
Keesokan hari.
Ardella dan Aoran kini sudah berada dipelabuhan. Mereka melangkah masuk dan menunggu keberangkatan kapal.
Aoran melihat Ardella terlihat biasa-biasa, hari ini Aoran ingin menghibur Ardella, dia ingin melihat sisi ceria Ardella. Aoran sudah mempersiapkan cara untuk menghibur Ardella yaitu mewujudkan impian Ardella.
"Nona, bisakah aku bertanya tempat paling menarik disini." Ucap Aoran dengan cara bicara berbeda. Sebelumnya Aoran telah tahu bahwa Ardella berkeinginan menjadi seorang pemandu wisata didaerahnya.
Ardella merasa bingung dan aneh mendengar panggilan nona dari Aoran. "Maksudnya apa?. Nona, panggilan aneh." Ucap Ardella memasang wajah datar.
Aoran berusaha menjelaskan maksudnya. "Hari ini kamu bukan Ardella melainkan pemanduku." Ucapnya memberi senyum.
Ardella masih belum paham maksud Aoran, dia membuang muka tidak menanggapinya. Diatas kapal, dia asik melihat ombak yang diakibatkan jalan kapal.
Aoran berusaha membuat Ardella mengerti, tangannya memutar tubuh Ardella untuk menghadap kearahnya. "Aku dengar dari Ririn kamu ingin jadi pemandu wisata, jadi hari ini kamu khusus jadi pemanduku." Ucap Aoran kembali.
Ardella terkejut bahwa Aoran tahu cita-citanya. Sudah lama dia tidak mendengar dari seseorang tentang cita-citanya. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa cita-citanya rendah, tapi bagi Ardella menjadi pemandu berarti bertemu dengan orang baru. Ardella sangat suka berkeliling sambil bercerita, dia suka saat dimana banyak orang disekitarnya. Ardella selama hidupnya penyendiri, tidak selamanya Robin dan Ririn menemaninya.
Aoran kembali memainkan perannya. Dia berperan sangat baik. "Nona, kenapa itu disebut batu gantung. " Membalikkan badan Ardella sembari menunjuk.
Karena melihat Aoran begitu serius. Ardella juga ingin mencobanya menjadi seorang pemandu untuknya. Meski untuk sehari dia ingin hidup sesuai keinginannya.
Ardella mulai menjawab pertanyaan Aoran, pandangannya tertuju pada batu gantung. Sedikit tahu ceritanya, dia berusaha menjelaskan. "Orang-orang disini menyebutnya batu gantung. Dahulu katanya batu gantung itu adalah jelmaan seorang wanita yang melompat. Alasannya melompat karena tidak ingin dijodohkan. Coba kamu lihat ada batu kecil disebelahnya katanya itu seekor anjing." Menceritakan pada Aoran sambil menunjuk keatas.
Aoran kembali mengikuti alur permainannya, dia mengadah keatas melihat apa yang ditunjuk oleh Ardella. Aoran merasa senang ketika Ardella mau mengikuti permainannya.
Ardella masih sedikit kaku, dia melirik Aoran yang berada disamping. Berusaha kembali, dia menunjukkan ekspresi ramah dan tersenyum tipis diwajahnya.
Aoran sangat santai menanggapi cerita Ardella. dia juga mengangguk seakan cerita Ardella sangat menarik perhatiannya. "Apa cerita itu benar." Ucap Aoran seakan penasaran.
"Antara benar dan salah tidak dapat kita pastikan, cerita itu berasal dari cerita turun-temurun oleh nenek moyang. " Saut Ardella.
Kapal mulai melambat dan berhenti di pelabuhan tomok, para penumpang mulai turun satu persatu. Giliran Aoran dan Ardella turun, dikarenakan suasananya begitu ramai dan berdesakkan, Aoran yang takut terpisah dengan Ardella mulai menggandeng tangan Ardella turun. Ardella merasakan tangan Aoran besar dan hangat, dia membalas genggaman tangan Aoran.
Perjalanan mereka menuju pasar tomok. Masih saling bergandeng tangan Ardella dan Aoran menikmati suasana pasar tomok, mereka berkeliling. Mencoba beberapa baju ala couple. Bahkan tawa Ardella sangat leluasa ketika melihat Aoran berusaha menghiburnya, dengan membuat wajah imut.
"Ardella, coba lihat aku." Ucapnya membuat wajah tampannya menggembung bagai balon dan memakai rambut palsu.
__ADS_1
"Hahaha, kamu sangat cantik, apalagi kalau ditambah dengan anting dan kalung, pasti akan lebih cantik." Saut Ardella mencocokkan beberapa anting ketelinga Aoran.
Ardella dan Aoran tidak sadar bahwa mereka sedang bercanda di toko orang.
"Kalian mau beli, harganya murah kok. " Ucap penjaga toko.
"Mmm. Maaf Bu." Ucap Aoran pelan, kemudian melepas rambut palsu dari kepalanya.
