Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Nasehat Ibu Keisya.


__ADS_3

Keesokan Harinya,


Hari minggu Arini kecil terlelap tidur karena kecapek'an bermain semalam di pasar malam.


Hans dan Rino pun khawatir karena sudah jam 9 pagi Arini belum bangun, Saat hendak memeriksa Arini kecil menghampiri kedua Kakaknya di teras rumah.


" Hoam...Selamat Pagi, Kak!" Arini kecil masih mengantuk.


" Apakah Arin tidak apa apa?" Tanya Hans, Khawatir.


" Arin nggak apa-apa Kak, Hanya capek tapi seneng karena semalam." Jawab Arini kecil.


Hans yang khawatir langsung menghampiri Arini kecil melihat di tangan adakah tanda-tanda kambuh penyakit Arini.


" Ngapain sih, Kamu Hans?" Tanya Rino yang melihatnya sambil memegang cangkir Kopi.


Hans mengedip-ngedipkan matanya, Memberi tanda sedang memeriksa Arini kecil.


" Aku nggak sakit Kak, Bintik-bintik itu nggak ada! Kata Arini kecil yang menyadari kekhawatiran Hans.


" Ya nggak akan ada, Orang semalem sebelum tidur Arin udah minum obat! Aku yang nemenin waktu kamu lagi asyik ngobrol sama Disa!" Pungkas Rino.


Akhirnya Hans tenang mendengar Arini kecil sudah meminum obatnya.


" Arin, Hari minggu mau kemana?" Tanya Rino.


" Abis mandi, Arin mau main sama teman-teman di gang biasa Kak." Jawab Arini kecil, Namun matanya mengarah ke Kakaknya Hans karena takut sang Kakak marah.


" Ya udah, Main aja tapi harus sarapan dan minum obat dulu. Okey?" Kata Hans sambil tersenyum.


" Kak Hans nggak marah sama Arin, Apa karena Kak Hans takut nanti Arin ngadu ke Kak Disa." Balas Arini kecil dengan polos.


Rino yang mendengar pun tersedak, Karena ingin menertawakan Hans yang takut dengan Disa.


" Iya Rin, Karena Kak Hans takut sama Kak Disa!" Sahut Rino.


" Arin nggak akan ngadu kok Kak, Kalo nggak boleh nggak apa-apa Arin nonton tv aja di rumah!" Arini kecil memandang Hans.


" Enggak, Main aja!" Kata Hans.


Arini kecil pun berlari kegirangan, Ia ke dalam rumah untuk mandi dan sarapan.


Pak Romi dan Bu Sara setiap pagi buta sudah meninggalkan rumah untuk berjualan di pasar. Jadi sudah biasa Hans dan Rino mengurus Arini kecil karena desakan ekonomi keluarga yang serba kekurangan dan harus bekerja keras untuk menutupi kebutuhan hidup.


Setelah 1 jam, Arini kecil keluar rumah membawa boneka mainan untuk Ia bermain bersama temannya yang lain.


" Itu kura-kura dari Kakak, Udah di beri makan belum? Nanti nangis kelaperan loh!" Kata Rino melihat Arini kecil ingin bermain.


" Sudah Kak, Habis bangun selalu Arin kasih makan." Jawab Arini kecil, Lantas berpamitan dengan mencium tangan.


Setelah Arini kecil pergi di rumah hanya ada Hans dan Rino yang asyik mengopi.


" Nggak pergi kamu, No?" Tanya Hans.


" Nggaklah, Di rumah sapa tahu bidadari hati menghampiri!" Ujar Rino sambil bergurau.


Hans meletakkan cangkir di meja di sampinnya.


" Apa Kamu serius, Apa kamu sudah siap bila nanti kamu sakit hati karena Bu Keisya? Kakak udah sering ngingetin kanu No, Kakak nggak mau merawat dua adik Kakak yang sakit!" Ujar Hans.

__ADS_1


" Sakit hati? Udah lah Hans jangan terlalu jauh ketakutanmu, Aku sudah siap dengan semuanya Aku bukan adik kecilmu lagi, Kita hanya beda 2 tahun loh ya!" Balas Rino meyakinkan Hans.


" Ya udahlah, Udah dewasa ini yang penting udah ingetin. Sampai sakit hati awas Kamu curhat ke Aku!" Kata Hans, Sambil mengambil cangkirnya untuk meminum kopi.


" Idih....Hey, Aku curhat k kamu? Ralat, Yang sering galau terus suka ngacak-ngacak kamar, Sama yang sering nangis siapa?" Sindir Rino melirik sang Kakak.


" Ssst...Diam!" Hans, Ingin Rino menyimpan kebucinan Hans.


Ikhsan datang lagi membawa kado untuk Arini kecil, Ia memarkirkan motor di depan jalan rumah Hans.


" Wah kompak Kakak beradik ngopi bareng, Bagi dong!" Sapa Ikhsan memasuki Rumah kemudian duduk di samping Hans.


" Itu kado buat siapa?" Tanya Rino.


" Buat adik kecilku, Yang seperti Putri sapa lagi kalo bukan buat Arin!" Ujar Ikhsan.


Rino dan Hans paham kasih sayang Ikhsan terhadap Adiknya sama seperti mereka karena Ikhsan sudah kehilangan adik kecil yang sepantaran Arin karena sakit saat sekolah dasar.


" San, Kami lagi capek! Anggep rumah sendiri, Buat kopi ada di dapur!" Celoteh Rino.


Namun, Karena sudah akrab Ikhsan menyeruput kopi Hans.


" Eh....!" Kata Hans terkejut, Kopinya di seruput Ikhsan.


Rino pun tertawa terbahak-bahak.


