Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Lanjutan


__ADS_3

Ikhsan kembali ke tempat di mana Bu Keisya dan yang lain berada.


" Eh...Kok murung, Ini kenapa?" Ujar Ikhsan melihat Hera dan kawan kawannya tidak bersemangat.


" Bagaimana bisa bahagia Mas, Temanya saja sakit ya pasti Mereka ikut merasakan sakitnya. Adik-adik ini kan Sahabatnya Arin." Sahut Ayah Disa duduk di hadapan Ikhsan.


" Enggak apa-apa kok Arin'nya! Udah, Yuk Kita main habis ini pasti Arin kesini!" Kata Ikhsan sambil mengulurkan tangan untuk mengajak Hera.


" Yuk...Kita main, Kita kan ke sini mau seneng-seneng pasti Arin sebentar lagi ke sini." Sambung Bu Keisya sambil bangkit dari duduknya.


Hera pun di paksa Ikhsan dengan menarik tangannya, Lalu Hera pun mngikuti Ikhsan dengan terpaksa bersama kawan-kawannya.


Setelah Hera dan teman-teman di ajak ikhsan pergi.


Bu Keisya kembali duduk, Ia melihat ke arah Tas dari Bu Sara.


" Kasian ya Nduk, Seandainya itu terjadi pada Disa dulu sewaktu kecil mungkin Ibu dan Ayah bakal sangat sedih. Terbayang-bayang anak yang sakit." Tutur Ibunda Disa.


" Mereka kuat kok Buk, Mereka sudah di uji lebih berat dari ini yaitu kehilangan Ayah dan Suami. Aku salut sama Mereka meski hanya berempat namun satu sama lain menjaga, Terlebih kemarin saat Ibu dan Bapak menolak Hans, Mereka saling menguatkan dan asal Ibu, Bapak ketahui Mereka tidak akan mengorbankan keluarga hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri!" Balas Keiysa menatap tegas kedua orang tua Disa.


" Iya Nduk, Bapak paham itu. Yang enggak Bapak habis pikir itu saat Dira ingin melukai Mereka kenapa hanya dalam waktu sepersekian menit Mereka bisa memaafkan. Terbuat dari apa hati Mereka itu, Andai Bapak di gituken pasti sudah dendam sampai waktu lama." Sahut Ayah Disa.


" Ya itulah keluarga Almarhum Pak Romi, Orang Tua mereka berhasil menanamkan jiwa pemaaf dan penolong kepada ketiga anaknya. Asal Bapak dan Ibu perlu tahu, Hera dan kawan-kawan itu dulu adalah anak yang sering menjahati Arin tetapi Bapak lihat sekarang Mereka adalah Orang-orang yang sangat sayang kepada Arin. Saya sebagai Guru dari Mereka juga kaget, Arin yang sudah banyak di jahati teman-temannya bisa merubah teman-temannya hingga semua yang anak-anak yang di sini bisa mengharumkan nama sekolah." Kata Keisya.


" Ibu...Juga merasa Bu Sara orang baik." Kata Ibunda Keisya dengan nada lirih duduk di kursi roda.


Lalu Bu Keiysa mengajak Ibunda dan Kedua orang tua Disa jalan jalan meninggalkan barang-barangnya karena Ikhsan dan kawan-kawan Arini tak jauh bermain.


*****


Di ruangan Klinik.

__ADS_1


" Bu, Ibu sudah makan belum?" Tanya Disa di samping Bu Sara.


Bu Sara menoleh ke arah Disa " Kalo kamu lapar makanlah dulu, Mana bisa Nduk seorang Ibu meninggalkan anak yang sedang sakit. Makan pun terasa tidak enak, Karena perasaan Ibu dan pikiran Ibu masih kepada Arin."


Disa akhirnya diam, Dan memilih menemani Bu Sara di samping Arini yang masih belum sadarkan diri.


Rino melihat ke Hans yang duduk seperti orang stress memegangi kepala " Hans, Ibu belum makan kan! Aku akan carikan makanan dulu, Tolong Kamu jagain Ibu ya!" Pungkas Rino langsung meninggalkan Hans dan Dira.


Dira yang melihati Arini dari kaca pintu langsung menghampiri Hans dan merangkul Hans sambil duduk di sampingnya.


" Hey, Kamu enggak sendirian Abangku!" Gurau Dira menghibur Hans.


Hans menoleh melihat Dira " Yah, Memang tida sendirian tapi rasanya Aku belum bisa menggantikan tugas Almarhum Ayahku untuk menjaga keluargaku."


