Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Usaha Arin Menepati Janji Pada Sang Ayah.


__ADS_3

Arini kecil, Melihat Ibu dan Sang Kakak pagi-pagi baru pulang.


" Bu, Aku mandi dulu ya. Hari ini Arin mau mulai sekolah!" Kata Arini kecil sambil menempelkan handuk di bahunya.


Bu Sara mencoba menahan kesedihan dengan mata yang sembam " Ia Arin, Ibu juga mau siapin sarapan buat Arin."


Arini kecil melihat mata sang Ibu " Ibu kenapa? Ibu habis menangis ya?" Tanya Arini sebelum masuk ke dalam rumah.


Rino yang ingin menutupi kesediahan sang Ibu pun lantas menghampiri Arini kecil, Lalu memegang kedua bahu dan berkata " Arin, Nggak ingin telat kan? Ayo...Cepet mandi..!"


Arini kecil pun mengikuti perintah Rino, Ia menuju kamar mandi.


Tetangga Bu Sara pun pamit, Ia menghampiri Bu Sara " Sabar ya Bu, Yang kuat masih ada anak-anak. Kalau butuh bantuan lagi jangan segan-segan memanggil saya!" Kemudian Ia pun pulang ke rumah.


Arini kecil selesai mandi lantas Ia, Kedapur untuk makan. Di tempat makan Ia teringat Almarhum sang Ayah yang biasa makan di hadapannya, Sambil menunduk " Bu, Ayah udah pergi berdagang ya?" Kata Arini kecil karena menutupi kepergian sang Ayah.


Bu Sara yang membawa piring pun meletakkan piring yang berisi sarapan di hadapan Arini kecil, Lantas duduk di sebelah Arini kecil dengan mata berbinar " Ia Sayang, Ayah sudah berangkat berdagang. Sekarang Arin harus tepatin janji ya biar nanti saat kita ketemu Ayah, Arin sudah bisa menunjukkan piala kemenangan lomba!" Ujar Bu Sara membangkitkan motivasi belajar Arini kecil.


Arini kecil langsung mendekap sang Ibu dengan erat.


" Yuk, Rin kak Rino anterin. Kakak Rino mau ngobrol sama Guru Arin karena Arin kemarin libur agak lama!" Kata Rino sudah berdandan rapi.


Motor sudah di keluarkan dan dua helm sudah di taruh di atas jok motor.


" Kakak, Nggak berangkat ke rumah Wak Nana?" Tanya Arini kecil.


" Kak Hans, Jualan. Motornya tuh udah Kakak ambil kan kemarin di taruh di belakang rumah!" Jelas Rino duduk di meja makan.


Bu Sara menatap Arini kecil dengan tatapan sendu kemudian berpesan " Arin, Inget janjimu sama Ayah ya! Arin harus tinjukin sama Ayah bahwa Putri cantik Ayah bisa jadi juara lomba!"


Arini kecil tersenyum menyeka air mata Bu Sara " Pasti Bu, Pasti Arin akan juara lomba Bu!"


" Pokoknya kalau Arin juara, Kak Rino janji mau minta apa akan Kakak belikan!" Ujar Rino, Sambil makan kerupuk di depannya untuk sarapan.


" Janji ya Kak, Arin pasti juara!" Arini kecil membalas dengan senyum terpancar di wajah.


" Eh...Tapi Arin sudah memberi makan kura-kura belum?" Tanya Rino mengingatkan.

__ADS_1


" Sudah Kak, Sehabis bangun tidur Arin langsung kasih makan." Jawab Arini kecil.


Setelah selesai sarapan, Arin berpamitan dengan sang Ibu kemudian berlari menuju motor.


" Bu, Rino pamit. Ibu jangan sedih, Rino, Hans dan Arin masih butuh Ibu!" Pamit Rino kemudian mencium tangan sang Ibu.


Rino dan Arini kecil pun berangkat menuju sekolah.


Bu Sara duduk terdiam di ruang tamu, Ia masih membayangkan suasana saat Sang Suami masih ada.


Setelah 10 menit Rino dan Arini kecil sampai di sekolah, Rino memarkirkan motor di samping gerbang sekolah untuk bertemu wali kelas Arini kecil yaitu Bu Keisya.


" Rin, Kamu masuk gih. Kakak mau ke ruang guru!" Perintah Rino.


Arini kecil berpamitan dengan bersalaman kemudian mencium tangan sang Kakak.


