
Setelah Arini termotivasi oleh Dona, Pagi hari sekali Arini sudah menghampiri rumah Om Sono.
Om Sono yang baru ngopi setelah bangun tidur pukul 6 pagi, Melihat Arini sudah bersiap dengan pakaian bagusnya datang menghampirinya yang duduk di teras.
" Rin, Mau kemana masih pagi kok sudah cantik?" tanya Om Sono.
Arini menyalami Om Sono, Lalu duduk di kursi yang menghadap Om Sono.
" Arin sudah siap Om, Pergi buat nyari Sekolah." Jawab Arini.
Om Sono pun kaget " Masih pagi Rin, Nanti Setelah mengantar Dona. Rizal yang akan menemanimu, Biar Arini di ajak muter-muter sekalian." Kata Om Sono menatap Arini.
" Ya sudah Om, Arin tunggu di sini saja sampai Rizal dan Dona bangun." Ujar Arini yang segera ingin mencari Sekolahan.
Om Sono langsung masuk ke dalam rumah untuk membangunkan Rizal karena kasihan melihat Arini yang menunggu di depan.
Tak lama Ia kembali ke depan menghampiri Arini, Sambil tersenyum " Rin, Mereka sudah siap-siap! Kata Dona hari ini libur jadi bisa menemani Arin mencari Sekolah. Arin, Sarapan dulu sana sama Mereka!" Ujar Om Sono.
Datanglah Bu Sara dengan tergesa-gesa, Ia mencari Arini yang pergi dari rumah tanpa pamit. Melihat Arini mengobrol bersama Om Sono, Bu Sara menghampiri " Rin, Di cari'in buat Ibuk khawatir pergi tanpa pamit! Kamu belum sarapan dan minum obatmu kan? Ayo pulang minum obat dan sarapan dulu!" Kata Bu Sara mengajak Arini pulang.
" Sudah Mbak, Biar Arin sarapan di sini! Mbak ambilkan saja obatnya biar di minum di sini." Sahut Om Sono.
" Maaf ya Dek, Arin jadi merepotkan keluarga kalian!" Tutur Bu Sara, Kemudian kembali ke rumah untuk mengambil obat Arini.
" Sana, Masuk sarapan dulu!" Ucap Om Sono.
Arini pun masuk ke dalam rumah menuju dapur, Arini melihat Bulik Yanti sedang menyiapkan sarapan.
" Eh...Arin, Pagi banget ke sininya? Udah cantik lagi!" Bulik Yanti, Memuji Arini.
Arini mencium tangan Bulik Yanti " Iya Bulik, Kan Arin mau mencari tempat bersekolah." Jawab Arini sambil tersenyum kecil.
" Ya jangan terlalu semangat Rin, Pasti Kamu belum minum obat kan?" Ujar Bulik Yanti.
Arini hanya tersenyum.
" Ya udah, Sarapan di sini biar nanti tinggal minum obat." Sambung Bulik Yanti, Sambil mengangkat Ssayuran dari kompor yang di taruh di atas meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
" Pagi banget Rin, Sudah siap mencari sekolah?" Ujar Dona keluar dari kamarnya yang sudah berdandan.
" Iya Don, Arin mau membuktikan tekad Arin dan mengikuti ucapan Dona. Arin akan berprestasi di sekolah lain." Kata Arini berdiri memegangi kursi makan.
" Bagus deh, Tapi Arin juga jangan lupa jaga kesehatan! Dona dengar Arin belum minum obat?" Tanya Dona.
" Belum, Ibu baru mengambilkan dari rumah." jawab Arini.
" Hemt...Harusnya kamu itu mandiri Rin, Bukan sedikit-sedikit meminta tolong Ibumu. Kasihan Beliau pasti capek, Kalau mau di anggap dewasa ya harus mandiri kayak Aku nggak pernah minta bantuan siapa pun kalo masih bisa Aku kerjakan sendiri!" Kata Dona menyindir Arini.
Bu Yanti melirik ke arah Putrinya " Sudah-sudah, Makan dulu jangan berdebat di meja makan." melerai perdebatan Dona dan Arin.
Arini tersipuh malu, Ia hanya diam saat Dona menatapnya tajam.
" Wah..Ada Arin, Kapan datang Rin?" Tanya Rizal yang baru selesai mandi dan keluar dari kamarnya.