" Hehhehe...Jangan jadikan itu bebanmu, Sekarang Kita jaga sama sama. Aku, Ikhsan, Disa dan Keisya ada bersamamu dan sudah menganggap kalian bagian keluarga kami. Jadi bangkitlah, Biar Ibu mu tidak mwngkhawatirkanmu!" Kata Dira, Tersenyum kecil pada Hans.


" Kita kenal baru saja, Namun Kamu udah Aku repotin!" Kata Hans, Membalas senyum Dira.


" Yah, Gimana ya Aku di rumah sepi dari dulu karena Anak tunggal. Ponakan aja ngumpul setahun sekali karena tinggal di luar negeri dateng cuma pas ngerayain hari raya ajah!" Cerita Dira, Menatap atap sambil tersenyum.


Hans pun mengikuti kata Dira, Ia bangkit dan melihat dari kaca pintu ke arah sang Ibu dan Melihat Arini yang masih terbaring.


Rino datang mwmbawa makanan di plastik untuk semuanya " Nih, Kita makan dulu! Aku tahu semuanya belum makan!"


Lalu Hans menelpon Disa yang di dalam terus menemani Ibunya untuk keluar agar Ia bisa mengantarkan makanan untuk Ibunya yang di dalam.


" Sayang, Kamu keluar dulu! Aku mau merayu Ibuku agar Ia makan." isi pesan Hans.


Disa yang di dalam membuka dan membaca isi pesan Hans.


Disa pun langsung berpamitan dengan Bu Sara.

__ADS_1


" Bu, Disa keluar dulu ya! Anak Ibu mau menengok Adeknya kan hanya boleh 2 orang." Pamit Disa.


Disa segera keluar untuk bergantian dengan Hans, Rino memberikan 2 bungkus makanan pada Hans " Ibu kalo makan sendirian pasti enggak mau, Kamu temenin makan!"


Hans menerima lalu masuk keruangan dimana Arini di rawat setelah Disa masuk, Saat berpapasan dengan Disa, Hans tak mengucapkan sepatah kata Ia langsung buru-buru masuk.


Dira dan Rino melihat Hans yang mengacuhkan Disa. Lalu Dira bangkit dari duduk dan menghampiri Disa " Sudah nggak usah Kamu ambil hati, Hans dan Kami sedang mengkhawatirkan Ibu karena dari pagi belum makan dan minum. Wajar jika Hans mengacuhkanmu!" Kata Dira.


Lalu Rino memberikan bungkusan nasi " Yuk duduk, Nih bagianmu! Nanti Kita fokus ke Arin malah Kita yang sakit kalo lupa makan."


Semua duduk di kursi tunggu di depan ruang Arini di rawat.


Disa masih enggan makan karena masih kepikiran Bu Sara di dalam " Apakah Ibumu mau makan ya, No?"


Rino menatap Disa " Sudah Kamu makan saja, Ada Hans yang pasti bisa membujuk Ibu untuk makan."


Disa karena khawatir, Ia bangkit dari duduk meninggalkan bungkusan nasi untuk memastikan Bu Sara untuk makan dengan melihat dari jendela kaca di pintu.


Disa pun merasa lega, Karena melihat Bu Sara sedang di suapi Hans. Disa pun kembali duduk dan memakan nasi bungkus dari Rino.


Rino yang melihat Disa mebuka bungkus makanannya " Gimana, Sudah lihatkan! Ibuku pasti makan kalau dengan anak pertamanya."


Dira pun merasa penasaran " Emang kenapa No, Kalau sama Kamu emang Beliau enggak mau?"


" Bukan gitu, Aku nggak setega Hans. Kalo Hans di keluargaku terkenal keras wataknya jadi ya mending nurut kalo Aku kan humoris jadi enggak bisa marah, Bos!" Jelas Rino.


" Oh, Ternyata Hans typenya kasar gitu?" Tanya Dira memperjelas.


" Kasar enggak, Tegas lebih tepatnya!" Sahut Disa membela Kekasihnya.


Rino tertawa " Iya Kakak Ipar, Belain terus calon suaminya!" Gurau Rino.

__ADS_1


" Kalau Kamu, Yang belain nggak di sini ya No." Sambung Gurauan dari Dira.


Akhirnya Disa bisa tersenyum mendengar gurauan Rino dan Dira walau hanya tersenyum kecil.


__ADS_2