Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
TAMAT


__ADS_3

Seminggu, Arini dan Siska sudah di kost masing-masing. Jarak kost Arini dan Siska hanya terpisah jalan.


Saat Siska tujuh hari masuk sekolah dan bersahabat bersama Arini, Arini saat di kelas penyakitnya kambuh. Semua panik, Lalu pihak Sekolah melepon Ibunya. Sehingga Ibu Sara datang bersama Om Sono untuk mebawa Arini pulang.


" Sakit apa ya, Sis. Si Arin?" Tanya Riyan.


" Tidak tahu, Aku juga pertama baru lihat Arini sangat kesakitan. Dia juga di kost, Aku perhatikan dari kostku juga Dia baik-baik saja." Jawab Siska, Sambil mengkhawatirkan Arini.


Siska memutuskan menunggu hingga pulang sekolah, Untuk bertanya kepada pemilik Kost di tempat Arini tinggal.


...****************...


Sepulang Sekolah,


Siska langsung menuju kost Arini, Untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sahabatnya itu.


Teman Satu Kamar Arini, Kebetulan pulang di saat yang sama.


" Hey, Dah. Boleh enggak Aku, Main ke kamarmu? Kan Kamu sekamar dengan Arini kan!" Ujar Siska, Ingin menyelidiki.


" Ya udah yuk, Tapi kok Arin tidak kelihatan?" Tanya Idah, Teman sekamar Arini yang beda kelas tidak tahu jika Arini sakit.


Siska pun langsung mengikuti Idah, Masuk ke Kost lanjut ke kamar Arini.


" Tuh ranjang, Sama Lemari Arini." kata Idah, Menunjuk lemari di samping tempat tidur Arini.


Lalu Siska membuka lemari, Untuk mencari tahu soal Arini.


" Nyari apa, Sis?" Tanya Idah.


" Dah, Kamu pernah lihat Arin minum obat apa gitu enggak?" Tanya Siska.


" Kayaknya sering, Setiap sehabis makan ada 4 butir obat yang selalu Ia minum. Katanya itu, Vitamin miliknya." Ujar Idah.


Siska langsung duduk di ranjang Arini " Sebenarnya Arin sekarang sedang sakit, Di bawa Orang Tuanya kembali pulang. Tadi Ia sangat amat kesakitan, Hingga Aku yang melihat sangat khawatir Dah." Cerita Siska.


" Coba ada satu box kecil, Arin selalu keluarkan sebentar setiap mau tidur. Ada di laci almari, Soalnya Aku sering melihatnya menyimpan box itu. Namun Aku acuhkan, Aku kira hanya tempat uangnya Arin!" Jelas Ida.


Langsung Siska membuka laci yang di tunjuk Idah, Ia lalu mengambil box kecil. Ada kertas yang terlipat.


" Kenapa Kamu, Khawatir banget sama Arin?"Tanya Idah.


" Keluarganya dan Arin, Mereka baik sama Aku dari awal Aku mendaftar sekolah hingga sekarang. Jadi Aku merasa simpati jika Arin kenapa-napa, Ia seperti saudara dan Keluargaku Dah." Kata Siska mebuka kertas, Yang di ambil dari box laci.

__ADS_1


Begitu Siska membaca, Setelah tahu isinya Siska langsung lemas dan menangis.


" Kamu, Kenapa Sis?" Tanya Idah, Langsung menghampiri Siskan.


" Arini ternyata sakit, Lihat Dah. Dia tidak pernah cerita tentang ini padaku." Kata Siska, Sambil menangis memberi laporan kesehatan Arini pada Idah.


Idah pun membaca, Ia juga langsung menitihkan Air mata setelah tahu penyakit yang di derita Arini.


Mereka berdua berpelukan, Siska langsung berinisiatif untuk menyusul Arini ke rumahnya.


" Dah, Tahu alamat Arin?" Tanya Siska.


" Aku tidak tahu, Sis. Tapi Kakek dan Nenek pemilik kost pasti tahu. Aku akan bertanya, Kita kesana bersama-sama ya." Ujar Idah, Langsung berganti pakaian, Lalu keluar mencari Kakek dan Nenek.


Di temani Siska, Idah mencari Kakek dan Nenek ke dapur.


Mereka melihat, Kakek dan Nenek sedang memasak untuk makan malam.


" Kek...Kakek..." Panggil Idah, Berlari menghampiri Kakek yang duduk memotong sayur di meja dapur.


Kakek dan Nenek pun kaget, Karena Idah dan Siska sembari menangis menghampiri keduanya.


