Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Kecemasan


__ADS_3

Hera dan Dina setelah menerima piala,


Buru-Buru menghampiri Arini yang ada di bawah panggung.


" Ini buat Kamu, Rin." Ujar Hera memberikan pialanya.


" Ini juga buat Kamu, Sahabat terbaikku." Imbuh Dina menyodorkan piala.


" Terimakasih semua, Kalian Sahabat terbaik Arin juga." Balas Arini kecil memegang kedua piala.


" Yuk, Ibu foto kalian semua merapat!" Perintah Bu Keisya sambil tersenyum.


Ketiganya pun merapat sambil memegang Piala dengan posisi Arini di tengah, Hera di Kanan, Dan Dina di kiri.


" Ok..Sudah!" Ujar Bu Keisya.


" Sekarang tambah Bu Keisya dan Bapak Guru, Biar Saya yang foto." Tutur Arini, Meminjam hp Bu Keisya.


" Oke sudah." Kata Arini.


" Yuk, Kita segera lihat Nayla dan Tary sapa tahu mereka butuh dukungan kita." Ucap Hera mengajak semuanya.


Mereka pun berjalan untuk berpindah ke gedung di sebelah lapangan.


Belum begitu lama melangkah, Tiba-tiba Arini menunduk merasakan sakit yang amat sangat.


" Akh....Akh..." Suara Rintihan Arini, Sambil memegangi pinggangnya.


" Kenapa Kamu, Rin?" Ujar Panik Bu Keisya, Yang membuat semuanya ikut panik.


Dari tribun Disa melihat Arini di pegangi Bu Keisya.


" Hans, No Ayo kita segera ke Arin. Lihat sepertinya Ia kesakitan." Ucap Disa langsung berlari terburu-buru di ikuti Hans dan yang lain.


" Arin...Arin...." Teriak Hera, Terus khawatir dengan sahabatnya.


Sayup-sayup mata Arini mulai tak jelas, Ia tak kuasa menopang badannya yang selanjutnya Ia terjatuh di tangan Bu Keisya.


Pak Isma sontak, Membopong tubuh Arini untuk di gendong ke pusat kesehatan.


" Kalian semua lanjutkan mendukung sahabat kalian, Biar Aku dan Kakak Arin yang akan merawat Arin." Pungkas Pak Isman.


Begitu sampai Disa dan Kakak Arini langsung menyusul ke arah Pak Isman.


Hera, Dina pun terdiam melihat sahabatnya tak berdaya di bopong oleh Pak Isman.

__ADS_1


" Apa Ia kecapek'an karena datang mendukung kita, Apakah Arin kambuh karena memaksakan diri untuk melihat kita" Gumam lirih Hera, Merasa bersalah.


" Aku mau lihat, Arin!" Ujar Dina ingin berlari, Namun tangan Dina di pegang Bu Keisya untuk menghentikannya.


" Arin hanya kelelahan, Meski pun di larang pasti Ia akan datang untuk Kalian. Jangan menyalahkan diri, Kalian sudah menepati janji begitu pula Arin. Biarkan Pak Isman dan Kakak-Kakaknya yang merawat Arin, Mari kita wujudkan permintaan Arin untuk mendukung Nayla dan Tary!" Kata Bu Keisya, Menghentikan kesedihan Hera dan Dina.


Hera masih melihat sepatu pemberian Arini, Ia bersedih melihat ternyata benar Arini menderita penyakit.


" Maafin Aku, Rin. Kamu harus memaksakan diri hanya untuk Kami." Tutur Hera, Lirih.


Bu Keisya menepuk pundak Hera sambil berujar " Dia sahabat Kalian kan, Kita haya bisa mendoakan agar Ia tidak kenapa-napa! Untuk Kalian ayo segera kita dukung Nayla dan Tary!" Bu Keisya tak ingin muridnya larut dalam kesedihan.


Di temani Pak Isman Rino dan Disa Arini di bawa dengan ambulans yang di sediakan panitia ke rumah sakit terdekat.


" Arin....Bangun.....Arin!" Panggil Disa, Sambil menggenggam tangannya.


" Arin...Ayo...Bangun...Kak Rino di sini, Arin kesini kan mau mendukung sahabat-sahabat Arin." Imbuh Rino, Dengan nada sangat khawatir.


Arini pelan-pelan membuka mata sipit, Ia melihat dirinya di kelilingi Kakak dan Gurunya. Mulut Arini di pasangi oksigen sehingga kata-kata Arini tak terdengar jelas.


" Arin ngomomg apa?" Tanya Rino.


Belum sempat menjawab, Arini kembali pingsan.


" Apakah kalo kambuh Arini, Begini?" Tanya Pak Isman, Menatap Kedua Kakak Arini.


Disa langsung melihat tas Arini yang Ia bawa, Ia membuka tas untuk memastikannya.


