
Malam hari.
Ketika tiba dirumah Ardella disambut oleh kakak iparnya. Dengan wajah tersenyum Lisa menghampiri Ardella. "Dek, suruhan Aoran datang lagi." Ucap Lisa.
"Apa lagi yang di inginkan cowok bre*ngsek itu." Gumamnya pelan. Ardella mengitari tubuh Lisa.
"Ada apa dek." Tanya Lisa ketika melihat Ardella membalikkan tubuhnya.
"Untung kakak ipar baik-baik saja, aku hanya takut mereka melukai kakak ipar." Suara lega terdengar dari hembusan nafas Ardella.
Teringat dengan amplop yang diberikan oleh Parto. "Orang itu juga menitipkan ini." Amplop yang masih berada diatas meja diserahkan pada Ardella.
Tidak lama kemudiaan Lisa juga membahas masalah kontrak rumah yang ditawarkan oleh Parto. Penjelasan Lisa sangat panjang dan detail.
"Sungguh kak." Terkejut mendengar penjejelasan kakak iparnya.
"Iya dek, bahkan surat kontraknya sudah dibuat." Lisa menunjukkan isi kontrak pada Ardella.
Membaca isi surat kontrak sepertinya tidak ada masalah, Ardella juga memikirkan betapa rumitnya mereka harus berkemas dan pindah ketempat lain belum lagi harus menjelaskan kepada ketiga keponakannya alasan mereka pindah.
"Kakak juga sebenarnya tidak ingin meninggalkan rumah ini dek." Suara Lisa terdengar sedih. Rumah yang dibangun dengan susah payah oleh suaminya membuat Lisa tidak ingin pindah ketempat lain.
"Ardella juga tidak ingin pergi dari sini kak." Terhanyut dalam suasana mengingat kenangan saat berada dirumah.
"Apa tidak masalah kalau kita menerima tawaran ini dek." Ucap Lisa.
Jawaban atas pertanyaan Lisa membuat Ardella bingung, dirinya juga tidak tahu apa lagi yang akan direncanakan oleh Aoran terhadapnya. " Spertinya tidak kak, jika nanti Aoran membuat masalah lagi, kita cukup pindah aja kak." Saut Ardella memberi senyum kecil. Bagi Ardella untuk saat ini menenangkan hati kakak iparnya lebih penting dibandingkan memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Senyuman Ardella memberikan keyakinan pada Lisa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"O ya dek, amplop yang dititipkan untukmu isinya apa." Tanya Lisa yang dari tadi siang penasaran.
Ardella belum tahu isi suratnya tidak dapat menjelaskan pada Lisa, tangannya masih membolak balik amplopnya. Sadar bahwa Ardella juga belum tahu isi amplopnya, Lisa mengalihkan pembicaraan, dia menyuruh Ardella untuk segera mandi dan makan malam bersama.
Memikirkan isi amplopnya Ardella berjalan dengan langkah kecil. Tiba di kamar Ardella tanpa menunggu lagi langsung membuka amplop yang ada ditanganya.
"Dasar cowok bre*gsek." Meremas suratnya hingga kusut kemudiaan melemparkan surat ke lantai.
Isi dari surat yang diserahkan oleh Aoran adalah hutang piutang selama Ardella bekerja di perusahaan Aoran. Mulai dari gaun, perhiasan, dan barang lainnya yang pernah dibeli Aoran dihitung sebagai hutang Ardella, bahkan makan bersama masuk kedalam perhitungan biaya hutang. Sungguh miris rasanya Ardella mengingat Aoran pernah memperlakukannya lembut.
Didalam surat ada ancaman yang mewajibkan Ardella harus membayar hutangnya segera. Jika hutang tidak dibayar Aoran sendiri yang akan datang menagih hutangnya.
__ADS_1
Perasaan kesalnya semakin besar ketika mengingat sikap baik yang pernah dilakukan oleh Aoran. Ardella membuka lemarinya kemudian mencari gaun termasuk semua barang lainnya yang dibelikan oleh Aoran dimasukkan ke dalam tas kantungan.
"Dasar cowok kejam." Ardella menghempaskan tubuhnya, pikirannya sangat kacau. Dia bergegas mencari ponselnya dengan cepat dia mengirim pesan kepada Riri Bahwa dia Menerima tawaran kerja.
Untuk membayar hutang pada Aoran, dia tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan dari Riri.
***
Di kediamanan Aoran
"Pagi Bos." Parto mengunjungi Aoran.
Bisanya setiap minggu Aoran hanya akan berada dirumah sepanjang hari. Dilapangan hijau itu terlihat Aoran yang sedang asik bermain golf.
Ekspresi Aoran mengacuhkan Parto yang sedang berdiri disampingnya. "Istrinya Batara telah menerima kontraknya Bos." Ucap Parto melanjutkan pembicaraan.
"Apa yang mereka katakan." Tanya Aoran menghentikkan permainannya.
"Tidak ada, mereka hanya mengirimkan pesan singkat." Saut Parto.
"Cih." Aoran menyeritkan dahinya, tatapan matanya kembali menjadi dingin. "Bagaimana dengan Ardella, apa yang dia lakukan selama seminggu ini." Tanyanya dengan nada serius.
Aoran telah menempatkan seorang mata-mata untuk mengawasi Ardella dari jarak jauh. Semua itu dilakukan untuk mengetahui keadaan Ardella selama tidak berada dijangkauannya.
