Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Kepastian Untuk Kak Disa


__ADS_3

Hans, Dari saung pinggir kolam selalu memperhatikan Disa saat Disa bermain bersama Arini berlarian di pinggir kolam ikan belakang rumah Wak Nana.


" Udah, Nggak hilang! Jangan hanya di lihat tapi beri kepastian." Kata Rino, Yang tiba-tiba muncul lalu duduk di sebelahnya.


" Kamu No, Apakah saat ini Aku bisa membahagiakannya. Saat masih ada Arini yang harus Aku beri perhatian lebih!" Jawab Hans terus melihat Disa.


" Arin lagi...Arin...Lagi, Kenapa bagiku sekarang kamu hanya mencari alibi untuk menutupi ketakuatanmu berkomitmen." Ujar Rino, Sambil menatap kolam ikan di depannya.


" Kamu itu hanya mengambing hitamkan Arin, Kamu bersembunyi di kata untuk Arinlah, Arin butuhlah! Stop Hans membohongi diri, Jika memang penakut lebih baik relakan Disa untuk bahagia bersama yang lain! Berikan dia keputusan." Imbuh Rino.


" Terus apa yang harus Aku lakuin?" Tanya Hans bingung.


Rino kemudian bangkit dari duduk, Ia lantas meninggalkan Hans begitu saja.


" Kemana?" Tanya Hans penasaran.


" Mau menghindar, Soalnya jiwa pecundang itu menular!" Ejek Rino pada Hans.


Hans terus memikirkan kata kata Rino, "Apakah Aku yang menghalangi Disa untuk bahagia ya." Isi pikiran Hans


Rino berniat menemui kedua Orang Tua yang sedang mengobrol di teras bersama Wak Nana.


Rino langsung duduk di antara Wak Nana dan Sang Ibu.


" Ada apa, No?" Tanya Sang Ayah.


" Anak Ayah yang nomer satu pecundang amat, Dulu nyidamnya apa sih?" Tanya Rino.


Semua pun bingung mengartikan ucapan Rino.


" Maksud kamu gimana sih, No?" Tanya Wak Nana.


" Ya pecundanglah, Udah tahu Disa baik sama keluarga kita dan mau menerima dia apa adanya. Eh di suruh seriusin yang di jadikan alasan Arini. Sebalkan dengernya!" Jelas Rino.


Wak Nana pahan arah pembicaraan Rino.


" No, Kamu keponakan Uwak yang paling cerdas menyusun kata. Arah pembicaraanmu Uwak paham!" Sahut Wak Nana sambil tersenyum.


" Maksud' Kalian bagaimana?" Pak Romi mengerutkan kening.


" Ini tentang anakmu dan pacarnya Disa!" Jelas Wak Nana kemudian tertawa.

__ADS_1


" Lantas Hubungan dengan, Arin?" Ayahny masih belum paham juga.


" Mmmt...Karena Kakak'ku Hans itu terpaku pada Arin, Dia selalu menggunakan alasan Arin karena takut melangkah dan memberi komitmen pada Kakak Disa, Ayah Ibu tolong! Bantu Kakak buat memberanikan diri menentukan masa depan bersama Disa." Jelas Rino.


" Baiklah Nak, Ibu mendukung toh Nak Disa juga sudah mau menerima keluarga kita. Mari kita ke belakang menghampiri Kakakmu!" Bu Sara setuju dengan ide Rino.


Semua pun beranjak dari tempat duduk untuk menemui Hans dan Disa mengobrol tentang kelanjutan hubungan mereka.


Mereka melihat Hans termenung menatapi kolam ikan, Seolah memikirkan bebannya sendirian.


" Hans." Sapa Sang Ibu.


Hans pun menoleh, Ia tak menyangka Rino kembali dengan kedua orang tua dan Wak Nana.


" Kenapa ini? Ada apa ini?" Tanya Hans kaget.


" Ini biar kamu berani melangkah! Udah ku ceritakan semuanya..Hehehe" Sahut Rino tersenyum.


Rino langsung menghampiri Arini yang sedang bermain lari-lari bersama Disa.


" Dis, Sana di panggil Hans!" Ujar Rino di depan Disa.


" Ada apa itu kok rame sekali?" Tanya Disa melihat ke arah Rino.


" Iya Kak, Arin mau main sama Kak Rino. Kak Disa sana nanti Kak Hans menunggu." Arini seoalah mengerti isi kepala Kakaknya Rino.


Hans melihat Disa melangkah menghampiri dirinya dari kejauhan.


