Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Rencana Pengganti Arini


__ADS_3

Setelah mendengar tentang kesehatan Arini,


Kepala Sekolah dan Para Jajaran Guru mempertimbangkan kembali untuk Arini Ikut perlombaan.


Bu Keisya dan Pak Isman yang mengetahui, Pagi itu pun bergegas menuju ruangan Bapak Kepala Sekolah.


" Misi..., Pak!" Ujar Pak Isman sambil mengetuk pintu, Dan di belakangnya ada Bu Keisya.


" Ya...Masuk!" Balas Pak Kepala dari dalam ruangan.


Pak Isman dan Bu Keisya melangkah mendekati meja Bapak Kepala Sekolah.


" Silahkan duduk!" Ujar Bapak Kepala.


Mereka pun duduk menghadap Bapak Kepala.


" Begini Pak, Langsung saja. Saya hanya ingin memperjelas acara penggantian Arini sebagai wakil sekolah kita, Apakah itu benar?" Ujar Pak Isman, Dengan Wajah yang penuh ketegasan.


" Yah, Itu karena mempertimbangkan kondisi Arini kan sering jatuh sakit! Jadi dari pada kita berresiko, Mending ya kita coba kasih solusi untuk menggantinya saja! Toh tiga hari yang lalu saat Arini datang untuk menyemangati teman-temannya bukankah Ia kambuh, Kamu sendiri yang telah melihatnyakan." Terang Bapak Kepala.


" Maaf sebelumnya Bapak, Saya tidak setuju usulan Bapak Kepala. Di karenakan waktu tinggal 2 minggu, Terus kemarin kenapa kambuh saya punya jawabannya. Arini bisa kambuh gara-gara Ia teledor saking bersemangatnya ingin mendukung sahabat-sahabatnya hingga Ia lupa meminum obatnya! Kalo masalah penyakit bisa menghalangi prestasi alangkah kurang bijak Bapak, Lihat tidak di pungkiri kehadiran Arini kemarin juga membuat dampak positif untuk sahabat-sahabatnya yang bertanding. Arini menjadi motivasi besar untuk sahabatnya untuk menang, Jika Bapak tidak percaya piala itu buktinya terus Pak Isman yang melihat langsung." Sahut Bu Keisya, Meyakinkan Bapak Kepala Sekolah.


" Iya Bapak, Kalo masalah penyakit saya rasa itu hal yang tidak usah di cemaskan jika murid itu semangat kan! Saya yang menjamin tidak akan terjadi apa-apa!" Sahut Pak Isman.


" Kalian apa bisa menjamin Arini bisa ikut lomba, Pasti itu tekanan berat buat Dia yang akan memacu kambuhnya penyakitnya!" Pungkas Bapak Kepala, Dengan wajah serius memandang satu persatu wajah Bu Keisya dan Pak Isman.


" Saya mohon Pak, Atau begini saja jika dalam seminggu ini Arini kambuh kita sepakat ganti. Tapi jika dalam seminggu ini murid saya baik-baik saja, Dia tetap yang akan maju ke lomba!" Bu Keisya membuat kesepakatan.


" Saya setuju, Bagaimana Bapak?" Sahut Pak Isman.


" Baiklah, Kita lihat seminggu ini." Pak Kepala pun menyetujui ide Bu Keisya.


" Baiklah Pak, Hanya itu saja yang ingin Kami sampaikan. Terimakasih atas waktunya." Pamit Pak Isman sekaligus mewakili Bu Keisya.


" Ya, Sama-sama." Kata Pak Kepala sekolah.


Mereka berdua pun keluar ruangan Kepala Sekolah.


Sembari melangkah Bu Keisya hanya terdiam seolah memikirkan nasib Arini, Raut muka ragu terpampang jelas di wajah Bu Keisya.

__ADS_1


" Kenapa, Bu?" Tanya Pak Isman.


" Mmmt....Begini Pak, Jujur Saya masih khawatir pada kesepakatan yang Saya utarakan tadi. Apakah Arini bisa ya menjaga kondisinya untuk kedepannya setelah beberapa kali Saya melihat sendiri kondisinya sering drop." Tutur Bu Keisya.


" Ya, Abis ini kita panggil Arini saja. Kita harus mewanti-wantinya supaya menjaga kondisinya." Balas Pak Isman, Memberi solusi.


" Ya baiknya begitu, Pak." kata Bu Keisya.


" Baiklah Bu, Berhubung Saya tidak ada jadwal mengajar Saya akan panggil Arini ke ruangan dan Hera sahabatnya untuk membantu memantau Arini sekaligus memotivasi." Ucap Pak Isman, Mengutarakan idenya.


" Saya setuju itu, Pak. Mohon bantuan Bapak karena Saya tidak mungkin menjaga Arini sendirian dan Saya tidak mau melihat Arini terpukul atas keputusan Kepala Sekolah." Tutur Bu Keisya.


Pak Isman hanya memberikan senyuman, Pak Isman lantas menuju kelas Arini untuk memanggil sedang Bu Keisya menunggu di ruang Guru.


