
Arin, Bu Sara, Dan Om Sono tiba di terminal Bus kota Z tempat Ayah Arini berasal.
Mereka turun dari Bus, Arini melihat lihat di sekeliling, Arini terpukau dengan pemandangan yang Ia lihat banyak orang yang beda dalam berbahasa.
" Yuk, Rin ikuti Om!" Kata Om Sono menggandeng tangan Arini dan di sisi kiri Bu Sara yang menggandeng Arini.
" Masih sama seperti dulu terakhir Aku kesini dengan Kakakmu ya, Om." Ucap Bu Sara masih bernostalgia dengan bayangan Pak Romi saat dulu Mereka mengunjungi keluarga Ayahnya yang sudah sekitar 6thn lalu.
" Ibu dulu enggak ngajak Aku, Aku di tinggalin." Sahut Arini.
" Yah, Dulu Ibu cuman sebentarkan! Buat melayat Kakekmu!" Balas Bu Sara.
Keluar dari terminal, Om Sono melambaikan tangan pada seseorang.
" Mbak..." Seorang Ibu menghampiri Kami bersama seorang Kakak yang menebar senyum.
" Yanti...Rin ini Bulik Yanti..Masih inget kan?" Ujar Bu Sara mengingatkan Arini.
Arini menatap Bulik Yanti lama sembari mengingat.
" Yah maklum tidak ingat, Dulu Bulik ke sana kamu masih kelas 2 SD." Kata Bulik menatap Arini.
" Ini Rizal? Sudah besar Kamu Nak, Mana Adikmu Dona?" Ujar Bu Sara setelah di salami Rizal.
" Iya Budhe, Dona baru sekolah jadi tidak bisa jemput! Mana Budhe barangnya saya bawakan." Balas Rizal.
Semua menuju mobil, Arini masih terlihat malu malu karena baru pertama bertemu keluarga sang Ayah, Dulu pernah di bawa namun saat itu Ia masih sangat kecil.
Di dalam mobil Bu Yanti memeluk Bu Sara sambil menangis " Maafin Kami ya Mbak, Sewaktu Mas Romi tiada kami belum bisa ke sana Takziah. Saat itu keuangan kami sedang turun-turunnya namun Kami sudah berjanji akan melaksanakan wasiat dari Mas Romi yaitu menyekolahkan bahkan menguliahkan Arin."
" Enggak apa-apa Dek, Mbak juga sudah ikhlas." Balas Bu Sara.
Rizal duduk menyetir dan di sebelahnya ada Arin.
" Besok kalo sekolah di sini, Biar Aku yang anter Budhe!" ujar Rizal sambil fokus jalan.
__ADS_1
" Tuh Rin, Adekmu Rizal yang mau mengantarmu! Dulu sewaktu kamu kesini kan mainnya sama Rizal, Mungkin kamu sudah lupa ya." Imbuh Om Sono mengakrabkan diri.
Arini pun hanya tersenyum.
" Mbak, Mas Romi sudah menyiapkan semuanya di sini jadi jangan khawatir!" Kata Om Sono memandang Bu Sara yang duduk di pinggir Istrinya.
...****************...
Sampailah di rumah yang di persiapkan Ayah Arini,
Rizal memarkirkan mobil di samping rumah.
" Ini rumah Kalian, Dek?" Tanya Bu Sara melihat rumah kecil namun terlihat mewah.
" Mari turun, Mbak!" Kata Om Sono.
Bu Sara dan Semuanya turun, lalu Om Sono mengajaknya masuk.
" Wah perabotnya baru masih di plastik, Pasti buat Rizal nih!" Ujar Bu Sara.
" Om, Rumah om bagus banget!" Pujian Arini.
Lalu Om Sono mendekati keduanya.
" Mbak, Ini rumah kalian! Ini perabot adalah wasiat dari Almarhum Mas Romi yang memintaku harus menyiapkan perabot baru untuk kalian agar nyaman tinggal di rumah ini.Jadi mendengar kalian akan kesini Kami baru membelinya!" Ucap Om Sono sambil memberikan kunci rumah pada Bu Sara.
Mendengar hal itu, Bu Sara langsung lemas dan menangis mengingat Sang Suami.
Arini mendekap sang Ibu erat.
" Pantas tiap jualan Ia selalu memilih makan seadanya, Terus Beliau tidak pernah meminta apa-apa bahkan jarang memegang uang ternyata semua ini Almarhum siapkan untuk Kami." Ucap Bu Sara sembari menangis terduduk di lantai.
