
"Kubilang jangan mendekat." Teriak Ardella lebih keras.
Aoran terkejut melihat Ardella berteriak padanya. "Kamu pikir siapa dirimu, beraninya berteriak padaku." Aoran yang tidak mengerti kondisi Ardella.
"Bukan begitu Bos." Saut Ardella dengan canggung.
Berjalan dengan wajah dingin, tangannya berada disakunya. "Jadi apa alasannya, sepertinya semakin hari kamu semakin tidak tahu posisimu." Aoran lebih mendekati Ardella.
Rasa tidak nyaman serta jawaban yang tidak bisa diucapkan oleh Ardella. "Aku lagi." Saut Ardella masih ragu mengatakannya.
Aoran melihat wajah Ardella sedikit pucat, tangannya yang masih menyentuh dibagian perutnya, matanya yang sedari tadi tidak berani menatapnya, ucapan Ardella sedikit bergetar dan tingkahnya yang tidak mau beranjak dari kursi.
Mengerti kondisi Ardella, Aoran seketika wajah kesal berubah menjadi senyum tipis melihat wajah Ardella yang tampak malu. "Mungkinkah kamu sedang datang bulan." Tanya Aoran.
"Harus sejelas itukah dia mengucapkannya." Gumam Ardella masih dalam keadaan menunduk.
Aoran kembali tersenyum tipis. Membuka kancing jasnya. "Berdirilah. " Ucap Aoran memegang jasnya.
"Tidak mau, aku tidak ingin kamu melihatnya." Kata Ardella bersikeras duduk.
"Ok. Aku tidak akan melihat. Aku akan berbalik badan. " Saut Aoran membalikkan badan.
Ardella mengambil sapu tangannya, membersihkan kursi. Sesekali dilihatnya Aoran yang masih membelakanginya. "Bagaimana caranya berjalan dalam kondisi seperti ini." Ardella bingung, rok putih bercorakkan noda merah jelas terlihat.
Aoran mendengar keluhan Ardella, mengarahkan tangannya kesisi pinggang Ardella. "Sini biar kubantu." Menarik tubuh Ardella kemudian mengikatkan jasnya ke pinggang Ardella.
Rok Ardella tertutup oleh jas hitam Aoran.
Memperhatikan Aoran dari dekat, jantung Ardella berdetak kencang tidak beraturan. Tidak bisa dipungkiri wajah tampannya sangat menarik perhatiaan. "Aku bisa sendiri." Ucapnya menahan tangan Aoran.
Aoran tidak mendengarkan ucapan Ardella, tangannya mengikat erat jasnya. "Sudah selesai. Ayo kembali keruangan, kamu sepertinya harus membersihkan diri. "Kata Aoran tanpa canggung. "Apa perlu kugendong." Tanyanya lembut melihat Ardella.
"Tidak, aku bisa berjalan sendiri." Terkejut mendengar perkataan Aoran, dia menolak dengan cepat.
Ardella segera berjalan melewati Aoran . Rasa tidak nyamannya terlihat saat dia berjalan dengan aneh.
Aoran yang berjalan dibelakang rasanya tidak tahan melihat Ardella berjalan aneh. "Sini biar kugendong saja." Aoran langsung dengan cepat menggendong Ardella.
"Turunkan aku." Ucap Ardella memberontak.
"Jika berjalan aneh, orang-orang juga akan berpikir aneh."
__ADS_1
"Maksudnya berpikir aneh."
"Kita berada diruangan sekitar 15 menit, menurutmu apa yang akan orang-orang pikirkan." Membawa Ardella keluar dari ruang meeting.
Masih belum mengerti arah pembicaraan Aoran. "Aneh kenapa?.Β Bukankah lebih aneh mereka melihat Bos menggendong sekretarisnya. " Sautnya kembali mengerutkan bibirnya.
"Kamu sangat berat, jadi berhentilah berbicara. Berbicara membuatmu lebih berat." Menatap Ardella didekapannya.
Aoran melewati ruang kerja para staf. Sedikitpun Aoran tidak menghiraukannya, tidak peduli apa yang dipikirkan oleh karyawan lain, berani bicara palingan akan dipecat oleh Aoran, beda dengan Ardella yang dari tadi berusaha menutupi wajahnya dengan jari-jarinya.
Menurunkan Ardella disofa, Aoran menyuruhnya membersihkan diri ditoilet pribadinya.
Didalam toilet Ardella merasa tidak asing dengan perlakuan Aoran. "Kenapa dia begitu baik." Tanya Ardella pada dirinya sendiri.
Tuttt,,, Aoran melalui ponselnya
memesan baju khusus setelan wanita dan barang khusus keperluan wanita pada karyawan lain. Selang beberap menit baju untuk Ardella tiba diruangannya.
Tok,,, tok,,, tok. Ketukan pintu dari tangan Aoran.
"Aku belum selesai, apa kamu ingin menggunakan toilet." Jawab Ardella dari dalam.
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan Baju dan pembalutnya kuletakkan diatas meja." Saut Aoran.
"Baiklah. Bisakah kamu keluar sebentar saat aku berganti baju." Ucap Ardella dari dalam.
"Ok."
