
Lagi seru ngebakso merayakan kemenangan Arini,
" Tring...Tring...." ( Suara Hp Disa berbunyi)
Disa melihat layar Hpnya yang bertulis Ayah.
Ia pun menjauhi kerumunan untuk menerima telpon dari sang Ayah.
Hans melihat dan penasaran, Karena tidak biasanya Disa menelpon secara sembunyi sembunyi.
" Ampe gitu amat, Dari siapa?" Tanya Rino, Kepada Hans melihat tingkah Disa yang aneh.
" Enggak tahu Aku juga." Jawab Hans.
Arini dan Sahabat-sahabatnya asyik mengobrol sendiri di meja ujung.
Disa kembali ke meja lalu menarik Hans untuk di ajak mengobrol berdua.
" Hans, Ikut Aku sebentar yuk." Ajak Disa menjauhi semuanya.
Hans pun bingung, Terlebih Rino, Ikhsan dan Bu Keisya karena kali ini mimik wajah Disa sangat serius.
" Terjadi kejadian apa, Nih?" Ujar Ikhsan bingung.
" Iya ya San, Itu Disa setelah terima telepon jadi tegang gitu!" Imbuh Rino penasaran.
"Ssst...Udah nanti kita tanya, Mas-masnya makan dulu saja." Tutur Bu Keisya menghentikan rasa penasaran Ikhsan dan Rino.
" Ya, Bu." Balas Rino.
Pak Isman bergabung bersama murid-muridnya.
" Nah, Sekarang lengkap sudah genk juara!" Ujar Pak Isman dengan Murid-muridnya.
" Terimakasih ya Pak, Karena Bapak sudah percaya pada Arin. Dan mempertahankan Arin menjadi wakil sekolah Kita." Kata Arini menatap Pak Isman yang tersenyum.
" Pokoknya Pak Isman is the best deh, Enggak bakalan Aku lupain Guruku satu ini sampai kapan pun." Ujar Dina.
" Terimakasih banyak Pak, Karena nasehat Bapak. Kami semua bisa punya prestasi." Sahut Tary.
Hera lantas bangkit dari duduk langsung mengajak teman-temannya untuk menyalami Pak Isman sebagai ucapan terimakasih dengan mencium tangan Pak Isman.
" Eh...Sampai segininya kalian, Ya sama-sama ini juga berkat kalian yang berusaha dengan keras untuk maju! Inget pesen Bapak selama Kalian punya mimpi jangan ada kata menyerah untuk menggapainya, Saat Kalian tidak punya apa-apa untuk modal meraihnya, Saat Kalian merasa gagal jangan lupa tengadahkan tangan pada TUHAN dan memintalah pasti DIA akan memberi!" Kata-kata nasehat dari Pak Isman.
" Iya Pak, Pasti akan Kami ingat selalu nasehat Bapak." Ucap Tary.
" Yaudah, Yukk kita foto." Pak Isman mengambil hp di saku, Lantas Murid- murid berpose di samping Pak Isman.
" Udah." Kata Pak Isman.
" Itu Bu Keisya, Kelihatan pada tegang ada apa ya Pak?" Tanya Hera melihat ke meja Bu Keisya dan Kawan-kawan.
" Sssst...Itu urusan orang dewasa udah biarin aja kita di sini seneng-seneng sendiri aja." Tutur Pak Isman.
Hans dan Disa kembali ke meja Mereka.
__ADS_1
" Ada apa, Kok pada tegang?" Tanya Bu Keisya, Yang duduk di samping Disa.
" Iya nih, Bikin penasaran." Imbuh Rino.
Wajah Hans terlihat sangat tegang setelah balik dari obrolan bersama Disa, Ia pun menjadi pendiam.
" Orang tuaku datang." Jawab Disa.
" Oh..Cuma Orang Tua dateng kenapa tegang?" Tanya Ikhsan, Sambil memakan bakso.
" Dia datang membawa cowok yang akan di jodohkan untukku!" Imbuh Disa.
Rino yang asyik makan pun kaget, Hingga tersedak. Juga Bu Keisya yang langsung menghentikan makannya.
" Bukankah kemarin Orang Tuamu sudah setuju jika Kamu di lamar Hans?" Ujar Rino, Agak sedikit kesal.
" Aku juga nggak tahu No, Kenapa Ia kesini malah ngajak cowok itu! Kemarin Aku memintanya kesini untuk menerima lamaran Hans secara resmi." Balas Disa.
Ikhsan pun kaget, Namun Ia memilih diam menyimak dulu untuk mencari solusi.
" Terus, Bagaimana dengan Hans?" Tanya Bu Keisya.
" Itu masalahnya, Berani enggak Hans perjuangin Aku di hadapan kedua orang tuaku." Ujar Disa, Menatap Hans.
" Gini aja Hans, Kamu habis ini temani Disa pulang untuk berkenalan kepada Orang Tua Disa! Biar Kami pulang bersama-sama." Ide Ikhsan.
" Yah Hans, Aku setuju! Berjuanglah Kakak'ku." Imbuh Rino.
" Yah, Tentu Aku akan memperjuangkan Disa kekasihku. Aku akan menghadap orang tuamu setelah ini." Kata Hans penuh percaya diri.
