
Hans dan Rino seperti biasa subuh sudah mulai akan berjualan, Hans di berikan waktu Wak Nana untuk mengurus Ibu dan Adik-adiknya dulu.
" Hans, Kamu jualan sendirian dulu ya?" Ujar Rino.
" Ya biar nanti Aku ma Disa, Aku nitip Ibu sama Arin." Balas Hans.
Setelah melaksanakan Sholat Subuh, Hans dan Rino ke kamar Arini kecil untuk berpamitan dengan sang Ibu yang tidur di kamar Arini.
Mereka melihat dari pintu Sang Ibu masih terdiam memandangi foto sang Ayah di depannya masih dengan memakai mukena.
" Bu..." Kata Hans menghampiri sang Ibu, Untuk berpamitan.
Bu Sara pun mengajak Hans keluar, Takut membangunkan Arini.
Bu Sara duduk di ruang tamu, Masih dengan mata yang berkaca-kaca.
" Aku pamit jualan dulu, Bu." Pamit Hans, Kemudian mencium tangan Bu Sara.
" Ayah....." Ujar Sang Ibu seperti melihat sosok sang Suami berdiri di depan pintu, Seperti hari-hari biasa saat sang Ayah masih ada.
Hans melihat Rino, Kemudian keduanya memeluk sang Ibu.
" Bu, Sudah Ayah sudah tenang. Ibu ada kami, Tolonglah Buk segera bangkit Kami butuh Ibuk." Kata Hans memeluk Sang Ibu.
Bu Sara pun menitihkan air mata, Ternyata Bu Sara hanya halusinasi.
" Jualanlah Hans, Hati..Hati. Ibu mau tidur lagi!" Perintah Sang Ibu.
" Iya Bu, Doain Hans jualannya laris ya Bu." Pamit Hans segera menuju gerobak.
Rino masih mendekap Sang Ibu.
__ADS_1
" Ada yang kurang ya No, Biasanya pagi-pagi gini Ayahmu sudah berisik ingin segera jualan. Tapi sekarang hening, Akhirnya kita kangen suara berisik Ayah yang biasanya mengganggu kita ya No." Kata Sang Ibu terus mengingat Sang Suami.
" Iya ya Bu, Sekarang kita tinggal berempat. Tapi Rino janji sama Ibu pasti Rino akan berusaha dengan keras membuat keluarga kita bahagia. Rino aka menggantikan tugas Ayah Bu, Rino janji." Balas Rino.
" No, Ibu boleh minta tolong?" Tanya Sang Ibu.
" Minta tolong apa, Bu?" Tanya Rino balik.
" Jaga Adikmu sebentar ya, Ibu mau ke makam mau ziarah Ayahmu." Balas Sang Ibu dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca.
Rino pun kaget dan menolak permintaan sang Ibu.
" Jangan sekarang Bu, Ini masih gelap. Rino takut kalo di makam ada hewan yang bisa membahayakan Ibu. Tunggu sampai ada matahari dulu Bu, Rino janji setelah Arin sekolah akan temani Ibu ke makam!" Balas Rino khawatir dengan Sang Ibu.
" No, Kasihan Ayahmu pastilah Ia kesepian, Kedinginan. Ibu minta jaga Adikmu ya!" Bu Sara memandang Rino dan bersikeras.
Rino pun kasihan dengan sang Ibu, Ia juga khawatir keselamatan sang Ibu.
Tak lama Ia kembali, Ada seorang Ibu tetangga depan Rumah Rino yang mau membantu untuk menjaga Arini yang masih tertidur.
" Ayo Bu, Rino anterin Ibuk ke makam!" Ujar Rino.
" Bi, Nitip Putriku ya." Kata Bu Sara terhadap tetangganya.
Rino menggandeng tangan sang Ibu terus selama perjalanan menuju makam.
Banyak tetangga yang menyapa, Karena kebanyakan tetangga Rino adalah pedagang seperti keluarganya.
Sesampainya di depan pemakaman, Sang Ibu melepaskan tangan Rino lalu berlari memasuki Pemakaman. Rino sontak mengejar, Setelah Rino masuk Ia melihat Sang Ibu bersimpuh di makam Sang Ayah.
" Yah, Sekarang sepi sehabis subuh kami tidak bisa lagi mendengar kebisingan Ayah. Ayah pasti sekarang Ayah kedinginan Ya, Ini Ibu bawakan jaket kesukaan Ayah." Bu Sara meletakkan jaket di atas makam Sang Suami.
__ADS_1
Rino melihat sang Ibu yang begitu kehilangan Sang ayah pun, Tak kuasa menahan sedih hingga Ia menangis.