" Ada apa ini, Nak?" Tanya Kakek, Lalu Nenek mendekati Kakek karena penasaran.


" Kenapa dengan Nak Arin, Apakah Ia kambuh?" Ujar Nenek.


Idah dan Siska pun terkejut, Ternyata Nenek sudah tahu tentang penyakit Arini.


" Kakek dan Nenek sudah tahu, Tentang penyakit Arini?" Tanya Idah berdiri menghadap keduanya bersama Siska.


" Sudah Nak, Hanya saja Kami di suruh merahasiakan agar teman-teman Arini tidak menganggap Arini beda dari yang lain." Cerita Kakek.


" Iya Kek, Arin kambuh. Saya ingin ke rumahnya, Saya baru tahu setelah membaca laporan kesehatannya yang saya temukan bersama Idah di laci almari Arin. Kek!" Cerita Siska


" Baiklah, Tapi Kalian harus janji! Rahasiakan penyakit Arin, Dari teman-teman yang lain. Bisa?" Tutur Kakek, Memberi syarat.


" Baik Kek, Kami janji." Jawab keduanya.


Lalu Kakek memberikan alamat Arini kepada Siska dan Idah.


Langsung Siska dan Idah berpamitan, Namun Siska mau berganti pakaian terlebih dahulu baru ke rumah Arini.


Setelah Siska berganti pakaian, Langsung bersama Idah mencari angkot untuk ke rumah Arini.

__ADS_1


Di dalam angkot, Siska tak henti-henti menangis.


" Sudah Sis, Aku tahu perasaanmu. Aku juga teman Arin, Sekamar malah. Dia yang selalu riang, Dan menghibur ternyata menutupi sebuah penyakit yang berbahaya di tubuhnya. Jujur Aku terkejut, Sekaligus tak menyangka." Ujar Idah menenangkan Siska.


" Aku janji Dah, Karena semua Kakak Arin baik. Aku akan selalu menjaga Arin hingga sampai Kita lulus nanti." Balas Siska, Yang selalu terngiang-ngiang jasa Saudara Arini.


Sesampainya di Rumah Arini,


Hans, Disa, Om Sono, Bulik Yanti dan Rizal duduk di depan teras rumah.


" Permisi..." Ujar Siska, Memasuki rumah Arin.


Semua menoleh, Lalu Hans menghampiri Siska " Kok Kamu kesini, Sis?" Tanya Kak Hans.


" Arin, Gimana Kak? Aku tahu keadaan Arin." Ujar Siska khawatir, Langsung memeluk Hans.


" Sudah, Arini baik-baik saja paling 1-3 hari juga sudah baikan. Sudah biasa Siska, Jangan menangis." Kata Hans.


Lalu Siska dan Idah di ajak masuk ke kamar Arini.


Melihat Arini terbaring lemah di tunggui Ibunya, Di samping tempat tidurnya.


" Permisi.." Ucap Idah dan Siska.


Arini kaget melihat kedatangan dua Sahabatnya, Lalu Idah dan Siska duduk di samping ranjang Arini.


" Kalian kenapa, Kesini?" Tanya Arini.


Siska menatap Arini, Terus menangis " Kenapa Kamu tidak cerita tentang penyakitmu! Apakah, Aku bukan sahabatmu Rin?" Balas Siska.


" Kamu tahu dari mana Sis, Pasti Kakek dan Nenek yang cerita. Kan?" Ujar Arini.


" Kami tahu dari laporan kesehatanmu di laci, Maaf Kami tidak minta ijin dulu untuk membuka almarimu. Namun, Siska sangat khawatir padamu. Jadi ya, Aku dan Siska mencari tahu tentangmu!" Jelas Idah


" Aku sudah tahu semuanya Rin, Aku janji akan selalu menjagamu hingga nanti. Akan terus menjadi sahabatmu, Sampai kapan pun!" Tutur Siska sembari menangis.


Bu Sara dan Yang lain pun ikut terharu atas ucapan Siska.


" Terimakasih ya Sis, Arin pasti akan selalu merepotkan mu." Balas Arini, Tersenyum dan masih lemah.


Disa masuk, Membawa minuman dan cemilan.


" Kakak, Minta tolong ya buat Kalian berdua. Nanti tolong jaga Arin sampai lulus, Dan jangan berantem ya. Kalian sudah tahu, Apa yang terjadi dengan Arin." Sahut Hans, Berdiri mendekap Bu Sara yang menangis.

__ADS_1


" Pasti Kak, Pasti Aku akan selalu menjaga Sahabatku." Jawab Siska dan Ida mengangguk.


__ADS_2