
Pagi sehabis Subuh Wak Nana lagi duduk di teras dengan menghisap sebatang rokok.
" Wak, Apa Wak serius mengajak Rino?" Tanya Bu Sara keluar dari dalam rumah membawa tas untuk berjualan bersama Pak Romi.
" Iya Aku serius, Aku mau mengajarkan bisnis pada ponakan'ku Rino kan Aku sudah tidak punya siapa-siapa pasti usahaku buat ponakanku kan. Aku nggak mau ketika mewariskan nanti malah Dia nggak bisa urus! Itu Aku bangun dari kecil usaha jual beli Ikan Mujair." Balas Wak Nana.
" Apa nanti saudara yang lain tidak cemburu, Jika anak Kami yang Wak Nana percayakan usaha Uwak?" Sahut Pak Romi keluar.
" Biarin bisa apa mereka, Kelak sudah ku urus semuanya. Toh, Mereka juga nggak ada yang peduli sama Uwak dan Mendiang Istri Uwak justru kedua anak'mu lah yang kelimpungan merawat Istri'ku dulu!" Jawab Wak Nana kembali dengan santai duduk di depan rumah.
Bu Sara lansung menaruh tas dagangannya, Ia duduk dengan serius menatap Kakaknya.
" Wak, Bukannya Saya tidak senang atas maksud Uwak. Hanya saja nanti apa tidak terjadi perpecahan di keluarga kita Wak!" Ketakutan Bu Sara.
" Ya kalo nggak senang mau apa? Kalo mau kaya ya usaha kerja. Anakmu aja nggak malu jualan asongan sementara si Doni ama si Gino anak dari adikmu Parti bisanya cuman minta, Nggak suka Aku sebagai Uwaknya melihat tingkah mereka." Jelas Wak Nana
" Tapi Parti juga Adik'mu, Dia juga pantas kok Wak buat dapet sedikit darimu." Rayu Bu Sara.
" Enggak, Sana jualan! Harta-harta'ku kok Kamu yang ngatur!" Wak Nana mulai kesal.
Kemudian Bu Sara dan Pak Romi berpamitan untuk berjualan.
Rino melihat Wak Nana duduk hanya merokok, Ia berinisiatif membuatkan kopi untuk Uwaknya.
" Harta-harta'ku Kok mau pada ngatur!" Gumam Wak Nana.
Rino datang membawa dua cangkir kopi.
" Ngapain Wak, Ngomong sendirian?" Rino sambil menaruh dua cangkir kopi di samping Wak Nana duduk.
" Paham juga, Keponakan satu ini." Ujar Wak Nana kemudian menyeruput kopi.
" Nggak jualan?" Tanya Wak Nana.
" Jualan Wak, Nanti bertiga. Kasihan si Arin jika di rumah terus." Jawab Rino, Meniup kopi di tangannya.
" No, Besok Wak Nana mau pulang. Jadikan kamu ikut?" Tanya Wak Nana.
Rino pun tersenyum, Karena Ia tahu Wak Nana mengira Dirinya masih ragu-ragu.
" Kenapa? Malah senyum." Wak Nana bingung.
" Ya jadilah Wak, Kan sudah kesepakatan." Jawab Rino dengan nada mantap.
__ADS_1
" Kamu nggak berat ninggalin Arin?" Tanya Wak Nana.
" Enggaklah Wak, Ada Hans ini. Dia sendiri mampu kok menjaga Arin." Tandas Rino.
" Melihat'mu seakan melihat Ibumu, Di kala masih muda. Penuh perhitungan dan cepat mengambil keputusan." Ujar Wak Nana membayangkan waktu Bu Sara kecil.
" Kenapa mesti ragu Wak, Pria itu tidak boleh mengingkari janjinya." Sahut Rino.
Hans dari tadi menguping di sebalik pintu rumahnya, Ia mendengar seluruh percakapan Rino dan Wak Nana.
Hans pun semakin sedih karena harus di tinggal Rino, Ia pun menghampiri Wak Nana dan Rino.
" Wak, Aku mohon tolong tunggu dulu sampai Arin sudah kuat untuk di tinggal Rino." Ujar Hans berlutut di depan Wak Nana.
Rino bangkit dari duduk kemudian menepuk pundak Hans.
" Kak, Jangan begitu. Aku pergi karena Aku yakin kamu bisa jaga Arin sendirian, Aku tidak akan berhenti ikut mengawasi Arin. Aku janji Kak setiap sabtu dan minggu pasti Aku pulang dan membantumu merawat Arin." Jelas Rino dengan senyuman.
Hans melihat ke arah Rino, Ia pun bangkit kemudian memeluk Rino.
