
Setelah pingsan selama 4 jam, Arini perlahan membuka mata Melihat sang Ibu dan Kakaknya Rino ada di sampingnya.
" Bu...bu...Arin haus..!" Ujar Arini lirih.
Sang Ibu yang melihat Arini mulai bangun pun senang langsung Ia memeluknya sambil menangis, Sedang Rino mengambil gelas air minum yang ada di meja sebelah kanan ranjang Arini.
" Nih, Minum Rin." kata Rino memberikan gelas untuk minum Arini
Ibu meminumkan dengan memegangi badan Arini untuk di tegakkan.
" Ibu...Ibu jangan menangis, Arin nggak apa-apa Bu." kata Arini lirih.
Ibu Sara pun menyeka air matanya, Lalu Ia menggenggam tangan Arini dengan erat.
Disa yang dari melihat dari kaca pintu melihat Arini sadar Ia meneteskan air mata " Hans, Dir lihat tuh Arin sudah pulih " Teriak Disa senang.
Hans dan Dira yang duduk di kursi tunggu segera bangkit dan menghampiri Disa untuk melihat Arini sadar.
Di dalam Rino menatap Arini yang masih lemah " Kamu sebenarnya kenapa, Rin?"
Arini juga membalas tatapan Rino " Tadi Arin kedinginan Kak, Badan Arin ngilu semua terus Arin nggam tahu lagi Kak."
Bu Sara lantas memandang Rino " Apa Arin enggak kuat dengan suhu dingin ya No?"
Rino pun akhirnya sadar bahwa penyakit Arini tidak bisa kena hawa dingin.
Segera Rino keluar untuk memberitahukan kepada Disa dan yang lain agar Arini segera di bawa pulang.
Setelah Rino keluar ruangan,
" Gimana, No?" Tanya Disa yang sangat khawatir dengan Arini.
" Arin baik-baik saja, Hanya saja Aku, Ibu akan segera membawa Arini pulang karena tubuh Arin sangat tidak cocok dengan suhu dingin itu yang membuat penyakitnya kambuh!" Jelas Rino.
" Baiklah, Aku ikut kalian pulang!" sahut Disa.
" Enggak, Kamu dan Hans tetap di sini saja biar tidak ada yang panik!" Bantah Rino.
" Ok, Aku yang ikut. Toh di sini juga Aku nggak ada konstribusi apa-apa!" Sahut Dira memandang Rino.
__ADS_1
" Baiklah, Tapi kita bawa Rino ke mobilmu ya Dir! Biar nanti Keisya dan yang lain pakai dua mobil lainnya!" Kata Rino.
" Ya udah No, Aku urus kepulangan Arin dulu ke Dokter dan administrasi bersama Hans." Kata Dira segera mengajak Hans untuk ke ruangan Dokter berkonsultasi.
" No, Aku ijin menemui Arin! Kamu di luar dulu ya." pinta Disa.
Rino pun duduk di kursi tunggu depan ruangan Arini di rawat.
Disa masuk ke ruangan, Lantas melihat Arini yang masih tergolek lemas " Adik Kakak kuatnkan?" sambil tersenyum dan mengelus kening Arini.
" Maafin Arin Kak, Arin sudah mengacaukan piknik." Balas Arini lirih.
" Ssst...Enggak kok, Mereka lagi seneng-seneng! Maafin Kakak sudah bawa Arin ke tempat dingin ini!" Ucap Disa sambil terus mengelus kening Arini.
Di luar Rino berinisiatif mengambil barang ke tempat piknik.
Setibanya di tempat Piknik, Rino di kelilingi sahabat-sahabat Arini karena Mereka melihat Rino datang.
" Arin bagaimana, Kak?" Tanya Hera.
" Apa Arin parah, Kak?" Sambung Dina.
Rino mengacuhkan mereka karena ingin buru-buru membawa Arini balik ke rumah, Ia mengemasi barang Ibunya dan Arini.
Lalu Rino bergegas meninggalkan mereka , Berpapasan dengan Ikhsan, Rino menghentikan langkahnya " San, Nanti kamu bawa yang lain ya! Mobil Dira Aku mau pakai buat nganter Arin dan Ibuku pulang duluan."
Langsung Rino bergegas meninggalkan Ikhsan.
Ikhsan pun menjadi khawatir karena Rino sangat terburu-buru sambil membawa barang-barang Ibu dan Adiknya.