Brakkk
Aoran melemparkan tongkat golfnya.
"Suruh pemilik bar itu agar memecat Ardella sekarang." Teriaknya kesal menatap Parto marah.
Parto menyentuh bagian dadanya, jantungnya hampir copot mendengar teriakan Aoran.
"Baik Bos." Parto langsung bergegas pergi melaksanakan perintah dari Aoran.
"Tunggu." Ucap Aoran menghentikan langkah kaki Parto. "Biarkan saja, aku ingin bermain-main dengannya." Senyum jahat dari ekspresi Aoran setelah memikirkan sesuatu didalam benaknya.
Parto menggelengkan kepala bingung dengan tingkah Aoran. Katanya ingin balas dendam tapi kelihatan bahwa Aoran masih sangat peduli dengan Ardella.
Kembali pada Ardella yang saat ini bekerja di bar. Disiang hari tidak terlalu ramai pengunjung datang.
Disiang hari bar berubah menjadi restoran. Bukan hanya itu didalam bar terdapat beberapa ruangan bagi mereka yang ingin sendirian ataupun melakukan sesuatu hal.
__ADS_1
Ketika malam baru lah terpangpang jelas di papan nama sebuar bar. Kebanyakan saat malam hari orang-orang terlihat ramai dan bersenang-senang dengan musik keras dan sebotol anggur orang kerap sekali menghabiskan waktunya di bar untuk menghilangkan stress.
Ardella dengan seragam pelayan mengantarkan minuman pada pelanggan. Dengan wajah ramah Ardella menunjukkan sikap sopan dalam mengantarkan botol anggur.
"Wahhh, lihat pelayan itu, sungguh cantik. " Ucap salah satu pelanggan laki-laki melihat tubuh Ardella.
Tubuh Ardella terlihat terbentuk ketika mengenakan rok mini sebagai seragam pelayan di bar. Dalam bergerak Ardella seringkali menarik rok agar menutupi lebih jauh lagi dibagiaan kakinya.
"Minumannya tuan." Ucap Ardella mengantarkan sebotol minuman lagi kepada pelanggan.
Banyak mata yang melirik kearah Ardella, tatapan mereka membuat Ardella sedikit risih.
Mulai dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam Ardella bekerja di bar. Ardella dibayar tiap harinya. Pekerjaannya juga tidak ada perjanjian kontrak atau aturan semacamnya yang harus membuat Ardella tidak bisa pergi.
Haruskah aku berhenti, aku sama sekali tidak nyaman bekerja seperti ini. Ardella membatin.
Hari pertamanya kerja berjalan dengan lancar, tadinya Ardella merasa sulit untuk pekerjaanya namun, sekarang sepertinya dia akan mulai terbiasa.
Untuk menghemat uang Ardella berjalan dengan jalan kaki. Jarak dari bar ke rumah Ardella membutuhkan setidaknya satu jam setengah untuk berjalan.
Setelah berjalan jauh Ardella duduk dihalaman rumah, dia menatap kearah langit melihat bintang Ardella termenung. "Kapan kakak Batara dan Robin akan keluar dari penjara, aku rindu mereka." Gumam Ardella sedih.
Bekerja di bar membuatnya sangat lelah dan tidak nyaman, sampai saat ini pun dia masih berusaha mencari pekerjaa lebih baik.
Bola lampu masih dalam keaadan menyala, Ardella melirik jam tangannya. "Selarut ini, apa kakak ipar belum tidur." Gumamnya, dia mulai beranjak masuk kedalam rumah. Kakinya berjalan dengan pelan seperti sedang mengendap-ngendap dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
Lisa yang masih berada diruang tengah tertidur di sofa, terlihat masih banyak tumpukan kain di bawah sofa tempat Lisa menyetrika. Lisa yang juga saat ini bekerja sebagai tukang cuci harus menyetrika pakaian sebelum dikembalikan kepada pemiliknya, sekitar tiga tumpukan kain dan tiga keranjang berbeda terletak di lantai beralaskan tikar.
Ardella mendekat dan melihat begitu banyak pakaian yang telah selesai disetrika. "Kakak ipar pasti lelah." Gumamnya.
Mengambil selimut didalam kamar Lisa, Ardella menyelimuti tubuh kakak iparnya.
Ardella melanjutkan setrikaan yang belum selesai. Dia mulai mengambil satu persatu pakaian dan menyetrika.
"Aduh, capek banget." Ardella memukul-mukul punggungnya dan pundaknya setelah cukup lama menyetrika.
Ardella masih melanjutkan setrikaannya, tidak terasa jam 2 malam dini hari. Semua ditata rapi oleh Ardella, dia membuat tiga bagian kain yang disetrikanya kemudiaan meletakkan diatas keranjang berbeda.
"Auhhh." Kaki Ardella terasa keram saat ingin bangkit berdiri. Dia menatap kakak iparnya yang sedang tertidur pulas. Perasaan Ardella sedikit pilu atas apa yang terjadi, seandainya kakaknya Batara tidak dipenjara maka kakak iparnya tidak akan mengalami hal berat seperti sekarang ini.
Tidak tega membangunkan kakak iparnya, Ardella kembali berdiri dan berjalan dengan pelan.
__ADS_1
💔💔💔
Bersambung