa...Terimakasih aja? Kamu inget ya Rin, Kamu juga punya janji ke Kita untuk menangin bagianmu! Jangan lupa itu! Cepet bangun lalu Kamu harus lakuin apa yang menjadi janji kamu pada Kami harus kamu wujudkan." Tutur Dina memotivasi Arini


" Iya Dina, Arin pasti sudah kuat besok buat ikut lomba. Arin ingin jika besok lomba kalian Sahabat Arin dateng ngelihat Arin ya." Tutur Arini sambil tersenyum kecil.


" Udah ya Rin, Kami pamit capek banget mau pulang tapi jika besok Arin masih di sini Kami akan kesini lagi." Pamit Tary.


" Ia tapi nggak harus di sini, Besok Aku tunggu di bangku sekolah.Piala ini harus kamu yang bawa buat kami nyombong ke anak-anak yang lain." Gurau Dina.


" Ya terimakasih, Semua piala akan Arin bawain ke sekolah besok Arin janji pasti Arin besok sudah bisa sekolah." Balas Arini.

__ADS_1


" Okey, Kami balik dulu." Pamit Dina.


" Hati-hati di jalan." Pungkas Arini, Melihat ke dua temannya keluar ruangan rawatnya.


Kemudian masuklah Rino dan Hans untuk menjenguk sang Adik dan memastikan apakah Ia baik-baik saja.


" Kak.." Sapa Arini tertunduk, Merasa bersalah.


" Kenapa Rin, Kamu kok nggak minum obatmu?" Tanya halus Hans.


" Maafin Arin Kak, Tadi Arin buru-buru." Jawab Arini tidak berani melihat kepada kedua Kakaknya.


Rino duduk di samping ranjang Arini.


" Arin, Jangan lakuin lagi. Inget Ibu masih sedih karena Ayah jangan di tambah harus sedih karena Kamu! Kamu nggak mau kan lihat Ibu nangis lagi?" Nasehat Rino di samping ranjang Arini dengan pelan.


" Iya Kak, Arin minta maaf banget. Tidak akan mengulangi lagi." Tutur Arini, Masih tertunduk.


Hans duduk di samping Kaki Arini di ranjang.


" Arin, Kak Hans mau cerita ya. Tadi sewaktu Kami lihat Kamu pegang piala, Kakakmu semuanya seneng Rin. Kakakmu berharap kamu yang mendapatkan piala dengan usahamu sendiri dan dari pada itu kamu harus sembuhkan dari penyakitmu! Kakak harap Kamu nggak lagi lupa minum obat, Agar Kamu bisa lekas sembuh dan mengejar cita-citamu menjadi pelari." Tutur Hans memotivasi.


" Udah, Nanti Kamu boleh pulang! Inget jangan cerita ke Ibu. Kamu jangan lagi sampai ngulangin, Cukup ini yang terakhir kali." Pesan Rino Pada Sang Adik.


Arini tidak menjawab Ia merasa sangat sedih karena membuat semua keluarganya panik.


" Udah, Yok No biarin Disa dan Ikhsan masuk." Ajak Hans keluar sang Adik untuk bergantian.


" Kamu sehat-sehat." Pamit Rino sambil mengusap kepala sang Adik.


Mereka hanya sebentar, Kemudian keluar untuk bergantian.


Bu Keisya dan Disa pun masuk seusai Rino dan Hans keluar, Disa langsung berlari karena khawatir pada Arini.


" Kamu nggak kenapa-napa kan, Dek?" Tanya Disa memegang wajah Arini sambil menangis.


" Iya Kak, Arin baik-baik saja. Maafin Arin Kak, Sudah buat Kak Disa khawatir." Tutur lirih Arini.


" Arin, Kenapa kamu tidak bawa obatmu?" Tanya Bu Keisya.


" Maafin Arin Buk, Arin lupa karena buru-buru tadi Arin hanya memikirkan sepatu buat Hera." Jelas Arini.


" Besok jangan di ulangi ya Rin, Kakakmu Disa sangat khawatir. Ia dari tadi nangis terus lihat kamu dari pintu." Pungkas Bu Keisya.

__ADS_1


" Maafin Arin Kak, Ini yang terakhir Arin enggak akan buat Kak Disa sedih lagi." Tutur Arini memegang tangan Kak Disa.


" Arin jika kamu ceroboh lagi dengan obatmu, Lihat di sampingmu itu piala dari teman-temanmu kan. Mereka berharap Kamu memberi mereka hal serupa, Jadi jika kamu abai kesehatanmu terus gimana kamu membalas teman-temanmu?" Tutur Bu Keisya menasehati Arini.


__ADS_2