Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Kakek WAWED Dan Nenek ENIL


__ADS_3

Keesokan Paginya,


Rizal dan Dona pukul 8 pagi sudah di rumah Arini.


" Loh, Pagi-pagi amat kesini?" Tanya Rino yang lagi ngopi di teras bersama Dira melihat Orang berlalu lalang di jalan depan rumahnya.


" Emang Kalian enggak sekolah?" Sambung Dira.


" Aku libur, Kalo Dona udah free soalnya habis ujian." Jawab Rizal langsung duduk di sebelah Rino beserta Dona.


" Na, Kalau Kakimu di kasih kaki palsu mau enggak agar Kamu bisa jalan? Ujar Dira, Yang sangat perduli dengan Dona karena di dalam pikiran Dona layaknya Arini seorang siswi cerdas yang mempunyai kekurangan.


" Ah Kak, Biar aja pakai alat ini! Mahal kaki palsu Kak." Ucap Dona.


" Mau aja, Tuh Si Bos yang mau beri!" Sahut Rino.


" Tapi Enggaklah Kak, Takut merepotkan." Balas Dona tersenyum.


" Iya lah, Nggak usah repot-repot. Kami enggak bisa menggantinya nanti!" Sambung Rizal sang Kakak.


" Udah, Ntar habis dari kost langsung Kita cari toko buat beli kaki untukmu Na. Anggap aja, Ini ucapan terimakasih dari Kami Kakak-kakak Arini karena membantu Arin mendapatkan sekolah yang bagus." Ujar Dira.


" Jangan menolak Dek, Kami akan tersinggung bila bantuan ini di tolak!" Sahut Erin, Yang keluar membawa secangkir kopi.


" Ngopi nggak, Zal dan Na?" Tanya Hans di belakang Erin bersama Disa sang Istri.


" Terimakasih banyak Kak, Kalian baik banget sama Aku. Kalau masalah Arin sudah kewajiban kami, Membantu saudara." Ujar Dona menatap ke semuanya.


" Bentar, Aku buatin kopi! Sama Aku ambilkan cemilan, Bentar!" Kata Rino melangkah ke dalam rumah.


" Zal, Terimakasih telah menjaga Arin dan Ibuku selama di sini. Kami sering merepotkan Om dan Bulik juga kalian." Ucap Hans.


" Udah, Kita kan saudara. Sudah wajar Kak, Arin dan Budhe mandiri banget malah sering membantu Kami." Ucap Rizal.


" Kok Kak Disa, Tidak ngopi?" Tanya Dona, Menatap Disa sembari tersenyum.


" Idih, Sebenarnya Dia tukang kopi berat! Hanya sekarang karena sedang mengandung keponakanmu, Aku suruh berhenti!" Sahut Hans, Sambil mengelus rambut Disa.


Sedang Disa tertawa, Menatap ke arah Hans sang suami.


" Kalau Kak Dira, Kerjaannya apa sih Kak? Terus cuti berapa lama?" Tanya Rizal.


Pertanyaan Rizal membuat tawa semua Kakak Arini.


" Dia enggak kerja, Tapi menghidupi Pekerja! Dia dan Kekasihnya itu mengelola restoran, Yang cabangnya di mana-mana jadi kerjanya cuma angkat telpon!" Sahut Rino, Sambil membawa kopi dan cemilan untul Rizal dan Dona.

__ADS_1


" Terus, Ini kan sudah pasangan. Kak Rino mana pasangannya?" Celoteh Dona.


" Yah, Pacar Rino sedang sibuk mengurus Siswa Siswinya. Sebenarnya mau ikut, Hanya waktunya tidak pass!" Jawab Disa sambil tersenyum.


" Iya, Pacar Rino itu Guru Arin di SMPnya Arin. " Imbuh Erin.


" Oh iya, Rizal dan Dona nanti kalian tunggu sebentar Ya! Kami mau memberikan oleh-oleh buat Orang Tua kalian, Kalau bagian Kalian nanti." Ucap Hans.


" Sekarang aja yukk, Biar nanti bisa langsung ke kost'an Arin!" Kata Dira, Ingin menghemat Waktu.


" Kalian tunggu di sini, Bentar lagi Budhe juga keluar kok! Kami pamit, Dulu!" Ucap Hans mewakili.


Rino dan Dira masuk mengambil oleh-oleh, Setelah Mereka keluar langsung jalan menuju Rumah Om Sono.


" Arin beruntung ya, Punya Kakak-kakak sekaligus Orang yang menganggap dirinya Kakak Arin yang perhatian." Ucap Rizal, Melihat semua Kakak Arini berjalan ke arah rumah Om Sono dan Bulik Yanti.


" Iya ya Kak, Baru ketemu Aku aja Mereka malah berniat membelikan kaki palsu yang tidak murah tentunya." Balas Dona.


Bu Sara keluar sembari tersenyum mendengar percakapan Rizal dan Dona.


" Budhe.." Sapa Dona menyalami Bu Sara, Di ikuti Rizal.


