
Hari H. Festival.
Hari festival tiba, sesuai ajakan Ardella dan Ririn, Evan akhirnya memutuskan untuk ikut menemani Aoran ke festival.
Jam 6 sore.
Aoran dan Evan sudah berada di tempat festival yang akan diadakan, Laki-laki dua orang ini menjadi pusat perhatiaan, mereka yang cool membuat para wanita awam melirik-lirik.
Evan berdiri disamping Aoran, acara masih belum dimulai. Sementara menunggu Ririn dan Ardella. Aoran menyibukkan diri dengan bermain game sembari menghilangkan rasa bosan.
Tap,,, tap,,, tap suara langkah menuju kearah Aoran.
"Kak Aoran sudah lama menunggu. " Tanya Ririn.
Karena masih sibuk dengan game, Aoran masih belum memperhatikan kedatangan mereka. Tangannya sibuk bergerak memainkan game dilayar ponselnya, pandangan masih diarahkan ke ponsel yang sedang dipeganngnya
Tanggung banget, aku hampir menang,,,hampir menang. Aoran membatin.
"Belum terlalu lama." Tangannya yang masih sibuk dengan hpnya.
Ardella melihat Aoran sedang sibuk, tidak seperti biasanya saat mereka bertemu, Aoran pasti terlebih dahulu menyapa. "Kak Aoran sedang apa." Tanya Ardella.
Suara lembut dari Ardella membuat Aoran tidak peduli lagi dengan gamenya, sesegera mungkin Aoran langsung menghentikan permainan, hpnya ditutup dan langsung dimasukkan kedalam saku celananya.
Hendak menjawab perkataan Ardella, tiba-tiba Aoran terkaku saat melihat Ardella. "Ti,,d,, ak a,, da." Mata Aoran tercengang.
Aoran merasa Ardella berbeda hari ini. Penampilan Ardella membuat Aoran tidak berkedip, matanya terus memperhatikan Ardella, dia kaku terkagum-kagum, Ardella yang biasanya perpakaian sederhana tetapi malam ini dia mengenakan sebuah dress biru diatas lutut, terdapat pita dipinggangnya hingga membentuk lekuk tubuhnya diikuti gaya rambut yang blow dipakaikan pencepit, bibir Ardella yang berwarna merah muda membuat Ardella terlihat cantik memukau.
Sebelum berangkat festival Ririnlah yang mendandani Ardella. walau Ardella menolak tetap dipaksa oleh Ririn.
Sebagai laki-laki, Robin sadar apa yang dipikirkan oleh Aoran, dia tidak terima Aoran memperhatikan Ardella lebih lama. "Woii, udah cukup liatnya." Ucap Robin ketus sambil menyenggol Aoran.
Sadar kembali. "Ah iya. kamu juga ikut." Tanya Aoran saat melihat Robin telah berada disampingnya.
"Iyalah, mana percaya aku sama kamu." Saut Robin.
Saat bersamaan, Evan merasakan bahwa Aoran mulai berubah, biasanya Aoran yang dikenalnya tidak akan menanggapi seseorang bicara.
__ADS_1
Robin yang belum mengenal Evan penasaran, wajahnya memang tidak setampan Aoran, tapi dibandingkan dengan dirinya, dia sadar Evan masih lebih ganteng. "Dia, siapa." Tanya Robin pada Aoran.
"Dia temanku, namanya Evan." Jawab Aoran.
"Haii, nama saya Robin." Ucapnya memperkenalkan diri.
Evan dengan ramah menanggapi sapaan Robin dengan ramah dan sopan. "Salam kenal Robin." Ucapnya.
Sedikit berbincang-bincang, Ardella, Aoran, Ririn, Robin, dan Evan berkumpul bersama. Mereka masih menunggu acara dimulai, selagi menunggu mereka bercanda-canda bersama.
"Rob, hari ini kamu terlihat tampan." Ucap Aoran menggoda Robin.
"Aku memang tidak setampanmu, tapi didaerah ini aku paling kece disini." Sautnya percaya diri.
"Iya. Robinya kece dari hongkong." Ucap Ririn tertawa lepas melihat gaya Robin.
Ardella ikut tertawa mendengar Robin dan Ririn bercanda. "Sudah Rin, aku setuju dengan Robin bahwa yang paling kece didaerah ini adalah dia." Ucap Ardella membantu Robin.
Aoran melirik Ardella, dengan senyuman manis yang terpanjar dibibir kecilnya, dia merasa ikut senang.
Ardella kembali ketujuannya semula datang kefestival. "Kak Aoran ada yang ingin aku katakan." Ucap Ardella diselang keramaian.
