
Setelah selesai memilah barang,
Rino memanggil setiap tetangga untuk mengambil baju milik Mendiang Sang Ayah untuk di bagikan.
" Udah pilih-pilih saja, Masih bagus kok. Silahkan ambil gratis!" Ujar Rino kepada setiap tetangga yang datang.
" Wah No, Ini msih baru belum di pakai apa bener ini boleh di ambil?" Tanya salah satu Tetangga.
" Silahkan saja, Pak!" Sahut Bu Sara yang berdiri di samping Rino.
" Makasih banyak Bu dan Kamu, No!" Ujar para tetangga.
Ikhsan datang membawa tas besar, Ia ingin tinggal bersama Rino dan keluarganya.
" Assalamualaikum..." Sapa Ikhsan.
" Ada apa nih, Rumah penuh amat. Kok pada bawa pakaian?" Imbuh Ikhsan memasuki teras Rumah.
" Wa'alaikum salam..Ini bagi'in baju Ayah yang masih bagus, Sayang kalo di buangkan! Nah, Kamu bawa tas besar mau ngungsi kemana, San?" Tanya Rino bingung.
Ikhsan langsung duduk ngelesot di lantai depan pintu masuk karena penuh dengan orang di teras.
" Katanya nawarin tempat tinggal, Serius nggak?" Ujar Ikhsan
" Oh..Itu yaudah tuh di samping, Tapi bentar nunggu pakaian habis dulu. Sana buat kopi sendiri!" Balas Rino.
" Sana San, Kalo mau makan Ibu juga udah siapin di meja dapur." Imbuh Bu Sara.
" Kan jadi enak kalo gini." Ujar Ikhsan sambil cengengesan.
" Oh, Lupa abis ini bantuin Aku dulu siapin karpet di depan buat Arin nanti belajar soalnya mau ada bimbingan kayak dulu!" Teriak Rino, Melihat Ikhsan menuju ke dalam rumah.
Ikhsan hanya membalas dengan jempol sambil berjalan.
" Emang Guru Arin, Mau kesini No?" Tanya Bu Sara.
" Iya Bu, Tadi Rino ke sekolah Arin minta Bu Keisya untuk kembali membekali Arin di rumah." Jawab Rino.
Ikhsan keluar dengan membawa secangkir kopi di tangan.
" Terus yang ngajar nanti siapa No, Guru Arin yang mana?" Tanya Ikhsan.
" Ini nanti Bu Keisya yang memulai!" Jawab Rino.
" Bisa sekalian dong No, Kamu minta di ajari!" Gurau Ikhsan.
Wajah Rino pun memerah karena malu. Bu Sara melihat sang anak yang salah tingkah mendengar gurauan Ikhsan.
" Senyam-senyum, No!" Kata Sang Ibu, Sambil mengelus pipi sang anak.
" Ya iyalah Bu, Kan Dia juga mau belajar!" Sahut Ikhsan.
__ADS_1
Disa dan Hans kelihatan dari depan teras sudah pulang.
" Itu kenapa jam segini udah pulang?" Tanya Rino.
" Baru jam 11, Biasa juga jam 1 siang!" Imbuh Ikhsan melihat jam dinding di kamar tamu.
" Itu ramai-ramai kenapa ya, Sayang?" Tanya Disa melihat dari kejauhan Rumah keluarga Hans di penuhi banyak orang.
Disa dan Hans pun mempercepat langkah karena takut terjadi apa-apa pada Sang Ibu.
Setelah sampai depan rumah, Mereka melihat Rino, Sang Ibu dan Ikhsan mengawasi baju mendiang Ayah yang di bagikan ke tetangga.
" Ini baju Ayah!" Tutur Hans, Meninggalkan gerobak di pinggir jalan depan rumah.
" Ibu bagi'in, Soalnya kalo di lemari Ibu terus keinget mendiang Ayahmu! Jadi cukup foto dan kenangannya saja yang Ingin Ibu inget." Balas Bu Sara.
Rino kemudian duduk di samping Ikhsan berdesak-desakan, Disa berdiri sambil memegangi Bu Sara melihat baju milik Pak Romi di ambil oleh tetangga.
" Bos, Jam segini udah pulang emang nggak ingin cepet kaya?" Gurau Rino.
" Iya, Apa udah nggak doyan duit!" Imbuh Ikhsan.
Hans mengeluarkan uang dari tas pinggangnya.
" Yah, Alhamdulillah cukup buat main segini!" Balas Hans sambil memamerkan segepok uang di tangannya.
" Wudih...Jualan laris nih." Ujar Ikhsan.
" Bu, Ini hasil jualan hari ini dagangan Ibu dan daganganku." Hans memeberikan uang k Bu Sara.