" Buk, Kenapa jadi deg-degan gini ya jantungku!" Ujar Hans tegang.


" Udah, Kalo Kamu nggak berani biar Wak Nana nanti yang ngomong!" Sahut Wak Nana, berdiri di samping Hans yang duduk di saung sambil menepuk nepuk pundak Hans.


" Nggak usah repot-repot Wak, Hans bisa sendiri." Kata Hans meyakinkan diri.


Hans menghela nafas panjang untuk mengumpulkan keberanian.


" Ada apa ya, Memanggil Saya. Hans?" Disa sampai di depan Hans.


" Nduk, Duduk dulu disini!" Bu Sara menunjuk tempat kosong di sampingnya.


Rino membopong Arini, Menghampiri semuanya untuk melihat Hans melamar Disa.

__ADS_1


Disa pun duduk di penuhi rasa penasaran karena di kepung keluarga Hans.


" Disa, Ini Aku memberanikan diri atas rasa sayangku. Aku ingin memperjelas hubungan kita dan memberikanmu kepastian di saksikan oleh Keluargaku, Maukah kamu jadi istriku?" Tanya Hans dengan tatapan lurus pada Disa.


Disa pun kaget, Karena ini tidak di rencanakan.


" Terima..Terima..Terima..." Triak Rino.


Disa pun wajahnya memerah karena malu, Ia pun mengangguk karena juga sudah menyayangi dan mencintai Hans.


" Yess.....Diterima...!" Triak Hans, Kemudian mengajak Arini menari karena mengungkapkan kegembiraannya.


Bu Sara langsung mendekap Disa dengan penuh kehangatan.


Rino sontak mendekati Wak Nana.


" Wak, Butuh sponsor nih. Buat nikahan Hans!" Bisik Rino di samping telinga Wak Nana dengan Lirih.


" Kamu, Emang bisa No. Yaudah tentuin tanggal nanti Wak Nana bantu." Balas Wak Nana dengan senyum melihat Hans yang menari-nari dengan Arini.


Pak Romi langsung menarik Rino karena mendengar obrolan Rino dengan Wak Nana.


Rino di bawa menjauhi semuanya.


" No, Kenapa kamu minta bantuan Wak Nana lagi untuk Kakakmu?" Ujar Sang Ayah kecewa.


" Emang kenapa, Yah?" Tanya Balik Rino.


" Kamu seakan memanfaatkan Uwakmu! Ayah nggak suka itu! Biar biaya nikah Hans nanti Kita cari bersama!" Pak Romi memelototi Rino.


" Yah, Aku disini membantu Wak Nana. Pasar Wak Nana akan Aku perluas, Sebagai ganti gajiku Aku ingin Uwak membantu saudaraku apa itu salah!" Jelas Rino.


" Aku sengaja tidak akan minta gaji ke Uwak, Karena Aku sadar hanya Wak Nana yang bisa bantu keluarga kita. Sekarang harus realistis Yah, Okey Ayah dengan prinsip Ayah yang tidak mau merepotkan! Tapi Apakah kita bisa Yah?" Imbuh Rino, Menyadarkan Sang Ayah.


Ternyata Wak Nana mendengar semuanya di belakang Ayahnya.


" Benar apa kata Rino, Aku setuju. Aku tidak membantumu cuma-cuma kan Rino di sini bekerja untukku! Buang pikiranmu yang seolah menerima batuanku cuma-cuma,Aku senang melakukan itu untuk keponakanku!" Sahut Wak Nana melangkah mendekati Pak Romi.


" Tapi Wak, Bukannya nolak bantuan. Hanya keluargaku sudah sering merepotkan Uwak! Takutnya nanti ketergantungan dengan Uwak!" Kelas Pak Romi masih mempertahankan perinsipnya.


" Aku paham maksudmu Dek, Hanya saja saat ini di sisa umurku hanya Aku ingin melihat keponakan kesayanganku hidup tidak kesusahan, Apa yang Aku cari lagi sih! Anak nggak punya, Istri sudah tiada. Anggap saja Aku menitipkan tubuhku pada keponakanku di hari tua nanti, Aku akan balik merepotkan mereka! Kamu jangan menganggap Aku dan Rino merendahkanmu, Karena Aku sudah tidak ada tujuan lagi selain melihat keponakan yang sudah Aku anggap anak sendiri untuk bisa bahagia!" Wak Nana menepuk Pundak Pak Romi sambil memberi pengertian.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Wak Nana, Pak Romi pun luluh dan mau menerima bantuan dari Wak Nana.


__ADS_2