Rino duduk di sebelah sang Ibu.
Dengan penuh air mata " Bu, Kuat Ibu masih ada kami"
Bu Sara mengusap-usap pusaran makam Suami" No, Ayahmu dulu pernah bilang ke Ibu sewaktu Kami baru menikah. Ayahmu bilang tidak akan meninggalkan Ibu, Dan tidak akan membuat air mata Ibu jatuh. Selama menikah Ayahmu memegang janjinya, Hanya takdir yang membuat Ayahmu harus mengingkari janjinya. Ibu pesan kelak jika nanti kamu sudah menikah, Tirulah Ayahmu. Dia sosok yang lembut, Sering bercanda dan belum pernah membuat Istri dan Anaknya kecewa atas perilakunya. Kamu perlu tahu waktu Hans lahir, Ayahmu lah yang sangat senang bahkan Ia memamerkan Hans di pasar dan Selalu berkata * Istriku hebat, Istriku sudah jadi Ibu Aku sangat cinta Istriku* sampai Ibu malu. Pernikahan Ibu bukan pernikahan yang mudah, Pernah Kami tidak bisa beli susu untuk Hans Kakakmu yang masih bayi dagangan kami nggak laku tapi Ayahmu nggak mau menyerah. Ayahmu menjadi kuli panggul di pasar tanpa rasa malu, Ibu di suruh menunggu di mushola pasar menggendong Kakakmu yang masih bayi. Lalu setelah Hans umur 2 tahun, Kamu lahir. Apa yang pertamakali di ucapkan Ayahmu saat Ibu kembali dari klinik * Jangan pernah membedakan dua jagoanku, Berikan Baju sama belikan mainan yang sama. Ntah gimana nanti Kamu nggak usah mikir, Biarkan Aku sebagai suami yang bertanggung jawab atas itu* Dan penyesalan yang paling Ia sesalkan sampai saat ini ialah, Saat Kami tidak bisa memberikan pendidikan yang layak untukmu dan Hans. Setiap sebelum tidur, Ayahmu selalu mengatakan itu berulang-ulang."
Rino yang mendengar pun menangis sejadi-jadinya mendengar cerita sang Ibu.
Dengan tangan mengusap Nisan sang Ayah " Rino janji Bu, Rino akan menjadi seperti Ayah kelak jika Rino berumah tangga akan bertanggung jawab seperti Ayah, Tapi sebelum itu Rino aka bahagiakan Ibu dan Arin."
Mereka pun mendoakan sang Ayah. Sebelum pulang
Rino menatap Sang Ibu " Bu, Bolehkah jaket ini untuk Rino? Akan Rino pakai saat jualan, Biar Rino yang cuci sebagai motivasi Rino biar kayak Ayah yang pantang menyerah!"
Sang Ibu menatap Rino, Dengan pandangan pilu " Tentu Nak, Pasti Ayahmu senang ada satu peninggalannya yang di pakai untuk anaknya sendiri."
Rino mengambil jaket, Lantas memapah sang Ibu untuk kembali pulang.
Jaket kulit coklat tebal lusuh yang sudah banyak tambalan, Karena dulu Almarhum Pak Romi selalu mementingkan uang untuk keluarganya di bandingkan untuk dirinya.
" Tahu nggak No, Ini jaket sudah dari Ayahmu muda sejak kenalan sama Ibu. Tiap Ibu suruh ganti karena berlubang, Ayahmu selalu diam-diam menambalnya sendiri di kamar karena Ayahmu sayang uang yang buat beli jaket untuknya mending di belikan makanan untuk kalian katanya." Cerita Sang Ibu.
Rino lihat jaket " Ini yang biasanya Rino ejek, Jaket Ayah yang lusuh dan Rino selalu ingin mengganti diam-diam Rino mau buang jaket ini tapi Ayah selalu marah. Ternyata itu ya Bu maksud Ayah, Pantes Hans beli'in jaket tapi nggak pernah di pakai malah di suruh Pakai Hans sendiri."
Sampailah Mereka di rumah melihat Arin duduk bersama tetangganya di teras rumah
Arini kecil melihat Ibu dan Kakaknya kembali " Dari mana Bu, Kok Arin tidak di ajak cuma Kak Rino yang di ajak?"
Arini kecil cemburu dengan sang Kakak.
__ADS_1
Bu Sara memegang pundak Arini kecil " Ibu di antar Kakak tadi lihat-lihat di depan orang-orang berolah raga, Mau ajak Arin kan Arin masih tidur." Bu Sara sambil tersenyum.