" Begitulah Mereka, Ibu juga sangat beruntung karena teman-teman Hans dan Rino menganggap Kami layaknya keluarga. Padahal Budhe, Hanya orang biasa yang serba kecukupan tapi Mereka seperti Dira dan Erin juga Kakakmu Disa yang termasuk Orang Berada malah menerima keadaan Kami dan bersedia tinggal dengan Kami." Jelas Budhe, Melihat Hans dan Kawan-kawan berjalan.


" Karena Keluarga Budhe, Orang bail sih jadi Mereka betah." Sahut Dona.


Tak Lama Hans dan Lainnya kembali.


" Kok cepet amat?" Tanya Bu Sara, Melihat semuanya masuk ke rumah.


" Om Sono dan Bulik, Buru-buru katanya mau jualan ke pasar!" Jawab Rino.


" Hehheeh...Oh Kami lupa ngasih tahu, Mereka kan kalo pagi harus setor dagangan di pasar. Maafin ya, Tidak memberi tahu!" Ujar Rizal.


" Ya udah, Arin mana? Kita segera berangkat! Disa Kamu di rumah, Karena takut kelelahan nanti!" Ujar Hans.


" Arin....Arin....Ayo cepet, Mau berangkat sudah di tunggu!" Panggil Bu Sara.


Arini keluar, Lalu Dira mengambil mobilnya yang di parkir di belakang rumah.


Mereka pun berpamitan kepada Bu Sara dan Disa, Setelah menyalami Mereka langsung naik ke mobil.


Rizal dan Dona terkejut, Mobil yang di bawa Dira yang harganya mahal dan mewah.


" Maaf Aku saja yang bawa, Karena Saya yang tahu tempatnya boleh?" Ujar Rizal, Pada Dira.

__ADS_1


" Sudah punya SIM? Kalau udah, Ya nih bawa biar Aku di sampingmu!" Balas Dira.


Rizal langsung mengambil dompet di saku, Mengeluarkan kartu Simnya " Udah punya, akak." kata Rizal.


Langsung Rizal di suruh menyopiri, Sedang Dira di samping sopir untuk menghafalkan jalan.


...****************...


Sstelah 2 jam, Mereka tiba di kost yang Arini inginkan.


Rizal memarkirkan mobil di halaman, Lanjut semuanya turun.


Dira dan Rino melihat bangunan rumah yang seperti rumahnya di kampung.


" Serius di sini?" Ujar Dira, Yang membandingkan kost tersebut dengan kost di sekelilingnya yang lebih mewah.


" Biasa ya Kak, Tapi nanti Kalian bakalan terkejut kok dengan isi kost'an ini!" Ujar Dona sambil tersenyum.


Kakek dan Nenek, Mendengar ada mobil di depwn rumah Mereka keluar dari rumah untuk melihat.


" Oh..Kalian lagi!" Ujar Kakek, Melihat kedatangan Rizal dan Kakak Arini juga Arini dan Dona.


" Oh, Iya Kek. Kenalin ini Kakak Arin yang mau kost di sini, Mau melihat lihat." Kata Rizal, Menyampaikan maksudnya.


" O...Begitu, Kenalkan saya Kakek Wawed dan Ini istri saya Nenek Enil." Balas Kakek memperkenalkan diri.


Langsung mereka bersalaman, Kemudian Nenek dan Kakek mengajak mereka masuk.


Layaknya Dona terpukau dengan foto, Kali ini Dira dan Erin mengenal beberapa wajah di foto yang terpampang di ruang tamu.


" Maaf Kek, mau tanya ini foto ini foto apa ya? Kok di pajang di sini?" Tanya Dira.


" Oh, Ini foto orang-orang yang pernah kost di sini, Kami di sini tidak ada kursi semua pakai karpet. Biar anak-anak nyaman dan luas saat belajar terlebih Kami bisa mengawasi seperti amanah dari orang tua mereka, Alhamdulillah yang di sini semua jadi orang meski kost ini kecil." Jelas Kakek.


Dira dan Erin saling pandang, Erin menatap Kakek dan Nenek " Iya Kek, Itu foto Bos Saya di tempat kerja yang dulu! Ternyata, Pernah susah juga ya Dia. Tapi cara pikirnya cerdas." Ujar Erin.


" Iya Kek, Itu atasan yang mengajariku dan Erin bisnis. Kalau begitu Aku dan Erin pasti setuju Arin kost di sini!" Kata Dira.


Rino dan Hans melihat sang Kakek.


" Tapi Adik Kami, Ada kekurangan! Ada penyakit di tubuhnya, Apakah Kami tidak akan merepotkan Kalian?" Ucap Hans.


" Hhaha...Nggak apa apa Nak, Selama Adikmu antusias belajar. Kakek dan Nenek dengan senang hati memperhatikannya, Bahkan Nenek janji akan mengingatkannya untuk minum obat setiap hari. Asal Adimu juga harus janji, Akan belajar sungguh-sungguh dan berprestasi untuk mebayar jeri payah Kami." Kata sang Nenek.


" Ayo, Kita lihat kamar dulu baru nanti kalian setuju atau tidak maupun jadi atau tidaknya mengekostkan Adik kalian di sini tanpa khawatir! Akan Kami tunjukkan semua ruangan beserta kamar mandi sebagai pertimbangan Kalian." Tutur Sang Kakek.

__ADS_1


Kakek dan Nenek mengajak semuanya berkeliing rumah.


__ADS_2