"Maaf ya Bu, kalau kami mengganggu. " Ucap Ardella membantu Aoran.
Saat mulai melangkah lebih jauh, mereka melihat sebuah pertunjukkan. Ardella mulai terbiasa, tanpa ditanya oleh Aoran, dia langsung menjelaskan satu persatu apa saja yang mereka lihat. "Ini disebut sigale-gale. Pertunjukan ini dibuat karena cinta seorang anak pada ayahnya. Karena kehilangan seorang anak sang ayah membuat pertunjukkan untuk mengenang anaknya. " Ucap Ardella.
Sebelumnya Aoran sudah pernah melihat pertunjukkan sigale-gale bersama Evan.
"Wahh, bagus banget pertunjukannya, aku belum pernah melihatnya, untung hari ini kita datang kesini." Seru Aoran dengan ekspresi terkagum-kagum.
Wajah Ardella terlihat senang dan menikmati perannya sebagai pemandu untuk Aoran. Baru kali ini, dia merasa senang melihat pertunjukannya, setelah sekian lama dia tinggal disini, rasanya biasa saja melihat pertunjukan sigale-gale.
Sangking serunya Ardella lupa kalau hari semakin siang.
Kryuuuk,,,kryuuk suara bunyi perut Ardella terdengar jelas oleh Aoran.
"Iya. " Merasaa malu.
Aoran dan Ardella berhenti di sebuah rumah makan. Disana menyajikan makanan khas batak. Ardella mulai menjelaskan semua jenis menu makanan yang wajib dicoba. Mendengar itu Aoran memesan semua makanan yang diucapkan Ardella, sehingga meja mereka penuh dengan makanan.
"Makanannya banyak sekali. " Ardella terkejut.
"Bukannya tadi kamu bilang makanannya harus dicoba." Ucap Aoran dengan polos.
"Maksudku dicoba satu persatu, bukannya sekaligus seperti ini." Sautnya.
Aoran hanya tersenyum dan mulai mencicipi makanan. "Selamat makan." Ucap Aoran.
Mau tidak mau Ardella pun ikut makan. "Selamat makan juga." Saut Ardella.
Aoran yang sudah mulai kenyang meletakkan sendoknya dan mencuci tangan kemudiaan berhenti makan, tapi tidak dengan Ardella, Semua makanan yang dipesan hampir dihabiskan oleh Ardella.
__ADS_1
Bahkan cara makanya juga terlihat imut. Aoran membatin.
Aoran melihat Ardella yang tengah berusaha mengunyah makanan sampai habis. "Kalau gk sanggup makan berhenti aja. " Ucapnya sedikit khwatir.
"Makanan gk boleh disia-siakan nanti gk ada rezeki di kehidupan ini." Ucap Ardella sambil mengunyah.
Perut Ardella begitu kenyang bahkan untuk berjalan dia tidak sanggup.
Ardella dan Aoran melanjutkan perjalananya.
" Mau kugendong." Kata Aoran melihat Ardella kekenyangan.
Ardella menolak dan duduk dikursi yang tersedia dijalan. Ketika mereka duduk mereka melihat pertunjukan tarian daerah, suara musik dan tari membuat mereka terhibur. Ardella masih semangat menjadi pemandu bagi Aoran dia menjelaskan tentang tarian tradisional khas batak. Ardella dengan santai menceritakan adat-istiadatnya kepada Aoran.
Dia begitu bersemangat, biasnya sedikit bicara tapi sekarang gk ada henti-hentinya bicara. Aoran membatin.
Aoran menjadi pendengar yang baik untuk Ardella.
***
Hari menjelang sore, Ardella dan Aoran memutuskan pulang.
Ketika diperjalanan, Ardella senyum-senyum sendiri, sudah lama Ardella tidak merasakan perasaan senang."Kak Aoran, makasih udah mewujudkan keinginan Ardella walaupun untuk sehari. " Ucapnya tersenyum lebar.
Aoran yang mendengar Ardella menyebutnya dengan kakak mendekatkan wajahnya ke Ardella. "Sekarang kamu memanggilku kak Aoran. " Sautnya mengarahkan tatapanya pada Ardella.
"Memangnya tidak boleh." Tanya Ardella pelan dan khwatir Aoran menolak dipanggil kakak olehnya.
"Aku hanya senang aja Ardella Dyandi Putri memanggilku kakak. " Gembira.
Aoran yang melihat rambut Ardella berantakan karena tiupan angin membuatnya ingin merapikannya, dia meraih tubuh Ardella kemudian perlahan menyentuh rambut Ardella dan merapikannya. Jarak mereka sangat dekat membuat Ardella mulai berdebar.
Deg,,,deg,,, deg kenapa dengan jantungku. Ardella membatin.
Wajah Ardella mulai memerah. Aoran yang melihat wajah Ardella menyentuh keningnya dikiranya Ardella jatuh sakit dan memastikan Ardella baik-baik saja.
πππ
__ADS_1
Bersambung