
Perlakuan Hera,
Seketika berubah setelah kembali dari ruang Guru. Saat Istirahat Hera mengambil kursi kemudian menaruh di samping Dina duduk.
" Arin, Makan! Setelah itu minum obat'mu!" Kata Hera melihat Arini dengan nada tegas.
Dina, Nayla, dan Tary sontak terkejut dengan perkataan Hera tidak seperti biasanya.
" Kamu kenapa sih, Her?" Ujar Dina.
" Iya nih, Sejak kembali dari ruang Guru matamu fokus ke Arini terus." Imbuh Nayla.
" Ada apa sih, Ngomong dong!" Paksa Tary yang berdiri di belakang Hera bersama Nayla.
Mata Arini seperti memberi kode untuk tidak memberitahu kepada Sahabat-sahabatnya takut jikalau Mereka menjadi kecewa atas dirinya.
Namun, Hera mengindahkan kode dari Arini. Ia menatap Arini dengan tatapan tajam.
" Kalian bantu Aku buat jaga Arini, Karena tadi Bu Keisya dan Pak Isman memberitahu bahwa jika Arini kambuh semalam seminggu Ia akan di gantikan!" Jelas Disa, Dengan kedua tangan mengepal di atas meja karena kesal.
" Apa...?" Dina, Dengan wajah kaget.
" Benarkah itu!" Imbuh Nayla, Mengikuti keterjutan Dina.
" Arin, Jika benar berarti posisimu tetancam orang!" Kata Tary sambil memelototi Arini.
" Iya, Tapi Arin janji akan berusaha untuk tidak kambuh seminggu ini." Pungkas Arini sambil tersenyum, Melihat semua Sahabatnya.
" Aku akan bantu Kamu, Karena dirimu masih punya janji pada Kami!" Tutur Hera dengan nada tegas.
" Emang di sekolah ini ada yang lebih pintar dari Kamu ya, Rin? Kayaknya Enggak ada tuh siapa yang mau gantiin?" Tutur Dina memandang Arini.
Bu Keisya dan Pak Isman karena masih khawatir mereka datang ke kelas Arini, Melihat Arini sedang di kerubungi sahabat-shabatnya.
" Ini ada apa, Kok pada tegang sampai kami datang tidak ada yang tahu?" Sapa Bu Keisya dari belakang Hera.
" Bu, Bener Arin mau di ganti'in?" Tanya Tary, Meminta penjelasan.
" Emang Anak yang lebih pintar dari Arini ada, Bu?" Sambung Dina.
" Oh ini pasti soal itu ya, Hera apa kamu yang memberitahukan kepada semuanya?" Tanya Bu Keisya.
" Ya iyalah Bu, Biar Kami Sahabat-sahabat Arin semua mengawasi Arin agar tidak kambuh lagi!" Pungkas Hera.
Pak Isman mengambil kursi di samping meja Arini lantas duduk di samping Hera.
__ADS_1
" Bagus sih, Hanya saja juga jangan menekan Arin kasihan. Udah biasa aja kalian, Ingetin Arin saja jika lupa minum obat atau Ia melakukan sesuatu yang bisa membuat Ia sakit!" Kata Pak Isman menasehati perilaku Hera yang over protective.
" Iya Her, Dan ini untuk kalian semua kalau terlalu mengekang bisa itu pemicu Arin kambuh. Kita sama-sama jaga Arin!" Imbuh Bu Keisya.
" Ya udah, Kamu makan belum. Ntar Rin, Aku mau pesenin soto di kantin nanti Aku bawa kesini!" Kata Dina bangkit dari duduk.
" Hey Nona, Emang boleh mangkuk di bawa ke kelas?" Ujar Nayla.
" Kalo Kamu mungkin di larang, Tapi kalo sama Aku kan sudah Frendly ama Ibu kantin...Hehehe." Pungkas Dina.
" Din, Ini uang sekalian buat kalian!" Pak Isman memberi uang untuk makan semua muridnya.
" Kamu bawa obat kan, Rin?" Tanya Bu Keisya, Berdiri di samping tari.
" Iya Bu, Aku bawa. Juga Arin sudah bawa bekal buat makan obat dari rumah." Jawab Arini menatap Bu Keisya.
" Udah, Simpen aja dulu! Buat nanti istirahat ke dua!" Ucap Tary.
Dina langsung keluar kelas menuju kantin.
" Kenapa para Guru dan Bapak Kepala terbesit pikiran ganti'in Arin ya Pak, Dari mana ide itu muncul?" Tanya Nayla.
" Ya mungkin karena Mereka khawatir pada Arin karena peduli, Mereka juga tidak bisa di salahkan!" Sahut Bu Keisya.
" Iya, Emang sekarang Arin kondisi sering lemah." Tutur Arini, Dengan mimik sedih.
