Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Dekat Denganmu


__ADS_3

Aku bukan gadis manja, aku juga bisa melakukannya. Itu lah setiap saat yang dipikirkan Anasya dibenaknya. Dia bahkan mengerjakan pekerjaan rumah yang sebelumnya tidak pernah dia sentuh, tekadnya sangat bulat untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan gadis nyonya kaya.


Pagi hari.


Anasya yang bangun dari tidurnya melihat kesekeliling kamar, Anasya sadar bahwa sekarang dia sedang tidak berada dikamar mewahnya.


Fyuuu.


Menghembuskan nafas secara perlahan, Anasya merapikan tempat tidurnya, dia beranjak dari kamar menuju dapur. Sosok Lisa yang saat ini sedang memasak membuat Anasya salut. Seorang istri sekaligus seorang ibu dapat merawat suaminya dan anak-anaknya dengan sangat baik. Hanya dalam beberapa hari Anasya sadar bahwa keluarga Ardella sangat hangat.


Kehadiran Anasya tidak disadari oleh Lisa karena sibuk memasak, tangannya cekatan dalam hal memasak. Anasya mulai mendekat, melangkah pelan dia menyapa dengan ucapan selamat pagi kemudian dilanjutkan dengan tawaran ingin membantu.


"Udah bangun dek, ini masih pagi sekali." Saut Lisa tersenyum ketika menyadari bahwa Anasya berada disampingnya. Anasya membalas dengan senyuman manis.


Sepertinya diatas mampan ada sayur yang belum terpotong, Anasya menawarkan diri untuk memotong sayur itu. Lisa yang melihat keteguhan Anasya untuk belajar mengerjakan tugas dapur membiarkan Anasya melakukannya. Anasya memotong sayur dengan ukuran yang masih terlalu besar untuk dimasak.


"Potongannya masih terlalu besar, nanti sayurnya lama matang." Ucap Lisa setelah memperhatikan cara Anasya memotong sayuran. Anasya melihat potongan sayuran yang telah dikerjakannya, sedikit bingung harus memotong seperti apa lagi, perasaannya sayurnya terlihat sama saja, mengamati sayur, raut wajah Anasya terlihat bingung.


"Sini saya ajarin." Lisa meraih pisau, kemudian mempraktekkannya pada Anasya. Tangan Lisa seakan tidak terlihat oleh Anasya saat memotong sayuran, begitu cepat hingga membuat Anasya kembali kagum, bahkan suara degungan pisau sangat cepat.


WAHHHHH.


Mulut Anasya terbuka lebar karena merasa sangat hebat. Lisa kembali menyerahkan pisau kepada Anasya. Dengan sangat hati-hati Anasya memotong secara pelan agar sesuai ukuran yang dibuat oleh Lisa.


"Auh." Tidak sengaja tangan Anasya teriris oleh pisau.


Memotong sayuran, mengiris bawang semua masih hal yang asing bagi Anasya, selama ini dia tidak pernah melakukannya, Ketiga kalinya tangan Anasya terkena pisau saat memotong sayur.


"Aduh,,, pasti sakit. Hati-hati ya dek." Ucap Lisa sambil memberikan anplas untuk menutupi luka Anasya. "Yang ini biar saya aja yang lanjutkan, Anasya sebaiknya istirahat dikamar sampai lukanya sembuh."


Luka Anasya terlalu kecil untuk dia harus istirahat, Lisa sendiri mengatakan itu agar Anasya tidak terlalu memaksan diri. Perkataan Lisa membuat Anasya begitu sedih. Tampak diwajahnya bahwa kepercayaan dirinya menjadi menurun, gadis kaya yang tidak tahu apapun sepertinya menjadi kebenaran dalam dirinya, apalagi mengingat Robin yang selalu menyinggung Anasya yang dimanjakan oleh kakaknya Aoran.


Anasya menggelengkan kepala, menepis segela kata Robin yang buruk tentangnya dan kakaknya Aoran. Dia meraih kembali pisau yang ada ditangan Lisa.


"Anasya mau mencoba lagi kak." Kata Anasya memasang wajah baik-baik saja.


