Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
MASA LALU Dira & Erin


__ADS_3

Setibanya di Rumah Bu Sara,


Hans, Disa, Dira di bantu Rino membantu membopong Kedua Orang Tua dari Disa untuk di bawa ke dalam rumah.


Bu Sara, Iksan dan Erin membantu memasukkan barang-barang keduanya ke kamar Arini.


Lalu setelah Kedua Orang Tua Arini beristirahat di kamar Arini, Mereka duduk istirahat di ruang tamu.


" Aku bikinin minum dulu!" Ucap Disa menuju dapur rumah.


" Aku bantuin, Sayang!" Sahut Hans, Menyusul Disa sang Istri.


Dira dan Erin masih saling canggung, Rino dan Ikhsan mengetahui hal itu.


" Kalian dulu mulai pacaran sewaktu jaman apa?" Pancing Ikhsan mencairkan keduanya.


" Pasti yang nembak, Erin! Kan Dira type pemalu." Sambung Rino untuk membantu Ikhsan.


Dira dan Erin saling melirik.


" Ah...Kalian menggoda Dira dan Mbak Erin saja!" Pungkas Bu Sara.

__ADS_1


" Yah, Kami di pertemukan sejak SMA di satu kelas jurusan yang sama! Dulu Mas Dira sangat dingin orangnya terhadap siapa pun itu baik cewek atau cowok, Dia suka menyendiri di perpustakaan hingga suatu hari ada tugas kelompok yang bikin kami berdua berkenalan karena satu kelompok. Manusia es batu siswa lain memberi julukan ke Mas Dira namun saat Aku satu kelompok dengannya sewaktu kelas dua, Saat itu tak sengaja kakiku terkilir saat lagi buru-buru berlari ke rumah teman kami yang di jadikan tempat belajar bersama. Saat itu Mas Dira lah yang menggendongku saat pulang meski kata-katanya sinis dengan wajah kaku layaknya es batu.


Hingga sewaktu Kami kelas tiga, Disaat olah raga dan Kaki ku terkilir lagi, Ia perhatian dan kata-katanya begini * Kamu dari kelas dua terkilir mulu mau sampai kapan kamu ceroboh* dan di saat itu Aku sadar bahwa Mas Dira tidak sekaku yang mereka fikirkan. Kami terpisah saat kuliah, Karena Mas Dira di luar dan Aku hanya di kotaku.


Kami di pertemukan saat Aku menjadi Assisten Pribadi Bosku kala itu di suatu lelang thender, Ia datang bersama Assistennya namun tak sekali pun Ia mengenali ku. Dia masih saja terdiam kaku layaknya sewaktu sekolah dulu, Hingga Aku harus mengambil barang yang ketinggalan di ruang meeting kantor klien kala itu dan berlari kembali untuk mengejar Bosku. Entah kebetulan atau memang Kami harus bertemu dengan cara yang sama Aku kembali terkilir karena terburu-buru, Ia melihatku lalu menggendongku dan bilang * Masih ceroboh seperti dulu, Sampai kapan kamu akan merepotkan setiap bertemu denganku * katanya yang selalu Ia ucapkan saat bertemu denganku. Aku resign dari kantor lalu melamar di kantor lain, Ternyata Beliau yang menginterviewku dan Kami pun saling kikuk. Hingga saat Kami bekerja bareng di kantor Itu, Aku sakit dan di kost sendirian tiba-tiba Ia datang dan bilang ambil cuti hanya untuk menemanilu di kost'an sampai Ibu Kostku yang melihat Kami mengobrol di ruang tamu lama akhirnya di jodohkan oleh Ibu Kost.


Kami pun jadian, Hingga kebodohanku saat Mas Dira punya usaha lalu Aku di rayu sahabatnya untuk merusak usaha yang di rintis Mas Dira dengan iming-iming Aku di jadikan pemilik salah satu tempat usahanya sekaligus akan di nikahinya. Aku baru sadar kebodohanku sewaktu Mas Dira mau di jodohkan dengan Disa, Di situ Aku terpukul dan baru menyadari kebodohanku berselingkuh dengan Sahabat Mas Dira. Hari-hari ku lalui bersama Sahabat Mas Dira yang katanya Aku satu-satunya ternyata Ia Playboy dan hanya menganggap Aku bonekanya, Saat Aku tahu itu Aku berusaha mencari Mas Dira untuk minta maaf tapi Aku masih enggak rela bila Mas Dira di miliki Gadis lain. Makanya kemarin Aku marah-marah, Karena kebodohanku. Tapi setelah Aku bertemu dengan Mas Dira dan kalian, Aku sadar Aku tidak boleh egois dan Mas silahkan kamu cari wanita yang lebih dari Aku karena Aku kini Ikhlas melepasmu." Cerita Erin sambil menatap kepada Dira.