" Iya No, Arin nggak bawa obatnya berarti tadi pagi Ia buru-buru kesini hingga lupa meminum obatnya." Kata Disa setelah melihat barang bawaan Arini di tas.


Hans dan Ikhsan menyusul dengan meminjam motor milik Bu Keisya di belakang mobil Ambulans.


Disa terus menangis melihat kondisi Arini yang wajahnya makin pucat.


" Andai tadi Aku kontrol dulu, Pastilah Arin tidak kayak gini." Ujar Rino, Tidak mengecek apakah Arini meminum obat atau tidak di saat di rumah.


" Udah, Semoga Arin tidak apa-apa! Kita berdoa saja terus." Kata Pak Isman menenangkan.


Setelah 10 menit mereka tiba di Rumah Sakit.


Arini langsung di bawa menuju ruang tindakan darurat karena keadaannya yang semakin parah.


" Maaf, Boleh Saya tahu mana keluarga pasien?" Tanya Dokter keluar setelah memeriksa kondisi Arini.


" Iya Saya Dok, Bagaimana?" Jawab Rino.

__ADS_1


" Adik anda apakah mengidap penyakit tertentu?" Tanya Bu Dokter, Mengajak Rino bicara empat mata.


" Iya Dok, Ada sumbatan di ginjalnya. Apakah Adik saya baik-baik saja Dok? Soalnya ini ada obat dan dari pagi Ia belum meminum obat tersebut Dok." Jelas Rino.


" Kami akan lakukan tindakan medis, Mas. Itu mungkin salah satu penyebab Adiknya kambuh." Kata Bu Dokter, Lantas kembali ke dalam ruang tindakan.


Hans berlari menuju ruang tindakan bersama Ikhsan.


" Gimana Dis?" Tanya Hans, Setelah sampai.


" Dokter baru melakukan tindakan." Jawab Disa.


Rino duduk tertunduk di kursi tunggu depan ruangan.


" Kenapa bisa kambuh, No?" Tanya Hans, Menghampiri.


" Kita kecolongan, Arin belum makan obatnya dari pagi dan kata Dokter itu mungkin salah satu penyebabnya. Terus di tas Arin setelah di periksa Disa, Arin juga tidak membawa obatnya untuk di makan siang ini!" Terang Rino, Tertunduk memegangi kedua kepala dengan tangannya.


Bu Dokter di ikuti perawat keluar dari ruangan, Hans dan Rino buru-buru menghampiri.


" Bagaimana Bu Dokter?" Tanya Hans, Dengan khawatir.


" Sudah tidak apa-apa, Kita tinggal menunggu Adiknya siuman. Oh ya Mas, Silahkan urus dulu admisnistrasi sembari menunggu Adiknya siuman." Perintah Bu Dokter, Lalu meninggalkan ruangan bersama perawat.


Pak Isman duduk terdiam hanya melihat ke arah pintu ruang tindakan.


" Arin..Arin...Sungguh kasihan kamu Nak, Masih kecil sudah menderita penyakit yang menyebabkan dirimu di batasi dalam pergaulan." Gumam lirih Pak Isman, Peduli dengan Arini.


Disa duduk di samping Hans, Sedang Rino sedang ke ruang administrasi.


" Padahal Aku kira penyakit itu sudah tidak akan kambuh lagi, Ternyata hanya gara-gara Kami kecolongan penyakit itu muncul kembali. Aku harus meningkatkan pengawasan terhadap jadwal Arin minum obat, Kalo perlu Aku yang tunggu!" Ujar Hans.


Hans menghampiri Pak Isman.


" Permisi Pak, Kalo Bapak ingin kembali ke perlombaan untuk melihat anak didik Bapak ini kunci motor Bapak dari Bu Keisya, Motornya ada di parkiran samping dan ini tiket parkir sekaligus uang parkir Pak." Tutur Hans, Memberikan Kunci, Tiket dan Uang.


Pak Isman hanya menerima Kunci dan Tiket, Uangnya Ia kembalikan ke Hans


" Sudah ya Mas, Maaf tidak bisa menunggui Arini soalnya baru mengawasi siswa siswi." Pamit Pak Isman kemudian menyalami Hans kemudian melangkah pergi.


" Ibu gimana, Hans?" Tanya Ikhsan duduk di kursi.


" Jangan kabari, Biar Aku dan Rino yang menangani kasihan Beliau masih sedih karena Ayah." Balas Hans.


Kemudian Hans melihat dari kaca pintu ruang tindakan melihat sang Adik yang di pasangi oksigen dan infus beserta alat untuk mengecek jantung di badannya.

__ADS_1


" Sabar Sayang, Sekali lagi Dirimu dan Keluargamu sedang di uji." Tutur Disa memegang Bahu Hans.


__ADS_2