" San kamu tinggal di sini aja gih, Tuh di kamar kosong samping! Kan orang tua sama saudaramu juga jauh, Itu rumahmu buat kantor aja lah. Nanti bentar lagi bantuin Aku yang akan repot karena acara lamaran Hans dan Disa." Ujar Rino.


" Iya lah, Tinggal di sini biar rame!"Imbuh Hans.


" Tapi nanti merepotkan kalian?" ketakutan Ikhsan.


" Repot apa'an asal iuran beras lancar aman, Bercanda San nggak lah!" Balas Rino.


Tak berapa lama, Bu Keisya dan Disa datang membawa rantang.


" Wah pass pada ngumpul, Ini kita bawa makanan!" Sapa Disa setelah memarkirkan motor.


Kemudian keduanya duduk di teras, menghadap Hans dan Rino di kursi samping.


" Eh Sya, Kamu nggak jalan-jalan kemana gitu? Malah ikutin pasangan Bucin!" Ujar Rino menggoda Disa dan Hans.


" Enggak Mas, Biasa cuma ngerjain tugas sama ngegame di kamar!" Jawab Keisya.


" Bentar nih, Pasangan Bucin? Hans mulut adikmu di plaster gih!" Ujar Disa kesal menatap Rino.


Ikhsan memandangi Disa dan Bu Keisya.


" Heh, Kamu ngapain pandang kami. Saya milik Hans dan samping saya baru di usahakan sama Rino!" Kata Disa memandang Ikhsan.


Bu Keisya pun malu di lihati Ikhsan, Ia hanya menunduk.


" Pada salah sangka semua, Aku itu laper ngelihatin arahmu karena ingin tahu apa isi sarapan yang kamu bawa!" Jelas Ikhsan.


" Maaf ya Sya, Temanku satu ini emang ceplas-ceplos." Kata Rino.


" Heleh, Kayak yang ngomong enggak aja!" Sahut Disa balik meledek Rino.


" Arin kemana?" Tanya Bu Keisya.

__ADS_1


" Baru main, Paling bentar lagi pulang!" Jawab Hans.


" Gimana kalo kita makan sarapan di belakang rumah, Kan teduh tuh ada banyak pohon!" Ajak Rino.


" Oh..Iya..ya jadi berasa piknik, Aku setuju!" Balas Disa.


Semu pun setuju, Lalu Hans mengambil tikar di kamarnya untuk alas.


Mereka pun makan di belakang rumah Arini.


Sampai selesai makan, Arini kecil belum pulang.


Bu Keisya melihat ke jam di tangannya.


Hingga semua selesai ibadah Dhuhur, Arini kecil juga belum pulang.


" Emang, Kalian tidak mengajari Arin kalo jam Ibadah harus pulang ya?" Tanya Bu Keisya di dalam kamar tamu pada kedua Kakaknya.


" Biasanya sih Marahin, Tapi kan sekarang kondisi berbeda Bu. Tolong beri solusi, Kalo Aku yang negur takut salah paham lagi nanti di kira Aku galak!" Ujar Hans.


" Ya sama, Apalagi saya takut nanti pingsan Aku di salahkan lagi!" Imbuh Rino.


" Baiklah, Biar Aku yang negur!" Ujar Bu Keisya.


Jam satu siang, Dengan pakaian lusuh Arini kecil memasuki rumah.


" Assalamualaikum...!" Arini memasuki rumah.


Arini kecil terkejut rumahnya banyak orang, Dan lebih terkjut lagi ada Bu Keisya.


" Wa'alaikum salam." Balas semuanya.


" Arin kesini!" Panggil Bu Keisya.


Arini kecil meletakkan mainan lalu mendekati Bu Keisya.


" Iya, Bu!" Jawab Arini kecil di samping Bu Keisya.


" Arini kamu sebentar lagi ikut lomba'kan? Terus kamu ingin menangkan? Tapi mengapa kamu nggak berdoa meminta sama TUHAN, Ini jam berapa kamu baru pulang? Ibu paham, Kakak'mu memberi kelonggaran bermain. Tapi setiap ada kumandang adzan ya pulang untuk Ibadah! Sepintar apa pun, Segiat apa pun Arin belajar kalo nggak berdoa ya Arin bisa gagal!" Nasehat Bu Keisya dengan wajah serius.


" Iya Bu, Arin tidak mengulanginya lagi." Jawab Arini kecil tertunduk merasa bersalah.


" Mandi, Setelah itu Sembahyang!" Perintah Bu Keisya.


Arini kecil pun langsung menuruti perintah Bu Keisya, Buru-buru menuju kamar mandi


Semua yang melihat Bu Keisya menasehati Arini kecil pun kagum. Bu Keisya dapat menemptkan diri sebagai Kakak dan Sebagai pengajar.


" Keren Kamu Sya, Ternyata kalo jadi Guru kamu seserius ini!" Ujar Disa baru melihat Keisya temannya dengan wajah serius.


" Hebat...!" Kata Rino memuji.


" Ya kalo, Jadi pendidik harus bisa nempatin mana saat jadi Pengajar mana saat jadi teman. Biar aku tahu karakter muridku satu persatu dan masalah yang mereka hadapi agar ada kedekatan secara emosional dan


Mereka bisa menghormatiku karena bener hormat, Bukan karena di takuti! Itu caraku." Jelas Bu Keisya.


Semua pun tambah kagum karena mengenal Bu Keisya.


" Mau dong Bu, Aku sekolah di ajar Ibu!" Gurau Rino.

__ADS_1


" Modus, Bilang aja mau deket terus!" sahut Disa.


Suasana pun akhirnya cair kembali penuh humor.


__ADS_2