
Di sekolah saat jam pelajaran olahraga,
" Kamu ngapain, Rin?" Tanya Dina melihat Arini mengganti bajunya dengan baju olahaga.
" Hey, Kamu nggak usah ikut inget kesehatanmu!" Teriak Hera, Yang khawatir.
Nayla dan Tary hanya melihat dari mejanya.
" Iya, Arin enggak olahraga kok. Ini hanya biar sama kayak kalian nanti Arin seperti biasa kok membantu Pak Isman." Tutur Arini, Agar Sahabat-sahabatnya tidak khawatir.
Semua murid keluar kelas menuju lapangan olahraga di depan sekolah.
" Awas ya Kamu, Rin. Apabila ngeyel!" Pungkas Hera berjalan di samping Arini.
" Iya, Hera. Arin tahu kok, Arin cukup pinter di pelajaran otak saja biar Hera yang juara di olahraga." Balas Arini sambil bergurau.
" Nayla, Tary,Dan Dina tolong nih Bocah di awasin ntar takutnya nih anak nekad!" Perintah Hera pada Sahabat-sahabatnya.
" Iya Rin, Dengerin Hera tuh. Ia sudah trauma lihat kamu di rawat!" Sahut Tary di belakang Arini.
" Iya jangankan Hera, Kami aja juga takut kamu kenapa-napa." Sambung Nayla di sebelah Hera.
" Aku nggak ikut aja kali ya, Ngawasin nih bocah." Ujar Dina berjalan di depan keempatnya.
" Udah iya-iya, Enggak mungkin Aku nekad!" Balas Arini meyakinkan Sahabat-sahabatnya.
Mereka pun sampai di lapangan dan berbaris seperti biasa menghadap Pak Isman, Arini pun ikut berbaris.
Melihat Arini ada di barisan, Pak Isman pun tersenyum.
" Ya udah anak-anak, Ayo mulai pemanasan seperti biasa!" Perintah Pak Isman.
Hera, Dina, Nayla, Dan Tary mengrucitkan kening. Mereka bingung kenapa Arini di ikutkan dalam pemanasan padahal biasanya Arini hanya di suruh duduk di belakang mereka sambil berteduh.
" Pak, Maaf kenapa Arin boleh ikut?" Tanya Hera, Masih dengan perasaan khawatir.
Pak Isman pun tersenyum.
" Gini ya anak-anak, Arin memang sakit tapi sesekali kan tubuhnya juga minta di gerakan. Jadi sesekali boleh lah teman kalian Arin ikut." Jelas Pak Isman.
" Ayo Rin, Semangat pasti Kamu kangen gerakin badankan?" Imbuh Pak Isman.
Arini pun terlihat bahagia di perbolehkan ikut, Arini paling bersemangat si antara teman-temannya.
Setelah pemanasan 15 menit,
" Ayo anak-anak kita ambil nilai lari, Masalah jalur seperti biasanya ya. Arin Kamu sekarang ikut Bapak batuin menilai saja di sini sambil neduh." Ujar Pak Isman.
Semua pun segera berlari keluar sekolah untuk pengambilan nilai mengelilingi sekolahan.
Pak Isman memberikan buku nilai pada Arini.
__ADS_1
" Nih, Bantuin Bapak ya!" Tutur Pak Isman.
" Iya Pak." Jawab Arini sudah paham dengan tugasnya.
Bapak Kepala Sekolah Keluar dari sekolah mendekati Pak Isman dan Arini yang duduk di lantai depan ruangan kelas yang bersebelahan dengan lapangan olahraga.
" Pak.." Arini menyapa Bapak Kepala Sekolah yang duduk di sampingnya.
" Bantuin, Pak Isma nulis nilai Rin?" Tanya Pak Kepala.
" Iya Pak, Arin tidak bisa ikut olahraga." Jawab Arini.
" Ya enggak apa-apa, Jangan maruk ya Pak Isman ya. Udah juara di pelajaran mau ambil juga di olahraga..Hehhehe.." Gurau Bapak Kepala.
Arini pun tersipuh malu.
" Bapak, Kemarin belum ngasih kamu hadiah kok ya Rin. Kalau secara pribadi." Ujar Bapak Kepala Sekolah mengambil dompet di saku celana.
" Enggak usah, Pak." Arini malu menerimanya.
" Udah terima Rin, Rejeki." Sahut Pak Isman.
" Nih, Cukup kalo hanya beli es..hehehhe" Kata Pak Kepala Sekolah memberi amplop yang sudah Ia siapkan.
" Maafin Bapak ya Rin, Dulu sempat mau menggantikan'mu maju ke komptisi itu." Imbuh Pak Kepala Sekolah.
" Iya Pak, Maaf Arin juga selalu mengkhawatirkan semuanya." Ucap Arini.
" Ya udah, Ini Bu Keisya cuti. Nanti Bapak yang ngajar kalian. Pak Isman saya tinggal dulu pamit mau ngawasi yang lain." Ujar Pak Kepala Sekolah, Berpamitan meninggalkan Arini dan Pak Isman.