Aku akan tunjukkan bahwa aku dan kak Aoran bukan seperti yang kamu katakan Robin, beraninya kamu meremehkanku, lihat saja, aku yakin suatu saat kamu pasti akan menarik kata-katamu. Batin Anasya.


Dengan semangat juang 45 Anasya memotong sayuran.


***


Rumah sakit.


Aoran dengan tumpukan dokumen berada kamar rawat Ardella, bukan hanya itu, tangannya sedari tadi sibuk mengetik. Banyak hal yang harus dikerjakannya. Semua pekerjaan dikantor hampir terabaikan selama dirinya sibuk merawat Ardella. Dengan serius Aoran memilah apa yang harus dikerjakannya lebih dulu.

__ADS_1


Ardella saat ini berada tidak jauh dari pandangan Aoran. Ardella merasa bosan karena Aoran tidak melihat kearahnya saat menggambar. Berjalan mendekati, Ardella duduk disebelah Aoran.


"Lihat gambarku, cantikkan." Ardella mengguncang pundak Aoran. Dia menunjukkan gambarnya kehadapan Aoran hingga menutupi penglihatan Aoran terhadap dokumen yang harus dibacanya.


Aoran masih fokus menggeser tangan Ardella. "Mmm." Sautnya begitu saja tanpa melihat kearah Ardella.


Ardella cemberut ketika respon Aoran hanya gumaman yang tidak jelas, tangannya masih memegang buku gambarnya berjingkrak disebelah Aoran. "Mau eskrim." Ardella kemudian menyelipkan tubuhnya disebelah lengan Aoran, saat ini dia duduk di paha Aoran.


"Nanti kak Aoran beli, Ardella turun dulu ya. " Aoran berbicara dengan lembut agar Ardella mengerti perkataannya.


Tubuh Ardella terhalang untuk melihat kearah layar laptop membuat Aoran kehilangan fokus dalam kerjaannya. Semakin hari Ardella menunjukkan sikap nakalnya. Aoran begitu memanjakan Ardella, karena itu Ardella sekarang sangat nyaman dan dekat dengan Aoran.


"Tidak mau." Ardella meloncatkan tubuhnya diatas pangkuan Aoran.


Aoran seperti sedikit terangsang karena sesuatu dibagian itunya tersentuh oleh Ardella, tapi dia masih berusaha menahan diri. "Oke, ayo kita belikan eskrim. Tapi setelah ini janji jangan ganggu kak Aoran ya." Kata Aoran menghentikan Ardella, dan mengarahkan wajah Ardella kedepan matanya.


"Em, janji." Ardella melebarkan senyumnya.


Satu jam kemudian.


Ardella dan Aoran kembali kekamar rawat, setelah banyak membeli cemilan serta eskrim yang diminta Ardella sudah terpenuhi.


Aoran melanjutkan kerjanya, sedangkan Ardella menikmati eskrimnya melanjutkan aktifitasnya untuk menggambar lagi. Dilantai beralaskan tikar semua perlengkapan menggambar Ardella berserakan, ditambah dengan jenis mainan Ardella. Kamar berantakan tidak lagi dihiraukan, sudah terbiasa dengan keadaan ini, Aoran hanya melihat Ardella dengan wajah tersenyum.


Horeee.


Teriak Ardella keras, dia berdiri dan mendekati Aoran kembali. Sekali lagi menunjukkan hasil gambarnya. Kali ini Aoran memperhatikan dengan seksama.


Ardella menggambar seorang wanita dewasa yang tampak seperti ibunya, kemudiaan sebelahnya gambar pria besar yang tak lain ayahnya, sosok laki-laki yang digambar Ardella disebalahnya, Aoran sudah bisa menebak bahwa yang disamping Ardella adalah Batara.


"Aku mana." Tanya Aoran bersedih.


Ardella diam, menggigit jarinya ketika ditanya Aoran dimana.


"Dijari Ardella banyak kumannya, jadi jangan pernah mengigit jari lagi." Aoran menarik jari Ardella dari mulut Ardella sendiri, mengambil sapu tangannya Aoran mengelap bekas liur Ardella.


