Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Pesta


__ADS_3

Aoran membawa Ardella kesebuah butik. Dibutik terlihat beberapa baju yang telah jadi dipajang, Ardella melihat dan menyentuh baju yang ada hadapanya. Kainnya halus, gaun itu sesusai dengan warna kesukaannya yaitu warna pink.


Dengan perintah dari Aoran dia menyuruh karyawan butik untuk mencari baju yang cocok bagi Ardella. Dia yang masih kesal tidak bicara dengan Ardella, dia beranjak dan menunggu disofa yang tersedia di butik.


Mencoba beberapa pakaian, kemudian dengan memasang wajah datar menunjukkan kepada Aoran. Aoran dengan hanya satu kata bahwa dia tidak suka dengan gaunya. "Aku tidak suka, coba yang lain. " Komenya dengan nada rendah.


Berbagai gaun telah dicoba oleh Ardella, namun masih saja tidak cocok dengan Ardella. Apakah baju yang salah dimata Aoran, atau dirinya yang jelek dimata Aoran. Setidaknya itu adalah pikiran Ardella.


Mengerutkan dahinya, dia menghentakkan kaki, kembali masuk kedalam ruang ganti. Baju terakhir yang ingin Ardella coba, kalau masih ada penolakan dengan Aoran dia berencana untuk tidak menemani Aoran ke pesta.


Ardella keluar, mengenakan gaun. Gaun biru laut, bercorakkan awan pagi, sedikit terbuka di bagian leher, bagian lekuk tubub Ardella terlihat. Ardella tampak elegan memakai bajunya, ditambah dengan kulit putihnya sedikit terlihat dibagian punggung.


"Bagaimana?. Kamu suka." Tanya Ardella melihat kearah Aoran.


"Tidak terlalu buruk. " Sautnya dengan wajah biasa-biasa saja.


Sunggu Ardella ingin sekali melemparkan sepatunya kewajah Aoran. "Apa kita langsung berangkat." Tanyanya memastikan langkah selanjutnya.


"Aku tidak ingin membawa gadis jelek bersamaku." Sautnya.


Gadis jelek yang dimaksud Aoran adalah Ardella yang terlihat masih kusam. Bagaimana bisa sempat mandi, dia harus mengerjakan tumpukan dokumen yang begitu banyak.


"Jika aku jelek, kenpa memilihku untuk menemanimu menghadiri pesta." Ardella terlihat kesal, hatinya merasa tersinggung.


Aoran memberi senyum tipis atas kekesalan Ardella. Kembali lagi ke Ardella yang memeprsiapkan penampilan. Sudah terlihat wajah Ardella lebih fresh setelah mandi di kantor.


Beberapa tata rias sudah menunggu Ardella. Menunggu Ardella berias, Aoran sedang berada diatap gedung perusahaan, dirinya menikmati ketinggian. Aoran sangat suka ketinggian, berada ditempat tinggi, dia selalu berpikir bisa mencapai langit.


Kembali pada Ardella yang telah selesai dirias, tinggal memaikaikan gaunnya. "Ini kan bukan gaunku." Tanyanya pada tata rias.


"Nona, tuan Aoran menyuruh kami untuk memakaikan gaun ini." Penjelasan dari tata rias.


"Jika memang dia sudah memilih gaunnya untuk apa tadi kami kebutik mencoba pakaian begitu lama, apa dia pikir tidak lelah bolak-balik mencoba begitu banyak gaun." Ucapnya melampiaskan kekesalannya pada tata rias.


Aoran kembali dari atap menuju keruangannya. Dilihat dari lamanya waktu berjalan, sudah pastilah Ardella selesai berdandan.


Ardella berdiri mengenakan gaun pilihan Aoran, gaun berwarna merah hati, panjangnya melewati lutut Ardella, gaya rambut disanggul memberikan kesan Ardella terlihat dewasa, ditambah dengan bibirnya dilapisi oleh lipstik berwarna merah hati mengikuti warna gaunnya.


Aoran sedikit tertarik melihat penampilan Ardella. Mengamati penampilan Ardella dia memberikan senyum puas, senyumnya bahkan tidak sampai satu detik, raut wajah berubah saat melihat kalung yang tergantung dileher Ardella, kalung yang bertuliskan nama Robin.

__ADS_1


Apalagi lagi yang salah, wajahnya berubah lagi. Ardella membatin.


Aoran berjalan mendekati Ardella, melihat lebih dekat. "Jangan sampai membuat kesalahan dipesta." Ucapnya dingin memperingatkan dengan tegas.


Deg.


Ucapan Aoran seakan sembilah pisau yang tajam, memikirkan yang belum terjadi sudah membuat Ardella terlihat gugup, takut akan ada masalah.


Mobil mulai melaju membawa Aoran dan Ardella.


Kali ini Aoran tidak menyetir, supir pribadinya untuk hari ini ikut bersamanya.


Didalam mobil duduk bersebelahan, Ardella dan Aoran tidak berbicara. Mereka berdua Sama-sama mengalihkan pandangannya kearah luar, lewat kaca hitam mereka sama-sama melihat jalan.