" Kamu mau lari?" Tanya Pak Isman sambil tersenyum.
" Emang boleh, Pak?" Tanya Arini, Menatap Pak Isman serius.
" Boleh, Hanya saja lari-lari kecil jarak dekat. Yang penting Kamu sudah tidak kangen lagi kan sama kegiatan lari! Mana bukunya, Kamu lari dari situ sampai sini 3 kali saja." Ujar Pak Isman, Menunjuk titik pohon ke tempatnya duduk.
Arini langsung melakukan ide dari Pak Isman, Meski hanya dekat Arini tetap semangat.
Sambil berlari Arini tersenyum karena bisa merasakan bagaimana saat dulu Ia berlari.
Hera yang sampai duluan masuk ke lapangan olahraga melihat Arini berlari pendek.
" Heh, Nanti kamu sakit!" Teriak Hera, Sambil terengah-engah melihat ke arah Arini.
" Enggak Hera, Biarin Bapak yang tanggungjawab tidak usah khawatir biar Arin melampiaskan ke rinduannya berlari." Sahut Pak Isman.
Hera langsung duduk di lapangan di bawah teriknya matahari karena capek.
" Yah segitu aja lelah, Katanya pelari tercepat." Gurau Arini melihat Hera kelelahan.
" Ih itu anak malah mengejekku, Berani sekali biar ku jitak kau!" Hera bangkit berlari ke arah Arini.
__ADS_1
Mereka berdua pun bermain kejar-kejaran, Arini tertawa riang bersama sahabatnya.
" Heh..Heh...Sudah, Sampai lupa Bapak memberimu nilai Her!" Sahut Pak Isman menghentikan keduanya.
Keduanya pun berhenti dan duduk saling membelakangi menyatukan punggungnya.
" Capek Rin?" Tanya Hera.
" Enggak, Asyik malah bisa merasakan lari-lari lagi!" Jawab Arini.
" Aku masih penasaran Rin, Tujuanku belum tercapai untuk mengalahkanmu di lari seperti dulu saat kita bersaing." Ujar Hera, Meluapkan isi hatinya.
" Yah, Aku juga Her. Aku rindu saat-saat kita saling berebut jadi yang nomer satu." Pungkas Arini sambil tersenyum.
" Cepat sembuh Rin, Aku menunggumu untuk berlomba." Kata Hera.
" Yah, Aku pasti segera sembuh!" Ujar Arini.
Murid yang lain mulai berdatangan, Satu persatu di nilai oleh Pak Isman.
" Tinggal Dina, Kemana anak itu?" Ujar Pak Isman mencari Dina.
" Wah paling Ia lagi mampir jajan di warung depan, Pak!" Sahut satu siswa, Mengetahui keberadaan Dina.
" Dia lagi..Dia lagi..Tuh Rin, Temanmu yang langganan telat! Kayak gitu kok bisa menang kompetisi beladiri. Anaknya aja slenge'an gitu." Ujar Nayla, Duduk menghadap Arini dan Hera.
" Tau ah, Kalo sama si Dina emang perlu ekstra sabar!" Balas Arini.
Dina berjalan memasuki gerbang sekolah dengan santainya berjalan.
" Itu anak malah jalan, Yang lain lari!" Ujar Hera, Melihat Dina datang dengan santai.
" Dari mana murid Bapak yang cantik?" Tanya Pak Isman mengguraui Dina.
" Habis berapa mangkuk?" Tanya Pak Isman.
" Ya ampun Saya habis menolong Ibu-ibu Pak, Tadi jatuh dari motor. Mereka juga lihat tapi malah mentingin nilai Bapak dari pada menolong!" Jelas Dina menunjuk beberapa teman sekelasnya.
" Apa bener?" Tanya Pak Isman, Kepada murid-murid yang di tunjuk Dina.
Mereka hanya mengangguk.
" Tuhkan Pak, Takut sama Pak Isman tuh kalo dapet nilai jelek!" Pungkas Dina.
" Kalo begitu Din, Kamu nilainya 9 sama dengan Hera. Karena Bapak ingin kalian paham menolong orang itu adalah Budi yang mulia, Utamakan menolong itu melebihi nilai yang di kasih oleh Bapak! Tiru Dina, Karena perbuatan baik akan kembali ke diri kalian masing-masing. Paham?" Tutur Pak Isman memberikan nasehat.
" Paham!" Jawab semua siswa dan siswi.
" Wih...Keren." Ujar Hera melihat Dina menghampirinya.
" Makasih..Makasih.." Balas Dina sambil cengengesan.
__ADS_1
" Yaudah silahkan olahraga seperti biasa bola dan yang cewek terserah kalian untuk menghabiskan waktu pelajaran Bapak." Perintah Pak Isman.
Semua pun bangkit dari duduk dan mengambil alat olah raga dari gudang untuk mereka mainkan.