
Sampailah pada Hari di mana Arini mampu bertahan,
" Hari ini, Dia akan bertanding. Tapi Kita tidak boleh ikut menyemangati apakah ini adil untuk Arini?" Ujar Hera, Yang berada di dalam kelas bersama murid yang lain.
Nayla yang duduk di samping Hera pun terlihat lesu, Juga Dina dan Tary yang berada satu baru baris tempat duduk di meja nomer dua.
" Apa kita sesekali nekad aja, Kita bolos untuk menyemangati Arin?" Tanggapan Nayla.
" Aku dari pagi juga belum melihat Arin, Apa mungkin Dia down saat ini?" Sahut Dina, Sambil menengok kebelakang.
" Ya udah yuk kita nekat, Kalau nanti harus di hukum ya di hukum sajalah." Pungkas Hera berdiri sambil menggendong tas.
Baru Mereka niat ingin membolos tiba-tiba Bapak KepSek datang masuk ke kelas Mereka.
" Mau kemana, Kamu?" Tanya Bapak KepSek sambil melihat Hera.
" Ya mau nyemangatin Arin, Pak! Kan Dia Sahabat Kami kemarin Ia dateng ke perlombaan Kami dan Kami semangat atas hal itu. Siapa tahu dengan Kami datang Arin bisa semangat dan menang." Jawab Hera, Dengan penuh keberanian.
" Kenapa harus bolos, Kalian berempat ikut Bapak ke kantor sekarang!" Pungkas Pak KepSek dengan nada tegas.
Semua murid pun takut dengan ucapan Pak KepSek.
Hera, Dina, Nayla dan Tary tanpa ragu mengikuti Bapak KepSek.
" Tas Kalian bawa!" Imbuh Pak Kepala Sekolah.
Mereka langsung menurut, Mengikuti Pak KepSek dari belakang.
" Untung Kalian mengharumkan nama Sekolah." Tutur Pak KepSek sambil jalan.
Mereka heran Bapak Kepala Sekolah tidak menuju ke ruangan Guru melainkan ke parkiran.
" Kita kok arahnya ke parkiran, Her?" Tanya Dina bingung.
" Aku juga nggak ngerti, Udah ikuti sajalah." Jawab Hera lirih.
Pak Isman sudah berdiri di mobil sekolah.
" Kalian ikuti Pak Isman, Dan Bapak mengucapkan terimakasih karena kalian sudah menjaga sahabat Kalian dengan baik sehingga bisa mengikuti lomba mewakili sekolah kita." Tutur Bapak Kepala Sekolah.
Mereka yang semula takut langsung berterimakasih kegirangan, Mencium tangan Bapak Kepala Sekolah.
" Maaf Pak, Mau nanya? Apakah Arin tadi berangkat?" Tanya Dina.
" Ia sudah duluan ke tempat lomba bersama Bu Keisya, Kalian sudah di tunggu." Jawab Bapak Kepala dengan senyum.
" Terimakasih banyak, Pak." Tutur semua bersamaan, Kemudian berlari menyongsong Bapak Isman.
" Udah, Kalian siap?" Tanya Pak Isman, Melihat keempat siswinya di hadapannya.
" Siap, Bos!" Ujar Hera kegirangan.
" Yuk naik!" Perintah Pak Isman.
Di tempat perlombaan,
Arini yang sampai dengan mengendarai motor bersama Bu Keisya celingukan mencari Sahabat-sahabatnya.
" Kamu kenapa, Arin?" Tanya Bu Keisya.
" Enggak Bu, Hanya mencari Hera dan kawan-kawan. Apakah Mereka tidak boleh datang, Bu?" Tanya Arini, Dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
" Ya, Mungkin Mereka sedang mengikuti pelajaran dan di larang oleh Bapak Kepala." Jawab Bu Keisya bermaksud memberi kejutan kepada Arini.
Mimik wajah Arini pun sedih, Seolah semangat juangnya hilang.
" Yuk, Segera masuk! Kamu harus sudah ada di tempatmu!" Tutur Bu Keisya.
Arini pun mengikuti, Dalam hati Ia kecewa tidak ada yang datang untuk mendukungnya.
Dari Rumah Kak Hans sudah bilang akan kembali ke rumah Wak Nana bersama Kak Disa, Sedang Kak Rino bersama Kak Ikhsan berjualan dengan Sang Ibu. Arini kecil hanya tertunduk sambil melangkah.
Tibalah Ia di dalam ruang perlombaan dan menempati meja yang berisi papan nama yang bertulis sekolahnya.
Arini masih celingukan Menatap ke arah suporter berharap ada yang datang mendukungnya namun Ia hanya menemukan Bu Keisya duduk di bangku penonton.
" Kenapa, Begini ya." Gumam Arini,Sedih.
Arini terus menunduk memberikan gambaran kesedihan.
Ia sesekali melihat ke arah jam dan peserta yang lain yang di dukung teman-teman dan keluarganya.
" Arin...Semangat..." Teriakan suara Disa terdengar.
" Kamu pasti bisa, Nak!" Imbuh Bu Sara.
Mendengar suara yang Ia sangat hafal, Arini melihat ke bangku penonton Ia melihat semua Kakaknya beserta sang Ibu datang, Ikhsan memenuhi janjinya datang dengan kostum badut. Arini menatap ke arah Bu Keisya yang tersenyum sambil mengangkat dua jempol.
Waktu perlombaan kurang 15 menit, Arini sedikit terobati karena sudah ada pendukung yang datang.
" Woy, Inget janjimu!" Terikan Hera, Melangkah dari bangku penonton ingin menghampiri Kakak-Kakak Arini.
