
Arini di panggi ke ruangan oleh, Bu Keisya setelah Hans dan Disa pulang.
" Ada apa ya, Bu. Apakah Arin buat kesalahan? Apakah tadi Kakak Arin berbuat yang bikin Ibu marah sama Arin?" Tanya polos Arini duduk di hadapan Ibu Keisya.
" Enggak Arin, Justru Ibu senang bertemu teman lama Ibu yaitu Kak Disamu. Ini Arin, Ibu ingin meberitahukan bahwa Arin telah di ajukan sebagai peserta lomba cerdas cermat antar Smp. Apakah Arin bersedia?" Jelas Bu Keisya.
Arini pun tidak menyangka bahwa seperti yang Kak Hans bilang Ia bisa mewakili sekolahnya di perlombaan yang beradu fikiran.
" Besok Arin bisa menjawabnya Bu, Arin harus minta ijin ke Kakak Arin dulu." Arini memilih mendengarkan kata Kak Hans karena takut Ia akan marah.
" Masalah itu, Tadi Kak Hans sudah mengijinkan dan sangat senang mendengar kamu di ikutkan dalam lomba." Tutur Bu Keisya tersenyum.
Arini kecil pun langsung kegirangan, Karena Ia bisa bertemu teman-teman baru di lomba nanti dan memiliki kesempatan untuk mengharumkan nama sekolahnya.
" Terimakasih Bu, Memberikan Arin kesempatan untuk ikut lomba. Arin janji Arin akan berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi juara Bu." Kata Polos Arini.
Bu Keisya pun terharu, Lantas Beliau berdiri menghampiri Arini untuk di peluk.
" You're is Winner, Arin!" Ujar Bu Keisya.
Arini mebalas dekapan Bu Keisya, Setelah itu Bu Keisya menyuruh Arini kembali ke lapangan untuk mengikuti mata pelajaran olah raga.
Arini berlari ke arah Pak Isman dengan tersenyum lebar, Ia ingin Pak Isman tahu.
" Pak Guru, Arin ikut lomba!" Triak Arini sambil berlari.
Sesampainya di samping Pak Isman.
" Arin ikut lomba apa? Bapak ikut senang mendengarnya!" kata Pak Isman.
" Arin ikut lomba cerdas cermat, Pak." Jelas Arini.
" Bapak bangga Arin, Inget kata Bapak! Arin tidak boleh menyerah, Bila satu impian Arin tidak bisa Arin rengkuh percayalah Arin TUHAN menyiapkan prestasi di bidang yang lain asal Arin berusaha dengan sungguh-sungguh!" Nasehat Pak Isman kepada Arini.
Arini langsung memeluk sang Guru, Karena berkat Pak Isman Arini bisa bersemangat lagi menjalani hidup.
__ADS_1
Pak Isman adalah guru olahraga yang baru mengampu kelas Arini, Namun Ia sangat menyayangi Arini sekaligus terharu melihat Arini kecil yang sakit namun tetap semangat bersekolah.
" Yuk Rin, Duduk Bapak mau bercerita ini buat memotivasi Arin biar Kamu nanti semangat dalam mengikuti lomba!" Pak Isman mencari tempat teduh untuk mengobrol bersama Arini sembari mengawasi murid-murid lain ber olahraga.
Arini kecil mengikuti Pak Isman.
" Bapak, Itu pernah menang juara lari 500 meter sewaktu sekolah dulu. Motivasi Bapak sewaktu latihan hanya kata menang, Namun Guru Bapak bilang gini * Kamu jangan fokus ke kata menang, Tapi tanamkan di fikiranmu ini hanya pintu untuk melanjutkan mimpimu selanjutnya. Jangan jadikan beban lomba ini, Tapi jadikan semangat untuk membuat tersenyum orang-orang yang mendukungmu. Ketika kamu mulai ragu pejamkan mata lantas kamu bayangkan senyuman mereka kemudian tengadahkan tanganmu untuk berdoa* Dan benar dulu Bapa menang" Cerita Pak Guru memotivasi Arini.
Arini pun bersemangat mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Bell tanda selesai pelajaran olahraga berakhir.
" Yaudah, Arin sana bersiap ganti baju untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya!" kata Pak Isman.
Arini pun mencium tangan Pak Isman untuk pamit melanjutkan pelajaran, Pak Isman menyuruh semua siswa masuk ke kelas.
Jam selanjutnya pelajaran IPA, Arini kecil dan teman-teman berkenalan dengan guru pengampu.
Lalu melanjutkan pelajaran.