Ikhsan mengamati langkah Rino yang makin cepat Ia hanya mampu melihat karena bertanggung jawab dengan Sahabat sahabat Arini.
Keisya melihat Rino, Lalu Ia berlari untuk mencari tahu namun Rino tidak bisa Ia kejar hingga Ia berhenti di hadapan Ikhsan " Gimana San, Kondisi Arin?"
" Aku juga enggak tahu, Rino buru-buru sekali!" Jawab Ikhsan.
Ingin mengejar Rino kembali, Namun Keisya melihat anak didiknya semuanya bersedih kembali Mereka duduk termenung.
Ikhsan dan Keisya pun menghampiri, Keisya duduk mendekap Hera " Kenapa murid-murid Ibu, Bersedih?"
__ADS_1
Hera menatap Ibu Gurunya dengan mata berkaca-kaca " Gimana enggak sedih Bu, Teman Kami saja terbaring sakit mana mungkin kami ceria."
Lalu Ikhsan duduk di hadapan semuanya " Kalian tenang Arin kan gadis kuat, Kakak yakin Ia akan baik-baik saja! Kalian teman Arin kan, Pasti tahu dong semangat Arin gimana." Ikhsan menghibur teman-teman Arini.
Ayah Disa datang dengan mendorong kursi roda Ibunda Keisya dan di sampingnya Ibu Disa mengikuti.
" Loh kok sedih lagi ada apa?" Tanya Ayah Disa, Melihat teman-teman Arini.
" Tadi Rino kesini Pak, Ia buru-buru banget mengepack barang-barang dari Ibunya dan Arin." Jelas Ikhsan.
" Ya udah Nduk, Kamu kesana kamu lihat apa yang sebenarnya terjadi!" Perintah Ibu Disa.
Keisya pun menuruti kata Ibunya Disa, Ia bangkit dari duduk " Semuanya, Nitip Ibuku dulu ya!"
Lalu Ia bergegas menuju klinik tempat Arini di rawat dengan berlari agar segera tahu sebenarnya apa yang terjadi.
Sesampainya di Klinik, Keisya mencari kamar Arini di ruang informasi.
Setelah tahu Ia langsung berlari untuk melihat apa yang terjadi, Ia dari lorong melihat Rino duduk menyanding barang-barang dari Ibu dan Adiknya.
" Mas, Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Keisya di hadapan Rino.
" Oh, Kamu Sya. Enggak ini Arin ternyata alergi dingin, Yang memancing penyakitnya kambuh!" Jelas Rino sambil melihat Keisya.
Keisya duduk di kursi kosong sebelah Rino.
" Lah ini semua orang di mana, Mas?" Tanya Keisya tidak melihat sorang pun hanya Rino sendiri.
" Ibu dan Disa di dalam, Kalo mau lihat dari kaca itu Sya. Kalo Dira dan Hans sedang mengurus administrasi." Jawab Rino sambil menunjuk kaca di pintu.
Keisya pun lalu bangkit dari duduk untuk melihat kondisi Arin dari kaca pintu ruangan Arini di rawat.
Disa melihat Keisya datang, Ia pun langsung keluar untuk memberikan kesempatan pada Keisya agar masuk menjenguk Arini selaku Guru Arini.
" Sana, Sya jika ingin mengetahui kondisi Arin!" Ucap Disa keluar ruangan.
Keisya pun tersenyum lantas Ia masuk untuk menengok kondisi Arini. Di samping Bu Sara " Beginilah Nak, Kondisi putri Ibuk maaf pikniknya jadi kacau." Tutur Bu Sara.
" Enggak apa-apa Bu, Ini kan namanya musibah toh Kami paham kondisi Arin jadi enggak apa-apa." Balas Keisya sambil mengelus-elus punggung Bu Sara untuk menguatkan.
__ADS_1
" Bu, Maafin Arin ya soalnya Arin malah membuat semua khawatir pasti teman-teman Arin tidak bisa bersenang-senang karena Arin." Ucap lirih Arini melihat ke Keisya sang Guru.
" Enggak Arin, Justru itu bukti bahwa teman-teman Arin sangat sayang sama Arin. Mereka bahagia kok kan ada Kak Ikhsan yang menghibur mereka semua." Tutur Keisya sambil tersenyum mengelus-elus kaki Arini.