Mendengar ribut-ribut Arini pun terbangun, Lantas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
" Kak, Tadi ribut ada apa?" Tanya Arini keluar rumah.
Arini melihat kedua Kakaknya berpelukan, Arini pun melangkah mendekati mereka.
" Ini kok berpelukan, Ada apa Kak?" Tanya Arini yang mulai penasaran.
" Ini Arin, Kak Hans dapet hadiah dari Kak Disa nanti siang." Rino membuat alasan agar Arini tidak sedih tentang rencana kepergiannya.
Arini duduk di sebelah Wak Nana yang kosong, Kemudian tangan Wak Nana merangkul Arini.
" Wak, Apakah itu benar? Atau Kak Hans lagi baik'an habis berantem dengan Kak Rino?" Arini penasaran.
" Enggak kok, Benar kata Kak Rino. Kak Hans mau dapet hadiah dari Kak Disa." Ujar Wak Nana sambil tersenyum.
" Arin, Ini masih dingin loh. Sana kembali ke dalam! Tidur dulu nanti kan mau jualan sama Kak Hans dan Kak Rino. Ini Kak Hans dan Kak Rino mau menata barang jualan dulu." Ujar Hans.
Arini pun menuruti kata-kata Hans, Melihat Arini melangkah masuk Rino pun tersenyum.
" Kenapa senyum, Lihat Arin masuk rumah?" Tanya Hans.
" Adik kita yang dulu kita bopong, Kita goda sampai menagis sekarang sudah sebesar itu ya." Jelas Rino membayangkan Arini waktu semasa masih kecil.
__ADS_1
" Iya, Dulu Kamu yang sering buat Dia menangis. Namun sekarang, Justru Kamu yang berkorban lebih besar No." Hans tersenyum melihat ke arah Rino.
" Kalian akan saling menjaga, Akan saling menyayangi walau Rino bersama Uwak tapi yakinlah Ia juga selalu memikirkan kalian dan mendoakan kalian." Sahut Wak Nana terharu melihat ke kompakan ketiganya.
Pukul 07.00wib,
Arini sudah mandi dan siap untuk menemani kedua Kakaknya berjualan.
" Wuih Adik Kakak satu ini, Cantik sekali pasti nanti pembeli terpesona nih. Pasti laris dagangan Kakak." Rino menggoda Arini.
" Yuk, Uwak ikut bosen di rumah sendirian." Wak Nana juga sudah siap untuk berjualan dengan tas kecil yang di gantung.
" Yuk Arin Kak Rino gendong!" Rino membungkuk'kan tubuh untuk di naiki Arini.
" Heh, Biar Uwak yang gendong Arini!" Sahut Uwak Nana.
" Kamu bantu tuh Hans buat dorong gerobak!" Perintah Wak Nana.
Hans dari samping rumah muncul mendorong gerobak untuk jualan.
" Emang Wak Nana, Kuat gendong Arin? Rino memastikan.
" Enggak, Arin mau jalan! Nanti kalo capek Arin baru mau di gendong." Ujar Arini.
Kemudian Rino membantu Hans mendorong gerobak yang berisi dagangan seperti air mineral dan sebagainya sedangkan Wak Nana dan Arini mengikuti dari belakang.Sampai di jalan raya, Hans menyetop angkot untuk di naiki Wak Nana dan Arini.
" Kalian naik angkot saja, Biar Aku dan Rino jalan nanti ketemu di pasar depan." Ujar Hans.
Wak Nana dan Arini menaiki angkot.
Setelah angkot berjalan, Hans membantu mendorong gerobak Rino.
" Besok Aku sendirian, Jika Kamu pergi beban gerobak ini Aku yang pikul sendiri." Kata Hans melihat Rino yang fokus mendorong gerobak.
" Hahaha...Besok kalo nggak kuat telpon saja, Pasti Aku bantu doa!" Jawab Rino dengan gurauan.
" Kayaknya Kamu senang berpisah dengan kami?" Hans membalas gurauan Rino.
" Nggak ada seorang Adik berpisah dengan Kakak atau Kakak berpisah dengan Adik bahagia!" Balas Rino.
" Jangan berfikir ini perpisahan, Pikirkan ini buat kesembuhan Arin. Aku akan tersenyum jika harus berkorban demi Arin agar bisa mendapat kesembuhan, Jika Aku bersedih tentu Aku tidak ikhlas dengan pengorbananku!" Imbuh Rino.
" Lagi-lagi Kamu membuatku semakin terharu, Dasar Adik yang bodoh." Hans terharu dengan pengorbanan Rino.
__ADS_1
Mereka berdua bergurau sambil mendorong gerobak untuk meluapkan rasa sayang antara Kakak dan Adik karena sebentar lagi berpisah.