Arini kecil berlari bersemangat untuk belajar.


Rino pun meminta ijin kepada Guru piket yang memantau siswa di depan gerbang untuk menemui Bu Keisya.


" Belum Mas, Kayaknya sebentar lagi." Jawab Bapak Guru piket.


Tak lama Bu Keisya melewati Rino, Ia melihat Rino berdiri di gerbang. Setelah memarkir motor di parkiran Guru, Bu Keisya lantas menghampiri Rino.


" Pagi Mas, Mengantar Arin ya?" Sapa Bu Keisya.


" Iya Bu, Ini sama mau ngobrol sama Ibu tentang Arin apakah boleh Bu?" Rino menunjukkan rasa sopan.


" Tentu, Ikut Saya! Kita ngobrol di ruangan Guru!" Balas Bu Keisya.


Arini kecil memasuki kelas, Hera, Nayla, Disa dan Tari yang melihat langsung bergegas menghampiri semua memeluk Arini kecil.


" Kami turut berduka cita ya, Rin." Ujar Hera sambil menangis.


Arini kecil pun tersenyum " Iya, Nggak usah nangis terimakasih ya Kalian telah peduli sama Arin. Arin sudah berjanji tidak akan nangis takut Ayah Arin di sana sedih, Yuk kita belajar lagi."


Arini kecil mengajak teman-temannya kembali ke mejanya untuk belajar.

__ADS_1


" Arin yakin, Sudah mau belajar?" Tanya Dina teman sebangkunya dengan bekas air mata masih membekas di matanya.


Arini kecil menyeka mata Dina, Lalu tersenyum " Yakin Din, Arin sudah harus mewujudkan janji Arin kepada Ayah. Arin sudah semagat belajar, Kalian jangan sedih mari kita belajar seperti biasa."


Jam pelajaran di mulai, Pak Guru yang melihat Arini pun pertama-tama mengucapkan rasa duka citanya. Pak Guru memulai pelajaran dan mengajukan partanyaan di bahasa inggris yang Ia ampu, Semua siswa terdiam hanya Arini kecil yang bisa menjawabnya meski baru masuk sekolah lagi.


" Hebat kamu Rin, Padahal sudah seminggu tapi Kamu bisa menjawab pertanyaan Bapak!" Bapak Guru memuji kepintaran Arini kecil.


" Terimakasih Pak, Ini karena Arin punya janji dengan Ayah Arin untuk berprestasi Pak!" Balas Arini kecil.


Sang Guru pun mengacungi jempol buat Arini kecil.


" Ya lah Pak, Kalo masalah pelajaran kita semua ngaku kalah sama Arin." Ujar Hera.


" Makanya kalian semua contoh Arin, Di keadaan apa pun Ia tetap tidak lupa belajar untuk satu tujuan!" Pak Guru berdiri di depan kelas menasehati semua murid.


Di Ruangan Guru,


Rino duduk menghadap Bu Keisya di meja Bu Keisya.


" Gimana keadaan Ibu, Mas?" Tanya Bu Keisya khawatir dengan Bu Sara.


" Alhamdulillah, Sudah baik-baik saja. Saya kesini ingin membicarakan bahwa Arin sudah siap memulai pembekalan lagi Bu! Arin bersikeras karena ingin menepati janji dengan Almarhum Ayah menjadi juara lomba. Bagaimana, Bu?" Cerita Rino.


" Baiklah kalo Arin sudah siap, Nanti siang biar saya yang mulai lagi sebagai permulaan dan nanti akan di lanjut Guru-guru yang lain seperti biasa." Balas Bu Keisya.


" Terimakasih banyak, Bu! Kalo begitu Saya pamit!" Ucap Rino berpamitan.


Bu Keisya masih terus memandangi Rino, Ia mulai tertarik dengan pesona dan kesopanan Rino di tambah rasa tanggung jawab ke keluarganya yang sangat besar.


" Tunggu, Mas!" Bu Keisya, Menghentikan langkah Rino.


Rino pun berhenti dan berbalik melihat Bu Keisya.


" Nanti biar Saya yang mengantar Arin pulang, Kan sekalian Saya yang akan mengajar Arin!" Jelas Bu Keisya.


Panggilan Bu Keisya juga membuat Rino salah tingkah, Hingga keluar ruangan Rino tak berhenti tersenyum

__ADS_1


__ADS_2