Semua teman-teman pun bertepuk tangan, Mereka sudah tidak kaget dan iri karena dari dulu kelas satu memang Arini yang selalu membantu mereka untuk menjawab soal yang mereka anggap sulit.
Arini pun di panggil ke depan kelas oleh Pak Guru, Untuk di berikan kata-kata motivasi.
" Arin, Lihat semua temanmu mendukungmu! Arin nanti saat lomba nggak usah terpaku pada juara, Inget aja pesan Bapak. Jika Arin merasa bingung diem kemudian tutup mata lalu berdoa!" nasehat Pak Guru.
Arini kecil pun mendengarkan Pak Guru dengan sungguh- sungguh.
" Terimakasih ya Pak, Arin pasti denger nasehat Bapak. Arin pasti melakukan Pak." Jawab Arini melihat Pak Guru.
Arini pun kembali ke tempat duduknya.
Ia mendengarkan dengan sungguh- sungguh penjelasan Pak Guru tetang pelajaran yang di ampu.
Bell..tanda istirahat,
__ADS_1
Arini duduk sendiri di dalam kelas, Ia membuka bekal yang di bawa dari rumah.
Bu Keisya masuk untuk mengambil buku di kelasnya.
" Arin nggak istirahat?" Tanya Bu Keisya.
" Arin sudah bawa bekal, Bu. Uang saku Arin mau Arin kumpulin buat beli tv Bu, Karena tv di rumah Arin sudah di jual untuk pengobatan Arin." Jelas Arini kecil.
Bu Keisya pun terdiam, Sebegitu mandiri dan Sangat mencintai keluarga. Sangat jarang anak seusianya tidak ingin merepotkan orang tua dengan permintaannya, Hal itu mebuat Bu Keisya ingin mengenal Arini lebih dekat.
" Ya udah Arin, Selamat makan ibu tinggal dulu!" Bu Keisya meninggalkan Arini sendirian.
Arini menghentikan makan, Hanya untuk mencium tangan Bu Keisya.
Tak lama Bu Keisya balik lagi membawa bekal untuk di santap bersama Arini di meja Arini.
" Ibu boleh ya makan disini?" Tanya Bu Keisya.
Arini pun mepersilahkan.
" Kalau gini jadi inget, Waktu Ibu bersama Kak Disa. Dulu Ibu nggak di beri uang saku karena keluarga Bu Keisya berkecukupan, Kakak Ibuk berkuliah dengan bekerja paruh waktu untuk biaya kuliahnya sendiri. Yah dulu Kak Disa, Rin yang sering nemenin Ibu makan di meja kayak gini Dia teman Ibuk yang paling pengertian sama Ibu, Disa sengaja membawa lauk double buat Ibu karena Ibu hanya berlauk seadanya dulu. Dari itu Ibu janji, Harus berpendidikan tinggi untuk merubah nasib keluarga Ibu." Cerita Bu Keisya.
" Cita-cita Ibu dulu Guru?" Tanya Arini kecil polos.
" Bukan, Cita-cita Ibu dulu sebagai Peneliti. Yah, Karena rejeki Ibu di Guru mungkin TUHAN mengubah nasib Ibu ya dari sini Rin. Kadang yang kita cita-citakan tidak terwujud karena TUHAN telah menyiapkan rencana terbaiknya untuk kita, Arin juga harus tetap semangat untuk terus menggapai cita-cita Arin! Ibu yakin suatu hari Arin pasti bisa jadi orang sukses, Nanti jangan lupain Ibu ya!" Ujar Bu Keisya terus memotivasi Arini.
" Aamiin Bu, Arin pasti nggak akan lupa dengan Ibu, Pak Isman dan Guru yang lain. Doain ya Bu, Arin bisa sukses." Kata Arini kecil.
" Tentu, Tentu Arin!" Balas Bu Keisya.
" Arin suka sedih jika melihat Ayah Ibu dan Kak Hans selalu mengorbankan apa pun demi merawat Arin, Tiap Kali Arin masuk rumah sakit karena penyakit Arin mereka selalu mengorbankan barang yang mereka sayangi demi Arin. Arin hanya ingin kelak jika Arin sukses, Kak Hans, Kak Rino dan kedua orang tua Arin bisa kembali mempunyai barang yang mereka jual demi Arin. Ini aja Kak Rino harus bekerja di Uwak demi melunasi hutang untuk berobat Arin Bu, Arin merepotkan mereka ya Bu?" Cerita Arini.
Bu Keisya yang mendengar lantas memeluk Arini, Ia terharu dengan kisah Arini.
" Ibu yakin Arini bisa." Tutur Bu Keisya, Sembari memeluk Arini.
__ADS_1