" Kelamaan nanti-nanti, Udah sekarang aja lekas habiskan baksomu dan segera temui Orang Tua Disa, Hans!" Ujar Rino.
Disa pun tersenyum mendengar perkataan Hans yang ingin memperjuangkannya.
Hans langsung berdiri dari kursinya.
" Ya udah yuk, Segera Kita temui Orang Tuamu." Kata Hans.
Disa pun mengiyakan ajakan Hans, Selanjutnya Mereka keluar dari warung bakso menuju rumah Disa.
Arini melihat Hans dan Disa keluar dari warung.
" Kak, Mereka kemana?" Tanya Arini penasaran.
" Udah Arin makan aja, Mereka ada urusan." Jawab Rino.
" Kenapa Aku jadi takut ya!" Sahut Bu Keisya, Mengjentikan makannya.
" Maksudnya?" Tanya Rino penasaran.
" Orang Tua Disa membawa calon untuk Disa, Setahuku Orang Tua Disa itu orangnya best planner banget. Jika sudah menyiapkan sesuatu pasti sudah di perhitungkan baik buruknya untuk Disa." Tutur Bu Keisya.
Rino dan Ikhsan mendengar perkataan Keisya, Mereka saling menatap.
" San, Kamu paham yang Aku pikirkan?" Ujar Rino.
__ADS_1
" Iya No, Aku takut sama apa yang Kamu takutkan." Balas Ikhsan.
Mendengar obrolan Rino dan Ikhsan, Bu Keisya pun penasaran.
" Kenapa Kalian, Lantas apa yang harus di takuti?" Tanya Bu Keisya.
" Hans adalah orang yang tempramen sebenarnya Buk, Hanya Disa yang bisa meluluhkan Hans. Tapi kali ini Ia akan berhadapan dengan cowok lain yang ingin merebut Disa, Sampai disini Ibu pahamkan dimana ketakutan Kami." Jelas Ikhsan.
" Bu, Titip Arin ya. Aku harus menyusul Kakak'ku." Ucap Rino lantas beranjak dari kursi bersama Ikhsan.
" Arin, Kamu sama Bu Keisya pulangnya ya Kakak mau ada perlu!" Teriak Rino.
Langsung keluar warung.
" Untung Ibumu, Sudah pulang duluan ya No! Kalo tadi ikut Kita ngebakso pasti sangat khawatir." Ucap Ikhsan sambil jalan, Untuk mencari angkot bersama Rino.
" Iya San, Untung sudah pulang tadi." Balas Rino
" Tapi Hans dan Disa kenapa sudah tidak kelihatan ya, Cepet amat." Imbuh Rino.
" Paling si Disa, Yang nyewa angkot kan biasanya gitu!" Pungkas Ikhsan.
Hans di dalam angkot duduk di samping Disa, Disa menggenggam tangan Hans begitu erat sambil menyandarkan kepala di bahu Hans.
" Semoga Kamu bisa mempertahankan Aku ya, Hans." Tutur Disa.
" Pasti..Pasti Aku perjuangkanmu, Setelah apa yang Aku lihat Kamu sangat menyayangi Arin. Sekarang waktunya Aku mebuktikan betapa Sayangnya Aku padamu." Balas Hans.
" Tapi pesanku, Jangan sampai Kamu terpancing emosi ya Sayang menghadapi cowok pilihan Orang Tuaku." Pesan Disa.
Hans hanya terdiam sambil terus memikirkan siapa saingannya untuk mendapatkan Disa.
Di sisi lain, Rino dan Ikhsan masih mencari angkot.
" Wah No, Bisa terlambat Kita. Gimana kalo cari ojek aja mahal enggak apa-apalah ya g penting tepat waktu!" Ikhsan mengutarakan idenya.
" Baiklah Kita cari ojek!" Pungkas Rino.
Mereka melihat ojek yang sedang mangkal, Ikhsan mengenal salah satu ojek itu yang ternyata teman se-Rtnya dulu.
" Loh San, Dari mana?" Tanya Tukang Ojek, Setelah Ikhsan dan Rino menghampiri.
" Udah nanti Saya jelasinnya panjang ini buru-buru soalnya penting, Aku sewa motormu ya!" Ujar Ikhsan.
" Yaudah nih pakai aja, Aku tunggu di rumah." Ujar Teman Ikhsan.
Segera Rino dan Ikhsan memacu motor setelah mendapat sewaan dari teman Ikhsan.
" Kenalanmu banyak juga ya,San." Ujar Rino.
" Itu teman se-rt, Jangan pikirin kenalanku tapi pikirin Hans Kakak'mu!" Balas Ikhsan.di bonceng Rino.
" Tapi alamatnya kamu hafalkan?" Tanya Ikhsan.
" Gangnya hafal, Hanya saja rumahnya belum tahu soalnya hanya pernah di ceritain sama Hans kalo kesananya belum pernah!" Jelas Rino.
__ADS_1
" Ya udah yang penting tahu gang, Nanti Kita tanya-tanya." kata Ikhsan.
Rino terus memacu kendaraan, Takut tidak sempat melerai Hans andai Ia kelepasan menggunakan emosinya