
Setelah 1bln di rawat, Kedua Orang Tua Disa membaik,
" Biar di rumahku saja!" Ucap Dira saat menjemput Ketiganya di Rumah Sakit.
" Biar di Rumahku Dir, Mereka sekarang Orang Tuaku!" Balas Hans.
" Iya Nak, Biarkan di rumah Kami nanti biar Arin tidur sama Ibu." Imbuh Bu Sara mendukung ide Hans.
" Ok, Tapi Ikhsan sama Rino harus tidur di rumahku!" Kata Dira melirik Rino dan Ikhsan yang sedang mengemas barang-barang Kedua Orang Tua Disa.
Ayah Disa sudah mengingat semuanya " Sudah-sudah Bapak dan Ibu tinggal di Dira juga enggak apa-apa atau di rumah Disa tidak apa-apa." Tutur Ayah Disa sambil menaiki kursi roda.
Disa yang sudah lancar jalan, Ia mendorong sang Ibu yang sudah membaik namun masih lemas.
" Udah Pak, Kita kan sekarang Besan jadi tinggal di rumah Kami saja toh Biar Saya ada teman mengobrol soalnya kalau semua pergi saya hanya sendiri!" Sahut Bu Sara sembari tersenyum.
" Okk Kalian atur, Yang penting Rino dan Ikhsan tetap di rumahku karena serem kalau punya rumah besar sendirian!" Ujar Dira.
" Makannya beli rumah yang banyak kamar gitu, Mau buat tinggal apa buat buka kost!" Sahut Ikhsan sambil melirik Dira.
" Kayaknya asyik ya San, Jika di buka Kost!" Balas Dira malah meng'iyakan kata Ikhsan.
" Masih kurang uang Bos, Udah kaya masih pingin usaha aja! Ntar Kami tidur di luar gitu?" Kata Rino menyindir Dira.
" Ah Kita bahas nanti saja, Hans ayo Kita urus administrasi!" Ajak Dira.
Hans dan Dira langsung menuju bagian adsministrasi.
Datanglah Erin dengan wajah menangis di hadapan semuanya.
" Dia siapa, Cewek dateng-dateng kok nangis? Pacarl mu ya San?" Ujar Rino, Menghampiri Erin.
" Ada apa lagi, Nak?" Tanya Bu Sara, Mendekati Erin.
Disa pun takut kalau Ibu Sara di dorong lagi segera Ia buru-buru menhikuti Bu Sara di belakangnya.
" Ini kenapa sih? Kok wajah Disa terlihat tegang?" Ucap Ikhsan.
" Dira baru ke ruangan Adsministrasi, Nduk!" Ujar Bu Sara langsung memeluk Erin.
Erin menangis sejadi jadinya di pelukan Bu Sara, Dan Disa sudah lega karena Erin tidak berlaku kasar pada Bu Sara.
Rino mengedipkan mata sambil mengomel tanpa suara, Menanyakan siapa gadis itu.
" Kenalkan ini Erin, Mantan Pacar Dira!" Jelas Disa mengenalkan Erin.
" Yakin Mbak, Pacar Dira? Enggak nyesel?" Gurau Ikhsan.
__ADS_1
" Wah menangis, Di apakan Dira Mbak?" Sambung Rino di hadapan Erin.
" Ssst...Kalian emang enggak peka ya? Ini baru nangis!" bentak Disa.
Rino pun mundur memilih mendorong kyrsi roda Ayah Disa.
" Kenapa, Nduk? Cerita sama Ibu yukk kita cari tempat biar kamu bisa tenang!" Ajak Bu Sara.
Disa yang merasa khawatir " Buk, Di sini saja!"
Bu Sara tersenyum sambil memberi kode tangan agar Disa tidak khawatir.
Setelah Bu Sara dan Erin menjauh, Datanglah Hans beserta Dira kembali untuk mengajak semua pulang.
" Yukk udah beres, Tapi mana Ibuk?" Tanya Hans mencari Ibunya.
" Sama Pacar Dira!" Jawab Ikhsan.
Dira dan Hans pun saling menatap karena khawatir pada Bu Sara.
" Kemana Mereka? Terus kenapa kalian diam aja Ibu di bawa Erin!" Kata Dira dengan nada tinggi.
" Emang kenapa sih, Cewek itu nangis terus Ibu nenangin!" Balas Rino, Menatap Dira dan Hans.
" Kemana Ibu?" Tanya Dira kembali, Karena Khawatir.
" Hans,Biar ini jadi urusanku! Kamu di sini saja." Kata Dira langsung buru-buru menyusul Bu Sara dan Erin
Setelah Dira pergi, Ikhsan mendekati Hans " Emang ada masalah apa sih?"
Hans langsung menatap Disa " Apa Kamu tidak menceritakan siapa Erin, Sayang?" Ujar Hans.
Di ruang Inap Disa pun menjadi suasana tegang.
" Perlu kalian tahu, Erin kemarin mendorongku dan Disa juga Ibu hingga jatuh karena mengira Disa telah merusak hubungannya dengan Dira!" Penjelasan Singkat Hans.
