
Tap,,,tap,,,tap. Suara langkah Aoran.
Aoran kembali menuju kekamarnya dan mengambil dompetnya.
Dari semalam Evan sempat mencari Aoran, sangking lama menunggu Aoran, dia tertidur. "Fritsch, semalam lu tidur dimana." Tanya Evan saat melihat Aoran kembali.
Aoran menceritakan semua tentang kedatangan Ardella dan apa yang dialaminya, tapi tetap merahasiakan hubungannya yang sudah mendalam dengan Ardella.
Mendengar cerita Aoran, dia merasa ikut sedih. "Kasihan juga ya Ardella." Ucap Evan sedikit empati.
"Hmm." Tidak berkomen dan hanya bergegas untuk pergi lagi.
"Sekarang lu mau pergi kemana lagi." Tanya Evan melihat Aoran membuka pintu kamar.
"Mau keluar beli pakaian untuk Ardella sekalian beli sarapan." Ucapnya berjalan kembali mengambil jaketnya.
Aoran mencari toko terdekat disekitar penginapan, dia juga tidak sungkan untuk bertanya pada orang. Selang beberapa menit, Aoran menemukan sebuah toko. Dia masuk kedalam, mencari pakaian khusus wanita. Sedikit canggung, dia memilih baju dan mengambil sepasang dalaman, dengan cepat dia menuju kasir untuk membayar belanjaanya.
Ardella menunggu Aoran kembali, bosan menunggu dia membersihkan diri. Ardella melihat kearah balkon sambil berjalan menuju balkon. Diatas balkon Ardella melihat luas danau, hembusan angin membuat rambutnya tergerai dibawa oleh arus angin. Ardella tersenyum sendiri, sudah lama dia tidak memperhatikan keindahan danau. Selama ini hari-harinya tidak berwarna, tapi semenjak kedatangan Aoran kedalam hidupnya harinya sedikit berwarna.
Ardella merentangkan tangannya, menerima sinar matahari, dan ingin mendapatkan kekuatan alam. Selesai menikmati pemandangan dari balkon, Ardella kembali melangkah masuk.
"Kelihatan sekali kasurnya kotor." Gumam Ardella melihat noda merah diatas spray berwarna putih.
Kembali ke Aoran yang sedang menuju kepenginapan.
Aoran kembali ke kamar Ardella dengan membawa pakaian dan makanan. Dilihatnya Ardella sudah membersihkan diri dan mengganti sepray kasur. Dia meletakkan pakaian dan makanan diatas meja.
Langkah Aoran mendekati Ardella kemudiaan kedua tangannya memeluk Ardella dari belakang. "Apa kamu menyesal melakukannya denganku." Tanya Aoran.
Ardella merasakan pelukan Aoran. "Karena itu kak Aoran aku tidak menyesal." Membalikkan tubuh dan meletakkan kedua tangan diatas leher Aoran dan tersenyum tipis.
Senang mendengar jawaban Ardella. dia mengecup kening Ardella. "Terima kasih Ardella." Kecupan hangat dan indah dipagi hari. "Ah, aku sudah membelikanmu pakaian, sekarang kamu boleh ganti baju dan tidak perlu lagi memakai bajuku yang kebesaran." Kata Aoran tersenyum menunjukkan belanjaanya.
"Hahaha. Baiklah aku akan ganti baju dan lihat bagaimana kak Aoran membelikanku baju." Tawanya mendengar ucapan Aoran.
Ardella mengambil pakaian itu dan mengenakannya didalam toilet, ukuran pakaian dalam dan branya sangat cocok untuk Ardella, baju yang dipilih oleh Aoran sangat bagus saat dikenakan oleh Ardella. "Kak ukurannya pas banget." Keluar dari toilet secara tidak sengaja mengucapkannya.
Wajah Aoran memerah karena mendengar perkataan Ardella. Pastinya Aoran tahu karena semua bagian tubuh Ardella sudah dilihatnya.
"Ayo sarapan dulu." Ucap Aoran mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Iya kak." Kaki dan cara Ardella berjalan masih sedikit aneh saat menuju sofa.
Aoran dan Ardella mulai menyantap sarapannya.
"Uhuk." Ardella cegukan saat mengunyah.
"Pelan-pelan saja makanya." Ucap Aoran memberikan minuman kearah Ardella. Dia memegang gelasnya mengarahkan Ardella minum lebih pelan lagi.
Ardella menepuk dadanya dengan pelan. "Airnya." Ucapnya sekali lagi.
Aoran memberikan air yang masih dipegangnya.
Selesai makan Aoran menanyakan apakah dia akan kembali kerumahnya hari ini. Tetapi Ardella masih menolak untuk pulang dan masih ingin tetap tinggal, karena itu Aoran berusaha untuk mencari sesuatu yang membuat Ardella tidak bosan.