Arini kembali terkejut, Ia melihat ke arah penonton ternyata semua Sahabatnya datang.
Pak Isman memberi kode dengan kedua tangan untuk semangat.
" Mereka ternyata datang, Aku buktikan dan akan Aku tepati janjiku pada Kalian!" Gumam Arini sambil mengacungkan jempol.
Lomba pun di mulai, Awal pertanyaan Arini tidak bisa menjawab.
" Arin, Awas sampai kalah!" Teriak Hera menyemangati.
Pertanyaan selanjutnya Arini menjawab dengan cepat, Hingga 25 pertanyaan selesai nilai Arini yang tertinggi melampaui 8 siswa lainnya.
Pak Isman diam-diam memvideokan pertandingan untuk Bapak Kepala Sekolah dan Guru-Guru lainnya.
Akhirnya Arini menjadi juara, Ia di panggil maju oleh Panitia untuk menerima piala dan hadiah uang.
Setelah pertandingan dan pengumuman selesai, Pendukung Arini masuk ke area perlombaan untuk memberikan ucapan selamat.
Arini berlari menghampiri sang Ibu, Kemudian memeluknya.
" Arin juara, Bu." Pungkas Arini.
"Arini, Sudah menepati janji terhadap Ayah dan Sahabat-sahabat Arin, Bu." Imbuh Arini.
Bu Sara meneteskan air mata bahagia, Ia kagum kepada sang Putri atas perjuangannya untuk sampai ke lomba.
" Arin, Mau kado apa?" Sahut Hans.
" Katanya Kakak, Ke rumah Uwak?" Ujar Arini.
" Tuh, Disuruh Kak Rino memberi kejutan!" Jawab Kak Hans.
__ADS_1
Arini melepaskan pelukan pada sang Ibu, Kemudian menghampiri Kakak-Kakaknya dan Sahabat-sahabatnya.
Disa meghampiri Arini, Dengan perasaan bangga Ia mendekap Arini sambil menitihkan air mata.
" Selamat Sayang, Akhirnya Kamu bisa menepati janjimu." Ujar Disa.
Arini menatap wajah Kak Disa, Lantas menyeka air mata yang ada di wajahnya.
" Jangan nangis Kak, Arin sudah menang." Tutur Arini sambil menyeka air mata Kakaknya.
Setelah melepaskan pelukan Kak Disa, Arini menghampiri Hera lalu berpelukan bersama Sahabat-sahabatnya.
" Arin menang, Ini piala untuk kalian!" Pungkas Arini, Sambil berpelukan bersama Sahabat-sahabatnya.
" Iya, Aku tahu kamu pasti bisa Rin!" Kata Hera.
" Ya iyalah, Kan Arin smart student!" Sahut Dina.
" Ayo Kalian, Ibu foto." Ucap Bu Keisya dengan memegang hpnya.
Arini dan Sahabat-sahabatnya berpose memegang piala bersama-sama.
Setelah di foto, Arini menghampiri Bu Keisya menyalami dan berterimakasih atas bimbingannya lantas Ia juga menyalami Pak Isman.
" Murid Bapak, Bisa menang Akhirnya." Tutur Pak Isman, Sambil di mengelus rambut Arini saat Ia mencium tangannya.
" Ini berkat doa dari Bapak." Pungkas Arini sambil tersenyum.
Semua pun bersorak dan berfoto untuk kenang-kenangan bersama Arini dan pialanya.
" Arin dapet hadiaj nih, Abis ini kita ngebakso semuanya biar Arin yang traktir." Ujar Arini sambil memamerkan amplop uang di tangannya.
" Wuih....Kaya nih." Ujar Rino.
" Buat Kak Ikhsan dua mangkuk ya." Gurau Ikhsan setelah melepaskan penutup kepala badutnya.
" Boleh, Kak." Jawab Arini sambil tersenyum.
" Udah simpan saja, Ini nanti yang bayar Bapak Kepala Sekolah. Uangnya sudah ada di Bapak!" Sahut Pak Isman.
" Wah Rin, Kamu beruntung Bapak Kepala Sekolah memujimu lewat story lalu Ia berjanji akan memberimu hadiah lagi." Kata Bu Keisya melihat story Pak KepSek.
" Kira'in tadi marah karena Kita mau bolos, Bapak Kepsek emang suka mempermainkan siswa!" Pungkas Dina, Kesal di kerjai Bapa KepSek.
Mereka pun keluar ruangan lomba, Arini di gandeng oleh sang Ibu dan Kak Disa sedang piala di bawa Hera untuk di pamerkan ke sekolah lain bersama Dina dengan jalan di depan semuanya.
" Itu Mereka, Kayak yang bisa mikir aja! Kalo otot okelah Saya akuin tapi kalo di suruh mikir dua orang itu kan lemah pakai nyombong segala." Ujar Nayla kesal dengan Hera dan Dina.
" Sssst...Udah biarkan, Mereka sedang merayakan kemenangan Sahabatnya." Sahut Pak Isman di samping Nayla.
" Andai Ayahmu masih ada, Rin." Tutur Sag Ibu membayangkan kebahagian suaminya saat melihat Putrinya menang.
Satu tanga Disa lalu mengelus pundak Bu Sara untuk menguatkan.
" Ayah pakah kamu lihat, Putri kecilmu menang." Teriak Rino.
" Arin ikut teriak gih, Buat Ayah senang." Kata Hans, Menyuruh Arini seperti Rino.
" Ayah...Arin menang terimakasih atas doanya!" Teriak Arini.
Semua yang mendengar pun haru bercampur bangga.
__ADS_1