Aoran melihat Ardella dengan nada serius. "Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan." Sautnya.
Ririn yang tahu situasi dan kondisi mengajak Evan dan Robin untuk melihat-lihat agar Aoran dan Ardella hanya berduaan. "Kak Evan ayo kita lihat-lihat dulu sebelum festivalnya dimulai." Membujuk Evan dengan manja.
Evan merasa canggung ketika Ririn merangkul lengannya. "Oke. "Jawabnya menarik pelan lengannya.
"Rob kamu juga ikut." Memeloti Robin.
Robin tidak bersedia beranjak meninggalkan Ardella bersama Aoran. "Gk gue tetap disini." Sautnya.
Jika Robin tetap tinggal, maka Ardella dan Aoran tidak akan memiliki kesempatan untuk lebih terbuka, pikir Ririn. "Gk boleh, ikut aku." Menarik Robin dengan paksa.
Ririn menarik Robin menjauh dari Ardella dan Aoran, Sedikit Robin meronta tetap tidak ingin pergi. Sedangkan untuk Evan dia mengikuti Ririn dari belakang.
Tinggal Aoran dan Ardella berdua, situasinya sedikit canggung, Aoran yang biasanya banyak bicara sedikit kaku melihat Ardella.
__ADS_1
"Mereka sudah pergi, jadi kamu boleh katakan sekarang." Ucap Aoran sambil mengusap lehernya.
Ardella gugup tapi tetap ingin mengatakannya. "Kak aku."Ucapnya masih belum selesai.
Suara ribut serta suara langkah orang banyak membuat Aoran kurang jelas mendengar suara Ardella. "Bagaimana kalau kita bicara ditempat yang lebih tenang, disini ramai sekali." Ucap Aoran.
"Baiklah." Ucap Ardella setuju.
Aoran dengan reflek menggandeng tangan Ardella dan membawa sedikit jauh dari keramaian.
"Ok kita bicara disini." Ucap Aoran.
Masih ragu dengan apa yang akan dikatakannya, Ardella menarik nafas. "Sebenarnya gk terlalu penting kak, tapi kata Ririn hanya kak Aoran bisa membantuku." Ucapnya lembut.
Wajah Ardella masih terlihat gugup, Aoran ikutan gugup dengan apa yang akan ditanyakan oleh Ardella. "Apa pun itu coba katakan, kalau memang butuh bantuanku akan kulakukan." Ucapnya lembut.
Menarik nafas sedalam-dalamya menghembuskan perlahan setelah itu Ardella mulai bicara. "Rasanya saat melihat kak Aoran jantungku berdebar, terus bayangan kak Aoran juga selalu muncul, aku bahkan tidak bisa tidur dan la..... . " Belum selesai bicara.
Aoran paham maksud Ardella dengan gerakan cepat dia menarik tubuh Ardella lebih dekat lagi ketubuhnya, dengan tatapanya melihat Ardella membuatnya senang.
Deg,,,
Jantung Ardella kembali berdegup kencang, matanya mengadah keatas melihat wajah Aoran, desahan nafas Aoran terdengar jelas ditelingannya. Ekspresi Ardella terkejut saat berada didegapan Aoran.
Perlahan Aoran meletakkan tangannya dipipi Ardella, mereka sama-sama tidak berbicara. Aoran sedikit menundukkan kepalanya dan perlahan mengangkat dagu Ardella, dia meraih bibir Ardella dengan bibirnya kemudiaan perlahan Aoran mencium Ardella.
Ciuman lembut dan hangat terasa diantara mereka, Ardella berdiam dan tidak tahu cara membalas ciuman Aoran.
Duarr,,, duarrrr,,,,duarrr suara letusan kembang api, dibawah langit berbintang menjadi ciuman pertama untuk Ardella. Aoran masih melanjutkan ciumannya, sesekali dia menggerakkan bibirnya, sementara tak ada perlawanan dari Ardella, matanya terbuka lebar, nafasnya tidak beraturan detak jantungnya cepat dan pikirannya kosong.
Perlahan melepaskan ciumannya, Aoran mengecup dahi Ardella dengan lembut. "Jadilah kekasihku Ardella, aku akan menjagamu, mencintaimu sampai tua, kemudian kita akan hidup bersama." Ucapnya sangat lembut, tangannya memegang kedua pipi Ardella.
Tes,,, tes,,, tes air mata Ardella jatuh ketangan Aoran. Kata-kata Aoran membuatnya, terharu hatinya bahagia mendengar kata hangat yang terlontar dari Aoran.
πππ
Bersambung
__ADS_1