" Baru saja, Zal tolong anterin Arin buat mencari sekolahan ya!" Kata Arini meminta tolong.
" Yah Rin, Tapi makan dulu! Kan Dona ikut jadi nanti pasti ketemu sekolah yang terbaik untuk Arin." Rizal langsung duduk dan mengambil makanan di meja dapur.
" Iya Rin, Makan dulu! Dona nanti akan ikut jadi pasti dapet." Imbuh Bu Yanti.
" Dona..Dona, Kenapa kok memandang Arin?" Tanya Arini yang menyadari.
" Enggak Rin, Enak ya di manja banget! Aku yang kesulitan jalan saja milih mandiri, Kenapa Kamu yang bisa melakukan segala hal harus di bantu orang lain." Sindir Dona
" Hust...Jangan bilang begitu, Sayang." Sahut Bu Yanti menatap Dona.
" Iya, Kan Arin baru di sini!" Imbuh Rizal, menatap Dona.
" Terserah kalian, Jika Arin di manja dan kelak Ia menjadi Siswa yang tidak mandiri dan di anggap sampah ya itu wajar bagiku!" Ketus Dona, Langsung memakan sarapannya.
Arini memikirkan kata-kata Dona " Arin salah ya Dona, Sama Kamu?" Tanya Arini.
" Salah? Bukan sama Aku tapi sama Ibumu! Aku itu heran katanya kamu berprestasi, Tapi kenapa tergantung dengan orang lain?" Jawab Dona ketus.
"Dona...Diem!" Ujar Rizal.
__ADS_1
" Lihat sikap kalian, Hanya akan menghancurkan Arin di kemudian hari. Prestasi di atas kertas, Itu tidak membuktikan apa-apa. Namun, Mandiri di segala bidang itulah Prestasi yang sesungguhnya!" Tutur Dona, Yang tatapannya fokus ke makanan sarapan di hadapannya.
Arini terus menyimak sindiran dadi Dona, Ternyata benar saat Arin berfikir selama ini hidupnya banyak bergantng kepada Orang Lain.
Datanglah Bu Sara membawakan botol obat Arini.
" Pagi..." Ucap Bu Sara menyapa semuanya, Lalu menghampiri Arini untuk menyerahkan obatnya.
"Loh, Kok belum di makan sarapanmu?" Tanya Bu Sara.
" Mbak sekalian sarapan di sini ya!" Ajakan dari Bu Yanti.
" Ah sudahlah, Nanti Aku mau masak sendiri! Biar Aku sarapan di rumah." Bu Sara menolak karena merasa tidak enak.
" Udah Budhe, Sini kita sarapan bareng-bareng!" Imbuh Rizal memaksa Bu Sara.
Bu Sara dengan perasaan malu duduk di kursi dekat dengan Arini, Yaitu di samping kirinya.
" Arin, Lauknya kurang? Biar Ibu ambilkan." Kata Bu Sara ingin membantu Arini.
Namun, Arini menatap ke arah Dona yang masih memandangnya sinis dan meremehkannya sebagai anak yang tidak mandiri.
" Nanti, Arin akan ambil sendiri." Kata Arini menolak bantuan Ibunya.
Bu Sara pun bingung, Rizal menatap Bu Yanti.
" Kenapa Rin, Menolak?" Tanya Dona.
Arini pun tersenyum " Karena Dona mengajarkan Arin mandiri, Arin enggak mau kalah denga. Dona." Balas Arini.
" Budhe, Biarkan Arin mandiri kalau hanya mengambil nasi dan kegiatan yang enggak begitu berat tidak akan mengganggu kesehatannya dan membuat penyakit Arin kambuh kan?" Kata Dona melihat pada Bu Sara.
Bu Sara bingung atas perkataan Dona, Bu Yanti lalu memghampiri Dona untuk menyetop ujaran ketus Dona.
" Bisa kok, Arin bakal tunjukin ke Dona kalau Arin bisa mandiri!" ujar Arini menatap ke arah Dona.
" Bagus deh Rin, Kalau kamu mampu." Reaksi Dona yang masih belum yakin terhadap Arini.
__ADS_1
" Sudah....Di lanjut besok lagi ya debatnya!" Kata Om Sono yang ingin membuat keduanya terdiam di meja makan.
Arini membuang muka pada Dona, Karena Arini sangat kesal atas ucapan dan Kata-kata Dona.