Kalung bertuliskan nama Robin sungguh membuat Aoran jengkel, sudah tidak tahan lagi dia meraih kalung itu. "Ah, apa yang kamu lakukan. " Seru Ardella ketika melihat tangan Aoran menarik paksa kalungnya.


"Aku tidak suka dengan barang murahan." Sautnya. Tangannya membuka jendela kemudian melemparkan kalung Ardella.


"Kalungku."Teriak Ardella keras. "Pak berhenti." Ucapnya menghentikan supir yang ada didepannya.


Supirย  ragu-ragu,ย  dia memperlambat kecepatan mobil seakan menunggu perintah langsung dari Aoran.


Ucapan lompat bukanlah terlihat main-main dimata Ardella. "Berhenti." Hanya dengan seruan Aoran mobil berhenti.


Ardella keluar, berjalan mundur dengan cepat, untunglah jaraknya belum terlalu jauh dari area Aoran melemparkan kalung. Ardella sibuk menundukkan kepala, mencari dengan teliti dimana Aoran melemparkan kalungnya.


"Sial." Aoran turun dan membanting pintu mobilnya. Beranjak mendekti Ardella yang terlihat mondar mandir. "Kita hampir terlambat, aku akan membelikan kalung lebih bagus." Menarik lengan Ardella.


"Aku tidak akan pergi sebelum kalungku ketemu." Saut Ardella menepis tangan Aoran.


Bagaimana mungkin Ardella membiarkan kalungnya hilang, kalung yang menandakan bahwa dia sekarang milik Robin, dia hampir menangis mencari kalungnya. Matanya mulai berkaca-kaca, terlihat ada rasa frustasi diekspresi Ardella.


Aoran terdiam dengan ucapan Ardella, dia juga tidak ingin menambah perdebatan pada Ardella. Dengan berat hati dan sejujurnya enggan dia mencari kalung Ardella.


Aoran berusaha mengingat sekitar sejauh mana dia melempar kalungnya, dia menghitung kecepatan tangannya, dan kecepatan mobil saat melemparkan kalung.


Tring. Tidak sengaja diinjak oleh Aoran.


Dia merasakan pijakan dikakinya, perlahan Aoran mengangkat kakinya, dilihat kalung telah berada dibawah kakinya.

__ADS_1


Bukanya segera mengambil kalungnya, Aoran malahan menginjak berkali-kali kalungnya, hingga dia puas barulah diambilnya. "Sudah kutemukan. " Ucapnya menunjukkan ditangannya.


Ardella mengambil langsung dari tangan Aoran, "Fyu, untunglah." Lega mendapatkan kalungnya kembali.


"Aku tidak ingin kamu memakai kalung itu." Ucapnya melihat Ardella.


"Memang apa salahnya." Jawabnya ketus.


"Apa kamu tidak berpikir, kamu adalah pasanganku dipesta, kamu ingin menunjukkan pada orang bahwa kamu sudah punya kekasih, dan aku Aoran Fritsh membawa wanita orang lain." Ucapnya memeloti Ardella.


"Baiklah."


Aoran dan Ardella kembali ke mobil dan bergegas berangkat.


***


Gedung tempat pesta berlangsung.


Selayaknya sebagai pasangan Aoran dan Ardella masuk. Ardella menggandeng tangan Aoran dan berjalan menunjukkan rasa elegan.


Seperti yang dikatakan banyak orang dari kalangan atas menghadiri pesta. Bahkan kedatangan Aoran menjadi pusat perhatiaan.


Mereka dengan tidak sungkan menunjukkan wajah penurut untuk Aoran. Banyak yang datang menyambut atas kedatangannya, mereka yang berusah bersikap manis pada Aoran untuk kepentingan pribadi.


Ardella yang berdiri terlupakan, tawaran minum dari berbagai rekan bisnis mendatangi Aoran. Bukanya mengaibakan Ardella tapi Aoran tidak ingin Ardella ikut bergabung dan minum bersama, minuman biasanya bersifat alkohol, dia takut Ardella tidak akan tahan dengan alkohol, apalagi kalau sampai mabuk.


Dengan bingung mau melakukan apa, Ardella hanya melihat kearah sekelilingnya. Semua orang terlihat sibuk berbicara, hanya dia yanh sendirian. Tapi ketika dia melihat hidangan pesta, Ardella mulai lapar. Dengan senyum tipis, Ardella berencana memanjakan perutnya dengan makanan.


Beranjak kearah meja hidangan, kaki Ardella terkilir karena sepatu hak tingginya.


Prankk. Suara pecahan kaca terjatuh.


Ardella juga hampir terjatuh, untung dia masih bisa menjaga keseimbangan, tapi masalahnya sekarang pada orang yang ditabraknya. "Maaf." Ucap Ardella pada gadis muda. Dengan tatapan tidak senang kemarahan ditunjukkan pada Ardella. Gaun mahal yang dikenakan ternodai oleh warna wine. Gadis muda itu mulai mengangkat alisnya, wajahnya geram ingin membalas Ardella.


"Aauh. " Ucap Ardella sedikit keras karena terkejut.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2