Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Turis Part 2


__ADS_3

Aoran dan Evan sampai di pelabuhan samosir setelah turun dari kapal, Evan mulai mencari lokasi tempat penginapan, karna tidak tahu arah jalan mereka bertanya kepada penduduk setempat yang kebetulan lewat.


"Bu, kami mau nanya, dsini ada penginapan." Tanya Evan dengan sikap sopan.


Ibu itu terlihat mengenakan pakaian bercorak ulos, ibu itu mengerti apa yang mereka ucapkan tapi tidak bisa berbahasa indonesia, petunjuk yang ibu itu katakan menggunakan bahasa batak toba


"Adong,,,disan nga jonok. Mardalan ma tokin nai taridah do akin penginapan tuk-tuk view inn." Ucap ibu itu dengan menunjukkan arah.


Evan bengong, kebingungan. "Maaf Bu, maksudnya apa." Tanya Evan dengan sopan.


Mereka bingung dengan ucapan ibu itu, ekspresi mereka yang kebingungan terlihat oleh ibu itu, kemudian ibu itu memanggil seorang laki-laki yang sedang lewat, dalam bahasa batak ibu itu menjelaskan maksud dari Aoran dan Evan.


"Mau cari tempat penginapan nak." Tanya seorang bapak.


"Iya Pak." Saut Aoran ramah.


Dengan ramah dan sopan bapak itu menjelaskan lokasi penginapan sambil menunjuk-nunjuk arah.


"Dekat sini ada namanya penginapan tuk-tuk view inn, berjalan lurus saja melalui jalan ini, nanti ada tulisannya nama penginapan tuk-tuk view inn nak." Penjelasan bapak itu.


Dengan senyum Aoran dan Evan mengucapkan terima kasih kepada ibu dan bapak itu.


"Terima kasih Pak, Bu." Aoran dan Evan menundukkan kepala.


Mereka mulai berjalan seperti arahan yang diberikan bapak tadi, akhirnya mereka sampe dipenginapan.


Penginapan tuk-tuk view inn adalah salah satu penginapan yang terbaik disamosir, setiap kamar yang disediakan memiliki sebuah balkon, dari balkon pengunjung dapat menikmati pemandangan danau.


Mereka chekin memesan satu kamar dengan twin bed.


"Aduh,,, capek banget, gue mau tidur sebentar." Ucap Evan sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.


Aoran membuka tirai kamar, pemandangan nya sangat indah dia dapat melihat luas danau, di berjalan menuju ke balkon dan menyandarkan tangannya sambil menikmati udara segar.


Aoran menikmati pamandangan dari balkon. "Setelah ini mungkin aku tidak akan setenang ini." Suara Aoran serak seakan ada kesedihan dihatinya.


Aoran menghirup udara segar, sedalam-dalamnya dia menikmati udara yang masuk kedalam paru-parunya, kemudiaan dihembuskan pelan-pelan.


"Huh, mungkin akan ada hal yang menarik terjadi disini. Aoran semangat, nikmati harimu yang tersisa." Ucap Aoran menyemangati dirinya.


Aoran kembali masuk kedalam, dilihatnya Evan tertidur pulas. Dia mulai membereskan barang-barangnya. Setelah itu dia membersihkan diri. Malas membangunkan Evan. Aoran turun dan berjalan melihat sekitar penginapan. Aoran tiba ketepi danau, suara ombak dari danau membuatnya masih ingin tinggal sebentar lagi.


***


Malam hari.


Aoran yang baru datang melihat Evan duduk di restoran dekat penginapan.

__ADS_1


"Fritsch." Panggil Evan.


Aoran mendekat. "Kebetulan gue udah lapar." Ucap Aoran duduk, merebut makanan pesanan Evan.


Evan tidak keberatan memesan kembali makanan untuknya.


"Darimana aja." Tanya Evan.


"Dari danau, cari udara segar." Wajah Aoran yang terlihat sedih.


"Lu kenapa Fritsch. Cerita ke gue." Evan melihat kerah Aoran. "Apa masalah perjanjian antara lu sama Om." Evan dengan suara kaku.


"Iya. Rasanya memikirkan perjanjian itu gue kesal banget, dari dulu selalu begini. Memutuskan seenaknya aja." Kata Aoran memainkan sendoknya diatas makanan.


Evan berusaha mencairkan suasana. " Sebaiknya gk usah dipikirin, selama disini kita senang-senang. Kalau bisa kita cari cewek cantik untuk senang-senang." Ucap Evan.


"Betul juga." Saut Aoran.