" Cewel itu yang kamu ceritakan itu, Dis?" Ujar Ikhsan kaget.
" Taspi sudahlah, Dira sudah menyusul Ibu! Aku yakin Ibu tidak kenapa-napa. Ayo kita bawa Orang Tuaku ke mobil!" Kata Hans meminta semua segera meninggalkan ruang inap.
Mereka pun membawa Ibu dan Ayah Disa ke mobil Dira dan sisanya ikut dengan Rino.
" Ibu, Gimana Hans?" Ujar Rino.
" Bentar kita tunggu, Pasti tak lama lagi Ibu di bawa balik oleh Dira!" Jawab Hans.
Disa menghampiri Hans dan memeluk dari samping " Yang, Aku minta maaf?"
__ADS_1
Hans memandang Disa " Tidak apa-apa, Sudah ada Dira!"
Sementara itu, Di Taman tengah Rumah Sakit Dira melihat Bu Sara mengelus rambut panjang Erin yang sedang menangis.
Ia langsung menghampiri " Mau apa lagi Kamu kesini?" kata Dira dengan nada tinggi.
" Sssst Nak, Pelan-pelan saja! Erin lagi sedih." Tutur Bu Sara menenangkan Dira yang emosi.
Erin langsung bersujud di bawah kaki Dira " Aku minta maaf Dir, Aku sekarang kena karma atas apa yang Aku lakukan padamu. Dia sekarang menyampakkanku." Ucap Erin sambil menangis.
Dira memandang kepada Bu Sara, Bu Sara pun bangkit dari duduk" Nak, Ingat setiap orang pasti pernah membuat suatu kesalahan tapi kewajiban seorang yang beragama adalah memaafkan." lalu pergi meninggalkan keduanya untuk bicara berdua.
Dira mengangkat tubuh Erin, Dan mendudukan di kursi di sampingnya.
" Lihat Kamu, Ia seorang Ibu yang kemarin Kamu kasari malah membelamu!" Ucap Dira membuang muka dari Erin karena masih sakit hati.
" Kamu di buang? Gimana perasaanmu? Sakitkah?" Ucap Dira masih tak sudi memandang Erin.
Erin menatap Dira " Apa kebencianmu sebegitu besar, Hingga menatap wajahku dirimu sudah tak mau?"
" Sakit ya, Sama itu dulu yang Aku rasakan! Tapi untuk membencimu saat ini sudah tak berguna karena Aku sudah punya keluarga yang lebih berharga dari mu!" Kata Dira masih mengacuhkan Erin.
" Sekarang Aku paham, Kenapa Dirimu tidak balik ke rumah! Karena Ibu dan Mereka yang tidak sepertiku yang ingin menghancurkanmu di saat Aku berbuat baik padamu!" Ucap Erin
" Gunung tidak semua ada api, Kadang di atas Gunung juga ada es itulah yang harus Kamu belajar dari hidup ini. Setinggi apa Aku menggebu membalas dendam tapi Mereka mengajarkan rasa damai dari arti memaafkan! Maaf sudah waktunya Aku menemui keluargaku!" Kata Dira langsung bangkit dari duduk meninggalkan Erin sendirian.
Erin langsung berlari dan menghampiri Dira saat bersama keluarga Hans yang ingin pulang.
" Apakah Aku tidak ada kesempatan untuk belajar dari kalian? Apakah Aku terlalu hina untuk menjadi keluarga kalian!" Teriak Erin, Yang membuat semua yang ada di parkiran menatap kepadanya juga Disa dan keluarganya.
Disa menghampiri Dira yang melangkah mengacuhkan Erin, Yang terus melangkah mendekati semuanya tanpa memalingkan atau menoleh ke arah Erin.
" Kamu Kakak'ku kan? Kak ini permintaan Adikmu, Maafin Erin dan biarkan Ia belajar arti ketulusan pada keluarga kita." Ucap Disa di depan Dira.
" Jika Aku memberinya maaf, Terus di mana Ia akan tinggal?" Balas Dira.
" Di rumahku, Kak!" Kata Disa sambil tersenyum mengeluarkan kunci rumahnya yang telah di tebus oleh Dira untuk hadiah pernikahan Disa dan Hans.
Dira pun akhirnya menoleh ke Erin " Jika mau bergabung setidaknya kamu bisa mengikuti kami! Kamu bawa mobil sendiri kan?" Kata Dira sembari tersenyum.
" Ayo Erin, Ikuti Kami ke rumah!" Sambung Disa tersenyum.
Erin lantas berlari dan memeluk Disa " Terimakasih Dis, Kamu telah memaafkan Aku!" Ucap Erin masih menangis.
" Kamu juga Dir, Makasih." Sambung Erin menoleh ke Dira.
" Woy, Panas nih...Yukk pulang!" Teriak Rino yang mulai berkeringat menunggu Dira.
__ADS_1
Mereka pun beriringan menuju rumah Bu Sara yang juga rumah Hans dan Rino.