" Aku juga, Bakal mundur saja lah. Kalo sampe Sahabatku di gantikan." Imbuh Tary.
" Ok...Aku ikut!" Sambung Nayla.
" Ya jangan begitu, Perlombaan kalian itu juga buat masa depan kalian. Sudah jangan di pikirkan biar Kami yang menghalangi keputusan para Guru dan Bapak Kepala Sekolah." Sahut Pak Isman.
" Tapi enggak fair Pak, Hanya gara-gara kemarin saat mendukung Kami kambuh terus di jadikan patokan buat mengganti Arini." Tutur Hera, Menatap Pak Isman dengan wajah tegang.
" Udah...Udah...Kita buktikan saja pada Bapak Kepala Sekolah bahwa Arin bisa ikut lomba!" Bu Keisya melerai perdebatan.
Arini hanya menyimak, Dan Ia sadar ini semua perdebatan karena para Sahabat ingin membela dirinya.
" Kita lihat aja, Kalo sampek beneran di ganti!" Ancam Hera.
" Sudah Her, Arin nggak apa-apa kok. Kalo memang harus di ganti, Arin harap Kamu tetap lanjut berlomba Arin bakal dateng dan selalu suport Kamu, Her." Kata Arini, Menenangkan Hera.
" Ya pokoknya enggak gitu, Kalo gara-gara Kamu nggak mampu okeylah Kami terima tapi ini karena dirimu masih mampu loh Rin." Pungkas Nayla kesal.
Pak Isman dan Bu Keisya hanya menyimak obrolan anak didiknya, Mereka mencari celah agar tidak membuat suasana semakin gaduh.
__ADS_1
Kembalilah Dina di ikuti pelayan kantin membawa baki yang berisi pesanan Mereka.
" Ada apa ini, Kok diem-dieman!" Ujar Dina, Melihat semua wajah Sahabatnya tegang dan hening tanpa obrolan.
" Kami akan mundur dari lomba, Jika Arin di gantikan!" Tutur Tary.
" Oh...Kalo begitu kalian bodoh!" Pungkas Dina sambil tersenyum.
Pak Isman dan Bu Keisya pun kaget mendengar jawaban Dina.
" Kenapa Bodoh?" Tanya Bu Keisya.
" Ya iyalah Bu, Kan Bapak KepSek suka buat kesepakatan. Mending Kita buat kesepakatan janji kalo Arin tidak di ganti kita akan lebih prestasi, Tapi jika di ganti ya nama sekolah kita paling turun prestasi! Kita utarakan sama Pak KepSek." Ide Dina, Mempertahankan posisi Arini.
" Cerdas kamu, Din!" Sahut Pak Isman.
" Misi...Ini pesanannya." Pelayan Kantin menyela obrolan, Menaruh pesanan di meja.
Setelah itu Ia balik ke kantin.
" Udah, Nanti obrolan kita sambung lagi! Kalian makan dulu, Biar Kami nanti yang berjuang dulu di hadapan Bapak KepSek. Kita jalani kesepakatan awal dulu." Kata Pak Isman.
Mereka pun memakan nasi soto di hadapan mereka, Bu Keisya dan Pak Isman melihat murid-muridnya sambil tersenyum.
" Pak, Bu Kalian tidak makan?" Tanya Arini melihat Kepada kedua Guru.
" Kami nanti saja, Soalnya udah di siapin di meja Kami." Tutur Bu Keisya.
Ketika makan, Arini ingin mengambil minumnya es teh di hadapan namun di halangi oleh Hera.
" Kamu teh, Biasa!" Ujar Hera, Melihat Arini.
Arini pun mengikuti perkataan Sahabatnya Hera, Ia paham ini di lakukan Hera untuk menjaga kesehatannya.
Hera juga mendekatkan cangkir minum yang berisi teh hangat ke arah Arini.
" Iya, Rin. Sabar dulu nanti setelah lomba terserah mau minum apa." Tutur Nayla.
Yang duduk bersama Tari dan Dina di belakang Arini dan Hera.
" Iya, Arin ikut saja." Balas Arini, Sambil tersenyum.
Selesai Makan Arini langsung meminum obat, Kemudian Ia minum sebanyak-banyaknya karena rasa ingin muntah.
" Nih, Rin minumku! Aku tahu obatmu pasti rasa pahitnya tak tertahankan." Tutur Hera memberikan secangkir lagi teh hangat untuk Arini.
__ADS_1
" Baiklah, Sudah ya Bapak dan Ibu mau kembali ke ruangan. Kita ikuti kesepakatan dulu ya, Kalo mendesak ya nanti terserah kalian." Pamit Pak Isman bersama Bu Keisya, Mengembalikan kursi ke tempatnya kemudian keluar kelas.