Alasan Aoran pergi berlibur bukan hanya karena ingin menikmati keindahan pulau melainkan karena sesuatu hal dia menghindar dari jangkauan orangtuanya. Berusaha pergi tanpa kabar selama tiga bulan dan tidak ingin berhungan dengan orang tuanya.


Hari mulai gelap setelah selesai makan malam Aoran dan Evan beristirahat, rencana besok mereka ingin mendaki gunung.


***


Kebiasan Aoran di pagi hari adalah olah raga.


Aoran dengan pakain kaus putih, celana pendek sedang jogging dipagi hari. Keringat yang bercucuran ditubuhnya, suaranya terngah-ngah semakin membuat Aoran terlihat lebih seksi.


Kaum wanita yang tertarik dengannya tanpa malu mengajak Aoran kenalan.


"Hallo." Sapa seorang wanita.


Aoran hanya melihat dan memberikan senyum tipis.


Wanita itu tidak tahu dengan bahasa ekspresi. "Boleh kenalan. "Tanyanya memberi senyum. "Namaku Shelly." Mengulurkan tangannya.


"Maaf bukannya aku tidak mau kenalan, tapi istriku sedang hamil, takutnya dia tahu dan mendatangimu. Istriku sangat menakutkan ketika aku dekat dengan wanita lain." Saut Aoran memberi alasan atas penolakannnya.


Wanita itu tidak berani melanjutkan, dia pergi dengan wajah malu karena mendekati laki-laki yang bersuami.


Aoran tertawa tipis, rasanya senang melihat leluconnya berhasil mempermainkan hati wanita itu.


Aoran beranjak kekamarnya. Didalam kamar dia masih mendapati Evan masih tidur.


"Bangun Van. Lu pemalas banget." Ucap Aoran menarik selimut Evan.


"Bentar Fritsch, gue masih ngantuk. Tunggu 5 menit lagi." Evan merengek menarik selimutnya kembali.

__ADS_1


"Ok. Kalau lu gk bangun gue tinggal lu, gue jalan-jalan sendiri." Melemparkan bantal ke Evan.


Ancaman Aoran berhasil, Evan bergegas bangun.


"Ok. Gue sudah bangun. Puaskan." Rambut Evan yang masih berantakan.


"Sana mandi, lihat wajahmu, kusut banget." Kata Aoran melemparkan handuk pada Evan.


***


Pagi ini rencana mereka mendaki gunung. Dengan membawa tas yang isinya perlengkapan yang mereka butuhkan ketika mendaki.


Sampai dipegunungan Aoran dan Evan mulai mendaki gunung dengan membawa seorang pemandu.


Melihat dari atas gunung, Aoran dan Evan melihat keseluruhan pulau, danau tenang dengan beratapkan langit biru, pepohonan hijau menambah nuansa kehindahannya.


"Ouuuhhh,,,bagus ya." Dengan serentak mereka mengucapkan kata hal yang sama.


"Gk nyesel gue datang kesini Fritsch."


"Ouu gue juga, biasanya gue pergi berlibur keluar negeri. Belum pernah melihat yang seperti ini. " Saut Aoran menikmati pemandangan.


Setelah turun dari gunung mereka singgah di air terjun. Ditempat air terjun begitu ramai


Evan tertarik menikmati air terjun. "Fritsh, mandi yok" Berusaha mengajak.


"Ah,, malas. lu aja gue tungguin disini." Ucap Aoran menolak.


Evan melepas pakaianya kemudiaan masuk ke dalam air. "Uhhh,,, dingin banget airnya, tapi segar juga sih." Menceburkan diri ke dalam air.


Sedangkan Aoran sibuk mengambil foto, Evan kemudiaan meminta kamera yang dipegang Aoran, alasan mau foto sama cewek cantik, setelah kamera ditangan Evan dia mendorong Aoran ke dalam air.


Byurr,,,,,Aoran terjatuh dan tercebur kedalam air.


"Hahahaha,,, habisnya sih lu nolak, terpaksa deh cari akal." Tawa Evan puas melihat Aoran tercebur.


"Awas lu Van, kalau ketangkep sama gue." Wajah Aoran sedikit kesal berusaha membalas Evan.


"Ampun Fritsch, gue salah." Ucap Evan dengan senyum polos supaya Aoran luluh.


Karena sudah terlanjur basah Aoran pun ikut menikmati segarnya air terjun, mereka berdua berendam dan sambil bercanda-canda memainkan air.


***


Selama 2 hari Aoran dan Evan menikmati perjalannya sebagai turis di samosir, banyak tempat yang sudah mereka kunjungi, bagi mereka samosir itu menarik dan alamnya masih segar.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2