"Bagaimana kalau kita nonton film lewat laptop." Kata Aoran memberi saran agar Ardella tidak bosan.
"Baiklah kak." Sautnya.
Aoran menghibur Ardella selama beberapa hari ini. Mereka banyak melakukan kegiatan bersama, baik Aoran maupun Ardella terlihat senang bersama.
***
Pagi hari yang cerah.
Ardella merapikan rambutnya dan memakai baju lamanya. Aoran masih terbaring diatas ranjang. Berusaha membangunkan Aoran, dia menarik selimut.
Aoran meraih tangan Ardella, menariknya kedalam pelukannya. "Ahh. " Suara Ardella jatuh kepelukan Aoran. "Pagi-pagi sudah menggodaku. " Ucapnya mendekatkan wajah Ardella ke tatapannya.
"Kapan aku menggoda kak Aoran." Senyumnya sambil mengulurkan lidah sedikit keluar.
"Muach." Mencium Ardella dengan dekat. "Jangan menggodaku lagi atau akan melakukannya sekali lagi." Ucap Aoran membalikkan tubuh Ardella.
Aoran menindih Ardella, ada pandangan agresif dimata Aoran. "Kak hari ini aku ingin pulang, gk baik terlalu lama disini, mungkin ayah juga sedang khawatir karena aku tidak pulang selama tiga hari." Ucap Ardella. Menahan agar Aoran mengurungkan niatnya.
Mengingat tubuh Ardella yang masih lemah, Aoran khawatir Ardella akan disiksa lagi. "Apa kamu yakin." Tegasnya.
"Aku harus pulang kak." Saut Ardella menatap Aoran.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, kalau ada apa-apa kamu harus langsung datang padaku." Berkata dengan tegas.
"Siap kak." Mengangkat tangan seperti memberi hormat.
__ADS_1
Tidak tenang membiarkan Ardella pulang sendirian. "Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang." Ucap Aoran kembali.
"Ok."
***
Perjalanan pulang.
"Antaranya sampai disini saja kak, takut ayah lihat." Ucap Ardella.
Tidak rela Ardella kembali kerumahnya, tapi dia juga tidak dapat memaksa Ardella tetap tinggal bersamanya. "Baiklah." Ucapnya menyentuh pipi Ardella.
Ardella beranjak masuk kedalam rumahnya, sedangkan Aoran masih menunggu lebih lama, dia takut terjadi sesuatu pada Ardella.
Aoran yang mengantar pulang Ardella terlihat oleh Leli, ketika melihat Aoran begitu tampan rasa iri dan dengki semakin tinggi dihati Leli, sebenarnya bukan ini pertama kalinya Leli melihat Aoran, mereka pernah berpapasan tapi Aoran sedikitpun tak meliriknya, sedangkan Leli tertarik dengan Aoran berharap Aoran meliriknya.
Ayah Ardella sedang duduk diruang tengah. "Darimana saja kamu selama 3 hari ini." Tanya ayah Ardella.
Ardella Hanya diam dan langsung menuju kekamar, ditutupnya pintunya, dia masih tidak ingin berbicara dengan ayahnya. Ardella menuliskan isi hatinya dibuku diary. Menuliskan pertengkarannya dengan ayahnya, menuliskan bagaimana hatinya hancur saat ditampar oleh ayahnya.
Kembali kepada ayah Ardella yang masih melihat kearah pintu kamar Ardella. Selama Ardella tidak pulang ayahnya tidak bisa tidur dan sangat khawatir terjadi sesuatu pada Ardella, bahkan ayah Ardella kerumah Ririn untuk mencarinya tapi Ardella tidak disana, untuk menanyakan ke Ardella ayahnya takut kalau Ardella pergi lagi. Ayahnya tidak memperpanjang masalah lagi, melihat Ardella pulang membuatnya lega.
Disisi lain Ibu tirinya dan Leli merasa kesal melihat Ardella kembali kerumah.
"Ibu tadi aku melihat Ardella diantar sama cowok." Ucap Leli.
" O,,, ya itu sepertinya berita yang bagus." Ucap ibunya Leli.
"Maksud ibu apa."
"Kalau memang seperti yang ibu pikirkan terjadi maka itu hal yang akan menarik." Kata ibu Leli tersenyum mengangkat alis matanya.
"Memang apa yang ibu pikirkan." Tanya Leli kembali belum mengerti sama sekali.
"Kita tunggu aja dulu."
Leli yang tidak mengerti yang dimaksud ibunya itu tidak bertanya lagi, tapi dia juga ikut menantikan apa maksud yang dikatakan ibunya.
πππ
Bersambung
__ADS_1