"Baik kak Aoran." Mengangguk begitu saja.


"Disini, gambar aku." Aoran menunjukkan posisinya untuk digambar oleh Ardella. "Maukan gambar kak Aoran disisi Ardella." Senyumnya lebar.


Dengan cepat Ardella mengangguk, dia meraih kembali buku gambarnya. Turun dari atas sofa Ardella kembali duduk dibawah, tangan Ardella mulai mengambil cat pensillnya, Ardella kembali bersemangat untuk menggambar. Pada akhirnya Ardella tertidur sebelum menyelesaikan gambarnya.


Ruangan itu menjadi hening tanpa suara Ardella.


Kenapa menjadi hening, pikir Aoran. Saat menoleh Aoran sudah mendapati Ardella tertidur.

__ADS_1


"Tidur rupanya." Kata Aoran berbicara sendiri. Kakinya mulai beranjak mendekati Ardella. Seketika itu Aoran menjadi lebih merindukan Ardella. Padahal saat ini Ardella telah berada dihadapannya, tapi tetap dia masih sangat merindukan gadis yang dicintainya.


Membaringkan Ardella ditempat tidur, Aoran ikut tidur disamping Ardella. Tangannya memeluk erat, meletakkan tangannya dibagian perut Ardella, tidak lupa mencium kening Ardella.


Melepaskan ciumannya, Aoran menatap Ardella yang sedang terlelap. Ardella begitu menggemaskan hingga membuat Aoran ingin menjahili Ardella disaat tidur. Dengan ibu jari dan jari telunjuknya Aoran memencet hidung Ardella, sulit bernapas Ardella mengerutkan wajahnya. Aoran melepaskan kembali jarinya, Ardella mulai tampak tenang, sekali lagi Aoran melakukannya.


Ngggggg, hiks, hiks.


Ardella menangis dalam tidurnya karena merasa diganggu.


Cupppp.


Mengusap-usap punggung Ardella, Aoran menengkan Ardella dalam dekapannya, pelukannya yang erat membuat Ardella berhenti menangis. Aoran tersenyum kecil, lucu rasanya dia bertingkah seperti anak kecil.


Kembali pada Anasya yang saat ini berusaha keras untuk menaklukkan Robin.


Seharian Anasya membereskan rumah, menyuci, menyapu, mengepel. Semuanya dikerjakan dengan semangat, walau lelah tidak ada keluhan yang tersirat dari benak maupun bibirnya.


Ketika malam tiba, Anasya ingin lebih dekat dengan Edward, karena itu dengan mempersiapkan hati Anasya mengetuk pintu kamar Edward.


Edward yang membukakan pintu melihat Anasya yang berdiri dihadapannya, tapi dirinya tidak bersuara.


"Edward mau tante Anasya bacakan dongeng sebelum tidur." Ucapnya ragu-ragu ketika melihat ekspresi Edward yang biasa saja.


"Maaf. Selain tante Ardella, aku tidak ingin orang lain yang membacakan dongeng." Saut Edward langsung.


"Begitu ya." Sakit sih atas penolakan Edward, tetapi Anasya juga tidak bisa memaksakan Edward utuk dekat dengannya lebih cepat.


"Aku sudah mengantuk, bolehkah aku tidur." Dinginnya ekspresi Edward melihat kearah Anasya.


"Iya, selamat malam Edward." Senyum canggung dibibir Anasya.


Edaward kembali menutup pintunya.


"Siapa kak." Tanya Erwin.


"Adik dari pria aneh itu." Sautnya. Adik maksudnya Anasya dan pria aneh maksudnya Aoran. Itulah anggapan Edward tentang Aoran dan Anasya saat ini.


Anasya yang masih berdiri didepan pintu kamar Edward merasa kikuk atas penolakan dari Edward.


"Sifat Edward dua kali lebih buruk daripada kak Aoran. Kenapa kak Aoran harus menurunkan sifat buruknya pada keponakanku sih." Anasya berbicara sendiri.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2