Dira masih mengacuhkan Erin, Ia memasang wajah kaku seolah tak menganggap Erin ada namun Ia mendengarkan cerita Erin.


" Ya, Sudah Bu, Mas terimakasih karena memberiku waktu untuk berterus terang. Sudah saatnya sekarang Aku pamit! Buat Mas Dira, Maaf...Maaf mungkin Kamu masih Marah dan Aku akan selalu berdoa agar Kamu bisa mendapat Wanita yang lebih dari Aku. Sudah lega Saya, Maaf sekali lagi maaf untuk kebodohan Saya." Ucap Erin, Kemudian bangkit dari duduk menyalami Bu Sara dan yang lain untuk berpamitan.


Saat Ia menjulurkan tangan kepada Dira, Dira tidak menanggapi hingga Ia berbalik segera menghadap pintu barulah Dira bangkit dari duduknya.


Erin mendengar kata-kata Dira, Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Dira.


" Jujur Aku sakit, Kecewa bahkan sangat hancur saat mengetahui Kamu dengan Sahabatku! Tapi Aku enggak bisa lepas dari bayang-bayangmu cinta pertamaku, Jika di anggap orang bodoh Aku lah orang itu. Tapi hatiku bicara akan ada masa di mana kita bisa berdua lagi, Sejak saat itu walau banyak wanita menggoda Aku lebih menunggu saat ini!" Sambung Dira menatap Erin.


Erin lalu berlari memeluk erat Dira.


" Maaf Mas, Aku janji itu kebodohanku yang terakhir melepas Laki-laki sebaik kamu hanya untuk sebuah harta yang hanya janji." Kata Erin menangis di pelukan Dira.

__ADS_1


Dira menatap Erin, Menyeka air mata di pipinya " Sudah jangan menangis, Aku juga sadar Aku salah karena waktu itu Aku hanya fokus pada bisnis yang Aku rintis hingga melupakan dan mengurangi waktu terhadapmu." Ujar Dira sambil memandang sendu Erin.


" Nah, Akhirnya Kakak'ku bisa jujur pada hatinya!" Sahut Disa yang keluar membawa minuman memandang Dira kembali dengan Erin.


" Jadi masih mau pergi?" Tanya Has, Di belakang Disa.


" Kalau Aku di sini, Aku tidak punya tempat tinggal juga!" Balas Erin.


" Eitss calon Kakak Ipar jangan salah, Udah ada rumah buat singgah calon Kakak Ipar!" Ujar Disa sambil memamerkan Kunci rumah di tangannya.


" Alhamdulillah ya No, Bukan kita yang harus pergi dari Rumah Dira." Sahut Ikhsan.


" Kira'in ada cewekmu, Kita yang mau di usir Bos!" sambung Rino.


" Enggaklah, Kalian itu keluarga Aku! Nggak mungkin Aku tega mengusir, Biar Erin tinggal di rumah Disa dulu!" Balas Dira sambil tertawa.


" Aku nanti ke hotel dulu, Ambil baju-bajuku." Kata Erin.


" Anterin Nak Dira, Kasihan kalo sendirian! Tapi ajaklah Ikhsan atau Rino biar tidak ada fitnah!" perintah Bu Sara.


" Kalian ikut Aku keduanya saja Bu, Biar Erin kenal lebih dekat sahabatku yang ini yang enggak mungkin menusukku dari belakang soalnya Yang itu sudah ada Bu Guru, Terus yang Ikhsan entahlah masih ragu Aku!" Gurau Dira.

__ADS_1


Bu Sara pun senang akhirnya semuanya bisa saling memaafkan dan mengakui kesalahannya masing-masing.


" Udah, Diminum Istriku yang nyiapin Nih!" Sahut Hans, Memecah gelak tawa.


__ADS_2