Sesampainya di ruang kelas, Pak Isman melihat Arini dan Murid yang lain sedang menyimak pelajaran dengan sungguh-sungguh.


" Permisi, Pak." Sapa Pak Isman meminta ijin menyela pelajaran.


" Oh, Iya Pak." Balas Guru pengampu, Menghampiri Pak Isman di luar kelas.


Pak Isman mengutarakan maksudnya, Kemudian Guru pengampu pun mengijinkan.


" Perhatian anak-anak, Arini dan Hera di panggil Pak Isman di tunggu di luar kelas." Ujar Guru pengampu.


Hera dan Arini pun bingung, Karena setahu Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun.


Mereka berdua keluar untuk menemui Pak Isman.


Setelah bertemu Pak Isman.


" Ada apa ya, Pak?" Tanya Hera.


" Kalian ikut Bapak ke Ruangan Guru dulu nanti Bapak jelaskan!" Kata Pak Isman.


Bertiga lantas menuju Ruangan Guru yang berada di hadapan kelas mereka hanya terbatas oleh taman kecil dan ruang perpustakaan.


Setelah masuk di ruangan Guru, Bu Keisya menguatkan hati untuk berbicara pada Keduanya terutama Arini saat melihat Keduanya memasuki ruangan.


" Silahkan duduk!" Kata Bu Keisya.

__ADS_1


Mereka berdua yang masih bingung sekaligus bertanya tanya apa alasan Mereka di panggil.


" Ibu dan Pak Isman ingin memberi tahu kalian sesuatu hal, Kami harus menerangkan ini kepada kalian." Bu Keisya membuka pembicaraan.


" Ini tentang Arini yang akan mengikuti perlombaan!" Sahut Pak Isman duduk di sebelah Bu Keisya.


" Gini Rin, Ibu harap kamu jangan sedih dulu atau pun kecewa mendengar berita yang Kami sampaikan." Tutur Bu Keisya.


Mereka berdua pun menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang ingin Bu Keisya dan Pak Isman katakan.


" Gini, Pada dasarnya Bapak Kepala Sekolah dan Guru-Guru sudah berunding. Mempertimbangkan kesehatan Arin, Awalnya mereka ingin mengganti Arini untuk ikut lomba karena khawatir Kamu akan ngedrop seperti sebelum-sebelumnya karena kecapek'an." Tutur Bu Keisya.


Arini dan Hera pun sontak terkejut dengan keterangan yang di sampaikan Bu Keisya.


" Bukannya sudah di sepakati Bu, Bahwa Arin yang akan ikut lomba kan udah banyak pembekalan!" Balas Hera, Membela Sahabatnya.


Arini pun tertunduk.


" Hanya saja Kami sudah berhasil merayu Bapak Kepala Sekolah dan membuat suatu kesepakatan, Jadi Kamu jangan sedih dulu Rin!" Sahut Pak Isman.


" Begini, Kami telah membuat kesepakatan jika Kamu dalam satu minggu dan minggu-minggu selanjutnya tidak kambuh penyakitmu maka Kamu tetap jadi mewakili Sekolah kita di lomba itu! Kami sudah membela Kamu Rin, Kami harap kamu tidak lagi menyepelekan kesehatanmu apa pun alasannya Kamu harus mengikuti apa kata Dokter dan Kakak-kakakmu. Sekuat tenaga Kami sudah merubah keputusan Bapak Kepala Sekolah, Apa kami sanggup Rin?" Terang Bu Keisya.


" Arin sanggup, Bu!" Balas Arini penuh semangat.


" Dan untuk Kamu Hera, Kamu kan Sahabat Arini. Jadi Bapak harap dan mohon bantuan untuk menjaga Arini di saat di sekolah, Kamu harus ingetin Arini tentang minum obat dan mencegah Arini untuk kelelahan, Bisa?" Sahut Pak Isman.


" Bisa Pak, Saya pasti awasin Arin! Saya pastikan Arini selama di sekolah akan baik-baik saja." Balas Hera, Sambil menatap wajah Sahabatnya.


" Okey, Kita sudah sepakat dan harus kerja sama biar janji Arini bisa di penuhi untuk sahabat-sahabatnya!" Tutur Bu Keisya.


" Sekarang tinggal di Kamu Rin, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankanmu menjadi perwakilan Sekolah." Imbuh Pak Isman.


" Ya Pak, Arin pasti akan lebih hati-hati demi lomba dan Sahabat-sahabat Arini." Jawab Arini dengan menggebu melihat ke arah kedua Guru di depannya.


" Ya sudah, Itu saja yang ingin kami sampaikan. Silahkan melanjutkan mengikuti pelajaran." Pungkas Bu Keisya.


Arini dan Hera pun keluar dari ruangan Guru.


" Tenang Rin, Kamu akan Aku jaga." Kata Hera sambil berjalan kembali ke kelas.

__ADS_1


" Terimakasih Her, Arin juga akan berusaha berhati hati sekarang." Balas Arini.


__ADS_2