" Udah kalian yang pegang saja, Kan sebentar lagi Kamu akan melamar Disa secara resmi. Uangbitu buat tambah-tambah aja!" Bu Sara menolak uang itu.
Disa memeluk Bu Sara " Aku sudah ngobrol sama Hans Bu, Kami akan langsung menikah saja kecil-kecilan enggak apa-apa yang penting sah."
Rino dan Ikhsan pun terkejut.
" Bentar nih Bos, Nikah sih nikah tapi meski kecil-kecilan kita pikirin persiapannya juga to!" Sahut Rino
" Iya nih, Main mutusin saja." Imbuh Ikhsan.
" Udah lah No, Biarin Kakakmu merencanakan kita tinggal ikuti saja." Ujar Sang Ibu.
" Kita dulu ntar baru kamu selanjutnya No, Sama Keisya." Gurau Disa.
" Orang kayak gitu apa diterima, Bu Keisya pasti pilihan seleranya tinggi. Ini bisanya bercanda mulu!" Kata Hans duduk di kursi teras.
" Ini nih ciri khas Kakak tercintaku, Suka memupuskan harapan orang!" Sahut Rino kesal.
" Iya kamu Hans, Tega sama Adikmu sendiri. Kan sebentar lagi Bu Keisya akan mengajar di sini!" Imbuh Ikhsan.
" Hah...Seriusan?" Tutur Disa, Senang mendengar kawannya akan ke rumah.
__ADS_1
" Bentar nih, Ngomong-omong soal belajarndi sini. Ayuk San kita siapin tempat!" Rino yang melihat kamar tamu masih berantakan.
" Itu beresin dulu bawa ke depan yang udah kita pilih tadi No, Biar di ambil tetangga yang butuh!" Perintah Sang Ibu mengambil sisa baju di ruang tamu karena teras tidak muat.
" Itu sekalian yang di tas besar!" Sahut Disa tidak tahu itu milik Ikhsan.
" Enak aja itu bajuku, Mau tinggal di sini besok pakai baju apa!" Kata Ikhsan sambil membantu Rino mengambil baju di ruang tamu.
Hans terkejut Ikhsan menerima tawarannya dulu. Hans lantas ke dalam menemui Ikhsan.
" Kamu beneran pengen di sini,San?" Tanya Hans di belakang Ikhsan.
" Masih nanya, Ya maulah!" Jawab Ikhsan.
" Yess ramai besok Dis, Kita dapat sukarelawan yang akan membantu persiapan pernikahan kita!" Ujar Hans senang.
" Oh..Ternyata Aku di suruh di sini untuk itu to!" Ikhsan kesal.
" Udah lah San, Biarin mereka senang besok kan kita bisa kabur ke tempat uwak!" Sahut Rino.
" Dasar Adik nggak pengertian, Besok nggak Aku bantuin dapetin Keisya!" Ancam Disa.
" Aku bisa sendiri Kakak ipar!" Gurau Rino.
Tetangga yang mendengar obrolan pun bertanya tanya kapan kah pernikahan Hans.
" Emang kapan Bu, Pernikahan Hans sama Mba Disa?" Tanya salah satu Tetangga.
" Doain aja Pak, Sebentar lagi!" Sahut Disa.
" Pasti besok warga bantuin Bu, Kan keluarga Ibu selalu baik sama Kami. Pasti Kami bantuin tinggal kapan waktunya kabarin saja Bu!" Kata Tetangga Mereka.
" Makasih sebelumnya Pak, Pasti kabari." Kata Bu Sara sambil tersenyum.
" Yuk Pak, Silahkan di pilih lagi!" Kata Rino sambil menggeser box kardus besar berisi pakaian sang Ayah.
" Kami tunggu kabarnya Buk, Kapan pernikahan Hans kalo Rino mungkin masih lama soalnya nggak pernah lihat ada cewek yang jalan sama Rino!" Gurau Tetangga.
" Lihat aja Pak, Besok Aku kenalin calonku pasti semua pada melongo!" Kata Rino membalas Gurauan.
" Bohong itu Pak, Cewek mana yang mau sama Rino!" Ujar Hans keluar dari dalam rumah.
" Kamu Kakakku, Apa musuh dalam selimut to? Kok nggak belain adeknya!" Pungkas Rino.
" Tapi bener juga sih, No!" Imbuh Ikhsan mengguraui Rino.
" Udah-udah, Jangan bercanda terus! Di dalam sudah habis No?" Tutur Sang Ibu.
" Udah Bu, Habis." Jawab Rino
Bu Sara melihat setiap pakaian yang di ambil sambil mengenang Sang Suami tapi menutupi dari Anak-anaknya dengan berusaha menahan air mata.
__ADS_1