Ceklek.
Perlahan Ardella mengintip, sedikit celah pintu dibukanya. Melihat sekeliling Ardella tidak melihat Aoran. Baju yang terletak diatas meja dilihat oleh Ardella,Β kakinya beranjak mengambil baju.
Aoran berada diluar membayangkan Ardella berganti baju, berpikir untuk membuatnya kesal, senyum genit terpancar diwajahnya, Aoran kembali membuka pintu dan masuk kedalam ruangan dengan langkah pelan tidak bersuara. Ardella tidak merasa kedatangan Aoran mengganti pakaiannya dengan santai.
Berdiri dan bersandar didingding Aoran melihat tubuh Ardella tanpa busana, pemandangan yang sangat menarik baginya, Aoran tidak senang kalau tidak membuat Ardella kesal. Dengan senyum cengir, dia berjalan menuju Ardella. Ardella hampir selesai memakai baju masih tidak merasakan kehadiran Aoran. Ketika tangannya meraih resleting bajunya, rasanya susah bagi Ardella menarik keatas.
Aoran menyentuh kulit punggung Ardella, sesekali tangan masuk lebih dalam, bibirnya mencium bagian leher Ardella.
Kaget, Ardella berteriak keras. "Aaaa." Teriaknya keras mundur ke pojokan. "Dasar genit." Ucap Ardella keras menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
Aoran mengunci tubuh Ardella dengan kedua tangannya, mencekram erat lengan Ardella lebih dekat dengannya, membuat Ardella terpojok diantara lengan Aoran. "Aku lelaki normal, jika digoda seperti ini, aku tidak akan menolak. " Ucapnya mendesahkan suaranya kearah telinga Ardella.
__ADS_1
"Kapan aku menggodamu. Menjauhlah dariku. Dasar cowok genit" Ucap Ardella mendorong Aoran dari hadapannya.
Aoran kembali menarik Ardella dari pojokan, menarik pinggangnya dengan sangat erat, kemudian meraih punggung Ardella. Tangannya yang menulusuri kulit Ardella kembali tersenyum genit, dengan perlahan Aoran menaikkan resleting baju.
Cekrekkk,,,. Resleting baju perlahan naik.
Sedikit meronta Ardella merasa tidak nyaman dengan posisinya bersama Aoran, mengerutkan dahinya Ardella melotot tajam. "Menjauhlah dariku." Masih dalam keadaan melotot Ardella mengertakkan giginya.
"Baiklah." Saut Aoran melangkah mundur.
Ardella menggurutu pada Aoran. Rasanya dia ingin sekali memukul wajah Aoran.
"Aku sudah memesan sebuah restoran, sebaiknya kita berangkat sekarang." Ucap Aoran melihat Ardella masih cemberut.
"Baiklah. Aku akan mengambil tas dan bekalku." Saut Ardella dengan suara serak menahan kemarahan.
Ardella dan Aoran menuju keluar, mobil yang telah terpakir menunggu kedatangannya. Mereka mulai melajukan mobil ketempat tujuan.
Direstoran.
Ardella dan Aoran tiba direstoran, meja telah dipesan sebelumnya, para pelayan menyambut Aoran dengan hormat dan mengantarkan mereka kemeja. Aoran mulai memesan makanan yang tertera dimenu. Sedangkan Ardella melihat menu makanan merasa terkejut dengan harga makanan mahal. Dengan tercengang Ardella melihat harga makanan, matanya mencari harga paling murah. Tetap saja dia tidak mampu membelinya, kebiasaannya membawa bekal membuatnya jarang membawa uang lebih, selain uang ongkos pulang Ardella tidak punya uang.
"Uhh, menu makanan sangat mahal." Keluh Ardella sambil membaca menu. "Aku tidak memesan, karena aku membawa bekal sendiri, jadi aku tidak perlu lagi memesan." Ucap Ardella menutup menunya.
Seorang pelayan datang kemeja Aoran dan Ardella. Mencatat daftar menu yang diucapkan oleh Aoran. Menunggu beberapa menit, makanan terhidang penuh dimeja mereka, Ardella melihat makanan terasa enak, perutnya mulai merasa lapar.
Namun Ardella tersadar makanan dimeja bukan miliknya, melainkan milik Aoran, mulai mengambil bekalnya dari tasnya. Ardella mulai membuka kotak bekalnya.
Kotak pertama berisikan buah-buahan yang terpotong rapi. Kemudian Ardella perlahan membuka kotak kedua. Dilihatnya nasi bertaburkan wortel dan beberapa potongan sayuran berbentuk love diatas nasinya.
Mengingat Robin yang membuatkannya secara tidak sadar Ardella tersenyum. Memperhatikan bentuk love diatas nasinya.
Aoran menyeritkan dahinya, merasa kesal dengan senyuman Ardella, dia meraih sendok yang ada didepannya.
Clupppp.
Sendok Aoran mendarat menusuk nasi berbentuk love, kemudiaan dengan kasar membelah bentuk hati menjadi dua.
"Apa lagi yang kamu lakukan, kamu merusak nasiku." Ucap Ardella melihat kearah Aoran.
πππ
__ADS_1
Bersambung