Bu Yanti langsung mendekap Bu Sara " Kakakku hebat Mbak, Setiap kali telpon Ia selalu menceritakan planing untuk keluarganya dan mobil tadi adalah mobil Mbak Sara, Itu juga di siapkan oleh Mas Romi untuk Arini agar cita-citanya sekolah di sini mendapat transportasi mudah." Jelas Bu Yanti sembari menangis.
" Mbak, Maaf Mbak harus lihat ini! Wasiat dari Kakak'ku!" Kata Om Sono menunjukkan Video di Hpnya.
__ADS_1
Ternyata Itu adalah rekaman Suaminya, Ayah dari Arini.
" Teruntuk Istriku, Ini rumah dan segala fasilitas adalah hadiahku untuk kalian! Maaf, Aku selalu bilang tidak punya uang dan tidak pernah mengajak kalian ke makan atau pergi ke tempat mewah karena Aku lagi mempersiapkan istana untuk Arini agar Ia nyaman menempuh pendidikan di sini. Oh ya, Jika video ini kalian lihat, Dan bukan Ayah yang memberikan secara langsung maka Ayah harap Hans dan Rino dapat menjaga Ibu dan Arin pasti Ayah sudah tiada..hahaha.
Ibu jangan sedih, Ayah sudah siapkan semuanya biar Sono dan keluarga yang mengatur semua! Kamu fokus saja pada Arin, Dan untuk Keluarga Sono. Aku titip keluargaku ya, Maaf merepotkan tapi Aku berharap kalian selalu akur maaf apabila Arin nanti harus merepotkan kalian karena rutin chek up ke Dokter di karenakan penyakitnya.
Untuk Putri Ayah yang cantik, Dan Pintu untuk kedua Kakakmu. Meski Ayah sudah nggak bersama Ari, Ayah akan selalu dukung Arin dan permintaan Arin untuk rumah yang Arin punya kamar dengan ranjang kuda poni dan dinding berwarna pink sekarang sudah Ayah wujudkan. Semangat ya Arin, Sekolahnya! Ayah akan selalu melihat Arin." Isi video pesan dari Almarhum Ayah Arini.
Semua menangis, Bu Sara terisak-isak melihat bahwa sang Suami memikirkan keluarganya hingga masa depan Putrinya.
" Pantas, Setia kali Aku melihat Ia memakai jaket yang usang dan celana yang usang saat Aku paksa Ia membeli malah Ia tolak. Ternyata uang itu untuk ini, Yah..Ibu kangen sama Ayah..." Tutur Bu Sara menceritakan sosok sang Suami.
" Mbak, Aku dan Mas Romi ada kerja sama pembuatan pakaian.Kami punya beberapa karyawan, Jadi untuk biaya hidup Mbak dan Arin sudah tidak usah di fikirkan!" Ucap Om Sono.
Bu Sara lalu menatap Arini yang terisak menangis di pangkuannya " Sayang, Ini Ayahmu sudah menyiapkan untukmu! Ibu harap semua pesan terakhir Ayah yang menginginkan Arin selalu juara, Arin wujudkan ya harus rajin belajar!" Pesan Bu Sara.
" Kalian istirahat dulu Mbak, Di dapur sudah Aku siapkan makanan bila Arin dan Mbak lapar." kata Bu Yanti.
Setelah itu keluarga Om Sono meninggalkan Arini dan Bu Sara sendirian di rumahnya.
Bu Sara melihat ada foto lama keluarga mereka terpampang di lemari dekat tv.
Bu Sara bangkit mengajak Arini melihat foto tersebut.
Kembali menangislah Bu Sara mengingat Almarhum sang Suami.
" Rin, Ini Ayahmu sewaktu masih muda, Ini kamu yang masih bayi dan Kak Rino dan Kak Hans." Jelas Bu Sara sambil menunjukkan foto lawas.
Bu Sara kembali mengingat masa-masa di mana sang Suami sangat senang melihat buah hatinya yang ceria, Apalagi pas Arini lahir yang menambah lengkap kebahagiaan keluarga Mereka.
" Bu, Ayah ternyata sayang sama Kita lebih dari yang Arin duga Bu." Ucap Arini dengan wajah sendu mengingat sang Ayah.
Bu Sara flasback ke saat Ia berdagang dengan sang Suami, Yang mana sehari Pak Romi berjualan dengan gigih tanpa pernah mengeluh meski sakit Ia tetap brangkat subuh pulang siang, Istirahat sebentar, Lalu kerja lagi ternyata yang Bu Sara kira uangnya untuk keluarga Ayahnya membantu Om Sono justru hasil semua itu Ia jadikan rumah dan tabungan untuk Arini.
Mereka duduk di sofa masih mengingat sosok suami dan Ayah, Yang memberikan kejutan tak terduga.
__ADS_1